NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 "Labensskript"

Chapter 21

Raungan alarm darurat memecah ketenangan pagi di Station 05. Lampu sirine merah berputar liar, memantulkan bayangan patah-patah di sepanjang koridor logam. Di tengah hiruk-pikuk pertugas teknis yang berlarian, suasananya berubah menjadi amat tegang saat layar pemantau utama menyala, menampilkan titik ancaman berkecepatan tinggi yang bergerak menerjang padang pasir di luar markas.

"Ancaman terdeteksi di sisi Utara.. sektor gurun guram dekat perbatasan luar!" Jin Hae, sekretaris komando yang selalu tampak tenang, melangkah cepat menyusuri panggung utama ruang kontrol. Tangannya yang terampil jemari menari cepat di atas panel kaca holo, menampilkan proyeksi tiga dimensi monster tersebut. "Cataclysm tipe Quadrupedal Archangel... bentuknya menyerupai harimau purba raksasa dengan lapisan armor organik yang sangat tebal."

Komandan Ace berdiri tegak. Tatapannya dingin melintasi kaca tebal yang mengarah langsung ke peluncuran. "Semua unit Grey Wings, siap di jalur cepat. Ini bukan patroli rutin." Tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun, namun penuh wibawa yang tak tertandingi, ia berucap, "Tim 05, mulai oprasi!"

Pintu pendorong hidrolik menggelegar terbuka, menghembuskan uap panas ke udara gurun yang membakar. Dari balik lorong gelap peluncuran, mesin-mesin raksasa meluncur keluar melintasi hamparan pasir. Suara gemuruh pendorong terdengar membahana saat formasi udara dan darat terbentuk secara presisi.

Di barisan terdepan penerbangan, Bird of Paradise membelah langit gurun bagai kilatan cahaya pelangi. Di dalam kokpit Shin memegang kendali, Belial duduk rapat di belakangnya mengawasi aliran sistem dan energi Magma. "Target terdeteksi di jarak dua kilometer, Shin!" suara Sua memecah keheningan frekuensi komunikasi radio. Sebagai kapten Tim 05 dan pilot dari Swan. Swan melayang di posisi sayap kiri, mengunci jalurnya dengan presisi luar biasa. "Ingat, gerakan target sangat tidak terduga. Jangan biarkan dia menembus perimeter!"

"Tenang saja, Kapten!" sahut Huah dengan nada ceria tanpa beban, menyela melintasi jalur transmisi dari kokpit Phoenix. Lei, yang mengendalikan Stork bersama Huah, tertawa kecil. Tangannya yang tenang memutar kenop penyelaras energi. "Sabar sedikit, Huah. Monster ini terlihat punya kecepatan luar biasa. Jangan sampai kita yang malah kena cakarnya." "Hei, aku juga siap mendobrak!" sela Zhou dari unitnya. "Awas saja kalau aku tidak dapat giliran memukulnya!"

"A-anu, Zhou... tolong hati-hati dengan pijakanmu," gumam Teiben perlahan, ramah namun terdengar tidak enak hati dari sistem komunikasi back-up. "Pasir di daerah ini sangat rentan ambles kalau kita terlalu keras memijak..." "Cukup bercandanya," potong Sei singkat dan pendiam. Hanya dua kata, namun efektif menyisakan keheningan di saluran transmisi.

Makhluk itu meraung, sebuah gelombang getaran yang menggetarkan kaca kokpit. Monster harimau Quadrupedal itu meloncat sejauh puluhan meter melintasi bukit pasir, gerakannya anggun namun mematikan. Cakar kirinya memotong udara, menyabet Feng Huang hingga memercikkan bunga api raksasa dan mengelupas lapisan armor bagian luarnya.

"Cepat sekali!" seru Elas dari Cassowary, meremas kacamata tebalnya dengan gelisah. "Kecepatan akselerasinya melampaui data standar Archangel!" "Gunakan formasi pengepungan C!" perintah Sua tegas. Swan menembakkan rentetan jangkar gelombang suara untuk mengunci jalur belok sang harimau. Phoenix dan Feng Huang menekan dari dua sisi, membatasi ruang geraknya secara drastis. "Shin, sekarang! Ambil alih titik butanya dari atas!"

"Diterima!" Shin menarik tuas kendali Bird of Paradise. Jet pendorong belakang meledak-ledak, meluncurkan mereka langsung dari langit menuju punggung harimau tersebut. Pedang Bird of Paradise berkilat terang, mengarah tepat ke arah Core biru yang berdenyut di tengkuk sang Archangel. Namun, tepat saat mata pedang Bird of Paradise tinggal beberapa inci dari inti energi itu, sang harimau mendadak menghentikan seluruh gerakannya. Senjata dan cakarnya meluruh. Ia berputar lambat, menengadahkan kepalanya yang menakutkan kearah Bird of Paradise.

Monster itu tidak menyerang. Tidak juga menggeram buas. Ia hanya menatap mata Shin melintasi kaca kokpit, lalu perlahan menarik napas dalam dalam, mengendus udara di sekitarnya seolah-olah menangkap aroma yang amat ia kenali dari dalam tubuh Shin. "Ada yang tidak beres..." gumam Belial dari belakang. Tubuhnya mendadak tegang. Mata birunya membelalak ketika menyadari tatapan hampa makhluk itu. "...Shin, monster ini..."

Shin terpaku. Tangannya di atas tuas kendali mendadak gemetar hebat. Harimau itu menggeram pelan, sebuah suara dengkur bernada pilu yang seolah menyuarakan rasa sakit yang teramat sangat, seakan mengenali sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam jiwa Shin. Namun, momen keheningan itu pecah seketika saat dorongan naluri buas Cataclysm kembali menguasai kesadarannya. Dengan raungan histeris, harimau itu mengamuk tanpa arah, mengibaskan cakar raksasanya ke atas! CRASH! Sabetan cakar yang membabi buta itu menghantam bagian samping Bird of Paradise. Benturan keras melemparkan kokpit mereka, memicu percikan listrik dan guncangan hebat di dalam sistem kendali. "Shin!" Belial berteriak menahan gravitasi saat kokpit stabil secara darurat.

Di kursi kemudi, Shin meringis Di balik rambutnya dua pasang tanduk biru menyala seperti milik Belial, Belial yang melihatnya langsung membelalak dengan napas tertahan. "Shin... tandukmu..." Dengan panik dan gerakan canggung, Shin buru-buru menutupi dahi dengan rambutnya berusaha menyembunyikan keanehan itu dari pandangan Belial. "Bukan apa-apa!" Belial tidak mendengarkan alasannya. Dengan tangannya yang gemetar namun tegas, ia meraih jemari Shin, menggenggamnya erat-erat dan menepis rambut itu. Matanya menatap urat-urat hitam yang berdenyut misterius di balik kulit pemuda itu. "Jangan bohong padaku! Ini sudah makin parah!"

Shin menatap mata Belial, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan sebuah senyuman yang lebih banyak menyimpan kelelahan daripada ketenangan. "Aku masih bisa bertarung, Belial. Selama aku masih bisa memegang kendali ini, kita akan selesaikan ini." Belial menatapnya dalam diam. Bibirnya terkatup rapat, cengkeraman tangannya pada jemari Shin semakin melonggar, namun tidak melepasnya. Di dalam diamnya, ada ketakutan yang tak terucapkan yang perlahan menggerogoti dadanya.

Dengan satu gerakan terkoordinasi bersama tim, Bird of Paradise berhasil menembus celah dan menusuk tepat ke Core sang harimau. Makhluk itu melengking keras sebelum akhirnya meledak dan meyipratkan hujan darah oranye.

Di ruang medis Station 05, suasana terasa menyesakkan. Bau desinfektan bercampur dengan aroma dingin peralatan medis modern. Shin duduk di tepi ranjang periksa dengan bagian atas tubuhnya terbuka, sementara sensor medis bergerak memindai struktur biologisnya. Professor Jing berdiri di depan deretan layar hologram, meneliti struktur molekuler darah Shin dengan dahi berkerut dalam. Di sampingnya, Elas berdiri kaku sambil meremas-remas ujung jas laboratoriumnya.

"Mutasi Catalyst-nya... merambat jauh lebih cepat dari grafik pekan lalu," bisik Jing, suaranya bergetar halus. Elas menyesuaikan letak kacamatanya, menatap angka-angka merah yang terus naik di monitor. "Angka sinkronisasinya mendekati batas kritis. Kalau ini terus berlanjut, sel-sel manusianya akan—" "Elas," potong Mei dengan lembut, melangkah mendekat sambil membawa segelas air hangat dan kain bersih. Wajah keibuannya memancarkan keprihatinan yang mendalam saat ia menatap Shin. "Kecilkan suaramu. Biarkan dia tenang dulu." "Tapi Kak Mei, data ini tidak bisa dibohongi!" seru Elas pelan, panik namun tertahan.

Shin mengancingkan kembali kemejanya perlahan, menghalangi pandangan mereka dari dada dan tangannya. Ia menatap Professor Jing dan Elas bergantian dengan tatapan memohon. "Tolong... jangan beritahu siapa-siapa tentang ini. Terutama Komandan Ace atau yang lainnya." "Shin, ini bukan masalah yang bisa kau sembunyikan!" tegas Profesor Jing, menatap sang pilot pemuda dengan raut serius. "Tubuhmu sedang menulis ulang genomnya sendiri."

"Aku tahu," jawab Shin pelan, menundukkan kepala. "Tapi selama aku masih bisa menjadi pilot Grey Wings, aku harus bertarung. Tolong, rahasiakan ini dari mereka."

Atmosfer mendadak berubah drastis, berpindah jauh dari Station 05 menuju benteng megah melayang yang dikenal sebagai Highlander. Di sini, tidak ada suara sirine, tidak ada raungan mesin, dan tidak ada musik. Hanya ada kesunyian abadi yang menusuk tulang. Lorong-lorong berarsitektur marmer putih memanjang tanpa ujung, diterangi cahaya pendar buatan yang dingin.

Sebuah pintu baja raksasa bermotif geometris bersuara berat saat perlahan meluncur terbuka. Melangkah masuk ke dalam ruang remang-remang itu, sekelompok figur bertopeng dan berjubah mewah para petinggi organisasi The Hawk, anggota pemerintah Station, The Family. Langkah kaki mereka bergaung teratur di atas lantai granit saat mereka berjalan menuju kompleks fasilitas paling bawah tanah.

Di tengah ruangan melingkar yang mahaluas, berdiri sebuah objek prastasi raksasa yang mengerikan sekaligus megah. Objek itu terperangkap di dalam belitan ratusan rantai baja berukir, diselimuti susunan papan bersimbol-simbol kuno yang berpendarkan cahaya keemasan redup. Bentuk aslinya tertutup rapat oleh bayangan tebal yang merayap, hanya menyisakan siluet mengerikan yang mengintip di balik kegelapan. Di alas fondasi batunya, terukir sebaris huruf kuno berukuran besar, LEBENSSKRIPT

Jazair, Seorang petinggi The Hawk yang beruban tebal berhenti di tepi panggung observasi, menatap objek raksasa itu dengan mata hampa. "Bagaimana status penyegelannya?" Seorang ilmuwan tua berjas serba hitam membungkuk hormat dari panel kendali. "Segelnya tetap stabil, Tuan." Ia jeda sejenak sebelum menambahkan, "Untuk sekarang." Ilmuwan lain melangkah maju, memanggil sebuah proyeksi hologram data ke udara. Gambar grafik warna-warni muncul menampilkan kurva mutasi, grafik sinkronisasi, dan tingkat resonansi Catalyst milik seorang pilot.

"Subjek Shin berkembang jauh lebih cepat dari seluruh prediksi teoritis kita," ujar ilmuwan tersebut, jarinya menunjuk pada titik lonjakan grafik. "Integrasi antara struktur jaringan manusia dan materi organik Cataclysm dalam tubuhnya telah mencapai tahap konvergensi yang hampir mirip dengan MH saat memicu Catastrophie"

Kougen melangkah mendekati batas jembatan, mengulurkan tangannya yang keriput untuk menyentuh salah satu rantai pelindung yang dingin dan bergetar halus. "Sudah ratusan tahun..." bisik Kougen, suaranya bergema penuh kepedihan yang ganjil. "...manusia hidup di dalam kurungan rasa takut. Melawan ancaman yang tak pernah usai." Ia berpaling melihat siluet Prastasi Lebensskript. "...dan Cataclysm pun, pada hakikatnya, juga hidup di dalam rantai rasa sakit yang tak terbayangkan." Ia mengepalkan tangannya di atas rantai logam. "Saat Second Catastrophie disempurnakan... tidak akan ada lagi penderitaan di dunia ini."

"Manusia..." sambung ilmuwan di sebelahnya dengan tatapan fanatic yang dingin. "...dan Cataclysm... akhirnya akan melebur menjadi satu kehidupan utuh." Ruangan raksasa itu kembali hening bagai kuburan. Hanya detak getaran mekanis dari Lebensskript yang terdengar membalas perkataan mereka. Di sudut ruangan, seorang pejabat The Family yang berdiri di balik bayangan melipat tangannya. "Apakah Subjek Shin sudah siap untuk proses ini?" Kougen tidak langsung menjawab. Ia menatap grafik mutasi Shin yang berkedip-kedip merah. "Belum," jawabnya datar. "Namun... suka atau tidak, dialah satu-satunya kunci yang kita miliki."

Malam harinya, hembusan angin dingin menyapu atap hanggar Garage utama Station 05. Langit malam membentang luas tanpa awan, ditaburi ribuan bintang yang berpijar redup. Belial duduk sendirian di tepi atap, lututnya dilipat ke dada. Pandangannya kosong menatap hamparan gurun yang gelap gulita di bawah sana. Suara langkah kaki yang renyah di atas permukaan atap seng memecah lamunannya.

Shin berjalan mendekat, membawa dua kaleng kopi hangat di tangannya. Tanpa bersuara, ia duduk di samping Belial dan menyodorkan salah satu kaleng tersebut. Belial tidak mengambilnya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah kopi itu. Matanya hanya tertuju pada jemari Shin yang menggenggam kaleng "Kamu berubah, Shin," suara Belial terdengar sangat pelan, hampir tenggelam disapu angin malam. Shin menarik kembali tangannya, menatap kaleng kopi itu sebentar sebelum tersenyum tipis. "Cuma sedikit."

"Sedikit?" Belial menoleh mendadak, menatap mata Shin dengan sorot mata yang campur aduk antara marah dan sedih. "Kamu bilang perubahan tandukmu dan mutasi ini 'sedikit'?" Shin terdiam. Ia memandangi permukaan kaleng di tangannya, memutar-mutarnya perlahan. "Kalau... kalau suatu hari nanti aku benar-benar berubah menjadi Cataclysm sepenuhnya seperti dirimu..." "Jangan bercanda!" potong Belial cepat, suaranya meninggi. "Jangan pernah bicara seperti itu!" Shin mendongak, mengalihkan pandangannya menatap hamparan bintang di atas mereka. "Aku serius, Belial. Kalau suatu hari nanti aku tidak bisa menahannya lagi... kalau aku benar-benar menjadi monster yang harus kalian hancurkan..."

Sebelum Shin menyelesaikan kalimatnya, Belial bergerak cepat. Ia meraih tangan kanan Shin. Rasa dingin dari kulit Shin berbenturan dengan kehangatan jemari Belial. "Aku akan tetap bersamamu," tegas Belial, menatap lurus ke dalam manik mata Shin tanpa ragu sedikit pun. Shin terpana sejenak, lalu tawa kecil yang getir keluar dari tenggorokannya. "Aku tidak peduli," bisik Belial, menggelengkan kepalanya rapat-part. "Mau kamu jadi monster... atau kamu tetap manusia... bagiku, kamu tetap Shin. Tidak ada yang berubah." Shin menunduk tajam. Sorot matanya goyah oleh rasa bersalah yang teramat dalam. "Bagaimana kalau suatu hari nanti... dalam keadaan tak sadar... aku menyakitimu?"

Belial terdiam sejenak. Jemarinya semakin erat meremas tangan Shin, mengalirkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Bibirnya mengukir senyum tipis yang amat lembut. "Kalau begitu..." gumam Belial penuh keyakinan, "...aku yang akan memukulmu dan mengingatkan kembali siapa dirimu sebenarnya. dan aku akan mengajarimu bagaimana cara menjadi Cataclysm yang baik" Shin menghembuskan napas panjang, kepalanya terangkat kembali seraya tersenyum pasrah. "Dasar keras kepala." "Aku belajar dari orang yang paling keras kepala di sini," balas Belial, akhirnya mengambil kaleng kopi hangat dari samping Shin dan membukanya dengan nada mendengkus pelan.

Jauh di Highlander, di dalam kedalaman ruang tempat Lebensskript terbelenggu. Keheningan ruangan penyegelan tiba-tiba terpecah oleh sebuah suara tajam yang tak asing. KRKKK... Sebuah retakan halus, Serpihan debu semen kuno gugur melayang di udara. Seluruh ilmuwan dan para petinggi The Hawk serta-merta menoleh, mata mereka membelalak menatap rantai yang retak itu. Di saat yang sama, deretan layar monitor pemantau di sekeliling ruangan mendadak menyala merah meledak-ledak, membunyikan nada peringatan frekuensi tinggi.

[ SYNCHRONIZATION DETECTED ]

[ RESONANCE RATE: ASCENDING ]

Di tengah keriuhan alarm dan kepanikan para teknisi yang berhamburan, Pimpinan utama The Hawk, Kougen berdiri mematung. Senyum tipis yang mengerikan mengembang di wajahnya yang keriput. "Ia mulai merespons..." bisiknya lirih, hampir seperti sebuah doa sakral. Di balik kegelapan abadi yang menyelimuti bagian dalam Lebensskript, di balik belitan rantai dan simbol-simbol kuno yang bergetar hebat, perlahan-lahan terbuka lebar melintasi kegelapan.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!