"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Langkah kakiku bergema pelan menyusuri koridor dingin beraroma karbol. Di depanku, sipir berjalan santai tanpa sedikit pun menoleh. Ketika pintu besi ruang besuk digeser terbuka, tatapanku langsung terkunci pada sosok yang sudah menunggu di seberang meja kayu tebal.
Seorang gadis. Usianya tampak sepantaran denganku, tetapi aura yang memancar darinya sungguh berbeda.
Ia duduk dengan gestur tubuh yang begitu tegak, anggun, dan memancarkan wibawa kelas atas yang dingin. Rambut cokelat gelapnya yang panjang bergelombang mengalir indah melampaui bahunya, memantulkan pendar lampu ruangan yang temaram setiap kali ia bergerak tipis. Wajahnya bergaris tegas namun jelita, dengan sepasang mata tajam sewarna hazel yang seolah sanggup menguliti isi kepala siapa pun yang ditatapnya. Ia mengenakan kemeja sutra putih gading yang terpotong rapi, dibalut blazer kasual yang sangat berkelas.
Di belakang kursi tempatnya duduk, berdiri dua orang pria bertubuh tegap. Keduanya mengenakan setelan jas hitam rapi dengan earpiece terselip di telinga—dua pengawal pribadi yang siap siaga.
Dahiku berkerut tipis. Saraf wajahku refleks mengeras, memancarkan jarak.
“Oho... lihat anak orang kaya ini,” cibir Sena di dalam mental realm-ku. Suaranya sarat akan nada ejekan dan rasa geli yang biasa. “Datang membawa pengawal ke sarang penjahat. Apa dia mengira sedang berada di dalam skenario film aksi murahan? Konyol sekali.”
Aku tidak merespons Sena. Aku hanya melangkah maju, menarik kursi kayu di seberangnya, lalu duduk dengan gerakan kaku. Jemariku saling bertaut di atas meja, kepalaku sedikit menunduk dengan tatapan yang menyipit dingin dari balik poni—sebuah pertahanan otomatis dari sifat anti-sosialku yang selalu merasa tertekan di dekat orang asing.
"Aluna Sena," panggil gadis itu. Suaranya halus, teratur, namun memiliki artikulasi yang begitu lugas. "Perkenalkan, namaku Arisya."
Aku bergemah pelan di dalam tenggorokan. "Arisya... Jadi, untuk apa orang sepertimu mencariku sampai ke tempat busuk ini?"
"Langsung ke inti permasalahan, ya? Aku suka gaya bicaramu," ujar Arisya sembari menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang.
"Aku mendengar rumor menarik dari beberapa jaringan informanku. Tentang seorang remaja perempuan yang tanpa bantuan siapa pun, berhasil menjadi 'penguasa' tunggal di balik jeruji besi lapas ini hanya dalam waktu dua tahun." Arisya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatapku lurus. "Aku datang kemari untuk merekrutmu, Luna."
Sebuah dengusan geli yang dingin lolos dari bibirku. Sifat sinisku yang tajam refleks keluar.
"Kalian orang-orang kaya memang luar biasa, ya?" sindirku sembari menyandarkan punggung, mengikis rasa canggung di dadaku dengan nada meremehkan. "Bisa melakukan apa saja sesuka hati... bahkan sampai melangkah masuk ke penjara hanya untuk merekrut seorang kriminal pembunuh. Yah, walau aku sendiri tidak tahu kau mau menjadikanku apa—pembunuh bayaran pribadimu?"
Arisya terkekeh pelan. Ia tidak merasa tersinggung sedikit pun.
"Soal orang kaya bisa berbuat sesuka hatinya... aku tidak akan menyangkal hal itu," sahut Arisya tenang. Namun, pandangan matanya mendadak berubah tajam dan penuh penekanan. "Tapi bagian kau menyebut dirimu sebagai seorang kriminal... itu sangat salah."
Kata-kata itu membuatku tertegun. Kepalaku mendongak spontan, menatap mata hazel milik Arisya.
“Wah, lihat itu. Dia berniat sok tahu tentang dirimu,” potong Sena sambil tertawa mengejek di kepala. “Ayo kita dengarkan dongeng apa yang dibawanya.”
"Apa maksudmu?" tanyaku dingin, mengontrol gejolak kaget di dadaku.
Arisya memberi isyarat pelan pada salah satu pengawalnya. Pria berjas itu melangkah maju, meletakkan sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat di atas meja, lalu membukanya di hadapanku.
"Kasus pembunuhan Ayah Rania pada 4 Mei 2021," mulai Arisya dengan nada seperti seorang investigator profesional. "Kau mengaku bersalah secara mutlak di persidangan tanpa membuat pembelaan sedikit pun, bukan? Publik dan polisi menutup kasus ini dengan cepat karena kau 'mengaku'. Tapi bagiku, ada terlalu banyak variabel yang tidak masuk akal."
Arisya mengetuk foto otopsi dan olah TKP di dalam map tersebut dengan ujung jarinya yang lentik.
"Pertama," lanjut Arisya lugas, "Laporan medis menyatakan adanya memar akibat pukulan tumpul di wajah dan perutmu saat kau ditangkap, serta luka lebam parah berbentuk cengkeraman tangan di lehermu. Posisi luka itu cocok dengan pola penganiayaan oleh pria dewasa. Jika kau yang berniat membunuhnya secara terencana, kenapa kau membiarkan dirimu disiksa hingga babak belur terlebih dahulu?"
Aku diam membeku. Tenggorokanku mendadak terasa kering.
"Kedua, posisi jatuhnya korban dari lantai empat," Arisya menunjukkan sketsa teknis sudut kemiringan gedung. "Berdasarkan sudut kemiringan benturan di lantai dasar dan sisa jejak gesekan di lantai semen basah, jatuhnya korban bukan akibat dorongan sepihak dari depan, melainkan akibat kehilangan keseimbangan saat terjadi perkelahian fisik secara mendadak. Kau yang berbadan kecil tidak mungkin bisa melempar pria dewasa seberat 75 kilogram melompati pagar pembatas jika bukan karena faktor ketidaksengajaan atau dorongan balik yang panik."
Arisya memajukan tubuhnya, menopang dagunya di atas kedua tangan yang bertautan.
"Dan yang paling krusial... aku melakukan penyelidikan mandiri pada latar belakang korban—Ayah Rania."
Arisya membalik halaman dokumen, memamerkan deretan foto-foto cetakan digital dan lembaran kertas lusuh yang dipindai.
Seketika, pupil mataku membesar.
Foto-foto itu... adalah puluhan foto Rania. Namun bukan foto keluarga biasa. Foto-foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh, dari balik semak-semak, dari celah jendela kamar Rania sendiri, hingga foto Rania saat sedang tidur. Sudut pengambilannya murni dilakukan oleh seorang stalker yang obsesif.
"Aku menyuruh timku meretas isi brankas tersembunyi di ruang kerja pribadi korban yang bahkan tidak diketahui oleh istri maupun anaknya," bisik Arisya dengan nada yang amat dalam.
"Ayah Rania mengidap penyimpangan psikologis yang sangat parah—sebuah obsesi kepemilikan patologis terhadap putri kandungnya sendiri. Obsesi gilanya sudah melewati batas wajar sampai ingin memiliki putrinya sepenuhnya, baik jiwa dan raganya. Kau pasti mengetahui hal itu, kau ingin menghentikan kegilaannya, kan?"
Suara ruangan besuk itu seolah mendadak senyap total. Pernyataan Arisya menghantam dadaku seperti hantaman palu godam.
“Pfft... Hahaha!” Sena mendadak tertawa terbahak-bahak di dalam mental realm-ku, menyela keheningan dengan tawa mengejeknya yang menusuk. “Gila! Lihat raut wajahmu, Luna! Rahasia kelam yang kau sembunyikan rapat-rapat sambil sok jadi pahlawan martir malah dibongkar habis oleh anak persekolahan yang baru pertama kali kau temui! Betapa menyedihkannya dirimu!”
Aku berusaha keras mengabaikan tawanya yang bising, mengeratkan jemariku yang bertautan hingga kuku-kukuku memutih.
Arisya menyandarkan tubuhnya kembali, menatapku lurus tanpa ragu.
"Kesimpulanku utuh, Aluna Sena. Kau tidak membunuh pria itu atas dasar kejahatan. Kau mengorbankan dirimu, mengakui tuduhan pembunuhan itu, dan masuk ke penjara ini hanya demi satu hal: untuk melindungi nama baik Ayah Rania agar mental sahabatmu tidak hancur total jika tahu kebenaran yang menjijikkan ini."
Arisya tersenyum lembut, mengulurkan tangannya melintasi meja.
"Kau bukan penjahat, Luna. Kau adalah seorang pelindung yang rela membusuk di dalam kegelapan. Dan orang dengan ketahanan mental serta dedikasi setingkat itulah yang sangat kubutuhkan.”
Aku terdiam menatap uluran tangan Arisya yang menggantung di udara. Pikiranku mendadak buntu, tidak tahu harus merespons apa atas analisis fantastis yang baru saja dibeberkannya.
"Jam besuk sudah habis!" teriak sipir penjara dari balik pintu besi, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Aku segera berdiri dari kursiku tanpa membalas genggaman tangan Arisya.
"Aku akan datang lagi," ujar Arisya tenang sembari ikut berdiri, merapikan blazernya yang tak berkerut. "Jadi mohon berikan aku jawabannya saat itu."
Aku hanya diam mengabaikan Arisya, berbalik membelakanginya, lalu melangkah mengekor sipir yang menuntunku kembali menyusuri koridor dingin menuju selku.
“Tadi itu tawaran yang sangat menarik, kenapa kau tidak langsung menerimanya saja?” cerocos Sena di dalam mental realm-ku, suaranya dipenuhi nada geli yang mengejek.
Sudah kubilang bertali-kali, aku tidak memiliki niatan keluar dari tempat ini sebelum masa hukumanku selesai.
“Tapi dia kan menawarkan jalan keluar legal, bukan menyuruhmu membobol penjara. Kau hanya bilang tidak akan melarikan diri,” cibir Sena.
Sama saja, jawabku dingin di dalam pikiran. Terlebih lagi... gadis itu salah paham akan sesuatu.
“Hehe... kau benar sekali,” Sena tertawa lirih, menyuarakan ironi yang menggelitik benaknya. “Padahal skenario aslimu jauh lebih berdarah dingin. Kau memang sengaja membiarkan pria itu melakukan kekerasan padamu, lalu membawamu ke bangunan terbengkalai itu. Ketika ada kesempatan, kau berniat memancingnya ke jebakan yang sudah kau siapkan dari awal, lalu membunuhnya dengan tanganmu sendiri. Tapi pada akhirnya, dia justru mati terpeleset—cara mati yang berbeda dari yang kau rencanakan.”
Ya, batinku menatap lurus jeruji sel yang makin mendekat. Jadi gelar 'pelindung berhati mulia' yang gadis itu lontarkan dengan sok tahunya... adalah sebuah omong kosong yang sangat menggelikan.
“Hahaha... aku bahkan sampai tertawa terbahak-bahak sewaktu mendengarnya tadi!” sahut Sena kegirangan, menertawakan betapa tidak bersalahnya duniaku di mata orang lain.