Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Keluhan Zea
Flashback on…
“Kamu lagi ada masalah apa Ze…” tanya Gatra saat mereka menuju ke tempat makan siang bersama dengan Arsen.
“Masalah yang cukup membuat saya pusing tuan Gatra” sahut Zea, Ia malu menceritakan masalah rumah tangganya pada Gatra, pria yang baru dikenalnya karena anaknya Gatra dekat dengan Zea.
“Kalau kamu ingin bicara silahkan! Ze..” Gatra tak mau mendesak Zea untuk menceritakan masalah pribadinya pada Gatra.
Sebenarnya Gatra sangat ingin sekali Zea mengurus perceraiannya dengan suaminya itu, agar dia tidak dicap sedang dekat dengan istri pria lain, tapi Gatra nggak ada hak untuk ikut campur, takutnya nanti Zea marah dan tersinggung.
Zea menghembuskan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Gatra, bagaimanapun Zea harus mengatakan statusnya sekarang pada Gatra, karena Zea tak mau menimbulkan masalah pada Gatra karena kedekatan mereka berdua sekarang.
Walaupun merasa malu Zea memutuskan untuk berterus terang pada Gatra, agar ada batasan yang jelas dengan hubungan baik mereka saat ini.
“Saya sedang ada masalah dengan suami saya tuan Gatra, makanya saya pergi ke kota Jakarta..”
Zea memperhatikan reaksi Gatra yang terlihat biasa saja, Ia tak bereaksi seperti yang Zea pikirkan sebelum memutuskan bicara masalah pribadinya pada Gatra.
“pasti masalah yang kamu hadapi berkaitan dengan sikap suami kamu Zea” tebak Gatra, dia hanya berpura pura tak tahu mengenai perselingkuhan suaminya Zea.
“Iya tuan Gatra suami saya selingkuh dengan mantan kekasihnya, dan ingin menceraikan saya, dari pada ribut mending saya pergi dari hidupku nya, hanya sekarang saya suami saya belum mengurus surat cerai kami di pengadilan”
“Kalau saya yang mengajukan gugatan cerai, saya harus bertemu dengannya lagi sedangkan saya sudah nggak mau melihat wajahnya lagi tuan Gatra, itu yang membuat suasana hati saya sedikit gundah” ungkap Zea
“Apa kamu tahu alasan suami kamu belum mau mengurus perceraian kalian?” tanya Gatra.
“Saya nggak tahu apa alasan dia tuan Gatra, dan saya juga nggak mau tau lagi apapun yang berhubungan dengan pria itu tuan Gatra” jawab Zea sambil menggelengkan kepalanya, dan memang itu yang dirasakan oleh Zea saat ini.
“Mungkin suami kamu menyesal telah melakukan perselingkuhan dengan teman wanitanya tersebut Ze” imbuh Gatra
“He he he dia nggak mungkin menyesal taun Gatra, karena baginya saya hanya beban untuk hidup dan karir nya”
Zea tanpa sadar malah curhat pada Gatra, mungkin rahasia yang selama ini disimpan Zea ingin di lupakan semua pada Gatra, pria yang bisa membuat Zea nyaman untuk bercerita.
“Maksudnya Ze, saya kurang mengerti! kenapa kamu jadi beban dalam hidupnya? memangnya kamu telah melakukan salah apa padanya, sampai dia mengatakan kamu beban dalam hidupnya dan juga karirnya?”
Gatra penasaran dengan apa yang Zea katakan, mengenai Zea menjadi beban hidup untuk suaminya sendiri.
“Penampilan kampungan saya hanya membuatnya malu tuan Gatra, dia malu punya istri seperti saya yang hanya berprofesi sebagai seorang pengajar dan berpenampilan sederhana”
“Suami saya malu memperkenalkan saya sebagai istrinya pada rekan bisnisnya tuan Gatra, makanya dia selingkuh dengan mantan kekasihnya dulu, yang berpenampilan menarik karena dari kalangan atas”
“Itu yang dikatakannya pada saya ketika saya memergokinya sedang berkencan dengan selingkuhannya pada saat itu tuan Gatra”
ungkap Zea dengan wajah sedih, Zea menghembuskan nafasnya dengan kasar karena dadanya sesak kalau mengingat perkataan Ryan pada saat mereka bertengkar.
Mendengar cerita Zea mengenai alasan suaminya selingkuh membuat Gatra mengepalkan kedua jari tangannya, rahangnya mengeras menahan marah, dia tidak menyangka kalau suaminya Zea, mengeluarkan alasan dia selingkuh dengan merendahkan istrinya sendiri.
“Bajingan juga tuh laki…nggak sopan banget mulutnya” umpat Gatra tanpa di sadari hatinya juga sakit mendengar penghinaan pada Zea.
Sedangkan Edo yang sedang membawa mobil ikut geram mendengar cerita Zea, walaupun tidak mendengar langsung tapi hatinya juga ikut marah.
“He he he karirnya sedang naik tuan Gatra, makanya dia malu memperkenalkan saya sebagai istrinya” ungkap Zea
“Tapi nggak pantas dia berkata seperti itu padamu Ze, merendahkan istri sendiri agar perselingkuhan nya bisa dibenarkan” Gatra masih tak terima Zea direndahkan seperti itu oleh suaminya.
“Mungkin karena dia sudah sukses taun Gatra, jadi Ia harus mencari wanita yang setara dengannya “ imbuh Zea dengan tenang, Ia sekarang sudah ikhlas menerima semua penghinaan dari Ryan.
“Tapi aku tak terima suami kamu memperlakukan kamu seperti Ze, keterlaluan banget, dia sudah sesukses apa sih Ze, sampai sombong seperti itu” Gatra tak terima dengan kepasrahan Zea menerima hinaan suaminya itu.
“Yang pasti masih kalah jauh dari anda tuan Gatra he he he, tapi untuk dikota saya yang dulu, dia cukup sukses dan terkenal “ sahut Zea, Ia terkekeh geli kalau ingat kesombongan Ryan.
“Kalau kamu mau, biar pengacara saya yang akan membantu mengurus perceraian kamu dengan pria yang masih menjadi suami kamu sampai sekarang saat ini”
Gatra menawarkan dirinya untuk membantu Zea, agar segera lepas dari masalah yang membelit nya saat ini.
“Tapi saya sudah janji sama Tari untuk ke kantor temannya yang juga pengacara tuan Gatra” ucap Zea, dan memang Ia dan Tari sudah ada janji untuk bertemu di sana.
“Oke, saya akan antar kamu kesana, kamu janji jam berapa?” Gatra memutuskan untuk mengantarkan Zea ke kantor pengacara yang direkomendasikan oleh Tari.
“saya janji jam 3 tuan Gatra, kasihan Arsen nanti kelelahan karena sebentar lagi jam tidur siang Arsen” Zea menolak secara halus keinginan Gatra untuk mengantarkannya ke kantor teman Tari.
“Alamat kantor pengacaranya dimana Ze?” tanya Gatra, kemudian Zea memberitahu tahu alamat kantor yang akan dikunjunginya.
“Satu jalur kok….nggak masalah saya antar kamu kesana dulu setelah itu saya akan antar Arsen pulang”
“Tuan Gatra terima kasih” ungkap Zea
“Sama sama…sebentar lagi kita sampai di restoran dimana makanannya adalah kesukaan Arsen” Gatra memberitahu Zea kalau mereka hampir tiba di tempat makan.
“Iya tuan Gatra..” sahut Zea sambil tersenyum dan Gatra membalas senyuman Zea dan menganggukkan kepalanya.
Setelah makan siang Zea pun diantar oleh Gatra ke kantor pengacara tersebut, Gatra tidak ikut masuk ke kantor pengacara itu setelah berdiskusi dengan Zea.
“Tuan Gatra, terima kasih! maaf kalau saya melarang anda untuk masuk ke dalam kantor itu, semua demi kebaikan anda tuan Gatra, karena ini kasus perceraian saya, jangan sampai nanti anda mendapat masalah dan nanti nama anda tercoreng, karena anda dikenal banyak orang, saya nggak mau hal itu terjadi”
Ucap Zea, Ia melarang Gatra terlihat secara langsung takut nantinya Gatra yang kena imbasnya.
“Saya mengerti Ze, oke kalau ada apa apa kabari saya Ze, saya akan support kamu dari belakang, semoga masalah kamu cepat selesai Ze” sahut Gatra, Ia mengerti tujuan Zea melarangnya terlibat langsung dalam masalah rumah tangganya.
Flashback off…
***