NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membantu Penyelidikan

Memanfaatkan kondisi Rendi yang masih tak sadarkan diri, Banyu segera melangkah cepat meninggalkan area parkir bawah tanah. Begitu ia mencapai pintu keluar basement, ia segera melepas balaclava yang menutup wajahnya agar tak menarik perhatian yang tak perlu. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul dini hari, jadi kompleks perumahan itu benar-benar sunyi senyap, tak ada satu pun warga yang berkeliaran. Situasi ini sangat menguntungkan Banyu. Ia menelusuri kembali rute masuknya dan memanjat keluar tembok tanpa kendala, lalu bergegas masuk ke dalam mobil VW reyotnya.

Setelah menutup pintu mobil, Banyu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kartu SIM sekali pakai yang baru dibelinya, lalu memasukkannya ke dalam ponsel. Tanpa ragu, ia memutar nomor panggilan darurat polisi dan melapor dengan meniru gaya bicara seorang warga perumahan yang panik.

Meski ia telah melumpuhkan Rendi, niat awalnya hanyalah untuk menyingkirkan pria itu dari perebutan hak asuh anak secara permanen, bukan untuk menghabisi nyawanya. Jika sampai ada mayat, kasus ini akan membesar menjadi kasus pembunuhan yang rumit, dan Banyu tak ingin mengambil risiko sejauh itu.

Mendengar laporan adanya korban penganiayaan berat, operator darurat polisi segera merespons dengan cepat. Mereka langsung menghubungi unit patroli terdekat dan mengirimkan ambulans. Sang operator juga meminta Banyu untuk tetap berada di lokasi untuk memberikan pertolongan pertama sambil menunggu petugas tiba.

Banyu tentu saja mengiyakan instruksi itu dengan meyakinkan. Namun, detik itu juga setelah panggilan ditutup, ia langsung mencabut kartu SIM tersebut dan membuangnya ke saluran air di pinggir jalan.

Setelah memastikan tak ada lagi jejak digital yang tertinggal, Banyu menyalakan mesin VW-nya dan meluncur perlahan meninggalkan lokasi tersebut. Tepat saat mobilnya berbelok keluar dari persimpangan jalan utama, sebuah mobil patroli polisi melaju kencang dari arah berlawanan menuju kompleks perumahan dengan sirine meraung-raung. Kilatan lampu strobo merah-biru menyapu wajah Banyu sekejap, memperlihatkan seringai puas yang terukir di sudut bibirnya.

Banyu mencari lokasi yang aman dan terpencil untuk memarkir mobil VW yang baru dibelinya itu, memastikannya tak akan mudah dilacak. Setelah itu, ia berganti menaiki beberapa bus angkutan umum yang berbeda rute untuk mengecoh pelacakan, hingga akhirnya ia tiba di tempat parkir pikap kesayangannya, lalu meluncur santai kembali ke Lahan Mustika.

Selama beberapa hari berikutnya, Banyu menjalani rutinitas harian di pesanggrahan Lahan Mustika seolah-olah tak ada insiden apa pun yang terjadi. Berkat waktu istirahat dan asupan gizi yang cukup, luka tembak di tubuhnya telah pulih secara signifikan. Titik di mana peluru bersarang kini hanya menyisakan dua bekas luka kemerahan berbentuk bundar. Seiring berjalannya waktu, bekas luka itu pun pasti akan memudar sepenuhnya.

Di lubuk hatinya, Banyu masih sangat mengkhawatirkan kondisi Melati. Namun, teringat pada sikap defensif dan dingin Siska saat terakhir kali mereka bertemu, rasa jengkel di hati Banyu masih belum sepenuhnya reda. Oleh karena itu, ia menahan diri untuk tidak menelepon Siska duluan. Toh, sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya, Siska pasti akan menjadi orang pertama yang kalang kabut dan menghubunginya jika terjadi apa-apa pada Melati. Banyu tak perlu terlalu cemas.

Namun, kedamaian hidup Banyu tak berlangsung lama. Suatu pagi, saat ia sedang asyik menyesap kopi sambil mengobrol dengan Mang Ujang di kantor, suara sirine polisi yang melengking memecah keheningan. Sebuah mobil patroli polisi mendadak masuk ke pekarangan Lahan Mustika. Pemandangan itu otomatis membuat Banyu mengerutkan kening. Ia dan Mang Ujang segera turun dari kantor untuk mengecek situasi.

Melihat Banyu dan Mang Ujang berjalan menghampiri, seorang petugas polisi bertubuh jangkung besar turun dari mobil. Dengan raut wajah yang sangat kaku dan otoriter, ia membentak, "Mana yang namanya Banyu?!"

Melihat kedatangan polisi yang secara spesifik mencari dirinya, jantung Banyu berdegup sesaat. "Sial... apakah aksiku melumpuhkan Rendi malam itu ada celahnya? Apa ada saksi atau rekaman CCTV yang membuatku dikenali? Mustahil!" batinnya panik.

Meskipun dadanya bergemuruh karena kecemasan, ekspresi luar Banyu tetap tenang bagai permukaan danau. Ia menjawab santai, "Saya Banyu. Ada keperluan apa Bapak mencari saya?"

"Oh, jadi kau yang namanya Banyu?" Polisi jangkung itu menatap Banyu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mengintimidasi. "Kau tahu apa kesalahan yang telah kau perbuat?"

Banyu sudah sangat hafal taktik gertak sambal khas aparat penegak hukum ini. Ia tak akan mudah terpancing. Dengan memasang wajah inosens bak warga negara teladan, ia balas bertanya, "Kesalahan apa ya, Pak? Saya ini warga negara taat hukum, tak pernah sekalipun mencari masalah."

"Hmph! Berhenti berlagak bodoh!" Polisi jangkung itu sama sekali tidak termakan akting Banyu. Ia mendesis dengan nada dingin, "Ada kasus penganiayaan berat yang membutuhkan kesaksianmu. Ikut kami ke kantor sekarang juga!"

Banyu tersenyum tipis. "Mana surat penangkapannya? Tunjukkan dulu pada saya!"

"Banyak bacot kau!" bentak polisi jangkung itu dengan amarah yang meledak. "Kami punya otoritas penuh untuk menahanmu 1x24 jam untuk keperluan interogasi! Jangan berani-berani menolak bekerja sama, atau aku akan memborgolmu dan menyeretmu ke mobil! Apa kau mau dipermalukan di depan anak buahmu sendiri?!"

Rekan polisi jangkung itu menyadari bahwa kelakuan arogan rekannya sangat tidak profesional. Ia buru-buru menyenggol lengan si jangkung dan berbisik memperingatkan, "Pak Yudo, tolong jaga sikapmu! Ini bukan di ruang interogasi!"

Polisi yang dipanggil Pak Yudo itu terdiam sejenak. Meski terlihat sangat enggan, ia menekan amarahnya dan menurunkan nada suaranya, "Kami meminta Saudara Banyu untuk ikut ke kantor polisi guna membantu proses investigasi terkait sebuah kasus penganiayaan. Kami harap Saudara bersedia bekerja sama secara kooperatif!"

Banyu sangat sadar, jika ia bersikeras melawan aparat hukum secara terbuka, ia justru akan terlihat semakin mencurigakan. Karena pihak polisi sudah menurunkan ego mereka dan bersikap sedikit lebih sopan, ia tak punya alasan lagi untuk menghindar. Ia mengangguk ringan, "Nah, kalau bicaranya baik-baik begitu kan enak didengar. Baiklah, saya ikut ke kantor."

Saat Banyu melangkah masuk ke kursi belakang mobil patroli, ia tampak sangat rileks tanpa ada tanda-tanda ketakutan. Melihat sikap tenang pemuda itu, sebuah seringai sinis melintas di bibir Pak Yudo. "Awas saja kau, berani-beraninya bersikap angkuh padaku! Begitu kau masuk ke ruang interogasi, akan kusiksa kau sampai kau memohon untuk mengakui kejahatanmu!"

Mobil patroli itu melaju kencang dengan sirine meraung membelah jalan tol, menuju ke Bandung. Tujuan mereka adalah Polres Metro Timur.

Sialnya, tragedi langsung terjadi begitu Banyu turun dari mobil patroli. Pak Yudo yang sudah memendam dendam langsung menerjang ke belakang tubuh Banyu. Tanpa peringatan apa pun, ia memelintir kedua tangan Banyu dengan kasar ke belakang punggung dan memborgolnya dengan sangat brutal! Meskipun dua polisi lain yang mendampinginya merasa bahwa tindakan kasar Pak Yudo sangat berlebihan, mereka tidak berani menegur rekannya di depan markas mereka sendiri.

Senyum kemenangan yang luar biasa culas menghiasi wajah Pak Yudo. Dengan sengaja, ia menarik paksa kedua tangan Banyu yang sudah diborgol itu ke atas hingga melebihi batas, membuat sendi bahu Banyu menegang ekstrem. Sambil menggertakkan gigi ia berbisik sinis, "Kau pikir kau bisa sok jago di hadapanku, hah?! Masuk ke kandang ini, bersiaplah menerima neraka!"

"Bapak namanya Yudo, kan?" respons Banyu tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun. "Kuharap Bapak selalu mengingat baik-baik setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut Bapak."

"Keparat, masih berani kau mengancamku?!" Sikap menantang Banyu sukses memicu amarah Pak Yudo. Ia merespons dengan mendorong tangan Banyu lebih tinggi lagi secara paksa.

Ini adalah teknik penyiksaan paling klasik dan efektif yang sering dipraktikkan aparat pada tersangka yang melawan: semakin tinggi borgol itu diangkat, semakin tak tertahankan rasa sakit di persendian bahu. Jika dipaksa melampaui batas elastisitas sendi, tulang bahu bisa terlepas dan berujung pada cedera serius. Dalam posisi terkunci seperti ini, tahanan tidak punya celah sedikit pun untuk melawan dan hanya bisa pasrah disiksa.

Sayangnya, malam ini Pak Yudo benar-benar mencari gara-gara dengan orang yang salah. Baru saja ia menarik tangan Banyu setengah jalan, ia merasa seolah tangannya sedang mendorong dua buah batang besi cor yang terpancang kokoh ke dalam tanah. Tak ada pergerakan sedikit pun! Sebagai pria bertubuh raksasa, Pak Yudo selama ini dijuluki sebagai preman terkuat di Polres Metro Timur. Ia benar-benar tak percaya harga dirinya diinjak-injak seperti ini. Ia memusatkan seluruh kekuatan lengannya dan mencoba mengangkat tangan Banyu berulang kali, tapi hasilnya tetap nihil!

Melihat wajah Pak Yudo memerah padam bak kepiting rebus karena mengerahkan seluruh tenaganya namun gagal total, Banyu menyindir pelan, "Pak Polisi Yudo yang terhormat, apakah kita bisa masuk sekarang? Terus-terusan berdiri mematung di parkiran begini, Bapak tidak malu dilihat bawahan Bapak?"

Sindiran tajam Banyu menyadarkan Pak Yudo. Ia buru-buru menyeret Banyu masuk ke dalam gedung menuju ruang interogasi. Meski begitu, insiden konyol barusan telah menghancurkan total wibawa dan dominasi psikologis yang susah payah ia bangun. Berhadapan dengan Banyu, mentalnya kini telah kalah telak.

Beruntung bagi pihak kepolisian, sesi interogasi itu didampingi oleh seorang penyidik senior bernama Pak Nandito. Dengan jam terbang dan pengalamannya yang tinggi, Pak Nandito tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh drama konyol rekannya. Seolah-olah tak ada insiden apa pun yang terjadi, ia membuka buku catatannya dan bertanya dengan nada datar yang profesional, "Kami ingin tahu: di mana posisi Saudara pada Rabu dini hari lalu, tepatnya pada tanggal 8 Juli sekitar pukul 02:00 pagi?"

"Dini hari tanggal 8 Juli..." Banyu mengernyitkan dahi seolah sedang berpikir keras. "Tentu saja saya sedang tidur nyenyak di rumah. Emangnya saya ini maling yang hobi begadang jam segitu?"

"Jangan coba-coba memutarbalikkan fakta!" Sebelum Pak Nandito sempat bereaksi, Pak Yudo yang masih menyimpan dendam langsung menggebrak meja dengan beringas. "Kami sudah melakukan investigasi lapangan! Berdasarkan keterangan para pegawai di Lahan Mustika, pada tanggal 8 Juli dini hari itu kau sama sekali tidak ada di tempat!"

Sejak awal, Banyu sudah menyadari bahwa polisi bernama Yudo ini punya sentimen pribadi padanya. Ia pun tidak sudi bersikap kooperatif. Banyu langsung membalas gertakan itu, "Pegawai mana yang memberikan kesaksian palsu itu?! Bawa dia kemari! Biar kita konfrontasi langsung di hadapanku! Coba jelaskan padaku, bagaimana caranya dia bisa memantau dan tahu kalau aku tidak ada di kamarku pada pukul dua pagi buta?!"

"Kami menginterogasi beberapa pegawai sekaligus!" bantah Pak Yudo dengan urat leher menegang. "Mereka semua kompak bersaksi bahwa saat jam kerja selesai, tak satupun dari mereka melihat batang hidungmu di pesanggrahan!"

"Lho? Kalau mereka tidak melihatku saat jam pulang kerja, apakah itu otomatis membuktikan kalau aku tidak pulang di jam dua pagi?! Apa tidak mungkin aku pulang ke kamarku setelah mereka semua terlelap?!" Banyu tertawa sinis dan tajam. "Wah, Pak Yudo... ternyata selain otot Bapak lembek, otak Bapak juga tumpul luar biasa, ya!"

"Bangsat!" Urat di dahi Pak Yudo bermunculan. Selama karirnya sebagai penyidik, belum pernah sekalipun ada tersangka yang berani menghinanya secara frontal di ruang interogasi. Ia menggebrak meja lagi dan melompat berdiri, "Kau mau cari mati, hah?! Sini kau! Biar kuhancurkan tulangmu!"

Banyu sama sekali tidak gentar. Ia menyeringai sinis, "Ayo, maju sini kalau berani! Kita buktikan siapa yang bakal dihancurkan duluan!"

Ucapan Banyu diiringi oleh aura membunuh yang sangat kental dan menyesakkan dada. Meski kedua tangan pemuda itu diborgol, entah kenapa aura yang ia pancarkan sukses membuat nyali Pak Yudo menciut seketika. Ia terpaku di posisinya, tak berani melangkah maju.

Menyadari bahwa situasi ini bisa berujung pada kekerasan yang melanggar SOP, Pak Nandito yang sedari tadi diam buru-buru mengambil alih. Ia menatap Banyu dengan tatapan memperingatkan, sekaligus menurunkan nada bicaranya menjadi lebih lunak. "Saudara Banyu, kami memanggil Anda kemari hanya untuk meminta konfirmasi. Saya harap Anda bisa bersikap koperatif dan menjawab pertanyaan kami dengan kepala dingin. Sekali lagi saya tanya: di mana sebenarnya keberadaan Anda malam itu?"

"Tidur di rumah," jawab Banyu instan tanpa ragu.

Pak Nandito langsung mengejar, "Ada saksi yang bisa mengonfirmasi alibi Anda?"

"Saya kan hidup sendirian. Masa iya saya bawa-bawa saksi cuma buat lihatin saya tidur di ranjang?" jawab Banyu santai.

"Ah! Berarti tidak ada satu pun bukti valid yang bisa menguatkan bahwa kau benar-benar tidur di rumahmu malam itu!" sergah Pak Yudo dengan seringai penuh kemenangan. "Banyu, kuperingatkan kau sekali lagi. Kalau kau bersikap kooperatif dan mengakui semua perbuatanmu, kami bisa mempertimbangkan untuk mencatat kelakuan baikmu dalam laporan agar kau mendapat keringanan hukuman!"

Banyu sama sekali tak terpancing dan membalas dengan santai, "Saya benar-benar tidak paham dengan bualan Bapak."

Melihat kekeraskepalaan Banyu, batas kesabaran Pak Nandito pun akhirnya habis. Ia menutup buku catatannya dengan gerakan lambat dan berkata, "Baiklah. Kalau Saudara memang bersikeras seperti itu, izinkan saya menyegarkan ingatan Saudara. Pada dini hari tanggal 8 Juli pukul 02:00, telah terjadi kasus penganiayaan berat dan brutal di area parkir bawah tanah kompleks perumahan elite Gedung Nomor 9. Korban dalam kasus ini bernama Rendi. Berdasarkan kesaksiannya, pada tanggal 2 Juli ia pernah terlibat pertikaian fisik dengan Anda di Rumah Sakit Anak. Anda tidak menyangkal fakta ini, kan? Nah, karena motif dendam tersebut, kami menetapkan Anda sebagai tersangka utama dalam kasus penganiayaan berat ini!"

"Oh, kalau soal cekcok dengan Rendi di rumah sakit itu, memang benar. Saya tidak akan membantahnya," Banyu mengakuinya dengan lugas. Namun, sedetik kemudian ia melanjutkan dengan tajam, "Tapi, apakah fakta itu cukup kuat untuk menuduhku sebagai pelaku penganiayaan?! Bajingan tengik macam Rendi itu musuhnya ada di mana-mana! Dari sekian banyak orang yang pernah ia singgung, kenapa kalian malah memusatkan tuduhan ke arahku?! Bukti apa yang kalian punya?!"

Perkataan Banyu menohok titik lemah Pak Nandito, membuat raut wajah polisi senior itu tampak canggung. Sejujurnya, saat mereka menginterogasi Rendi di rumah sakit, mereka telah meminta korban menyusun daftar nama orang yang mungkin punya dendam padanya. Dan benar saja, nama yang disebutkan Rendi panjangnya sampai menghabiskan satu halaman penuh! Hanya mengandalkan riwayat konflik belaka untuk menjebloskan Banyu ke penjara sebagai tersangka utama memang sangat tidak proporsional dan gegabah secara hukum.

Namun, kepolisian masih memegang satu kartu truf yang mematikan. Melihat Banyu terus berkelit, Pak Yudo akhirnya meledak, "Banyu, jangan berlagak bodoh dan mengelak lagi! Kami polisi tidak akan asal menangkap orang kalau kami tidak mengantongi bukti kuat! Biar kukatakan padamu: Korban sendiri yang secara sadar dan tegas MENYEBUT NAMAMU SEBAGAI PELAKUNYA! Nah, sekarang apalagi dalihmu?!"

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!