Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Tanah yang Terlupa
*"Jangan tertipu oleh keheningan ini, Julius. Di dunia yang tidak memiliki sejarah, setiap langkah yang kita ambil adalah pengkhianatan terhadap kesunyian, dan bumi ini memiliki cara untuk mengingat siapa saja yang berani menginjakkan kakinya di atas tubuhnya yang masih suci."*
Aku menatap hamparan padang rumput yang warnanya lebih hijau daripada apa pun yang pernah kulihat di Oakhaven. Angin bertiup lembut, membawa aroma bunga-bunga yang tidak kukenal—aroma manis yang tajam, seperti madu dicampur dengan ozon. Julius berdiri di sampingku, tangannya masih terasa hangat di jemariku. Kami baru saja terbebas dari jerat "skrip" yang menyesakkan, namun di dunia ini, aku merasa seolah-olah kami adalah dua noda tinta di atas kertas putih yang terlalu bersih.
Julius menatap cakrawala, di mana pegunungan berwarna ungu menjulang tinggi, puncaknya menembus awan yang berputar seperti pusaran air emas. *"Tidak ada menara. Tidak ada cermin terkutuk. Bahkan tidak ada bisikan takdir yang biasanya mengikuti kita ke mana pun,"* gumamnya, suaranya terdengar sangat lega namun waspada. *"Ini adalah dunia yang murni, Marie. Tapi lihat tanahnya."*
Aku menunduk. Di bawah sepatu bot kami, tanah itu tidak hanya diam. Setiap kali kami melangkah, rerumputan di bawah kaki kami berpendar sesaat dengan cahaya kehijauan, lalu meredup kembali. Seolah-olah tanah ini bukan sekadar tanah, melainkan jaringan energi hidup yang sedang mengamati kami.
*"Detak jantung yang kurasakan di bukit tadi,"* bisikku, merinding. *"Itu bukan imajinasiku, bukan?"*
Julius menggeleng. *"Tidak. Ada sesuatu di bawah sana. Sesuatu yang sangat tua, yang sudah ada jauh sebelum Kronos menciptakan menara-menaranya. Kita berada di jantung dunia sihir murni yang sesungguhnya."*
Kami mulai berjalan menyusuri lembah, menuju ke arah pegunungan ungu itu. Sepanjang jalan, kami menemukan sisa-sisa peradaban yang sudah lama mati—bukan reruntuhan mesin atau logam, melainkan monumen-monumen batu raksasa yang diukir dengan relief penyihir-penyihir kuno. Relief itu menceritakan kisah tentang kaum yang bisa berbicara dengan elemen, yang bisa memanggil hujan dengan nyanyian, dan yang bisa menghilang ke dalam kabut.
Tiba-tiba, Julius berhenti. Dia memegang lenganku, matanya menatap tajam ke arah semak-semak yang cukup tinggi di depan kami.
*"Siapa di sana?"* serunya, suaranya bergema di lembah yang sunyi.
Tidak ada jawaban, hanya suara gemerisik daun. Namun, satu detik kemudian, udara di sekitar kami mendadak berubah menjadi dingin. Kabut putih tipis muncul dari balik semak-semak, dan dari kabut itu, muncullah sosok-sosok manusia.
Mereka mengenakan jubah dari kulit hewan dan kain tenun kasar, wajah mereka dicat dengan simbol-simbol kuno menggunakan bubuk kristal. Mereka tidak terlihat seperti musuh, namun di tangan mereka, mereka memegang tongkat kayu yang ujungnya bercahaya redup.
Seorang pria tua dengan janggut panjang yang dikepang dengan manik-manik batu melangkah maju. Dia tidak membawa senjata, namun aura sihir yang memancar dari tubuhnya membuatku sesak napas. Itu bukan aura menekan, melainkan aura yang sangat berat dan berwibawa—aura seorang penguasa elemen.
*"Kalian bukan dari sini,"* suaranya tenang, namun memiliki resonansi yang membuat tanah bergetar. *"Kalian membawa aroma dari dunia yang telah hancur. Mengapa kalian berani menginjakkan kaki di tanah 'Bumi yang Bermimpi'?"*
Aku melangkah maju, berusaha menunjukkan ketulusan. *"Kami adalah pengembara yang melarikan diri dari kehancuran takdir. Kami tidak mencari kekuasaan, kami hanya mencari tempat di mana sihir tidak digunakan sebagai alat untuk menyiksa jiwa."*
Pria tua itu menatapku lama sekali. Matanya yang sewarna emas cair seolah menembus ingatanku, melihat setiap tetes air mata dan darah yang kutumpahkan di dunia sebelumnya. Dia kemudian menoleh ke arah Julius, dan untuk sesaat, aku melihat keterkejutan di matanya.
*"Kau..."* bisiknya pada Julius. *"Kau membawa bekas luka dari *Penyihir Bayangan*. Kau membawa sisa dari kegelapan yang seharusnya sudah lama musnah."*
Julius tidak mundur. *"Ya, aku membawanya. Dan aku tidak akan membiarkan kegelapan itu menguasai diriku lagi."*
Pria tua itu menghela napas, lalu menundukkan kepalanya. *"Kegelapan tidak pernah pergi, anak muda. Ia hanya bersembunyi. Dan kedatangan kalian ke sini... kedatangan kalian telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terlelap selama seribu tahun lagi."*
Baru saja dia mengucapkan kalimat itu, tanah di bawah kami berguncang hebat. Bukan guncangan biasa. Ini adalah guncangan dari bawah yang sangat dalam, seolah-olah raksasa yang tertidur di bawah pegunungan ungu itu sedang membalikkan tubuhnya.
Lembah tempat kami berdiri mulai retak. Dari celah-celah tanah, keluarlah aliran energi murni yang berwarna biru neon—cahaya sihir murni yang sangat kuat hingga membuat kulit kami terasa perih hanya karena kedekatannya.
*"Cepat! Ikuti aku!"* teriak pria tua itu, memutar tongkatnya dan menciptakan lubang pelindung di udara.
Kami berlari mengikuti pria itu menuju gua di kaki pegunungan, tepat saat tanah di belakang kami mulai tertutup oleh aliran energi biru yang meluap. Saat kami masuk ke dalam gua, aku melihat ke belakang dan jantungku berhenti.
Di tengah-tengah aliran energi itu, muncullah sesosok makhluk. Dia tidak terbuat dari logam, tidak dari kabel, tapi dari kristal murni dan akar-akar pohon kuno. Tingginya puluhan meter, dengan mata yang bersinar seperti dua matahari. Itu adalah *Penjaga Dunia*.
Dia tidak menyerang kami. Dia hanya berdiri di sana, menatap kami dengan tatapan yang sangat sedih. Dan dari mulutnya, keluarlah suara yang merupakan gabungan dari ribuan suara manusia.
*"Kalian membawa 'Buku Kosong' itu..."* suaranya bergema di seluruh isi gua. *"Kalian membawa akhir dari cerita yang seharusnya tidak pernah berakhir. Mengapa kalian merobek halamannya?"*
Aku memegang buku kosong yang kubawa dari menara—buku yang kurampas dari sosok diriku yang dulu. Buku itu mendadak panas di dalam saku jubahku.
*"Buku ini adalah beban!"* teriakku ke arah makhluk raksasa itu. *"Cerita kami sudah berakhir! Kami tidak ingin lagi menjadi bagian dari skenario siapa pun!"*
Makhluk itu perlahan berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat gua itu runtuh. Pria tua tadi berteriak, *"Jangan berikan buku itu padanya! Jika dia mendapatkannya, dia akan menulis ulang dunia ini menjadi kehampaan!"*
Aku menatap buku di tanganku, lalu menatap Julius. Pilihan ada di depan mata: menyerahkannya dan membiarkan dunia ini hancur, atau memegang buku itu dan menanggung beban menjadi penulis bagi dunia yang tidak punya skrip ini.
*"Julius, apa yang harus kita lakukan?"* bisikku.
Julius menatap makhluk raksasa itu, lalu memegang tanganku dengan sangat erat. *"Kita tidak akan memberikan buku itu. Dan kita tidak akan membiarkan dia menulis ulang dunia kita."*
Dia menarik pedang (yang kini muncul dari sisa-sisa sihir murninya) dan berdiri di depanku.
*"Kita akan menulis cerita kita sendiri,"* katanya, matanya bersinar dengan cahaya keemasan yang murni. *"Apapun konsekuensinya."*
Makhluk raksasa itu mengangkat tangannya, dan energi biru di sekitar kami mulai memadat menjadi belati-belati kristal yang siap dilepaskan ke arah kami.