Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Partitur
...
"Mengapa aku?"
"Aku tak ingin ini"
"Tapi kenapa harus aku..."
"Aku gak mau mati."
...
Diusia 5 tahun Latifa gemar sekali memainkan alat musik, entah darimana dia melihat itu, tapi ia selalu saja memainkan alat musik Flute.
Setiap tiupan baginya adalah sebuah seni besar.
Ia memainkan setiap hari, latihan mandiri sampai suatu ketika ia diberi ijin oleh ayahnya untuk kursus orkestra. Jelas Latifa sangat senang. Ia bermimpi bisa ikut audisi bermain Flute di aula Simfoni bersama anggota okestra lainnya.
Selama 6 bulan latihan, ia sudah sangat lihai dalam menggunakan Flute, anggota lain begitu kagum ketika melihat Latifa memainkannya.
"Aku akan mengejutkan dunia" Ucapnya. setidaknya itulah yang ia katakan, untuk ukuran bocah 5 tahun yang ingin menggenggam dunia.
Orang disekitarnya tidak ada yang berpikir untuk menghinanya, justru mereka merangkul Latifa untuk mewujudkan impian besarnya, suatu hari pasti akan terjadi. pasti.
"Aku tak tahu tentang dunia ini, tapi dengan musik, aku akan menaklukannya" Latifa berdiri dari kursinya dan meletakkan Fulte-nya untuk segera dibersihkan. ia merawat dengan Flute miliknya dengan baik, tak ia biarkan sedikit pun debu yang menempel.
"Ini alat tempurku, aku gak ingin alatnya kotor, nanti susah ditiup" Katanya sembari mengelap Flutenya..
...
Itu adalah dunia yang ia bangun, Dunia penuh dengan orang-orang yang peduli dengannya. dunia sempurna baginya. namun saat ia memasuki Sekolah Dasar kelas 1, ia mendapat perlakuan tidak baik dari teman sekelasnya. ia mendapat banyak perundungan hanya karena Latifa sering meniup-niup Flute miliknya. Padahal ia memainkan alat musiknya hanya pada saat pulang sekolah, namun siswa lain sepertinya tidak ada yang menyukainya.
Latifa sering mendapat perlakuan kejam diusianya yang masih sangat kecil, bahkan suatu ketika alat miliknya rusak, itu bukan rusak karena pemakaiannya, melainkan rusak karna disengaja.
"Apa salahku ke kalian? aku hanya suka memainkan alat musik ini, kalian kenapa harus merusaknya" Latifa menatap Flute pemerian dari mendiang sang ibu. ia perlahan menangis sembari memeluk Flute itu.
"Maafkan aku, Mama. aku tidak bisa menjanga barang pemberianmu."
Dunia Latifa seketika hancur. ia tidak pernah lagi menghadiri kursus, Ayahnya sendiri prihatin dengan kondisi Latifa yang terpuruk.
Ayahnya sudah membelikan Flute baru, namun Latifa tidak pernah sekalipun menyentuh alat musik itu. ia hanya ingin flute kesayangannya kembali, kembali bagus seperti sebelumnya.
itulah alasan mengapa Latifa sangat menyayangi dan menjaga flute itu dengan sangat baik, merawat dan membersihkannya dengan telaten.
"Jika itu bukan dari mama, aku gak mau"
...
5 Bulan telah berlalu, Latifa sudah benar-benar tidak menyentuh lagi Flute miliknya. Ia tak ingin memainkan alat musik itu lagi. namun meski ia telah berhenti, aksi perundungan masih saja terus terjadi. ia kerap mendapat aksi bullying dari orang yang tidak suka dengannya. ia pernah disemprot secara sengaja, diambil buku catatannya. dan banyak hal yang mungkin saja kejam bagi anak kelas 1 SD.
Namun seperti orang mati, Latifa tidak memperdulikan apapun. ia tak begitu peduli dengan aksi perundungan yang diberikan teman sekelasnya.
Hari-harinya selalu saja datar, bagai zombie yang tak memiliki arah. ia hanya bersekolah, mengerjakan tugas, belajar bermain dan pulang. Ayahnya sendiri ikut bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh putrinya itu. Ayahnya sempat beberapa kali ingin mengajaknya ke taman bermain untuk memecah suasana, namun mau bagaimana pun Latifa tidak pernah merasa hidup.
Baginya kehidupan hanya saat ia bisa memainkan Flute pemberian dari mendiang sang ibu. tapi sepertinya arti untuk semangat hidup sudah direnggut.
"Bagiku. dunia sudah bukan tempatku" Kalimat yang keluar dari anak kelas 1 SD yang bahkan belum mengerti dunia bekerja, dan politik diatur.
"Aku gak ngerti, apa mau mereka setelah menghancurkan arti hidupku" Kalimat yang terasa mustahil ini, benar-benar diucapkan oleh seorang anak gadis berusia 6 tahun. dalam 6 tahun, manusia tidak banyak berkembang, namun Latifa seakan sudah memiliki dunia itu sendiri.
...
"Latifa, Kamu mau makan apa?" Tanya sang ayah.
"Apa saja, Yah." Latifa berlalu ke kamarnya dengan hanya mengatakan sepatah kalimat.
"Anaku belakangan ini terasa aneh, apa yang sebenarnya terjadi" Gumamnya.
"Aku ingin menanyakanya, tapi dia saja sangat susah untuk didekati."
"Apa yang seorang ayah harus lakukan?" Ia mulai memandang langit
"Sayang. apa yang harus aku lakukan?" Ucap sang ayah.
...
Di sekolah, Latifa mengambil sebuah buku di dalam tasnya, kemudian ia menulia rangkaian kata betapa muaknya ia dibully di sekolah ini dan keinginannya untuk pindah dan memulai lembaran baru. Latifa benar-benar bukan Anak kecil.
Seseorang melirik bukunya dan mulai membaca kata demi-kata yang ditulis Latifa di bukunya.
latifa yang sadar langsung menarik bukunya.
"ehh... kenapa? aku masih ingin membacanya" Seorang gadis yang entah muncul darimana.
"A-apa yang kau inginkan" Latifa mulai memasang muka seram.
"Eh.. eh.. eh.., Jangan seram-seram gitu dong mukanya." Gadis misterius itu perlahan menjauh dari latifa.
"Ah, maaf karna telah membaca bukumu tanpa izin, ya!" Ucap gadis itu.
"Siapa kamu? dan apa maumu." Latifa sedikit lebih tenang.
"Ah iya, aku lupa memperkenalkan dirku, ya?" hehe."
"Perkenalkan, namaku Minami, Aku tidak satu kelas denganmu, sih. tapi aku yakin kita bisa berteman!" Ucap gadis itu.
"Kau, mengapa kau memberi tahu namamu" Latifa yang heran karna baru kali ini ada yang memperkenalkan dirinya dengan tulus.
"Eh? kan ini hal yang wajar saat ingin berteman, lagian aku ingin berteman denganmu lebih dalam" Ucap Minami yang tersenyum tulus.
Latifa ragu, apakah Minami hanya ingin memanfaatkannya atau sekedar menjahilinya seperti yang lain.
"oh, begitu. sekarang kamu mending kembali ke kelasmu, sebentar lagi mata pelajaran selanjutnya dimulai." Latifa mengatakan itu dengan nada yang sangat datar, seakan tidak percaya dengan Minami dan menganggap minami sama seperti mereka yang hanya ingin menjahilinya.
"Ehhh.. sebelum itu beritahu namamu dong." Minami sedikit kecewa.
"Nanti, saat pulang sekolah saja" Jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kamu di gerbang sekolah, Ya!" Minami berlari kembali ke kelasnya, Latifa melihat itu hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apa-apa.
"Dia sama saja.".
...
Sepulang sekolah, seperti apa yang dikatakan Latifa, Minami menunggunya di gerbang sekolah hanya untuk tahu siapa namanya.
"Kau bodoh atau bagimana?" Teriak Latifa marah.
"Mau sejauh mana kau menjahiliku? sudah cukup kan kalian mempermainkanku" Latifa begitu marah, ia meluapkan semua emosinya.
"Aku diam saat kalian mempermainkanku, aku diam saat kalian menghancurkan impianku, aku diam aku diam, sekarang apa mau kalian" Latifa menangis setelah mengatakan itu.
"E. ehh.. kamu kenapa?" Minami mencoba membantu Latifa untuk berdiri, namun tangannya ditepis Begitu saja.
...