Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Fantasi Milik Sultan dan Jebakan "Pesona" yang Tak Terelakkan
Pesta makan siang di gedung pencakar langit yang baru saja dibeli Rizky Adhitya berakhir dengan suasana yang sangat tidak lazim. Rizal Adhitya, sang Chairman yang biasanya memancarkan aura dingin dan mematikan, melangkah keluar restoran dengan senyum tipis—sebuah pemandangan yang sanggup membuat seluruh jajaran direksi Adhitya Group pingsan berjamaah karena terkejut,. Rizal merasa bangga karena putra mahkotanya kini memiliki "visi branding" yang sangat unik lewat proyek jet kargo untuk jerapah peliharaannya.
Saat mobil Rolls-Royce Rizal meluncur pergi, Rizky berdiri di lobi utama bersama Aprillia Rahma yang masih tampak linglung. Di belakang mereka, Rafa Ariyanto sedang sibuk memijat pelipisnya sambil menatap laporan saldo Kartu Hitam yang baru saja berkurang beberapa miliar hanya untuk biaya makan siang dan tips koki,.
"Ah, udara Jakarta hari ini terlalu banyak polusi emosi," ujar Rizky dengan nada suara yang sangat periang sambil melepas kacamata hitamnya. Ia menoleh pada April yang sedang menatap bros mawar hitam di dadanya. "April, bukankah makan siang tadi terlalu kaku? Ayah bicara soal saham, koki bicara soal saus, dan Rafa bicara soal kebangkrutan. Aku butuh penyegaran!".
April menaikkan sebelah alisnya, merasa bingung dan bimbang. "Penyegaran? Kamu baru saja menghabiskan waktu berjam-jam membahas modifikasi pesawat untuk jerapah, Rizky. Bukankah itu sudah cukup menyegarkan bagi otak gila sepertimu?".
Rizky tertawa terbahak-bahak. Sebagai mantan penulis novel miskin yang dulu hanya bisa berwisata dengan melihat foto di internet, ia tahu betul bahwa kebahagiaan sejati harus dirayakan dengan cara yang paling berlebihan,.
"Itu bisnis, April! Sekarang saatnya bermain," Rizky menjentikkan jarinya ke arah Rafa. "Rafa! Hubungi pengelola 'Dunia Megah'. Katakan pada mereka aku ingin menyewa seluruh taman hiburan itu selama tiga jam ke depan. Mulai sekarang!".
Rafa tersentak, tablet di tangannya hampir meluncur ke lantai. "Tuan Muda... Dunia Megah adalah taman hiburan terbesar di kota ini! Ini masih jam operasional puncak. Ada ribuan pengunjung di sana!".
"Justru itu tantangannya, Rafa!" Rizky merangkul bahu Rafa dengan akrab, memberikan tekanan sultan yang tak terbantahkan. "Aku ingin mengobrol santai dengan April tanpa gangguan antrean manusia yang panjangnya seperti naskah novelku yang ditolak dulu. Katakan pada pengelola: kosongkan tempat itu dalam tiga puluh menit!".
"Tapi Tuan Muda, para pengunjung itu akan protes! Mereka sudah membayar tiket!" rintih Rafa.
Rizky menyeringai, dan pada saat itu, layar holografis biru dari System Menghamburkan Uang muncul di depan matanya.
[Ding! Misi Hedonisme Spontan Terdeteksi!] [Tujuan: Nikmati sore yang tenang di Dunia Megah tanpa gangguan 'rakyat jelata'.] [Misi Khusus: Habiskan minimal 200 Miliar Rupiah dalam waktu 3 jam di dalam taman bermain!] [Instruksi Trolling: Berikan kompensasi yang membuat pengunjung senang namun membuat musuh iri.] [Hadiah: Skill Aktif 'Pesona Sultan' (Meningkatkan daya tarik visual dan karisma secara instan).]\,.
Mata Rizky berbinar. "Rafa, dengarkan! Berikan setiap pengunjung yang dipulangkan uang tunai lima juta rupiah sebagai kompensasi. Dan untuk semua staf taman hiburan, berikan mereka bonus 'Biaya Kesehatan Mental' sebesar seratus juta rupiah per orang karena harus menghadapi permintaan mendadak ini. Pakai kartu hitamku!".
Rafa terbelalak. "D-dua ratus miliar... Anda ingin membuang dua ratus miliar hanya untuk naik bianglala tanpa antre?".
"Cepat, Rafa! Waktu adalah uang, dan aku punya terlalu banyak uang tapi terlalu sedikit waktu untuk bersenang-senang!" seru Rizky periang,.
Tiga puluh menit kemudian, gerbang raksasa Dunia Megah tertutup rapat bagi publik. Namun, di dalamnya, suasana justru menjadi pesta pora yang aneh. Ribuan pengunjung keluar dengan wajah berseri-seri karena mendapatkan "amplop sultan" yang nilainya jauh lebih besar dari harga tiket masuk mereka. Sementara itu, ratusan staf taman hiburan berdiri berbaris dengan semangat yang meledak-ledak—bonus seratus juta rupiah membuat mereka merasa sedang melayani dewa keuangan,.
Rizky dan April melangkah masuk ke area taman yang kini sunyi namun tetap benderang oleh lampu-lampu neon. Musik taman tetap diputar, menciptakan suasana yang surealis.
"Kamu benar-benar sudah tidak waras," bisik April saat mereka berjalan melewati wahana roller coaster yang kosong namun tetap beroperasi khusus untuk mereka berdua. "Hanya untuk mengobrol, kamu mengusir ribuan orang dengan bom uang?".
"April, di dunia novel aslinya—eh, maksudku dalam pikiranku—seorang pahlawan seperti Rama Wijaya mungkin akan mengajakmu mengantre berjam-jam sambil bicara soal kesederhanaan dan perjuangan," Rizky menoleh dan menatap April dengan tatapan yang tidak lagi obsesif, melainkan penuh kepercayaan diri sultan. "Tapi aku bukan pahlawan munafik. Aku adalah orang yang akan memastikan bahwa satu detik waktumu tidak terbuang sia-sia untuk hal-hal sepele seperti mengantre.",.
April terdiam. Ada getaran aneh di dadanya. Ia melihat Rizky yang sekarang begitu bebas. Tidak ada lagi tekanan "Harimau Kecil" yang kejam, yang ada hanyalah pria yang memperlakukan dunia seperti papan permainan monopoli miliknya sendiri.
"System, bagaimana progresnya?" batin Rizky.
[Ding! Pengeluaran Saat Ini: 180 Miliar (Kompensasi Pengunjung dan Bonus Staf).] [Sisa Waktu: 2 Jam. Sisa Dana yang Harus Dihabiskan: 20 Miliar!]
Rizky melihat ke arah deretan toko suvenir dan stan makanan yang tutup. "Rafa! Buka semua toko itu! Aku ingin membeli seluruh stok boneka jerapah di tempat ini dan kirimkan ke panti asuhan tempat aku menyabotase Rama kemarin. Dan pesan koki terbaik untuk memasak di atas komidi putar ini. Aku ingin makan es krim berlapis berlian sambil berputar!".
Rafa yang sedang duduk di kursi taman sambil menghitung angka-angka di tabletnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Tuan Muda... boneka jerapah seharga dua puluh miliar... saya akan urus. Saya rasa saya juga butuh bonus kesehatan mental untuk melihat kegilaan ini...".
Saat matahari mulai terbenam, memberikan semburat warna jingga di langit, Rizky mengajak April naik ke wahana bianglala raksasa. Wahana itu berhenti tepat di titik tertinggi, memberikan pemandangan seluruh kota Jakarta yang mulai berkelap-kelip.
[Ding! Misi Berhasil! Total Pengeluaran: 215 Miliar Rupiah!] [Hadiah Diberikan: Skill 'Pesona Sultan' Aktif secara Otomatis!]\,.
Seketika, sebuah cahaya hangat seolah terpancar dari kulit Rizky. Auranya yang tadinya hanya sekadar "pria kaya yang periang" kini berubah menjadi sosok yang sangat memikat, berwibawa, dan memiliki daya tarik magnetis yang sulit ditolak.
April, yang duduk di seberang Rizky, tiba-tiba merasa tenggorokannya kering. Ia menatap wajah Rizky yang diterangi cahaya senja. Entah mengapa, garis rahang Rizky terlihat lebih tegas, dan binar matanya seolah bisa menembus dinding pertahanan emosionalnya yang selama ini ia bangun.
"Kenapa kamu menatapku begitu, April? Apakah jas emas baruku terlalu menyilaukan?" goda Rizky sambil tertawa kecil.
"Bukan... hanya saja..." April membuang muka, pipinya sedikit merona. "Kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu tidak mengejarku dengan paksaan lagi? Kenapa kamu justru memberiku kebebasan dengan cara yang paling mahal ini?".
Rizky menyandarkan punggungnya, menatap langit malam. "Karena dulu, sebagai penulis, aku selalu memaksa karakterku untuk mengikuti keinginanku. Tapi sekarang aku sadar, melihat seseorang menjadi dirinya sendiri dan tertarik padaku karena pilihannya sendiri, jauh lebih memuaskan daripada memilikinya dalam sangkar emas," Rizky menatap April dengan tulus. "Aku ingin kamu melihat bahwa hidup bersamaku bukan tentang menjadi tawanan, tapi tentang menjadi ratu di dunia yang sudah aku beli untukmu.",.
April tertegun. Kalimat itu begitu dalam, jauh berbeda dari obsesi jahat Rizky di masa lalu. Ia merasa bingung dan bimbang di puncak tertinggi bianglala itu, namun rasa penasaran dan ketertarikannya kini telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih berbahaya bagi hatinya.
Tiba-tiba, ponsel Rizky berdering. Itu adalah notifikasi dari Skill 'Visi Takdir' miliknya.
[Peringatan! Rama Wijaya terdeteksi sedang menyamar sebagai badut pembersih di pintu keluar taman hiburan. Dia sedang mencoba mengambil foto Anda untuk bahan skandal!]
Rizky menyeringai lebar. Momen romantis ini butuh sedikit komedi sebagai penutup.
"Rafa!" Rizky berteriak dari atas bianglala menggunakan interkom wahana. "Ada badut di dekat pintu keluar yang sepertinya bekerja terlalu keras. Berikan dia tugas tambahan untuk membersihkan seluruh area toilet menggunakan sikat gigi! Katakan padanya, itu adalah perintah langsung dari sultan yang sedang berbahagia!".
Rafa yang berada di bawah hanya bisa mendongak bingung, namun segera menjalankan perintah itu.
Rizky menoleh pada April dan mengedipkan mata. "Ayo turun, April. Masih ada sisa sepuluh miliar yang harus aku hamburkan untuk membeli kembang api yang bisa menuliskan namamu di langit malam ini. Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan tanpa sedikit ledakan kemewahan, bukan?".
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi kembang api triliunan, April menyadari bahwa ia tidak hanya terpesona oleh uang Rizky, tapi juga oleh kebebasan jiwa pria yang dulu ia benci tersebut. Sementara itu, di sudut taman yang gelap, Rama Wijaya yang berseragam badut hanya bisa menggenggam sikat gigi dengan tangan gemetar, menyadari bahwa panggung pahlawannya kini benar-benar telah menjadi toilet bagi kesenangan sang Sultan Antagonis,.