Arsi harus menghidupi kedua anaknya setelah di tinggal suaminya bekerja di luar Kota, Suaminya tak pernah pulang dan tidak mengirimkan uang, hingga membuatnya harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anaknya. Saat ia bertekad menyusul sang suami ia harus mendapatkan kenyataan pahit suaminya sudah menikah lagi, ia bahkan tak mau menolongnya saat ia terserang asma hingga meninggal.
Arsi berjanji di kehidupan yang akan datang dia akan membalas suaminya, dan Tuhan pun mendengar doanya, ia pun di berikan kesempatan kedua. Lalu bagaimana pembalasan Arsi kepada suaminya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan di sekolah
"Tunggu!" ucapnya dengan suara tegas
Ia tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.
"Jadi kamu yang bernama Arsi, wanita yang berusaha mendekati suamiku, dan sekarang kamu berusaha mendekati putriku juga??"
*Deg!
Ucapan itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Dada Arsi serasa diremas. Ia tak menyangka Clarisa akan berkata sekejam itu, apalagi di hadapan banyak orang.
Beberapa wali murid yang tadi sibuk dengan anak-anak mereka kini berhenti total. Tatapan mereka tertuju pada dua wanita itu. Suasana gaduh di halaman sekolah berubah senyap dan tegang, udara terasa lebih berat.
Clarisa melangkah mendekat dengan langkah mantap, sepatu hak tingginya beradu keras di lantai marmer. Ia berhenti hanya beberapa senti dari wajah Arsi. Tatapan mereka bertemu, dingin dan membara.
Arsi menegakkan punggungnya, mencoba tetap tenang meski darahnya mendidih.
"Maaf, sepertinya Anda salah orang.” ucapnya berusaha tetap tenang
Clarisa mengangkat alis, senyum sinis mengembang di wajahnya.
"Salah orang. Cih, jangan berkilah. Apa perlu aku sebar foto-foto kalian di sini supaya semua orang tahu siapa kamu sebenarnya?" ancamnya
Tanpa ragu, Clarisa membuka tas mewahnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisi foto-foto Arsi dan James. Dengan gerakan dramatis ia kemudian menyebar foto itu ke udara. Beberapa lembar foto bertebaran di lantai, foto yang menampilkan Arsi dan James sedang berbicara di sebuah kafe, lalu ada juga foto keduanya di depan sebuah rumah mewah.
Suara bisik-bisik mulai terdengar dari para wli murid.
"Wah tidak di sangka, ternyata dia berselingkuh dengan Pak James,"
"Padahal tampangnya lugu, tapi ternyata dia sejahat itu!"
Arsi menatap foto-foto itu dengan ekspresi getir. Ia tahu betul foto-foto itu bisa menimbulkan kesalahpahaman besar. Ia menatap Clarisa dalam-dalam.
"Sebaiknya kamu cari informasi yang akurat dulu sebelum menuduh seseorang. Bila perlu tanyakan kepada suamimu, apa yang sebenarnya terjadi antara kami," ucap Arsi tegas.
Meski hatinya gemetar, suaranya tetap stabil.
Namun Clarisa tidak peduli. Ia melangkah makin dekat dan tanpa ragu menarik kerah baju Arsi dengan kasar.
"Aku sudah tahu semuanya!" serunya dengan nada tinggi.
"Dasar pelac*r! Apa rumah itu belum cukup jadi bukti?!"
Beberapa orang terlonjak kaget. Udara di tempat itu seakan membeku.
Winda yang sejak tadi berdiri di antara gerombolan wali murid, tersenyum penuh kemenangan. Ia menikmati setiap detik kehancuran Arsi dengan penuh kebahagiaan.
"Akhirnya, wanita itu menerima balasannya," batinnya puas.
Arsi menggenggam tangan Clarisa yang mencengkeram kerah bajunya dan menepisnya kuat-kuat.
"Sebaiknya kau tanya dulu pada suamimu tentang rumah itu," balasnya dengan nada dingin.
"Dan berhentilah menuduh orang tanpa bukti. Tindakan seperti itu bisa dipidanakan."
Kata-kata terakhir Arsi membuat suasana makin panas. Beberapa wali murid menelan ludah, tak percaya Arsi berani melawan Clarisa Idris, istri sah James, seorang politisi dab anggota dewan.
Wajah Clarisa memerah karena marah. Ia kehilangan kendali, langsung menjambak rambut Arsi dengan brutal. Arsi berteriak pelan, mencoba menahan sakit. Kedua wanita itu kini saling tarik, saling dorong.
"Sekarang kamu akan tahu rasanya dilabrak istri sah, dasar pelac*r murahan!" Gumam Winda
Arsi berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Clarisa kuat sekali.
Vio yang berada di dekat situ langsung panik dan berlari menghampiri mereka berusaha memisahkannya.
“Momy Hentikan!"
Gadis itu mencoba menarik tangan ibunya agar melepaskan Arsi, Arya pun ikut membantu nya.
Namun dalam kekacauan itu, tangan Clarisa tanpa sengaja melayang ke arah Vio.
*Plak!
Pukulan keras mendarat di pipi putrinya sendiri. Vio jatuh tersungkur dan pingsan.
"Vio!" teriak Arsi histeris, begitu melihat gadis itu tersungkur ke lantai.
Wajah Vio pucat, tubuhnya lemas, dan sebelum sempat bangkit, matanya terpejam.
Arsi berlutut, dengan panik mencoba memeriksa keadaan Vio.
"Vio! Bangun sayang, kamu dengar Tante?"
Ia menggendong tubuh lemah gadis itu dengan hati-hati, matanya mulai berkaca-kaca.
Namun belum sempat ia membawa Vio ke ruang perawatan, Clarisa menariknya kasar. "Jangan sentuh putriku!" teriaknya.
"Dasar pelac*r sialan, Gara-gara kamu anakku celaka!"
Suara Clarisa menggema ke udara. Semua orang membeku di tempatnya, tak berani bergerak. Beberapa mulai berbisik-bisik lagi.
"Astaga, kasian ya Vio!"
"Gak nyangka ya Arsi sejahat itu?"
Arsi menggigit bibirnya menahan tangis dan rasa malu. Ia ingin menjelaskan semuanya, tapi siapa yang mau percaya padanya di situasi seperti ini? Semua mata memandangnya dengan penuh kebencian, seolah ia adalah akar dari semua masalah.
Saat suasana semakin ricuh, tiba-tiba suara langkah cepat terdengar dari arah pintu utama. James datang dengan wajah tegang. Begitu melihat putrinya pingsan di pelukan Arsi, wajahnya langsung berubah pucat.
"Arsi! Apa yang terjadi?" serunya panik.
Tanpa menunggu jawaban, ia segera mengangkat tubuh Vio dari pelukan Arsi.
"Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" katanya cepat.
Arsi mengangguk. James menarik tangan Arsi dan membawanya pergi dengan langkah tergesa. Semua orang yang tadi menghujat kini hanya bisa diam terpaku melihat pemandangan itu.
Clarisa terbelalak, wajahnya merah padam.
"James!"
Ia berteriak memanggilnya, tapi James tak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan menuju mobil, menggendong Vio dengan wajah penuh kekhawatiran.
Clarisa mengejar, masih dengan amarah yang belum padam.
Begitu sampai di depan mobil, James menurunkan Vio dengan hati-hati ke kursi belakang, lalu menoleh ke arah Clarisa dengan tatapan tajam, tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Pergi dari sini!" bentaknya dengan suara rendah namun penuh tekanan.
Clarisa terpaku di tempatnya. Ia tak percaya pria yang selama ini begitu lembut padanya bisa berbicara sekeras itu.
"James, kamu marah padaku karena dia?" Clarissa melirik kearah Arsi
"Karena perempuan murahan itu?"
James mengepalkan tangan.
"Kamu sudah keterlaluan, Clarisa. Kamu sudah mempermalukan aku, memalukan putrimu sendiri!"
Clarisa menahan napas.
"Mempermalukan? Aku hanya membela rumah tanggaku dari wanita perusak!"
"Berhenti beralasan!" potong James tajam. "Kalau kamu masih menganggap dirimu ibu dari Vio, jangan bertindak seperti orang tak punya akal. Kau hampir melukai anakmu sendiri!"
Wajah Clarisa memucat. Ia menatap tangan James yang masih menggenggam erat kemudi mobil, lalu menatap Arsi yang duduk di samping Vio dengan wajah panik dan air mata yang belum kering.
Cemburu, sakit hati, dan ego menumpuk jadi satu di dadanya. Ia ingin menampar wanita itu lagi, tapi sesuatu di matanya, entah rasa bersalah atau hampa, menahannya. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar.
Mobil James melaju meninggalkannya begitu saja. Angin sore meniup rambut Clarisa yang terurai. Ia berdiri terpaku di halaman sekolah disaksikan banyak mata yang tak lagi menaruh hormat seperti sebelumnya.