NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 26. Kebahagiaan Tanpa Jeda

Sebuah mobil sedan warna hitam berhenti di depan pelataran rumah Wulan. Di dalam mobil itu terlihat seorang lelaki yang celingak-celinguk seperti sedang kebingungan mencari alamat. Hingga akhirnya senyum tipis terbit di bibir lelaki itu setelah melihat seorang wanita yang tengah menggendong anaknya berada di depan rumah.

"Mbak!"

Keluar dari mobil, lelaki itu bersegera memanggil sang wanita yang ternyata adalah Wulan. Ia sedikit berlari untuk bisa segera mendekat ke arah Wulan dan seakan tidak ingin kehilangan jejaknya. Wulan yang merasa terpanggil, segera berbalik badan dan nampak seorang laki-laki dengan setengah berlari menuju ke arahnya.

"Iya Mas, ada apa ya?" tanya Wulan dengan kernyitan di dahi. Karena pada dasarnya ia sama sekali tidak mengenal lelaki ini.

Lelaki itu tersenyum sembari mengulurkan tangan. "Saya Langit, Mbak. Saya kemari ingin mengucapkan terimakasih kepada Mbak-nya."

Wulan menyambut uluran tangan lelaki bernama Langit ini. "Saya Wulan. Maaf, terimakasih perihal apa ya Mas? Perasaan saya tidak melakukan apapun untuk Anda."

Langit hanya terkekeh. "Mungkin benar Anda tidak tahu saya Mbak, tapi saya tahu kalau Anda lah yang berhasil menyelamatkan dompet saya."

"Dompet?" tanya ulang Wulan. "Dompet apa Mas?"

"Tadi ketika di pasar, Anda yang menjegal pencopet itu. Dan akhirnya dompet saya bisa kembali ke tangan saya," jelas Langit.

"Oh, jadi dompet yang diambil pencopet itu milik Anda?" tanya Wulan menegaskan. "Lain kali hati-hati Mas. Zaman sekarang hidup serba susah, maka dari itu banyak kejahatan yang merajalela."

"Iya Mbak, saya memang kurang berhati-hati jadi sampai kecopetan. Sekali lagi terimakasih banyak sudah membantu ya Mbak. Kira-kira saya harus memberi imbalan apa sebagai ucapan rasa terimakasih saya?"

"Imbalan?" tanya Wulan dengan terperangah. "Tidak, tidak perlu Mas. Tadi kaki saya reflek menjegal pencopet itu, jadi Anda tidak perlu memberikan imbalan."

Langit hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia sungguh kagum dengan wanita yang ada di depannya. Biasanya orang-orang sering memanfaatkan keadaan untuk meminta imbalan banyak kepada orang yang ditolongnya namun Wulan berbeda. Wanita itu tidak lantas aji mumpung meminta imbalan yang banyak.

Langit menatap lekat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Ia ingat jika ada janji untuk bertemu dengan salah satu direktur dealer yang sudah ia agendakan. Ia merogoh kartu nama dari saku kemeja dan ia serahkan kepada Wulan.

"Mbak, ini kartu nama saya. Kebetulan, saya adalah pemilik pabrik garmen yang ada di dekat sini. Suatu saat jika mbak Wulan butuh sesuatu bisa langsung hubungi saya saja. Itung-itung sebagai ucapan terimakasih saya."

Wulan sedikit ragu menerima kartu nama yang di ulurkan oleh Langit. Namun pada akhirnya, ia menerima kartu nama itu. Ia merasa tidak ada salahnya menyimpan kartu nama itu. Barangkali suatu saat ia benar-benar memerlukan bantuan lelaki bernama Langit ini.

"Baik Mas, akan saya simpan. Kebetulan kemampuan saya juga di bidang jahit menjahit dan juga desain pakaian jadi tidak jauh berbeda dengan pabrik garmen milik Mas Langit."

Kedua bola mata Langit membulat sempurna. "Sungguh, Anda biasa membuat desain pakaian Mbak?"

Wulan tergelak pelan. "Saya memang lulusan dari sekolah kejuruan tata busana, Mas. Dulu sewaktu sekolah saya sering mengikuti kontes desain pakaian, dan beberapa kali juga sempat menang...."

"Ah sepertinya saya tertarik dengan cerita zaman sekolah Mbak Wulan tapi sekarang saya harus cepat-cepat mohon pamit karena sudah ada janji bertemu dengan seseorang. Begini saja, di dalam kartu nama itu ada nomor ponsel saya. Setelah ini Mbak Wulan bisa langsung chat agar saya bisa tahu nomor kontak Mbak Wulan. Sepertinya ada project dari saya untuk Mbak Wulan."

"Project?" tanya Wulan sedikit kebingungan. "Maksudnya project apa Mas?"

"Nah, masalah itu nanti bisa kita bicarakan lebih lanjut Mbak. Semoga dengan adanya project dari saya, bisa semakin membuat Mbak Wulan bersinar."

Wulan terperangah tidak percaya. Tuhan seakan bekerja jauh lebih cepat dari yang ia kira untuk kembali mengangkat derajatnya setelah berpisah dari Awan. Hal-hal yang ia temui di hari ini sungguh membuatnya merasakan keberkahan yang bertubi-tubi tanpa jeda sama sekali.

Ya Tuhan... Ini sungguh bukan mimpi? Baru saja aku mendapatkan warisan dari nenek, dan setelah itu aku bertemu dengan mas Langit ini yang akan membukakan jalan untukku bisa bertahan hidup dengan menggunakan kemampuan yang ada pada diriku. Ya Tuhan... Terima kasih atas semua kasih sayangMu.

"Kalau begitu saya permisi dulu ya Mbak. Semoga untuk ke depannya, kita bisa bekerja sama untuk hal-hal yang bermanfaat dan menguntungkan," pamit Langit yang ia sisipi dengan doa juga harapan.

"Aamiin... Terima kasih kembali mas Langit."

***

Di sebuah restoran, Mega dan Awan nampak duduk bersisihan. Restoran di mana menjadi tempat pertemuannya dengan owner pabrik garmen yang akan membeli beberapa unit motor dari dealer yang mereka kelola.

"Kira-kira goal tidak ya Mas?" tanya Mega sedikit khawatir. Jika sampai kedua belah pihak tidak mendapatkan kesepakatan harga bisa dipastikan dealer milik Mega tidak akan mendapatkan banyak keuntungan.

"Aku yakin goal Sayang. Kita berikan diskon sepuluh persen saja pak Langit pasti langung deal," ucap Awan dengan penuh keyakinan.

"Aku dengar pak Langit juga membutuhkan unit bak roda tiga ya Mas?"

"Betul. Beliau memang membutuhkan unit motor bak roda tiga yang akan digunakan untuk operasional. Dan ini juga kesempatan yang bagus karena brand motor dealer kita juga baru beberapa waktu yang lalu launching tipe seperti itu kan? Jadi, bisa mendongkrak penjalan kita."

"Hmmmmm.. Benar juga ya Mas. Aku berharap benar-benar goal," ucap Mega penuh harap. "Oh iya, bagaimana dengan Wulan? Apa dia sudah pergi dari rumah?"

"Iya, tadi pagi dia pergi dari rumah dan hanya membawa pakaian saja. Entah mau tinggal di mana dia atau malah jadi gelandangan."

"Baguslah kalau begitu. Setelah akta cerai dari pengadilan turun, kita langsung menikah Mas. Tapi sebelumnya kita menemui papa dan tunangan dulu agar semua jelas,"

"Hmmmm.. Kamu atur bagaimana enaknya saja Sayang. Yang jelas jangan sampai papamu tahu jika awal dari hubungan kita adalah perselingkuhan."

"Kalau itu tenang saja Mas, sudah aku atur semua."

Tap.. Tap... Tap...

Derap langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat ke arah meja yang sudah dipesan oleh Mega dan juga Awan. Tak berselang lama Langit ada di hadapan dua orang itu.

"Maaf Pak Awan, bu Mega, saya sedikit terlambat. Saya baru saja ada acara mendadak," ucap Langit dengan sedikit rasa bersalahnya.

Awan dan Mega beranjak dari posisi duduknya sebagai bentuk rasa hormatnya kepada calon klien yang akan banyak mendatangkan keuntungan.

"Tidak apa-apa Pak. Kami juga belum lama tiba. Mari silakan duduk!" ucap Awan mempersilahkan.

Tiga orang itu duduk di kursi masing-masing. Dan mulai fokus dengan pembahasan yang akan mereka bahas.

"Jadi bagaimana dengan tawaran yang sudah saya spil sedikit melalui pesan whatsapp kemarin Pak?" tanya Awan langsung pada pokok pembahasan.

Langit menganggukkan kepala. "Baik Pak, saya terima penawaran dari pak Awan. Diskon sepuluh persen dari harga OTR ya?"

"Betul sekali Pak."

"Jadi kapan perkiraan unit-unit yang saya pesan diantar ke pabrik Saya?"

"Paling lambat lusa akan kami kirim Pak. Jadi totalnya ada lima belas unit ya Pak?"

"Betul sekali Pak. Motor matic sepuluh unit dan motor bak roda tiga lima unit. Jika memang semua bisa tepat waktu, nanti akan saya rekomendasikan perusahaan ekspedisi milik kolega saya untuk mengambil unit di dealer Bapak."

Awan dan Mega tersenyum lebar. Sungguh pertemuannya dengan Langit merupakan satu keberuntungan yang besar bagi mereka.

"Terima kasih pak Langit. Terima kasih."

Langit hanya menganggukkan kepala. Ia buka ponselnya ketika terdengar suara notif pesan whatsapp yang masuk. Tiba-tiba saja senyum manis itu terbit di bibir Langit ketika ia membaca sebuah pesan di ponselnya.

Mas Langit, ini nomer saya ya. -Wulan-

Melihat Langit yang senyum-senyum sendiri membuat Awan dan Mega keheranan. Pasalnya ekspresi wajah lelaki di hadapan mereka ini persis seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.

"Dari pacarnya ya Pak?" tanya Awan sedikit kepo.

Langit tersentak dan salah tingkah. "Eh bukan Pak. Ini seseorang yang baru saja saya kenal tapi rasanya seseorang ini memiliki daya tarik tersendiri."

"Kalau begitu langsung dipepet saja Pak, daripada keburu diambil orang," usul Awan dengan terkekeh pula.

Langit hanya membuang napas berat. "Saya rasa tidak mungkin Pak. Karena sepertinya wanita yang baru saya kenal ini sudah punya suami."

.

.

...

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!