seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Di dalam mobil mewah yang melaju membelah jalanan pagi, keheningan sempat merayap sesaat setelah tawa di teras rumah mereda. Rara duduk kaku di kursi penumpang belakang, sesekali meremas tali tas sekolahnya. Pandangannya dilempar ke luar jendela, mencoba mendinginkan pipinya yang masih terasa hangat akibat ledekan Dino dan Evan tadi.
Athur yang duduk di kursi depan sesekali melirik Rara dari kaca spion tengah. Melihat istrinya hanya diam melamun, ia memutuskan untuk membuka pembicaraan serius dengan Evan yang fokus memegang kemudi. Suasana santai di teras seketika menguap, digantikan oleh aura dingin khas petinggi dunia bawah tanah.
"Van, bagaimana perkembangan berkas pengkhianatan sisa anak buah Jesika?" tanya Athur datar, membuka obrolan yang membuat Rara di belakang langsung menajamkan pendengarannya.
Evan melirik Athur sekilas sebelum kembali menatap jalan raya. "Semua rekening dan aset gelap keluarga Hermawan sudah dibekukan total, Bos. Jesika sekarang benar-benar tidak punya apa-apa lagi. Tapi, ada satu hal yang mengganjal. Pergerakan musuh di malam penembakanmu tiga minggu lalu itu terlalu taktis. Aku yakin dalang utamanya bukan cuma Bramansyo atau Jesika. Ada orang dalam kita yang memberi informasi posisi rahasiamu malam itu."
Mendengar kata 'penembakan', Rara di kursi belakang sedikit tersentak. Ingatannya kembali pada malam mengerikan saat ia harus membersihkan darah yang mengalir dari perut kekar Athur. Rasa ngeri sekaligus penasaran berkecamuk di dalam dada remajanya, namun ia memilih tetap menutup mulut, tidak ingin merusak konsentrasi kedua pria dewasa di depannya.
Athur terdiam sesaat, mengetukkan jemari kekarnya di atas dasbor mobil. Sorot mata elangnya menajam, menembus kaca depan mobil. Ingatannya mendadak terlempar pada satu nama penting yang sudah lama tidak ia dengar kabarnya sejak badai konflik ini dimulai.
"Bagaimana dengan Daren?" tanya Athur tiba-tiba, suaranya terdengar lebih berat dan penuh penekanan.
"Sudah hampir tiga minggu tidak ada laporan masuk darinya. Apakah dia sudah menyelesaikan misi tugas proyek di Kota S?"
Evan mengembuskan napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Itu dia yang mau aku laporkan, Bos. Daren belum kembali ke markas pusat. Proyek pembangunan jaringan bisnis logistik dan pengamanan di Kota S sebenarnya sudah selesai sejak seminggu lalu. Tapi sampai hari ini, ponselnya sulit dihubungi. Sinyal pelacak gawai terakhirnya mendadak hilang di perbatasan kota."
Mendengar jawaban Evan, rahang Athur seketika mengeras sempurna hingga urat-urat di leher tegapnya menegang. Sebagai seorang bos mafia yang selalu memperhitungkan segala kemungkinan, hilangnya kontak dengan Daren di saat posisi internalnya sedang diguncang pengkhianat adalah sebuah sinyal bahaya yang sangat merah.
"Hubungi Bagas sekarang," perintah Athur mutlak, suaranya sedingin es yang sanggup membekukan atmosfer di dalam kabin mobil. "Perintahkan tim intelijen kita di Kota S untuk menyisir jalur pelarian terakhir Daren. Cari tahu apakah dia dijebak oleh musuh, atau... dia sengaja menghilang untuk menyembunyikan sesuatu dari kita."
"Siap, Bos. Segera saya urus setelah mengantar Rara," sahut Evan cepat dengan wajah yang tidak lagi main-main.
Athur kemudian memutar sedikit tubuhnya ke belakang, menatap lurus ke arah Rara yang langsung mematung karena tertangkap basah sedang menguping pembicaraan mereka. "Jangan pikirkan masalah ini, Rara. Tugasmu hanya belajar dengan baik di sekolah. Mengerti?" ucap Athur, nadanya melunak drastis hanya khusus untuk istri kecilnya itu.
Rara dengan polosnya mengangguk cepat, meremas tas ranselnya erat-erat demi menutupi rasa gugupnya di bawah tatapan intens sang suami yang begitu berwibawa.
Banyak istilah bisnis dan organisasi bawah tanah yang sama sekali tidak dipahami oleh logika remajanya. Namun, telinga Rara langsung tegak saat mendengar nama 'Jesika' disebut beberapa kali. Dari obrolan itu, Rara juga akhirnya sedikit menguping lebih dalam tentang kronologi kejadian malam mengerikan beberapa waktu lalu yang membuat perut Athur tertembak.
"Bos, lu juga harus ingat. Sempatkanlah pulang ke rumah utama sebentar. Temui Tuan Besar dan Ibu lu," ujar Evan di tengah kemudi, nadanya berubah sedikit melunak. "Mereka cemas setengah mati karena lu menghilang dua minggu tanpa kabar. Apalagi si Alden juga mulai curiga."
Athur hanya menatap lurus ke jalanan dengan pandangan datar, tidak menyahut namun sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang menimbang nasihat sahabatnya itu.
Di depan gerbang sekolah yang mulai ramai, Alden masih berdiri mematung. Matanya menatap tajam ke arah parkiran, tempat Fino dan Nina baru saja turun dari motor bebek sekon mereka. Kepalan tangan Alden di dalam saku celana abu-abunya semakin mengeras. Kebingungan dan rasa penasaran merayap di kepalanya, menciptakan spekulasi yang membuat dadanya sesak.
"Wah, lihat tuh. Anak kontrakan tiba-kira bisa gaya naik motor," sebuah suara ketus dan melengking tiba-tiba memecah lamunan Alden.
Alden menoleh. Tasya dan Nisa sudah berdiri di sampingnya. Hari ini adalah hari ketiga Tasya kembali ke sekolah setelah masa skorsingnya berakhir. Alih-alih jera, tatapan matanya justru terlihat jauh lebih licik dan penuh dendam.
Nisa sengaja melangkah mendekat, memperkecil jarak dengan Alden hingga bahu mereka bersentuhan. Ia menatap Alden dengan pandangan sok simpati, lalu berbisik memprovokasi.
"Gue kasihan banget sama lu, Den. Selama ini lu tulus bantuin mereka, tapi lihat sekarang? Si Dino sama Nina mendadak punya motor baru. Lu nggak mikir uangnya dari mana?"
Tasya ikut maju, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus sinis. "Nggak usah ditanya lagi, Nis. Pasti hasil setoran om-om borjuis yang malam-malam suka keluar masuk kontrakan Rara. Lu lihat sendiri kan kemarin siang di kafe? Rara digendong mesra banget sama cowok kaya berkendaraan elite. Nggak tahu diri banget, di sekolah sok polos, di luar ternyata jual diri demi fasilitas."
"Jaga mulut lu, Sya!" bentak Alden dengan rahang mengeras. Suaranya meninggi, membuat beberapa siswa yang lewat sempat menoleh.
Nisa tidak mundur, ia justru kembali memprovokasi dengan memegang lengan jaket Alden, mencoba bersikap intim untuk menarik perhatian cowok itu. "Alden, lu harus buka mata. Tasya ngomong fakta karena dia peduli sama lu. Rara itu cuma manfaatin kebaikan lu buat nutupin kedok kotornya di lingkungan ini. Lu cuma dijadiin tameng biar kelakuan aslinya di luar sana nggak dibongkar ke guru-guru beasiswa."
"Betul kata Nisa, Den," sambung Tasya dengan senyuman miring yang penuh kemenangan.
"Kalau emang itu motor hasil kerja halal, nggak mungkin mendadak ada setelah Rara punya 'pawang' kaya. Rara sengaja bungkam sama lu karena dia tahu, lu nggak akan level bersaing sama om-om simpanannya itu. Lu cuma dapet ampasnya, sedangkan cowok itu dapet semuanya."
Kata-kata racun dan provokasi dari Tasya dan Nisa menghantam ego remaja Alden dengan sangat telak. Meskipun hatinya menolak percaya, ingatan Alden tentang motor sport merah milik Evan dan adegan pria misterius menggendong Rara kemarin siang membuat pertahanannya goyah.
Api cemburu dan rasa penasaran kini bercampur aduk menjadi satu kemarahan yang besar. Alden melepaskan tangan Nisa dari lengannya dengan kasar, lalu berjalan cepat menuju area parkiran. Ia bertekad untuk langsung menghadang Fino dan menuntut jawaban mutlak tentang dari mana asal-usul motor tersebut sebelum mobil yang mengantar Rara tiba di depan gerbang.