Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paviliun Anggrek Hitam
Matahari siang bersinar dengan sangat terik menyinari jalanan batu pualam Kota Angin Merah yang dipenuhi oleh lautan manusia.
Lin Ye berjalan menyusuri keramaian tersebut dengan langkah yang sangat pelan dan terukur seolah tidak memiliki beban apa pun di pundaknya.
Jubah abu-abunya yang kusam dan caping bambu yang menutupi wajah pucatnya membuatnya terlihat seperti setetes air di tengah samudra yang luas.
Tidak ada satu pun tatapan mata yang tertuju padanya saat ia berjalan membelah kerumunan para pedagang dan kultivator pengembara.
Penyamaran aura yang diberikan oleh Sistem Pengendali Hantu ini benar-benar sangat sempurna bagi seorang kaisar kematian yang statusnya sedang diburu oleh dunia.
Di dalam benaknya yang dingin, ia terus memikirkan langkah selanjutnya untuk memperkuat pasukan bayangannya yang kini telah berjumlah puluhan ribu jiwa.
Meskipun jumlah prajurit hantunya sangat masif dan mengerikan, sebagian besar dari mereka hanyalah roh tingkat rendah yang hanya bisa mengandalkan taktik serangan kuantitas.
Ia sangat membutuhkan sebuah artefak spiritual tipe Yin tingkat tinggi untuk digunakan sebagai wadah senjata bagi Jenderal Wu An dan Jenderal Darah Kutukan.
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti tepat di depan sebuah bangunan melingkar yang sangat megah dan menjulang setinggi lima lantai di pusat kota tersebut.
Bangunan raksasa itu terbuat dari susunan kayu gaharu hitam yang memancarkan aroma harum spiritual untuk menenangkan jiwa siapa pun yang menghirupnya.
Di atas pintu masuk utamanya yang terbuat dari lempengan emas murni, terdapat sebuah plakat kristal raksasa yang bertuliskan nama Paviliun Anggrek Hitam.
Ini adalah rumah lelang terbesar dan paling bergengsi di seluruh Kota Angin Merah, sebuah tempat berkumpulnya pusaka-pusaka langka dari berbagai penjuru benua.
Lin Ye mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan bayangan caping bambunya tersingkir untuk melihat kemegahan bangunan yang dijaga oleh puluhan penjaga berzirah perak itu.
Setiap penjaga yang berdiri di depan pintu utama memancarkan fluktuasi energi dari tahap kedelapan Alam Pengumpulan Qi, menunjukkan betapa kayanya aliansi pedagang ini.
Tanpa ragu sedikit pun, Lin Ye melangkahkan kakinya menaiki undakan tangga batu giok putih menuju ke arah pintu masuk paviliun yang terbuka lebar.
Dua orang penjaga berzirah perak langsung menyilangkan tombak mereka di depan dada Lin Ye, menghalangi langkah pemuda yang terlihat lusuh tersebut.
Mereka menatap jubah abu-abu Lin Ye dengan pandangan merendahkan, menilai bahwa pemuda ini hanyalah seorang pengemis yang salah masuk ke tempat mewah.
"Berhenti di sana, anak muda, tempat ini bukanlah kedai tuak murahan yang bisa dimasuki oleh sembarang pengembara," tegur salah satu penjaga dengan nada yang sangat dingin.
"Untuk memasuki aula lelang umum, kau harus menunjukkan bukti kepemilikan minimal seribu keping batu spiritual tingkat rendah."
Lin Ye tidak membalas ucapan sombong penjaga itu dengan kemarahan, ia juga sama sekali tidak melepaskan penyamaran auranya untuk menakut-nakuti mereka.
Ia hanya memasukkan tangan kanannya ke dalam balik jubah abu-abunya dan perlahan mengeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari batu giok putih transparan.
Botol giok itu terlihat sangat biasa dari luar, namun saat Lin Ye mencabut sedikit sumbat penutupnya, sebuah aroma obat yang sangat murni langsung meledak ke udara.
Aroma itu begitu kuat dan menyegarkan hingga membuat kedua penjaga berzirah perak itu tanpa sadar menarik napas panjang dan melebarkan mata mereka.
"Aku tidak datang untuk bergabung dengan kerumunan lalat di aula umum, aku datang untuk menjual sebuah barang ke ruang penilaian VIP," ucap Lin Ye dengan suara datar.
Kedua penjaga itu saling berpandangan dengan wajah yang kini dipenuhi oleh keringat dingin dan rasa hormat yang mendadak muncul.
Mereka berdua adalah kultivator yang cukup berpengalaman, sehingga mereka tahu persis bahwa aroma sekuat itu hanya bisa berasal dari pil spiritual tingkat bumi.
Satu butir pil tingkat bumi memiliki harga yang setara dengan nyawa puluhan ribu kultivator tingkat rendah di dunia luar.
"M-mohon maafkan ketidaksopanan kami, Tuan Muda yang terhormat!" ucap penjaga pertama sambil segera menarik tombaknya dan membungkuk dalam-dalam.
"Silakan ikuti lorong di sebelah kanan menuju ruang penilaian emas, Tuan Penilai Utama kami akan melayani Anda secara langsung."
Lin Ye hanya mendengus pelan dan kembali menyumbat botol giok tersebut sebelum menyimpannya ke dalam jubahnya.
Ia melangkah masuk melewati pintu emas raksasa, langsung disambut oleh kehangatan cahaya lampion kristal dan lantai marmer yang dipoles hingga memantulkan bayangan.
Sesuai dengan petunjuk penjaga tadi, Lin Ye berjalan menyusuri sebuah lorong sepi di sebelah kanan yang dihiasi oleh berbagai lukisan pemandangan alam kuno.
Di ujung lorong tersebut, terdapat sebuah pintu kayu ek berukir naga yang dijaga oleh seorang wanita cantik berpakaian sutra merah yang sangat elegan.
Wanita itu tersenyum manis dan membukakan pintu untuk Lin Ye tanpa banyak bertanya, seolah sudah terbiasa menyambut tamu-tamu misterius yang menyembunyikan identitas.
Ruang penilaian di balik pintu itu tidak terlalu besar, namun setiap perabotan di dalamnya terbuat dari bahan-bahan spiritual yang harganya sangat fantastis.
Di balik sebuah meja batu giok hijau yang panjang, duduklah seorang pria tua berkacamata kristal yang memiliki janggut putih panjang menyentuh dada.
Pria tua itu adalah Penilai Utama Paviliun Anggrek Hitam, seorang kultivator di puncak Alam Pembentukan Inti yang memiliki mata paling tajam di kota ini.
"Selamat datang, anak muda, silakan duduk dan tunjukkan barang apa yang membuatmu begitu percaya diri untuk masuk ke ruangan ini," sapa pria tua itu dengan senyum keibuan.
Lin Ye menarik sebuah kursi berbalut bulu binatang spiritual dan duduk dengan santai di hadapan pria tua tersebut.
Ia tidak membuang waktu untuk berbasa-basi dan langsung meletakkan botol giok putih transparan tadi ke atas meja batu giok hijau.
Pria tua itu mengangkat sebelah alisnya yang putih, lalu mengambil botol giok tersebut dengan tangan yang dilapisi oleh sarung tangan sutra khusus.
Ia membuka sumbat botol itu dan mendekatkannya ke hidungnya, memejamkan mata untuk meresapi fluktuasi energi yang terkandung di dalam aroma obat tersebut.
Seketika itu juga, mata pria tua itu terbuka lebar hingga kacamata kristalnya hampir terjatuh ke atas meja.
Tangan rentanya yang biasanya sangat tenang kini bergetar hebat saat ia menuangkan satu butir pil berwarna keemasan ke atas nampan beludru hitam.
Pil itu memancarkan tiga garis cahaya berbentuk cincin yang mengelilingi permukaannya, menandakan tingkat kemurnian obat yang sangat sempurna dan tanpa cacat.
"Dewa Langit yang agung... ini adalah Pil Pemulih Lautan Inti Tingkat Bumi kualitas sempurna!" seru pria tua itu dengan napas yang memburu cepat.
"Pil ini mampu memulihkan Inti Emas yang retak dan memperpanjang umur seorang kultivator Alam Pembentukan Inti hingga lima puluh tahun lamanya!"
Pria tua itu menatap Lin Ye dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh kengerian dan rasa penasaran yang sangat mendalam.
Pil semacam ini biasanya hanya dimiliki oleh para leluhur sekte-sekte raksasa dan tidak akan pernah dijual ke pasar lelang mana pun dengan alasan apa pun.
"Dari mana seorang pemuda di tahap Pengumpulan Qi sepertimu bisa mendapatkan barang pusaka milik dewa seperti ini?!" tanya pria tua itu dengan suara bergetar.
Lin Ye menatap dingin ke arah bola mata pria tua itu dari balik bayangan caping bambunya, memancarkan seberkas niat membunuh yang sangat tipis namun tajam.
"Kudengar Paviliun Anggrek Hitam tidak pernah mempertanyakan asal-usul barang yang dijual oleh pelanggannya," jawab Lin Ye dengan nada yang mengancam.
"Jika kalian terlalu banyak bertanya, aku bisa membawa pil ini ke rumah lelang lain yang lebih tahu aturan main di dunia kultivasi."
Pria tua itu langsung menelan ludahnya dengan susah payah, menyadari bahwa pemuda lusuh di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan.
Bisa saja pemuda ini adalah perwakilan dari iblis tua yang sedang menyamar, atau seorang jenius dari benua tengah yang sedang melakukan perjalanan rahasia.
"M-mohon maafkan kelancanganku, Tuan Muda! Aku hanya terlalu bersemangat melihat pil tingkat bumi dengan kualitas sesempurna ini," ucap pria tua itu sambil berkeringat dingin.
"Kami akan memasukkan pil ini ke dalam daftar lelang puncak malam ini sebagai salah satu barang penutup acara."
"Berdasarkan perkiraanku, pil ini akan terjual setidaknya dengan harga satu juta keping batu spiritual tingkat menengah!"
Pria tua itu segera mengeluarkan sebuah token emas berbentuk bunga anggrek dari dalam laci mejanya dan menyodorkannya ke hadapan Lin Ye dengan kedua tangan yang gemetar.
"Ini adalah token VIP kelas tertinggi dari Paviliun Anggrek Hitam, Tuan Muda," jelas pria tua itu dengan nada yang sangat hormat dan tunduk.
"Dengan token ini, Anda berhak menempati ruangan pribadi di lantai tiga aula lelang dan menikmati seluruh fasilitas terbaik kami."
Lin Ye mengambil token emas itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang penilaian tersebut.
Ia tidak peduli dengan harga satu juta batu spiritual menengah itu, karena tujuannya menjual pil curian dari Sekte Pedang Surgawi ini hanyalah untuk mendapatkan akses ke lantai VIP.
Seorang pelayan wanita berpakaian sutra langsung menghampirinya begitu ia keluar dari lorong dan membimbingnya menuju tangga melingkar yang dijaga ketat.
Lantai tiga aula lelang Paviliun Anggrek Hitam memiliki desain yang sangat mewah, terdiri dari ruangan-ruangan balkon pribadi yang tertutup oleh tirai manik-manik kristal.
Tirai kristal ini dirancang khusus dengan formasi pengacak spiritual, sehingga orang dari luar tidak akan bisa melihat atau merasakan aura orang yang berada di dalam ruangan.
Lin Ye masuk ke dalam ruangan VIP nomor tujuh, sebuah balkon luas yang dilengkapi dengan meja teh, buah-buahan spiritual, dan kursi giok yang sangat empuk.
Ia duduk di kursi giok tersebut, melepaskan caping bambunya dan meletakkannya di atas meja, lalu menatap ke arah panggung lelang raksasa di lantai dasar melalui celah tirai.
Aula lelang di bawah sana sudah dipenuhi oleh ribuan kultivator yang duduk berdesak-desakan, menciptakan suasana bising yang menyerupai pasar malam.
Namun perhatian Lin Ye tidak tertuju pada kerumunan rendahan di bawah sana, melainkan pada ruangan-ruangan VIP lain yang mengelilingi balkonnya.
Dengan Inti Yin Sempurnanya, Lin Ye bisa dengan mudah menembus formasi pengacak spiritual rendahan dari tirai kristal tersebut dan melihat siapa saja yang hadir.