seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 12
Tiga orang pria berbadan kekar dengan seragam ormas loreng-hitam yang sedang bersandar di gerbang ruko langsung menegakkan tubuh mereka.
Salah satu dari mereka, pria berkumis melintang dengan tato kalajengking di lengannya, melangkah maju sambil meludah ke aspal.
"Woy, Bocah! Mau ngapain lu ke sini? Cari mati?"
gertak si pria berkumis, matanya menatap Viola dengan pandangan meremehkan sebelum beralih ke Kevin yang masih memakai jaket denim hitam.
Viola tidak gentar. Dia melangkah maju satu kali, dagunya terangkat tinggi memancarkan aura nona muda elite.
"Saya anak dari pemilik sah bangunan ini!"
"Papa saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi minggu lalu."
"Copot spanduk sampah kalian sekarang juga, atau saya panggil polisi!"
Mendengar ancaman Viola, ketiga pria itu malah tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa mereka terdengar bising di tengah deru kendaraan Jalan Raya Margonda.
"Polisi? Panggil aja, Neng! Kita di sini punya surat yang sah."
"Bos kita gak bakal lepasin ruko strategis ini begitu aja cuma buat pengusaha kota,"
sahut pria kedua yang bertubuh buntal sembari menepuk-nepuk sebatang balok kayu di tangannya.
Kevin yang berdiri di belakang Viola mengamati situasi dengan tenang.
Pikirannya terbagi dua. Pertama, dia harus melindungi Viola.
Kedua, ruko ini sebenarnya milik Kevin yang diberikan oleh Sistem, tapi entah bagaimana ayah Viola merasa telah membelinya, dan sekarang malah diserobot oleh ormas mafia tanah lokal.
Ding!
[Misi Sampingan Dimulai!]
[Target: Lumpuhkan 3 anggota ormas dalam waktu kurang dari 1 menit tanpa memicu kepanikan massal di Margonda.]
[Fasilitas Sementara Diaktifkan: Tubuh Baja Dewa (Daya tahan fisik meningkat 300%).]
Seketika, Kevin merasakan aliran kehangatan aneh mengalir di sepanjang otot-otot tubuhnya.
Kulitnya terasa lebih padat, dan setiap persendiannya mendadak seringan kapas namun sekeras baja.
"Viola, mundur tiga langkah ke belakang Mas," bisik Kevin lembut, menyentuh pundak gadis itu.
"Tapi Mas Kevin, mereka bawa balok—"
"Mundur aja."
"Percaya sama guru matematikamu ini,"
potong Kevin dengan senyuman penuh percaya diri yang sanggup meruntuhkan keraguan Viola.
Gadis itu tertegun, lalu perlahan melangkah mundur, matanya tak lepas dari punggung Kevin.
Kevin melangkah maju, menghadapi pria berkumis tato kalajengking.
"Bro, mending kalian gulung spanduk itu sendiri, terus pergi beli es teh manis di seberang sana."
"Sebelum urusannya jadi panjang."
"Hah?! Ojol belagu, banyak bacot lu!"
teriak si kumis yang tampaknya salah fokus melihat helm merah muda di motor Kevin dan mengira Kevin hanya driver ojol biasa yang sedang sok pahlawan.
Pria bertubuh buntal langsung mengayunkan balok kayunya dengan kasar ke arah kepala Kevin.
WUSH!
Viola memejamkan matanya, hampir menjerit ketakutan.
Namun, Kevin bahkan tidak berkedip. Berkat Refleks Dewa dan Tubuh Baja, Kevin sengaja tidak menghindar.
Dia mengangkat lengan kirinya untuk menangkis hantaman balok tersebut secara langsung.
PRAKKK!
Balok kayu tebal itu hancur berkeping-keping begitu menghantam lengan kiri Kevin. Anehnya, lengan Kevin tidak patah, bahkan baret pun tidak.
Jaket denim hitamnya hanya sedikit berdebu.
"A-Apa?! Kulit lu terbuat dari semen?!"
Pria buntal itu melongo menatap sisa patahan kayu di tangannya dengan wajah pucat pasi.
Dia mengira sedang berhadapan dengan jawara banten yang punya ilmu kebal tingkat tinggi.
"Semen Tiga Roda, Bro. Lebih kokoh," kelakar Kevin.
Sebelum pria buntal itu sempat mundur, tangan kanan Kevin melesat maju, mencengkeram kerah bajunya, lalu memutar tubuhnya untuk dijadikan bantalan bagi serangan pria berkumis yang tiba-tiba menerjang dengan pukulan mentah.
BUGH!
Pukulan si kumis justru mengenai wajah temannya sendiri yang buntal hingga hidungnya berdarah.
Kevin memanfaatkan momentum itu untuk melepaskan satu tendangan low-kick menyapu kaki si kumis hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang di aspal dengan posisi tidak estetis.
Pria ketiga, yang sejak tadi berjaga di dekat rantai gerbang, mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya.
Wajahnya penuh keringat dingin melihat dua temannya tumbang tanpa perlawanan berarti.
"L-Lu... lu jangan macem-macem ya! Gue tusuk lu!"
Kevin berjalan mendekat dengan langkah santai, mengabaikan ancaman pisau tersebut.
Begitu jarak mereka tersisa satu meter, pria itu menusukkan pisaunya ke arah perut Kevin.
Dengan gerakan super-refleks, Kevin menangkap pergelangan tangan pria itu, menekannya ke bawah hingga pisaunya terjatuh, lalu memberikan satu pukulan ringan namun bertenaga baja tepat di ulu hatinya.
Bugh!
Pria ketiga itu langsung berlutut, memegangi perutnya yang terasa seperti dihantam palu godam, lalu muntah cairan bening sebelum akhirnya ambruk tidak sadarkan diri.
Tepat empat puluh lima detik.
Tiga anggota ormas penyerobot tanah kini terkapar di depan ruko nomor 88.
Ding!
[Misi Sampingan Sukses!]
[Evaluasi: 45 Detik. Gaya bertarung bersih. Kemampuan 'Tubuh Baja Dewa' kini permanen di dalam tubuh Pengguna.]
[Hubungan dengan Viola: Meningkat pesat! Target merasa sangat aman dan mulai mengagumi kekuatan fisik Anda. Score Harem: +10.]
Kevin menghela napas, membersihkan debu balok kayu di jaketnya, lalu berbalik menatap Viola yang masih berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka.
"M-Mas Kevin... Mas beneran punya ilmu kebal?"
"Tadi itu balok kayu sampai hancur lho!"
Viola berlari mendekat, langsung menarik lengan kiri Kevin dan merabanya untuk memastikan tidak ada tulang yang patah.
Sentuhan tangan lembut Viola yang panik membuat Kevin sedikit salah tingkah.
"Ah, itu... kayanya balok kayunya udah keropos dimakan rayap, Vi."
"Keliatannya aja tebal," bohong Kevin dengan alibi paling klise sedunia.
"Lagian Mas kan sering latihan angkat galon di rumah, jadi ototnya agak keras."
Viola menyipitkan matanya, menatap Kevin dengan pandangan yang tidak lagi sekadar penasaran, melainkan penuh dengan rasa kagum yang mendalam.
"Mas pikir aku bodoh? Rayap mana yang bisa bikin balok sekeras itu hancur berkeping-keping di tangan orang biasa?"
Sebelum Kevin sempat menjawab, ponsel di saku celana Viola bergetar.
Gadis itu mengangkatnya, mendengar suara panik dari seberang telepon selama beberapa detik, lalu wajah cantiknya mendadak berubah menjadi sangat pucat.
"Kenapa, Vi? Ada masalah?" tanya Kevin melihat perubahan ekspresi muridnya.
Viola menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca.
"Mas... Papa... Papa baru saja diculik dari kantornya di Margos oleh orang-orang yang ngaku dari kelompok mafia tanah ini!"
Kevin mengernyitkan dahinya, tatapannya mendadak berubah menjadi sangat dingin.
"Diculik, ya? Baru juga dapet ruko, urusannya udah melebar ke mana-mana."