PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
SELAMAT MEMBACA!
***
Pagi hari, Erwin sudah rapih dengan setelan kerjanya. Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini Erwin sendirilah yang menyiapkan semua keperluannya. Sepertinya Delima benar-benar marah kepadanya.
Bodoh jika Erwin mengatakan kalau Delima tidak marah. Baru kali ini Delima mengacuhkan dirinya biasanya dialah yang mengacuhkan istrinya itu.
Erwin melangkahkan kakinya keluar kamar. Sebelum ke bawah, Erwin menyempatkan untuk curi pandang ke arah kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari kamarnya dan Delima.
"Apa Delima belum bangun? Atau dia sudah di bawah menyiapkan sarapan untukku?" terka Erwin lalu menuju meja makan.
"Selamat pagi tuan," sapa Mbok Tini yang sedang menyiapkan sarapan untuk majikannya.
"Loh, mbok di mana Delima?" tanya Erwin mengernyit.
"Eh, bukannya nyonya belum keluar kamar yah tuan?" tanya Mbok Tini kebingungan.
"Memangnya Delima belum keluar kamar dari semalam mbok?" tanya Erwin lagi.
"Aneh, merekakan sekamar, bagaimana bisa tuan tidak tahu kalau istrinya itu belum keluar kamar," batin Mbok Tini.
"Belum tuan," jawab Mbok Tini. "Semalam setelah pulang, nyonya langsung masuk ke dalam kamar dan sampai sekarang belum keluar kamar juga," jelas Mbok Tini.
"Memangnya ada apa tuan?" tanya Mbok Tini menyelidik.
"Tidak apa-apa mbok," jawab Erwin lalu duduk di tempatnya.
"Semalam Delima pulang diantar siapa mbok?" tanya Erwin.
"Saya kurang tahu tuan, semalam saya bukakan pintu untuk nyonya dan nyonya pulang dalam keadaan basah kuyup dan penampilan acak-acakan. Saya tidak melihat siapa yang mengantar nyonya pulang tuan," jawab Mbok Tini sekaligus menjelaskan.
"Basah kuyup?" ulang Erwin.
Mbok Tini mengangguk, "Iya tuan, sepertinya nyonya kehujanan," kata Mbok Tini.
Erwin kemudian mengarahkan pandangannya menatap pintu kamar tamu yang masih tertutup rapat. Mbok Tini merasa ada yang janggal di sini. Dia pun ikut mengarahkan matanya menatap apa yang ditatap majikan laki-lakinya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apa mereka bertengkar lagi?" batin Mbok Tini bertanya-tanya.
"Silahkan di makan tuan!" kata Mbok Tini mempersilahkan Erwin untuk memakan sarapannya.
"Iya mbok, terima kasih," balas Erwin lalu mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauknya.
"Kemarin mereka baik-baik saja lantas apa yang terjadi semalam? Kenapa mereka sampai pisah ranjang?" Mbok Tini masih kepikiran tentang apa yang terjadi dengan kedua majikannya itu.
Selama ini saat majikannya itu bertengkar, tidak pernah sekalipun mereka pisah ranjang, namun sekarang? Entahlah Mbok Tini bingung memikirkannya.
***
Sementara di dalam kamar tamu, Delima meringkuk kesakitan di atas ranjang. Dia sudah lama bangun, namun matanya tiba-tiba saja menjadi buram dan kepalanya juga terasa begitu sakit.
Karena marah, Delima sampai lupa mengambil obatnya bahkan semalam ia tidak sadar jika belum minum obat dan lihatlah sekarang karena kecerobohannya itu, dia pun harus menanggung serta menahan sakit yang begitu sakit.
Tok-tok-tok!
"Si-siapa?" tanya Delima menaham sakitnya.
"Ini saya nyonya," jawab Mbok Tini.
"Iya, ada apa mbok?" tanya Delima lagi.
"Nyonya tidak sarapan? Saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda nyonya," ujar Mbok Tini.
"Nanti saja mbok, apa Mas Erwin sudah sarapan mbok?" kata Delima.
"Sudah nyonya, tuan juga sudah berangkat, katanya dia buru-buru dan tidak bisa menemui nyonya," pungkas Mbok Tini.
"Syukurlah kalau Mas Erwin sudah berangkat," gumam Delima pelan.
"Mbok, apa saya boleh minta tolong?" tanya Delima.
"Minta tolong apa nyonya?" balas Mbok Tini.
"Tolong ambilkan obat saya yang ada di lemari baju saya mbok," jelas Delima. Dia sudah tidak bisa menahan sakitnya lagi. Terserah mau berpikir apa Mbok Tini yang terpenting sekarang dka bisa meminum obatnya dan mengurangi rasa sakit kepala serta bisa kembali memulihkan penglihatannya yang buram.
"Baik nyonya," balas Mbok Tini berlalu menuju kamar majikannya.
***
"Obat apa ini?" tanya Mbok Tini pada dirinya sendiri sembari meneliti obat-obatan yang ia pegang itu.
"Nanti saja aku tanyakan langsung pada nyonya. Sepertinya dia tadi terdengar begitu kesakitan," tambahnya lalu menutup kembali lemari Delima dan berjalan menuju kamar tamu.
Tok-tok-tok!
"Nyonya, ini saya sudah membawakan obat anda," seru Mbok Tini.
"Masuk saja mbok!" sahut Delima. Mbok Tini pun masuk ke dalam kamar.
"Ini nyonya," Mbok Tini menyerahkan obat tersebut pada Delima.
"Terima kasih mbok," Delima berusaha untuk duduk.
"Airnya nyonya," tawar Mbok Tini dan Delima pun menerima air itu lalu menelan obatnya kemudian meminum airnya.
"Nyonya," panggil Mbok Tini saat melihat Delima kembali membaringkan tubuhnya.
"Nanti saya kasih tahu mbok, tapi perihal obat dan saya sakit tolong disembunyikan yah mbok!" pinta Delima memelas.
"Tapi nyonya..."
"Mbok saya mohon," potong Delima.
"Baiklah nyonya, saya berjanji," janji Mbok Tini.
Delima tersenyum, "Terima kasih mbok," ucapnya dan dibalas anggukam kepala oleh Mbok Tini.
***
Halo semuanya😊
Risma di sini mau kasih masukan dikit nih tentang cerita Risma ini. Ada yang bilang kalau novel Risma ini terlalu menjatuhkan perempuan dan menganggap seolah-olah perempuan itu tidak berharga.
Bukannya begitu, Risma di sini juga cewek sama seperti karakter Delima. Risma buat cerita ini semata-mata hanyalah sebagai hiburan dan tidak ada maksud menjatuhkan perempuan dimata laki-laki apalagi mengatakan jika perempuan itu tidak berharga.
Coba berpikir positif dulu, jangan negatif. Di sini Risma juga menekankan kalau sebenarnya itu perempuan kuat bahkan sangat kuat. Mereka kuat menghadapi sikap laki-laki yang seenaknya kepada mereka. Mereka kuat karena bisa menahan segala rasa sakit yang mereka berikan dan torehkan bahkan perempuan masih bisa bertahan meski disakiti berulang kali.
Karena apa? kerena perempuan kuat. Kita lebih banyak memakai hati dan Delima pun sama. Dia kuat. Kuat menghadapi sikap suaminya dan juga kuat dalam menghadapi penyakit yang di deritanya.
Dan sekali lagi Risma tekankan kalau cerita ini dibuat hanya untuk menghibur kalian dan tidak ada maksud lain.
Mau dibaca silahkan dan kalau tidak mau pun silahkan🙏
Jika ada salah kata Risma mohon maaf🙏🙏 sekian dan terima gaji, eh terima kasih maksudnya... wkwkwk
Dan yah Risma udah ada gc loh, yuk gabung kita seru-seruan bareng😁✌
***
Jangan lupa like, komen dan vote😗😗
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘