Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN EROS
Seminggu telah berlalu sejak Eros berada di Sydney.
Selama waktu itu, ia memastikan seluruh kebutuhan Lura terpenuhi hingga kondisi wanita itu berangsur membaik. Lura yang sebelumnya lemah dan kehilangan semangat kini sudah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Meski begitu, kepergian Eros dari Sydney bukanlah hal yang mudah. Ada rasa berat di hatinya ketika harus meninggalkan Lura yang masih ingin dirinya tetap berada di sana.
Lura sempat menahan kepergian Eros, berharap pria itu bisa lebih lama menemaninya.
Namun, setelah Eros memberikan pengertian dan meyakinkan bahwa ia tidak akan meninggalkannya sepenuhnya, Lura akhirnya menerima keputusan tersebut.
Dengan berat hati, ia membiarkan Eros kembali ke Brussels.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa Eros kembali ke kota yang telah menjadi saksi perjuangannya membangun kesuksesan.
Brussels, kota tempat ia menorehkan namanya hingga berdiri sebagai seorang pengusaha besar.
Setibanya di sana, suasana mansion mewah miliknya kembali menyambut kedatangannya. Mobil hitam elegan itu berhenti tepat di depan kediaman megah bergaya Eropa tersebut.
Beberapa ajudan yang sudah menunggu sejak kedatangannya dari bandara segera membukakan pintu mobil dengan penuh hormat.
Mereka memang telah bersiap menyambut kepulangan sang CEO. Bahkan sejak perjalanan dari bandara menuju mansion, para ajudan tersebut ikut mengawal dan memastikan perjalanan Eros berjalan aman hingga tiba di rumah.
Eros turun dari mobil dengan langkah tenang. Desmon pun ikut keluar dan berjalan beberapa langkah di belakangnya, mengikuti sang CEO menuju pintu utama mansion.
Namun, setelah memastikan semuanya berjalan baik, Desmon akhirnya menghentikan langkahnya.
"Tuan, saya pamit pulang terlebih dahulu," ucap Desmon sopan.
Eros menoleh kepadanya.
Desmon terlihat begitu lelah.
Meski selama seminggu terakhir ia memang tidak terlalu memikirkan pekerjaan perusahaan dan lebih banyak menikmati waktu luangnya, tetap saja pikirannya tidak pernah benar-benar beristirahat.
Terlebih Hans yang selalu menghubunginya dan menanyakan berbagai hal mengenai perusahaan yang bahkan terkadang tidak ia pahami sepenuhnya.
Eros hanya tersenyum kecil melihat sekretarisnya itu.
"Istirahatlah. Kau sudah bekerja cukup keras," ucap Eros.
Desmon mengangguk sebelum akhirnya berpamitan dan meninggalkan mansion.
Eros kemudian melangkah masuk ke dalam kediamannya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Tidak ada wanita cantik yang menyambut kepulangannya dengan senyum hangat. Tidak ada sosok Zenaya yang terlihat di sana.
Pandangan Eros menyapu seluruh ruangan, berharap melihat istrinya muncul dari salah satu sudut mansion. Tetapi tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu.
Akhirnya, ia memanggil kepala pelayan mansion.
"Di mana Zenaya?" tanyanya.
Kepala pelayan itu segera menundukkan
kepalanya dengan hormat.
"Nyonya Zenaya baru saja pergi, Tuan. Beliau pergi bersama Nona Joana, asisten pribadinya."
Mendengar jawaban itu, Eros hanya mengangguk pelan.
Tidak ada rasa curiga ataupun kecewa. Ia memahami bahwa Zenaya memiliki kesibukannya sendiri.
Wanita itu juga sedang menjalankan pekerjaannya, sehingga Eros tidak ingin mengganggunya.
Lagipula, ia sengaja tidak memberi tahu Zenaya bahwa dirinya telah kembali.
Eros ingin pulang dengan tenang dan membiarkan istrinya menyelesaikan pekerjaannya tanpa merasa terbebani.
"Baiklah," ucap Eros singkat.
Pria itu kemudian berjalan lebih dalam menuju mansion yang terasa begitu sunyi tanpa kehadiran Zenaya.
Tanpa ia sadari, ada sedikit rasa rindu yang mulai muncul di dalam hatinya.
Setelah seminggu berada jauh dari Brussels, ternyata hal pertama yang ia cari ketika kembali bukanlah kemewahan mansion itu, bukan pula kenyamanan tempat tinggalnya.
Melainkan sosok wanita yang kini menjadi istrinya.
Malam itu, Zenaya baru saja tiba di mansion.
Langkahnya terhenti sejenak ketika matanya menangkap sebuah mobil sport mewah yang terparkir di depan kediaman tersebut.
Mobil milik Eros.
Jantungnya seakan berdetak lebih cepat.
"Apakah Eros sudah pulang?" gumamnya pelan.
Tanpa menunggu lebih lama, tubuh rampingnya segera melangkah masuk ke dalam mansion. Pikirannya hanya tertuju pada satu sosok yang selama seminggu terakhir begitu ia rindukan.
Bahkan sapaan para pelayan yang menyambut kedatangannya pun hampir tidak ia hiraukan. Wanita itu hanya berjalan cepat menyusuri lorong panjang mansion, berharap segera menemukan keberadaan suaminya.
Ada rasa rindu yang begitu kuat memenuhi hatinya.
Rindu pada suara pria itu.
Rindu pada tatapan lembutnya.
Rindu pada kehadirannya.
Hingga akhirnya, langkah Zenaya berhenti di depan kamar pribadi mereka.
Tangannya perlahan meraih gagang pintu, lalu membukanya.
Dan saat pintu itu terbuka, matanya langsung menemukan sosok pria bertubuh atletis yang berdiri di dalam kamar.
Eros.
Pria itu menoleh ke arahnya.
Dalam sekejap, perasaan bahagia memenuhi hati Zenaya.
Senyum kecil tanpa sadar muncul di wajah cantiknya.
Akhirnya, pria yang selama ini ia tunggu kembali berada di hadapannya.
"Kau sudah pulang?" tanya Zenaya sambil menghampiri suaminya.
Eros menatap wanita itu dengan tatapan lembut.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara ia memandang Zenaya malam itu.
Tatapan yang menyimpan kerinduan, meskipun tidak pernah ia ungkapkan secara langsung.
"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah lancar?" tanya Eros dengan senyum tipis.
Zenaya menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu."
Mendengar jawabannya, Eros terkekeh pelan.
"Pekerjaanku sangat lancar," jawabnya.
Namun, setelah itu ekspresinya berubah sedikit. Ada rasa bersalah yang terlihat samar di wajahnya.
"Maafkan aku karena telah membuatmu menungguku," ucap Eros.
Zenaya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa. Syukurlah jika kau sudah pulang."
Senyum hangat menghiasi wajahnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam.
Aneh rasanya.
Mereka adalah suami istri, tetapi setelah lama tidak bertemu, justru terasa seperti ada jarak kecil yang membuat keduanya bingung harus memulai percakapan dari mana.
Padahal ada begitu banyak hal yang ingin mereka tanyakan.
Ada begitu banyak cerita yang ingin mereka bagikan.
Namun, keduanya hanya mampu berdiri dalam keheningan.
Eros akhirnya menghela napas kecil dan memecahkan suasana yang mulai terasa kaku.
"Istirahatlah. Kau pasti lelah, bukan?" ucapnya lembut.
Zenaya menatapnya.
Ada rasa rindu yang terpendam di antara mereka.
Namun, rasa itu begitu sulit untuk dijelaskan.
"Aku akan mengerjakan beberapa dokumen perusahaan di ruang kerjaku," lanjut Eros.
Zenaya tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Baiklah."
Eros pun berbalik dan hendak meninggalkan kamar.
Namun, sebelum pria itu benar-benar melangkah pergi, suara Zenaya menghentikan langkahnya.
"Oh ya."
Eros menoleh.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Zenaya.
Pertanyaan sederhana itu membuat Eros terdiam sejenak.
Barulah ia menyadari bahwa sejak tiba di Brussels, ia belum sempat mengisi perutnya. Perjalanan panjang membuatnya terlalu sibuk hingga melupakan hal kecil tersebut.
Eros menggeleng pelan.
Melihat itu, Zenaya tersenyum.
"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan makan malam untuk kita setelah aku membersihkan diri."
Nada suaranya terdengar lembut.
Bukan hanya sekadar menawarkan makanan, tetapi juga sebuah usaha kecil untuk mendekatkan hubungan mereka kembali. Zenaya ingin menciptakan kehangatan yang sempat hilang selama mereka berjauhan.
Mendengar ajakan dari istrinya, mata Eros menunjukkan kebahagiaan kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.
Meskipun sederhana, perhatian itu terasa begitu berarti baginya.
"Baiklah," jawab Eros.
Ia tersenyum tipis.
"Aku tunggu di ruang kerjaku."
Setelah mengatakan itu, Eros pun meninggalkan kamar.
Zenaya tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang perlahan tertutup.
Wanita itu menyentuh dadanya sendiri.
Ada perasaan hangat yang memenuhi hatinya.
Ia begitu merindukan suaminya.
Merindukan keberadaan pria itu di dekatnya.
Namun, sebuah pertanyaan muncul dalam pikirannya.
Apakah Eros juga merasakan hal yang sama?
Apakah selama seminggu berada jauh darinya, pria itu juga merasakan kerinduan yang sama seperti dirinya?
Zenaya hanya mampu tersenyum kecil.
Mungkin ia belum mendapatkan jawabannya malam ini.
Tetapi setidaknya, kepulangan Eros membuat mansion itu kembali terasa seperti rumah.