Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Keheningan di Kedai Bambu Retak hancur berkeping-keping. Tiga murid Sekte Taring Besi yang tersisa lekas menghunus pedang, wajah mereka merah padam dibakar amarah dan rasa malu. "Berani-beraninya kau menyentuh saudara seperguruanku! Mati kau, Budak Lumpur!" raung salah satu dari mereka, melesat maju siap membelah Zei.
Namun, sebelum kaki mereka melangkah lebih dari tiga tindak, tiga butir kulit kacang melesat membelah udara dengan desingan mematikan.
BUK! BUK! BUK!
Tiga kulit kacang itu menghantam titik meridian di lutut ketiga murid tersebut dengan akurasi iblis. Detik berikutnya, mereka semua ambruk berlutut, mengerang memegangi kaki yang mendadak lumpuh total. Seisi kedai kembali terkesiap.
Dari sudut paling gulita, pria tua berbalut jubah kumal itu bangkit sambil menenteng kendi araknya. Langkahnya tampak sempoyongan, namun dalam satu kedipan mata, ia telah berpindah membelah ruang dan berdiri tepat di hadapan Zei.
"Teknik zirah tempurmu lumayan, Bocah," ucap pria tua itu, suaranya parau diselimuti bau tuak. "Tapi kau kaku seperti batu nisan. Di panggung turnamen besok, seorang kultivator elemen angin akan mencincang jubah ramimu menjadi debu sebelum kau sempat memutar pinggangmu yang lambat itu."
Zei terperanjat. Kakek ini tidak hanya membaca kemurnian Qi tanahnya, tapi juga menelanjangi kelemahannya dalam sekali pandang. "Senior... siapa Anda?"
"Panggil saja aku Tetua Gu," seringainya lebar, memamerkan deretan gigi yang tanggal. "Ikut aku ke halaman belakang. Sekarang juga. Kecuali kau memang berencana mati konyol di pertandingan pertamamu besok pagi."
Malam itu, di bawah tatapan dingin rembulan, Tetua Gu menyiksa Zei tanpa ampun. Tanpa banyak teori, pria tua itu melepaskan tekanan Qi yang teramat masif, memaksa Zei menahannya. Zei berulang kali terlempar, bahkan memuntahkan darah segar karena organ dalamnya terhimpit gelombang energi yang terasa seberat gunung.
"Kultivator elemen tanah selalu berpikir bahwa esensi bumi adalah diam di tempat. Itu kebodohan murni!" bentak Tetua Gu seraya menyabetkan ranting pohon ke betis Zei. "Bumi tempat kita berpijak ini terus berotasi! Inti planet ini bergejolak dan bergeser! Kau harus mengalirkan Qi dari telapak kakimu, menyebarkannya menyatu dengan hamparan tanah. Rasakan pergeseran debu, baca getarannya. Gunakan bumi untuk memprediksi arah serangan lawan sebelum matamu melihatnya. Ini adalah teknik Bumi Bergeser!"
Zei menelan perih di lidahnya, kembali bangkit, dan memejamkan mata. Ia berhenti memusatkan fokus pada kekerasan ototnya dan mulai menyebarkan kesadarannya ke dalam tanah. Perlahan, seiring dengan getaran energi yang ia jaringkan di bawah permukaan, ia mulai bisa membaca ke mana arah sabetan ranting Tetua Gu berikutnya. Zirah Sisik Naganya berevolusi, beralih dari sekadar cangkang kaku menjadi pertahanan yang hidup dan responsif.
Fajar akhirnya menyingsing. Ibukota Kecamatan meledak oleh gemuruh eforia. Genderang turnamen bertalu-talu membelah langit, memanggil puluhan ribu manusia untuk memadati Stadion Kuarsa Putih yang berdiri megah menyerupai koloseum dewa.
A-Lang, dengan sudut bibir yang masih membengkak memerah namun matanya menyala penuh asa, berhasil mendaftarkan nama Zei di detik-detik terakhir menggunakan sisa koin patungan desa. Zei dilempar ke kelompok penyisihan kasta terendah: blok petarung mandiri tanpa panji sekte.
Saat Zei berdiri tegang di lorong gladiator bersama ratusan peserta lain, tiupan terompet perak menggaung panjang, menandakan kedatangan tamu-tamu agung dari sekte besar. Zei mendongak ke arah tribun VIP yang melayang di atas awan buatan.
Jantung Zei mendadak berhenti berdetak sesaat. Di sana, duduk di singgasana depan dengan keanggunan yang menghentikan waktu, adalah Qian Yue’er. Sang gadis mengenakan jubah sutra putih murni Sekte Cendrawasih, memantulkan cahaya mentari pagi. Wajahnya bak pahatan es abadi, menatap bosan ke arah arena tanpa riak emosi. Kehadiran sosok itu kembali membanjiri sanubari Zei, menyapu bersih semua rasa remuk di sekujur tubuhnya. Aku di sini, bisik batin Zei, aku menepati janjiku untuk melihat tarianmu lagi.
"Pertarungan pembuka Kelompok E: Zei dari Desa Danau Keruh menantang Lin Feng dari Sekte Angin Puyuh!" gelegar suara wasit yang diperkuat oleh formasi susunan batu gema.
Mengembuskan napas panjang, Zei melangkah keluar dari kegelapan lorong, menginjakkan kakinya di atas panggung kuarsa putih yang berkilauan. Di seberangnya, Lin Feng telah menanti. Pemuda kota berjubah hijau ramping itu memutar sepasang pedang pendeknya dengan angkuh, menatap sinis ke arah jubah rami cokelat Zei.
"Anak desa kotor rupanya beruntung bisa lolos seleksi pendaftaran," ejek Lin Feng, pedangnya mendesing membelah udara. "Akan kupastikan pertandingan ini selesai sebelum kau sempat berkedip."
GONGGG!
Begitu gaung gong pecah, eksistensi Lin Feng mendadak lenyap. Qi elemen angin menyelimuti tubuhnya, mereduksi bobotnya hingga ia bergerak secepat badai siluman.
Sret! Sret! Sret!
Kilatan bilah pedang Lin Feng menebas jubah rami Zei beruntun dari segala penjuru. Meski Zirah Sisik Naga sukses menahan baja itu mengoyak dagingnya, kain jubah rami kebanggaan desa Zei mulai robek di sana-sini. Sorak-sorai puluhan ribu penonton meledak, menertawakan anak desa yang hanya bisa diam menjadi samsak hidup.
"Kau hanya sebongkah batu mati!" seringai Lin Feng dari balik bayangan pusaran anginnya, bersiap menusukkan kedua pedangnya silang memotong leher Zei.
Di tengah hujan tebasan dan kecepatan yang membutakan logika itu, gema wejangan Tetua Gu meledak di kepala Zei. Ia segera berhenti mengejar bayangan Lin Feng dengan sepasang matanya. Zei merendahkan kuda-kudanya, lalu menghentakkan kaki kanannya telak ke atas panggung kuarsa.
Wush!
Qi tanah murni milik Zei merambat kilat bak akar purba di bawah permukaan panggung, menebar jaring Bumi Bergeser. Di detik yang sama, getaran langkah Lin Feng—sehalus apa pun itu—langsung terpeta jelas di dalam radar mental Zei. Titik buta serangannya telah terbaca.
Zei memutar tubuhnya setengah lingkaran secara instan. Tepat saat wujud Lin Feng materialisasi di sisi kirinya dengan pedang menyilang, tangan kanan Zei yang penuh kapalan bertani telah melesat mendahului takdir. Energi dari inti bumi mengalir naik, mengeras di kepalan tangannya, memancarkan zirah Sisik Naga emas yang jauh lebih pekat dan purba.
Jurus Membajak Bumi dilepaskan. Didorong prediksi presisi dari getaran planet, tinju mentah Zei memecah dinding angin pelindung Lin Feng, melesat lurus meremukkan dada sang lawan.
Jauh di atas tribun VIP, kelopak mata Qian Yue’er—yang sejak awal menatap malas ke arah arena berdarah itu—mendadak berkedip, terbelalak kaget kala merasakan rambatan Qi tanah bermutu sangat tinggi meledak dari arena petarung buangan.