NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Malam mulai turun.

Setelah selesai membereskan dapur, Kinan hendak membawa cangkir kotor ke bak cuci.

Suara Darwin membuat langkahnya terhenti. "Biar aku bantu."

Kinan menoleh. Darwin berjalan mendekat, lalu melihat ke arah tangan kanan Kinan. "Jarimu berdarah."

Kinan baru menyadari ada setetes darah yang mengalir di ujung telunjuknya. "Tadi terkena pisau waktu memotong sayur. Hanya luka kecil." Ia kembali melangkah menuju dapur.

Namun Darwin lebih dulu mengambil cangkir dari tangannya. "Duduk sebentar."

Kinan menggeleng. "Tidak perlu. Nanti juga berhenti sendiri."

Darwin tidak membantah. Ia membuka laci kecil di ruang tengah, mengambil kotak P3K yang tadi dibawanya dari puskesmas.

"Kau ini..." gumam Kinan pelan.

Darwin duduk di hadapannya. "Boleh aku mengobati lukamu ?"

Kinan menatap pria itu beberapa detik. Tak ada paksaan dalam sorot matanya. Hanya ketulusan.

Perlahan, Kinan mengulurkan tangannya.

Darwin membersihkan luka kecil itu dengan hati-hati. Sesekali ia meniup pelan agar cairan antiseptik tidak terlalu perih.

"Kau memperlakukanku seperti anak kecil."

"Bukan." Darwin tersenyum tipis sambil menempelkan plester. "Kalau dibiarkan, besok bisa perih saat memasak."

Kinan menatap plester bergambar kartun yang menempel di jarinya. Ia mengangkat sebelah alis.

"Di puskesmas cuma ada plester seperti ini?"

Darwin ikut melihatnya, lalu terkekeh pelan.

"Sepertinya itu jatah pasien anak-anak."

Sudut bibir Kinan ikut terangkat membentuk senyum kecil. Senyum yang bahkan tidak ia sadari muncul.

Darwin merapikan kembali kotak P3K, lalu meletakkannya di atas meja. "Nah, selesai."

Kinan memandangi plester yang menutupi ujung jarinya. "Luka sekecil ini sebenarnya tidak perlu diobati."

Darwin berdiri sambil tersenyum tipis. "Mungkin."

"Lalu kenapa tetap kau obati?"

"Karena luka kecil yang diabaikan bisa menjadi besar."

Kinan terdiam. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa seperti bukan sekadar membahas luka di jarinya.

Darwin mengambil kedua cangkir yang masih berada di atas meja. "Biar aku yang mencuci."

Suara gemericik air segera terdengar. Kinan berdiri memandangi punggung pria itu. Sudah lama, tidak ada seorang pun yang melakukan hal-hal kecil untuknya.

Di kehidupannya yang dulu, orang-orang mendekat karena takut, hormat, atau menginginkan sesuatu. Tak pernah karena benar-benar peduli.

Tanpa sadar, jemarinya menyentuh plester di ujung telunjuk. Hangat. Entah karena plester itu...

Atau karena perhatian sederhana yang baru saja diterimanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kinan masih duduk bersila di atas tempat tidur. Laptop, buku, dan beberapa lembar bahan ajar memenuhi selimut di depannya. Ia sedang menyusun kegiatan belajar untuk anak-anak esok pagi.

Pintu kamar terbuka.

"Aku belum mau tidur sekarang." ujar Kinan menoleh sekilas.

Darwin masuk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Oh, mungkin ada yang bisa kubantu?" tanyanya.

Kinan menggeleng pelan tanpa mengangkat kepala. "Tidak perlu."

Darwin hanya tersenyum tipis. Ia tahu, kalau Kinan sudah tenggelam dalam pekerjaannya, perempuan itu tidak suka diganggu. Ia duduk di sisi ranjang, lalu mengambil ponselnya.

Beberapa notifikasi langsung bermunculan. Nomornya memang sudah berganti, tetapi Deni, orang kepercayaannya sekaligus asisten pribadi, berhasil menghubunginya melalui akun media sosial lamanya.

Deni [ Tuan Darwin, kapan Anda akan kembali? Direksi terus menanyakan keberadaan Anda. Ada beberapa proyek yang harus mendapatkan persetujuan Anda.]

Darwin membaca pesan itu tanpa terburu-buru.

Pesan berikutnya masuk.

Deni : [Saya bisa menahan mereka untuk sementara, tetapi perusahaan tidak bisa terus berjalan tanpa keputusan Anda.]

Darwin mengusap wajahnya pelan. Sejak berada di desa, ia sengaja menjauh dari hiruk-pikuk perusahaan. Tinggal di desa, hidupnya terasa jauh lebih tenang.

Ia melirik ke arah Kinan. Perempuan itu masih serius menyusun bahan ajar, sesekali menggambar sketsa sederhana untuk kegiatan anak-anak.

Darwin tersenyum kecil. Jarinya mulai mengetik balasan.

"Tangani dulu semua yang bisa kamu tangani. Jika ada keputusan yang benar-benar mendesak, kirimkan laporannya. Aku belum bisa kembali."

Tak lama, Deni membalas.

"Baik, Tuan. Kami akan menunggu."

Darwin mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di meja samping ranjang.

Di sisi lain, Kinan sama sekali tidak menyadari bahwa lelaki yang tidur satu ranjang dengannya sedang menunda kepulangannya demi menikmati kehidupan sederhana di desa.

Keesokan paginya, Darwin berangkat lebih awal ke puskesmas seperti biasa. Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada satu hal.

Kinan tidak memiliki ponsel. Sejak melarikan diri dari kehidupan lamanya, perempuan itu pergi tanpa membawa apa pun. Jika suatu saat terjadi sesuatu, Darwin tidak akan bisa menghubunginya.

Sepulang dari puskesmas menjelang siang, Darwin melihat sebuah konter kecil di pinggir jalan, tak jauh dari balai desa. Ia berhenti di sana.

"Mas, ada HP bekas yang masih bagus?" tanyanya kepada pemilik konter.

"Kalau buat dipakai sehari-hari ada, Mas. Kondisinya masih mulus, baterainya juga awet."

Darwin mencoba beberapa unit sebelum akhirnya memilih sebuah ponsel sederhana yang masih layak pakai. Ia juga membeli kartu SIM baru dan meminta penjual mengaktifkan nomornya.

Sesampainya di rumah, Darwin melihat Kinan sedang berdiri di dapur kecil sambil mengaduk masakan di atas kompor.

Aroma bawang tumis memenuhi ruangan.

Pemandangan itu membuat Darwin berhenti sejenak di ambang pintu.

Dulu, Kinan hampir tidak pernah masuk dapur. Di rumah besarnya, semua kebutuhan sudah disiapkan oleh para pelayan. Sarapan selalu tersaji sebelum ia turun dari kamar, makan siang datang tepat waktu, dan makan malam disusun rapi di meja panjang tanpa ia perlu memikirkan bumbu atau cara memasaknya.

Namun sekarang semuanya berbeda.

Sejak tinggal di desa, Kinan perlahan belajar melakukan hal-hal yang dulu bahkan tidak pernah terpikir olehnya. Memasak menjadi salah satunya.

Awalnya ia sering kebingungan membedakan bumbu dapur.

Karena tidak ingin terus gagal, Kinan diam-diam mulai bertanya kepada guru-guru lain di TK.

"Kalau sayur bening biasanya bumbunya apa saja?"

"Takaran garamnya kira-kira seberapa?"

Setiap mendapat jawaban, ia mencatatnya di buku kecil yang biasa dipakai untuk menulis bahan ajar. Meski begitu, Kinan masih sering ragu.

Kinan mencicipi masakannya sendiri sambil mengernyit, bertanya dalam hati apakah rasanya sudah cukup enak atau justru terlalu hambar.

Suara langkah kaki dari depan rumah membuatnya menoleh. Darwin baru saja masuk sambil membawa sebuah kotak kecil di tangannya. "Ada sesuatu buat kamu," ujar Darwin sambil mengulurkan sebuah kotak kecil.

Kedatangan Darwin membuat Kinan sedikit terkejut. Ia buru-buru mematikan api kompor.

"Tunggu sebentar," katanya.

Darwin mengangkat alis. "Kenapa?"

Kinan mengambil sendok bersih, lalu menyendok sedikit kuah dari panci. "Coba ini dulu."

Darwin menerima sendok itu sambil menatapnya heran. "Kamu memasak?"

Kinan berdeham pelan. "Aku masih belajar. Jadi... tolong jujur."

Darwin meniup kuah panas itu sebentar, lalu mencicipinya. Kinan memperhatikannya dengan wajah tegang, seolah sedang menunggu hasil ujian. "Bagaimana?" tanyanya cepat.

Darwin sengaja diam beberapa detik. Kinan langsung salah tingkah. "Jangan bilang terlalu asin."

"Bukan."

"Terlalu hambar?"

Darwin menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Enak."

Kinan tampak ragu. "Benar?"

"Iya. Cuma kurang sedikit garam."

Kinan mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Aku tadi bingung bumbunya sudah pas atau belum."

Darwin melirik buku kecil yang tergeletak di dekat kompor. Beberapa halaman penuh dengan catatan resep sederhana dan takaran bumbu.

Kinan memperhatikan kotak yang di bawa Darwin. "Apa ini?"

"Buka saja."

Perlahan Kinan membuka kotak itu. Matanya membulat saat melihat sebuah ponsel di dalamnya. "Darwin..."

"Aku ingat kamu tidak punya HP. Kalau sewaktu-waktu ada apa-apa, aku juga kesulitan menghubungimu. Nomor juga sudah aktif. "

Beberapa detik Kinan hanya memandangi ponsel itu. "Terima kasih." Senyumnya tipis, tetapi tulus.

Namun, saat jemarinya menggenggam ponsel tersebut, pikirannya melayang jauh. Dulu, ia memiliki beberapa ponsel mahal dengan nomor yang hanya diketahui orang-orang kepercayaannya. Mobil-mobil mewah tersimpan rapi di garasi rumahnya. Rekening berisi miliaran rupiah semuanya masih atas namanya. Ia tidak kehilangan semua itu. Ia hanya meninggalkannya. Kinan menarik napas panjang. Semua kekayaan itu masih bisa ia ambil kapan saja.

Ia menatap Darwin yang sedang menuangkan air minum ke dalam gelas. Pria itu bahkan rela menyisihkan penghasilannya untuk membelikan sebuah ponsel bekas, tanpa pernah tahu bahwa perempuan yang kini tinggal serumah dengannya sebenarnya memiliki harta yang nilainya berkali-kali lipat lebih besar.

Kinan menggenggam ponsel bekas itu sedikit lebih erat. Harganya mungkin tak seberapa dibandingkan semua yang pernah ia miliki. Namun, belum pernah ada seseorang yang membeli sesuatu untuknya hanya karena takut ia akan kesulitan menghubunginya.

Kinan menekan tombol daya. Layar ponsel menyala perlahan.

Saat Darwin ke kamar mandi, Kinan diam-diam membuka aplikasi mobile banking yang masih tersimpan di akun lamanya. Saldo di layar membuatnya terdiam. Semua hartanya... masih utuh.

Saat Kinan berhasil masuk ke mobile banking, sebuah notifikasi muncul. "Perangkat baru terdeteksi."

Di tempat lain,

Seseorang pria berjas bergegas memasuki ruang kerja. "Bos... ponsel Nona Kinan kembali aktif."

Tatapan pria di balik meja itu berubah tajam, "Lacak."

1
Zed Analytical Number Nine
ngeri kalo ada yang tiba-tiba ada yang mencurigai
Kayla Rane
suka sama aksi kinan
Kayla Rane
lanjut thor penasarrrn😤
Kam1la
iya e...
Kayla Rane
😍🤭 Darwin romantis kali kali atuh🤭
Kayla Rane
Kinan salam bahaya
Kam1la: tenang saja, Kinan kan juga jago
total 1 replies
Kayla Rane
bener tuh Bu Ratih, kayaknya Darwin dan Kinan perlu refresing (honeymoon) terlalu serius di kerjaan lupa nyenengin hati. pasangan ini kebangetan sifatnya sama² dingin 😤🤭
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!