Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Malam kian larut ketika mobil SUV hitam milik Andra berbelok memasuki pelataran parkir Polres Jakarta Selatan. Sorot lampu merkuri menerangi beberapa mobil patroli yang berjajar rapi. Suasana kantor polisi di malam hari terasa sunyi, namun ada ketegangan konstan yang menggantung di udara koridornya.
Mila turun dari mobil dengan langkah yang agak ragu. Melihat seragam cokelat dan papan nama di dinding membuat debar jantungnya kembali meningkat. Namun, belum sempat rasa cemas itu menguasainya, sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya.
"Ada saya. Jangan takut," bisik Andra yang sudah berdiri di sampingnya.
Di lobi polres, seorang pria berkacamata dengan setelan jas rapi sudah menunggu mereka. Dia adalah Baskara, kepala tim hukum dari perusahaan Andra yang sengaja dipanggil untuk mengawal kasus ini sejak sore tadi.
"Malam, Pak Andra, Bu Mila," sapa Baskara dengan anggukan hormat. "Semua berkas pelimpahan perkara dari Polres Bandung sudah saya terima. Malam ini kita hanya perlu melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tambahan dari Bu Mila sebagai korban, beserta bukti-bukti pesan ancaman dan foto yang dikirimkan pelaku."
Andra mengangguk tegas. "Pastikan semua pasal yang bisa menjeratnya dimasukkan, Bas. Saya tidak mau ada celah sekecil apa pun untuk laki-laki itu bebas dengan jaminan."
"Siap, Pak. Dengan adanya rekam jejak kasus penggelapan dana dari perusahaan lamanya, posisi pelaku sangat lemah. Dia tidak akan bisa mengelak lagi," jawab Baskara tenang namun meyakinkan.
Mila dipandu masuk ke sebuah ruangan pemeriksaan yang untungnya cukup nyaman. Seorang polwan ramah menyambutnya dan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar seputar kronologi kejadian. Selama proses yang memakan waktu hampir dua jam itu, Andra tidak pernah beranjak dari kursi tunggu di luar ruangan. Pria itu menolak untuk pulang duluan, memilih memastikan Mila menyelesaikan semuanya tanpa rasa tertekan.
Pukul setengah satu dini hari, proses BAP akhirnya selesai. Mila keluar dari ruangan dengan bahu yang terasa jauh lebih ringan, meskipun matanya tidak bisa berbohong kalau dirinya teramat lelah.
"Semua sudah beres, Pak," ujar Baskara saat mereka berjalan keluar menuju area parkir. "Bu Mila bisa pulang dan beristirahat. Untuk kelanjutan persidangan dan administrasi lainnya, tim saya yang akan maju."
"Terima kasih, Baskara. Kamu bisa pulang sekarang," ucap Andra.
Setelah Baskara berpamitan, Andra menoleh ke arah Mila yang sedang memijat tengkuknya pelan. "Ayo, saya antar kamu pulang."
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Jakarta yang sudah sepi, keheningan sempat merayap selama beberapa saat. Mila menatap keluar jendela, memandangi deretan gedung pencakar langit yang sebagian lampunya sudah dipadamkan.
"Pak Andra..." panggil Mila lirih, memecah kesunyian.
"Ya?" Andra menoleh sedikit dari balik kemudi.
"Kenapa Bapak repot-repot melakukan semua ini untuk saya? Maksud saya... saya hanya karyawan biasa di kantor. Tugas Bapak harusnya tidak sampai menjamin keamanan pribadi saya sejauh ini."
Pertanyaan yang sudah lama dipendam Mila akhirnya terlontar juga. Ia membutuhkan jawaban jujur, karena perhatian Andra sudah jauh melampaui batas profesionalisme seorang atasan kepada bawahan.
Andra terdiam. Tangannya yang memegang setir tampak mengetat sejenak. Mobilnya berhenti di sebuah lampu merah yang menyala statis di perempatan jalan yang kosong. Pria itu menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya sedikit menghadap Mila.
"Awalnya, saya juga mengira ini hanya bentuk tanggung jawab saya sebagai pimpinan karena kamu adalah staf saya," ucap Andra, suaranya terdengar berat dan tulus di dalam mobil yang sunyi. "Tapi, setelah saya mendengar cerita kamu tentang masa lalu itu... dan setelah melihat kamu ketakutan setengah mati di Bandung tadi siang... saya sadar alasannya bukan lagi soal pekerjaan."
Andra menatap lekat kedua mata Mila. "Saya tidak suka melihat kamu terluka, Mila. Dan saya ingin menjadi orang yang memastikan tidak ada satu pun orang dari masa lalumu yang bisa membuatmu menangis lagi. Apa itu salah?"
Mila terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena ada perasaan asing yang mendadak membuncah di dalam dadanya. Kalimat Andra barusan adalah pengakuan tersirat yang paling tegas yang pernah ia dengar.
Sebelum Mila sempat merespons, ponsel Andra yang diletakkan di dekat dashboard tiba-tiba berdering nyaring. Layarnya menampilkan sebuah nomor tanpa nama.
Andra mengernyitkan dahi. Ia menekan tombol speaker untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
"Halo, Andra..." Sebuah suara bariton yang terdengar asing, namun memiliki nada angkuh yang sangat kentara, menyahut dari seberang telepon. Ada suara musik bising yang lamat-lamat terdengar di latar belakang panggilan itu.
Andra memicingkan matanya, instingnya langsung waspada. "Siapa ini?"
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya sekarang," sahut suara itu diiringi kekehan rendah yang dingin. "Tapi saya sarankan, jangan terlalu senang dulu karena sudah menjebloskan si bodoh Arjun ke penjara. Laki-laki itu memang tidak berguna. Tapi... urusan Mila belum selesai hanya karena dia ditahan."
Mila yang mendengar nama dirinya disebut langsung menegang di kursi penumpang. Wajahnya kembali memucat.
"Apa maksudmu?!" bentak Andra, rahangnya mengeras seketika. "Siapa kamu sebenarnya?!"
"Katakan pada perempuan di sebelahmu itu... utang Arjun di tempat kami jumlahnya tidak sedikit. Dan karena Arjun sekarang mendekam di sel atas bantuanmu, maka sebagai istrinya—atau mantan istrinya, siapa peduli—Mila-lah yang harus melunasi sisa taruhannya. Jika tidak..."
Suara di seberang telepon sengaja menggantung kalimatnya, memberikan efek teror yang mencekam sebelum akhirnya sambungan diputus sepihak.
Pip.
Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sedingin es. Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, namun Andra belum menginjak pedal gasnya. Tatapannya menatap lurus ke depan dengan amarah yang mendidih.
Rupanya, masalah Arjun hanyalah puncak dari gunung es. Bajingan itu telah menyeret Mila ke dalam lingkaran hitam yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka duga sebelumnya.