Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan yang sulit
Di rumah Garendra...
Setelah memastikan Garendra benar-benar berangkat bekerja, Felisyah perlahan melangkah menuju ruang makan.
Langkahnya berhenti tepat di depan meja panjang.
Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mangkuk putih yang masih tergeletak di sana.
Dengan hati-hati, ia meraihnya.
Beberapa detik kemudian, kedua matanya membulat.
Mangkuk itu...
Sudah kosong.
Tak ada setetes kuah pun yang tersisa.
"Supnya... habis?" gumam Felisyah lirih.
Tanpa sadar, senyum kecil terukir di bibirnya.
"Apa... dia menyukainya?" batinnya.
Namun, ia segera menggeleng pelan, seolah menegur dirinya sendiri.
"Astaga, Felisyah..."
"Mau dia suka atau tidak, itu urusan dia."
"Yang penting aku sudah melakukan sesuatu."
"Daripada hanya berdiam diri di rumah ini."
Ia mengembuskan napas pelan, lalu membawa mangkuk kosong itu kembali ke dapur.
Baru saja melangkah masuk...
"Eh, Nyonya..."
Suara Mbak Lala terdengar ragu.
Felisyah langsung menghentikan langkahnya.
Jantungnya kembali berdebar.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi?" pikirnya.
"Apa... Tuan tidak suka masakanku?"
Tanpa menunggu lebih lama, ia menundukkan kepala.
"Maaf, Mbak..."
"Kalau tadi aku melakukan kesalahan lagi."
Mbak Lala langsung menggeleng cepat.
"Astaga, bukan begitu, Nyonya."
"Saya yang justru minta maaf karena lancang."
Wanita itu meremas kedua tangannya dengan malu.
"Sup yang Nyonya masak... harum sekali."
"Sejak tadi aromanya memenuhi dapur."
"Saya jadi penasaran."
"Kalau boleh..."
"Bolehkah saya ikut mencicipinya?"
Mendengar itu, rasa cemas di hati Felisyah perlahan menghilang.
Ia mengembuskan napas lega.
Senyum hangat pun kembali menghiasi wajahnya.
"Tentu boleh, Mbak."
"Masih banyak, kok."
"Kalau Mbak mau..."
"Silakan ajak teman-teman yang lain juga."
"Siapa tahu mereka juga belum sempat sarapan."
Mbak Lala tertegun.
Ia tidak menyangka jawaban Felisyah akan sehangat itu.
"Benarkah, Nyonya?"
Felisyah mengangguk sambil tersenyum malu.
"Iya."
"Masakannya memang sengaja kubuat agak banyak."
Mata Mbak Lala mulai berbinar.
"Terima kasih banyak, Nyonya."
Di dalam hati, ia kembali merasa kagum.
Majikan barunya sama sekali tidak bersikap tinggi hati.
Justru ia begitu tulus berbagi dengan para pelayan.
Sikap sederhana itulah yang membuat Mbak Lala semakin yakin...
Bahwa Tuan Garendra tidak salah memilih wanita untuk dijaga.
...----------------...
Di dalam mobil...
Garendra duduk bersandar sambil memandangi jalanan di balik jendela.
Entah sejak kapan, senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya.
Bayangan semangkuk sup hangat buatan Felisyah kembali terlintas di benaknya.
Tanpa sadar, senyumnya semakin mengembang.
Di kursi depan, Bayu yang sejak tadi mengemudi beberapa kali melirik melalui kaca spion.
Keningnya berkerut.
Bosnya itu tersenyum sendiri sejak keluar dari rumah.
"Ehhemm..."
Bayu sengaja berdeham pelan.
"Kayaknya ada aroma-aroma yang berbeda, nih."
Seketika senyum Garendra memudar.
Ia mengangkat pandangannya hingga tatapan mereka bertemu melalui kaca spion.
Bayu langsung menyeringai.
"Hehe... maaf, Bos."
"Tapi jangan senyum-senyum sendiri begitu."
"Nanti orang lain ngira Bos lagi nggak waras."
Garendra hanya mendengus pelan.
"Bukan urusanmu."
Jawabannya singkat, tetapi Bayu justru semakin yakin bahwa dugaannya benar.
Ia hanya menahan tawa sambil kembali fokus menyetir.
Tak lama kemudian...
Drrr... Drrr...
Suara ponsel memecah keheningan di dalam mobil.
Garendra merogoh saku jasnya, lalu menatap layar ponsel.
Nama yang muncul membuat senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Mama.
Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Halo."
"Garendra, kamu di mana sekarang?" tanya Bu Sena dari seberang telepon.
"Di jalan."
"Kalau begitu, setelah ini langsung pulang ke rumah utama."
"Ada hal penting yang harus Mama bicarakan denganmu."
Mendengar kalimat itu, Garendra terdiam beberapa saat.
Ia sudah bisa menebak isi pembicaraan itu.
Tentang ulang tahun Oma.
Tentang Monica.
Dan... tentang perjodohan yang terus dipaksakan kepadanya.
Garendra mengembuskan napas panjang.
"Aku masih ada pekerjaan."
"Nanti saja kita bicarakan."
Tanpa memberi kesempatan Bu Sena menjawab, Garendra langsung mengakhiri panggilan.
Tut...
Suasana di dalam mobil kembali hening.
Garendra memejamkan mata sejenak.
Kebahagiaan yang sejak tadi memenuhi hatinya perlahan terusik.
Ia tahu...
Cepat atau lambat, keluarganya akan mengetahui keberadaan Felisyah.
Dan saat hari itu tiba...
Ia harus siap berdiri di depan untuk melindungi wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Bayu yang sejak tadi fokus menyetir tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh ya, Bos..."
"Monica sudah pulang dari luar negeri."
"Barengan sama Pak Danu yang baru selesai dinas luar kota."
Mendengar nama itu, Garendra perlahan membuka matanya.
Ia menoleh sekilas ke arah Bayu, lalu kembali menyandarkan kepala ke kursi.
"Biarkan saja."
"Bukan urusanku."
Jawabannya terdengar datar.
Namun Bayu belum selesai.
"Tapi, Bos..."
"Dua hari lagi ulang tahun Oma."
"Nggak mungkin Bos nggak datang."
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
"Yang jadi masalah..."
"Nyonya."
"Beliau saja sampai sekarang masih canggung sama Bos."
"Belum lagi kalau harus bertemu seluruh keluarga Pratama."
"Padahal di acara itu Oma pasti akan kembali menjodohkan Bos dengan Monica."
Ucapan Bayu membuat suasana di dalam mobil mendadak hening.
Garendra tidak langsung menjawab.
Tatapannya menerawang ke luar jendela.
Semua kemungkinan itu sebenarnya sudah berputar di kepalanya sejak semalam.
Beberapa saat kemudian, ia berkata dengan suara mantap,
"Aku akan membawanya."
Bayu membelalakkan mata.
"Apa?"
Karena terlalu terkejut, kakinya refleks menginjak rem.
Ciiittt...
Mobil berhenti mendadak.
Tubuh Garendra sedikit terdorong ke depan sebelum sabuk pengaman menahannya.
"Bayu!"
"Kamu mau bikin kecelakaan?"
Bayu langsung meringis.
"Hehe... maaf, Bos."
"Refleks."
"Saya benar-benar kaget."
Ia kembali menjalankan mobil dengan hati-hati, lalu melirik Garendra melalui kaca spion.
"Tapi... Bos yakin?"
"Nyonya saja belum benar-benar menerima Bos sebagai suaminya."
"Bagaimana mungkin Bos mengajaknya menghadapi seluruh keluarga besar?"
"Apalagi kalau nanti Oma memaksa Bos bertunangan dengan Monica di depan semua orang..."
Bayu menggantungkan kalimatnya.
Ia tahu...
Keputusan yang baru saja diucapkan Garendra bukanlah keputusan yang mudah.
Dan mungkin...
Akan menjadi awal dari badai besar yang menanti keluarga Pratama.
semangat✍️😉