NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal Yang Tidak Dia Tahu

Lorong rumah sakit yang ramai terasa begitu panjang saat kedua kaki Amaia berlari menuju IGD. Kabar yang diberikan oleh salah satu pekerja Atika membuat gadis itu bergegas ke rumah sakit dengan Widitama. Amaia tak peduli dengan suaminya yang sejak tadi meminta untuk tenang. Bagaimana bisa dia tenang saat baru saja ada kabar buruk dari ibunya?

"Mama!" seru Amaia tatkala melihat Atika duduk di tepi ranjang, ditemani oleh salah seorang pekerja di toko bunganya. "Ya Tuhan, kenapa bisa begini? Mama nggak kenapa-kenapa, kan? Apa kata dokter?"

Atika mengusap lengan putrinya. Tatapan cemas Amaia tak henti terjatuh pada wajah sang ibu.

"Mama nggak kenapa-kenapa, cuma kaki yang terkilir dan hasil x-ray juga nggak ada masalah. Mama cuma butuh istirahat," jawab Atika seraya tersenyum lembut.

"Benar begitu? Aku nggak mau Mama bicara begitu cuma buat menghiburku." Amaia menatap iba ibunya.

Atika memeluk sang putri. "Tak apa, Mai. Mama baik-baik saja." Sepasang mata Atika beralih ke arah Widitama. "Maaf ya, saya membuat kalian khawatir. Apalagi Amaia sampai mengajakmu kemari, Widi."

"Bukan masalah, Bu Atika." Widitama tersenyum tipis. "Saya mengerti kekhawatiran Amaia. Bahkan saya ingin sebaiknya Bu Atika dirawat di sini sampai kondisi Ibu membaik."

Wanita berwajah pucat itu menggeleng. "Saya pulang saja. Beneran, saya udah nggak apa-apa. Lebih baik istirahat di rumah."

"Baiklah, kalau begitu kami antar ke rumah, Bu Atika." Widitama memutuskan.

Mereka keluar dari rumah sakit setelah Widitama menemani Amaia berbincang dengan dokter yang menangani Atika. Untung saja mereka diperbolehkan pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, Amaia tak berbicara banyak. Tangannya memeluk lengan kiri sang ibu dan sesekali mengusap punggung tangannya. Kalau sampai Atika mengalami kejadian yang lebib buruk, Amaia tak tahu bagaimana dengan hidupnya. Karena hanya Atika yang ia miliki saat itu.

Obrolan dan fakta-fakta tentang keluarga Tedjakusuma kini memenuhi pikiran Amaia. Ia tak bisa membayangkan jika Atika mengetahui semua itu. Pasti ibunya akan sangat kecewa, terlebih selama ini Ferdian memperlakukan Atika seperti saudaranya sendiri.

Lalu kematian Erwin ikut berputar-putar dalam benak Amaia. Ucapan Widitama tentang kecelakaan yang menimpa Erwin membuat Amaia kian gelisah. Ia melirik suaminya yang duduk di kursi kemudi mobil. Cukup lama Amaia memperhatikannya. Sampai Widitama membalas tatapan itu lewat rear view. Amaia melengos, memilih untuk menatap trotoar dari balik kaca mobil.

Apa yang sebenarnya terjadi, Pa? Apa benar kecelakaan itu bukan hanya sekedar kecelakaan biasa?

Pertanyaan Amaia hanya dibalas suara mesin mobil dan klakson yang saling bersahutan.

...*****...

"Kamu pulang aja. Aku mau di sini menemani mama," ungkap Amaia setelah meminta Widitama berbicara di luar kamar sang ibu. "Aku nggak mungkin bisa pulang dengan tenang kalau mama belum baikan, Mas."

"Ya, saya paham." Nada suara Widitama kali ini terdengar lebih lembut dari biasanya. Tanpa sungkan pria itu meraih kedua bahu istrinya. "Kabari saya kalau ada apa-apa."

"Terima kasih, Mas Widi."

Belum sempat Widitama menjawab, seorang pembantu keluar dari kamar Atika. "Bu Atika ingin bicara dengan Non Amaia dan Pak Widi."

Sepasang suami-istri itu saling berpandangan. Untuk menuntaskan rasa penasaran, mereka masuk ke kamar. Atika tersenyum lemah, bersamar di kepala ranjang dengan selimut yang menutupi kaki.

Amaia duduk di tepi tempat tidur. Sementara Widitama menggeser kursi kosong dan duduk di dekat Amaia.

"Widitama," panggil Atika seraya melirik menantunya. "Saya rasa, sudah saatnya membicarakan ini dengan Amaia."

Ucapan ibunya serta merta membuat Amaia terkesiap. Ia refleks menoleh ke suaminya. Membicarakan apa? Amaia ingin menyela, tapi menunggu adalah pilihan yang tepat.

"Amaia sudah tau semuanya," ucap Widitama dengan suara tenang.

"Apa maksudnya?" Kali ini Amaia tak bisa menahan keheranannya. Ia membagi tatap antara Widitama dan Atika. "Mama? Mas Widi?"

Atika menghela napas. "Maafkan Mama, Amaia. Selama ini Mama tahu kalau mereka semua memanfaatkan kita. Cuma ...."

"Kenapa Mama baru bilang sekarang? Jadi, selama ini cuma aku yang nggak tau apa-apa?" Ia tak sungkan memotong. Saking kagetnya karena selama ini Atika menyembunyikan banyak hal.

Amaia langsung paham apa yang dimaksud oleh sang ibu. Jika Widitama mengatakan bahwa Amaia sudah tahu 'semuanya', itu pasti berarti hal-hal yang selama ini dibeberkan oleh Widitama. Rencana yang Widitama susun ... apakah Atika juga mengetahuinya?

"Jangan potong pembicaraan mama kamu, Amaia," ucap Widitama dengan nada tegas.

"Gimana aku nggak kaget?!" Suara Amaia meninggi. "Selama ini cuma aku yang nggak tau apa pun dan kalian hanya diam saja."

"Dengarkan Mama dulu, Amaia." Nada bicara Atika yang sangat lemah membuat Amaia menghela napas berusaha menormalkan emosi.

Tangan hangat Atika mengenggam jemarinya. Amaia melirik Widitama yang terlihat tenang seperti biasa. Seolah pembicaraan malam ini bukanlah hal besar. Yah, Amaia tak heran. Widitama memang begitu, selalu bersikap tenang seperti bukan masalahnya.

Jujur saja, Amaia muak dan benci dengan reaksi Widitama yang seperti itu. Apakah tidak cukup pria itu mempermainkan dirinya?

"Mama ingin mengatakan semuanya lebih awal padamu," tutur Atika.

"Tapi apa? Mas Widi mencegah Mama? Lalu kalian berencana untuk membuatku terjebak dalam pernikahan ini?" Amaia melirik sinis ke arah suaminya. Tapi lagi-lagi Widitama tak bereaksi serius. Hanya tersenyum tipis yang terkesan mengejek dalam sudut pandang Amaia.

Atika menggeleng. "Bukan. Ini bukan salah Widitama. Mama menunda memberitahu kamu tentang Rakha dan ibunya karena saat itu kamu terlihat sangat bahagia. Mustahil kamu akan percaya perkataan Mama di saat kamu sangat mencintainya. Mama takut kalau mengatakannya, kamu akan mendebat Mama."

Tak habis pikir, Amaia menggeleng pelan. Bisa-bisa ada alasan seperti itu. Kalau Atika peduli, bukankah seharusnya katakan saja lebih cepat?

Amaia kehabisan kata-kata. Selanjutnya ia biarkan Atika bercerita tentang semua yang diketahuinya. Penjelasan Atika persis sama dengan semua fakta yang dibeberkan oleh Widitama. Bahkan Atika sudah lebih dulu tau tentang kebenaran jati diri pria itu, tentang Widitama yang sebenarnya adalah anak kandung Ferdian Tedjakusuma.

Namun, Atika tak menceritakan keseluruhan dari masa lalu Widitama, mendiang ibunya, sampai masalah yang melibatkan mereka dengan Sasti. Atika hanya tahu informasi yang sama dengan Amaia; yaitu pembalasan dendam Widitama atas ibunya yang telah pergi. Kepergian yang disebabkan oleh Sasti.

"Maafkan Mama, Amaia," ujar Atika begitu lirih setelah ceritanya selesai. Wanita paruh baya itu menunduk sebentar.

"Sejak kapan Mama tau semuanya? Berarti selama ini, Mama diam-diam sering berkomunikasi dengan Mas Widi?" Amaia tak hanya menyalang pada ibunya, tetapi suaminya juga. "Mama menghubungi Mas Widitama tanpa sepengetahuan aku? Lalu semuanya ...." Amaia terkekeh miris. "Wah! Kalian benar-benar."

Widitama beranjak dari tempat. "Saya yang menghubungi Bu Atika duluan. Kalau kamu ingin menyalahkan ibumu, kamu salah besar. Saya sendiri yang ingin mengungkap semuanya pada Bu Atika lebih dulu karena saat itu saya tau, hanya Bu Atika yang bisa mendengar dan mengerti maksud saya."

Kalimat Widitama membuat Amaia mendongak. Begitu pula Atika.

Kalau dipikir-pikir, Amaia tak heran mengapa Widitama mempercayakan semuanya pada Atika. Karena sejak mereka saling mengenal, hanya Atika yang dekat dengan Widitama. Rakha memang dekat dengannya, tapi rak sedekat Widitama. Amaia kecil, dulunya sangat senang dengan keberadaan Widitama yang sudah seperti putra sendiri bagi ibunya.

Atika memperhatikan dan memperlakukan Widitama selayaknya seorang ibu terhadap anak sendiri. Untuk itulah Widitama perlahan memperhatikan Amaia juga seperti adiknya. Saat mereka kecil, Widitama menjaga Amaia dengan baik. Bagi Amaia Widitama seperti kakaknya sendiri.

Namun, semua itu berantakan setelah mereka dewasa. Hanya saja sikap Widitama terhadap Atika tak pernah berubah. Bahkan Atika menjadi orang pertama yang dipercaya oleh pria itu.

"Saya rasa tak perlu membesarkan masalah ini," ucap Widitama. Lamunan Amaia tentang masa lalu langsung buyar. "Karena sudah mengetahui semuanya, tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Yang terpenting adalah tujuan kita semua sama, menghancurkan keluarga Ferdian Tedjakusuma dan membalas apa yang sudah mereka lakukan."

Amaia beranjak. Sederhananya memang begitu. Namun, tetap saja ... Amaia merasa ada yang tak benar. Perasaan sakit mengetahui hal yang seharusnya diketahui dari dulu. Tapi ibunya menyembunyikan hal itu karena takut Amaia tak percaya.

"Mama istirahat saja," katanya, "aku juga mau istirahat. Besok kita bicara lagi."

Tanpa mengatakan apa pun, Amaia keluar dari kamar ibunya. Bahkan tak sempat menengok Atika lagi.

Suara derap kaki terdengar di belakang. Begitu Amaia berhenti di ambang pintu kamarnya, langkah itu juga tertahan. Amaia berbalik dan menemukan Widitama dengan wajahnya yang tak menunjukkan ekspresi berarti. Sorot mata tegas di balik kacamata berbingkai tipis hanya fokus pada wajah Amaia.

Amaia mendongak. "Aku pengen sendiri," ucapnya.

"Saya mengerti kamu marah, tapi bukan saatnya ...."

"Aku sedikit kecewa." Amaia buru-buru menyela. Sebisa mungkin tak meninggikan suara karena enggan berdebat. "Kenapa aku aku harus mengetahuinya belakangan?"

"Apa penjelasan tadi nggak sampai ke otak kamu?"

Hah! Amaia sudah menduga. Widitama pasti akan mengejeknya. Yah, tipikal Widitama sekali. Selalu tahu cara meremehkan orang lain.

Amaia menunduk, lalu tawa miris terdengar dari bibirnya sebentar. "Ya Tuhan, aku nggak percaya aku sebodoh ini di mata kamu, Mas Widi."

"Kalau kamu nggak merasa bodoh, apa semuanya sudah jelas? Tadi ibumu sudah memberitahu semua alasannya."

"Baiklah," tukas Amaia. Ia bergerak mundur untuk masuk ke kamar. "Aku butuh waktu sendiri, jadi jangan temui istri kamu yang bodoh ini untuk sementara waktu."

Widitama terkesiap dan itu pertama kali Amaia menangkap kekagetannya yang cukup lama. Tapi kemudian pria itu menghela napas. Ia memijat dua titik di antara pangkal hidung. Kakinya yang panjang maju selangkah lebih dekat dengan sang istri.

"Memangnya saat itu kamu yakin akan percaya kalau Bu Atika mengatakannya? Apa kamu yakin akan percaya bahkan kalau Bu Atika bilang infomasi itu dari saya?" Suara Widitama terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Sampai-sampai Amaia mendongak penuh. "Bukannya kamu membenci saya, Mai Kecil? Melihat respons kamu saat saya datang setelah enam bulan, saya yakin saat itu kamu akan lebih percaya pada Rakha dan keluarganya ketimbang saya."

Kali ini Amaia yang dibuat kaget karena ucapan itu. Sebab perkataan Widitama tak sepenuhnya salah.

Namun, Amaia tak mau cepat mengiakan. Ia melengos menghindar dari tatapan suaminya. "Pulang! Aku nggak mau melihat kamu, Mas Widi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!