Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok misterius!
Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuh Rasman. Punggungnya terasa remuk akibat terhempas ke tanah, sementara leher dan kepalanya berdenyut hebat seakan mau pecah.
Setiap otot di tubuhnya menjerit menolak untuk digerakkan, dan lututnya gemetar hebat seolah tak mampu lagi untuk berdiri. Namun, saat melihat bayangan hantu tanpa kepala melangkah kian dekat, rasa ngeri mengalahkan rasa sakitnya.
Rasman dengan gigi yang mengatup rapat menahan ngilu. Sambil mengerang kesakitan, Rasman memaksa dirinya untuk bangkit. Dengan bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar, ia menegakkan tubuhnya yang sempoyongan.
Begitu kedua kakinya kembali menapak rata di atas tanah, tanpa menunggu sedetik pun dan tanpa memedulikan rasa nyeri yang menusuk-nusuk di setiap persendiannya, Rasman langsung membalikkan badan.
Dia memacu kakinya untuk kembali berlari sekencang-kencangnya, membelah malam yang pekat.
Setiap langkah lari Rasman kini terasa seperti siksaan. Paru-parunya terasa membakar, dan kakinya yang pincang sudah mencapai batas kemampuan.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya kian menjadi-jadi, membuat larinya melambat menjadi sepasang langkah yang terseok-seok.
Didalam pelariannya, tiba-tiba, sebuah tangan yang terasa dingin mendarat di pundak kanan Rasman, mencengkeram kulitnya dengan sangat kuat hingga Rasman terpaksa berhenti melangkah.
Di tengah keheningan malam yang mematikan itu, dari arah sebelah kirinya, sesosok lengan lain terangkat ke atas. Tangan itu menjinjing sebuah kepala pada rambutnya, menyodorkannya tepat di depan wajah Rasman yang kini mematung karena shock.
Mata pucat tanpa nyawa milik kepala kini berada tepat beberapa senti di depan mata Rasman, menatapnya lekat-lekat dalam jarak yang sangat dekat.
Rasman merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Cengkeraman di pundaknya begitu kuat, mengunci tubuhnya yang lemas hingga tak mampu bergerak sedikitpun.
Kepala yang menggantung di depan wajahnya perlahan-lahan mulai bergoyang pelan, berputar mengikuti ayunan tangan tanpa kepala tersebut.
Kelopak mata pucat itu melebar, menatap langsung ke dalam manik mata Rasman. Dari leher kepala yang terputus itu, cairan hitam kental yang berbau anyir mulai menetes satu demi satu, jatuh tepat di atas punggung kaki Rasman.
bawah bayang-bayang sosok mengerikan itu, Rasman hanya bisa menangis tanpa suara. Air mata ketakutan dan keringat bercampur jadi satu, membasahi wajahnya yang sudah pucat.
Hihihihihi... Hihihihihi!
Belum sempat Rasman mencerna kengerian hantu tanpa kepala itu, lengkingan tawa kembali terdengar.
Sesosok bayangan putih melesat turun dari kegelapan langit dan mendarat tepat di depan Rasman. Kuntilanak itu kembali.
Kini, di hadapan Rasman yang sedang berlutut lemas, berdiri dua sosok menyeramkan, hantu tanpa kepala yang tinggi menjulang, dan kuntilanak berwajah seram yang terus menyeringai. Kedua makhluk gaib itu mengepungnya, mengunci mati jalur pelariannya.
Pertahanan mental Rasman benar-benar hancur lebur hingga ke dasar. Rasa takut yang teramat sangat, yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, mencengkeram seluruh saraf di tubuhnya.
Saking terornya melihat dua hantu itu berdiri berdampingan menatapnya, seluruh otot tubuh Rasman mendadak lemas dan kehilangan kendali. Rasa hangat yang menjalar di selangkangannya seketika terasa, Rasman terkencing di celananya.
Kuntilanak itu tiba-tiba berhenti tertawa. Seringai di wajahnya berganti menjadi tatapan dingin yang penuh kebencian.
Di sampingnya, hantu yang tanpa kepala kembali bergerak kaku, seolah mendapat komando untuk memulai pembalasan yang sesungguhnya.
Mereka tidak berniat mencabut nyawa Rasman malam ini. Kematian terlalu mudah untuk menebus dosa, mereka menginginkan siksaan yang perlahan dan abadi.
Kuntilanak itu melesat maju. Tangan pucatnya yang berkuku hitam panjang melesat, mencengkeram erat rahang Rasman hingga sendinya bergeser, dan memaksa mulut Rasman terbuka.
Bersamaan dengan itu, tubuh tanpa kepala melangkah mendekat. Tangan dinginnya meraih gumpalan tanah yang dipenuhi cacing. Tanpa ampun, ia menjejal-jejalkan tanah busuk itu ke dalam mulut Rasman yang dipaksa menganga.
"Mmphff...! Nggghhh...!" Rasman mengerang tersedak, matanya melotot hampir keluar. Rasa mual dan perih membakar tenggorokannya saat tanah itu dipaksa masuk ke dalam pencernaannya. Dia ingin muntah, namun cengkeraman sang kuntilanak mengunci rapat rahangnya.
Belum selesai siksaan itu, kuntilanak tersebut menggunakan tangan satunya untuk mencengkeram pundak kanan Rasman. Dengan satu sentakan kaku, ia memutar lengan Rasman ke arah yang salah.
Suara tulang yang patah dan bergeser dari mangkok sendinya terdengar begitu mengerikan di keheningan malam.
Rasman menjerit histeris dalam bungkam, air mata dan keringat dingin mengucur deras membanjiri wajahnya.
Rasa sakitnya begitu menghunjam, membuat kesadarannya hampir tumbang, namun entah kenapa Rasman tetap terjaga penuh dan merasakan setiap jengkal siksaan yang dia terima.
Hantu tubuh tanpa kepala kemudian mengangkat kaki kanannya yang besar, lalu menginjak kaki Rasman yang memang sudah pincang dengan tumitnya.
Tekanan berat itu menghancurkan tulang-tulang kecil di punggung kakinya hingga terdengar bunyi retakan kecil lainnya yang bertubi-tubi. Mereka mencabik, mematahkan, dan menyiksa fisik serta batin Rasman tanpa henti, layaknya boneka kain yang tak berharga.
Di tengah kegelapan Desa Selogiri yang terkutuk, Rasman dibiarkan hidup dalam kondisi hancur lebur, menjadi wadah penderitaan yang tak berujung di tangan dua sosok yang menolak untuk membiarkannya mati dengan tenang.
Siksaan keji itu terus berlanjut di bawah temaram sinar bulan yang redup. Ketika tubuh Rasman sudah ambruk tak berdaya di atas tanah, kedua hantu itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Jeritan Rasman menggema kesakitan. Rasa sakit yang teramat sangat itu membuat tubuhnya kejang-kejang di atas tanah.
Detak jantungnya berpacu begitu liar seolah mau meledak, namun anehnya, setiap kali kesadaran Rasman berada di ambang pingsan, sebuah hawa sedingin seperti menyengat sarafnya, memaksanya untuk kembali terjaga dan merasakan seluruh penderitaan itu dengan sangat utuh.
Setelah puas meremukkan dan menyiksa setiap jengkal tubuhnya, kedua hantu itu perlahan mundur selangkah demi selangkah.
Kabut hitam yang pekat mendadak berembus, perlahan-lahan menyelimuti wujud kedua makhluk mengerikan tersebut hingga akhirnya mereka lenyap tak berbekas ke dalam kegelapan malam, menyisakan suara tawa kuntilanak yang lamat-lamat memudar di kejauhan.
Suara lengkingan tawa kuntilanak itu benar-benar hilang sepenuhnya, menyisakan keheningan malam Desa Selogiri yang begitu pekat dan mencekam.
Rasman akhirnya tumbang. Pertahanan terakhirnya runtuh, dan ia jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan tubuh yang hancur dan berlumuran darah.
Di tengah kesunyian itu, terdengar langkah kaki manusia yang tenang.
Set... set... set...
Langkah kaki itu mendekat dari balik kegelapan semak-semak. Sepasang kaki tanpa alas berhenti tepat di samping kepala Rasman.
Sosok misterius itu berdiri tegak, menatap ke bawah, ke arah tubuh Rasman yang sudah tidak berdaya.
Perlahan, sosok itu berjongkok. Di bawah temaram sinar bulan, alih-alih menunjukkan rasa kasihan atau ngeri melihat kondisi tragis Rasman, seulas senyuman dingin perlahan terukir di wajahnya.
Senyuman itu melebar, seolah-olah semua penderitaan Rasman malam ini adalah bagian dari rencana yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.
Tanpa membuang waktu, orang itu berdiri kembali. Ia membungkuk, lalu dengan kasar mencengkeram kedua pergelangan kaki Rasman yang sudah patah dan kaku.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, ia mulai melangkah maju, menyeret tubuh Rasman yang terkulai lemas seperti sekarung bangkai di atas tanah.
Kepala dan punggung Rasman bergesekan kasar dengan jalanan tanah, meninggalkan jejak seretan yang panjang dan pekat di belakangnya.
Sosok misterius itu terus melangkah, membawa tubuh Rasman yang sekarat masuk semakin jauh ke dalam kegelapan hutan yang pekat, lenyap ditelan malam.