NovelToon NovelToon
Engkau Milikku

Engkau Milikku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Roman-Angst Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:38.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vebi Gusriyeni

"Hanya aku yang boleh menyiksa dan membuatmu menderita. Hanya aku yang boleh mencintai dan memilikimu."_Sean Aznand.

Sonia Elliezza, rumah tangga yang dia idam-idamkan selama ini menjadi mimpi buruk untuknya, walaupun Sonia menikah dengan pria yang sangat dia cintai dan juga mencintainya.

Hanya karena kesalahan di masa lalu, membuat rumah tangga Sonia bersama dengan Sean Aznand menjadi sangat dingin dan menegangkan serta penuh dendam dan amarah yang tak terbantahkan.

Sean memberikan pilihan pahit pada Sonia di awal pernikahan mereka. Pilihan untuk terus bertahan atau pergi, akankah Sonia bisa meluluhkan hati suaminya? Pilihan apa yang akan Sonia ambil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vebi Gusriyeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Kedatangan Ayah Mertua

Kenzo datang membesuk Sonia ke rumah sakit, istri Sean belum sadarkan diri semenjak tadi.

"Istri saya kenapa ya dok? Saya tidak yakin kalau dia hanya kelelahan saja, dia sangat sering begini."

"Kita harus memeriksanya secara mendalam, baru bisa dilihat Ibu Sonia mengidap penyakit apa," Jelas dokter.

"Berikan yang terbaik untuk istri saya, saya tidak mau istri saya kenapa-napa kalau memang harus melakukan pemeriksaan lebih lagi, silahkan lakukan."

"Baik Bapak Sean, kami akan melanjutkan pemeriksaan pada Ibu Sonia secara mendalam."

"Terima kasih."

"Saya permisi dulu."

"Iya dok."

Sonia di pindahkan ke ruang rawat VIP, Sean menatap wajah pucat Sonia yang saat ini terbaring lemah dengan infus dan oksigen yang menempel di tubuhnya. Saat ini rasa takut akan kehilangan begitu mendominasi perasaan Sean.

"Kok tega kau Sean, menyiksa wanita secantik ini, coba dari awal aku tau kalau kau menikah hanya untuk menyiksa dia, mungkin dia akan kubawa lari," kata Kenzo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sean.

"Jangan pernah berpikir untuk membawa lari istriku."

"Sekarang memang tidak terpikir tapi suatu saat nanti jika kau menyakitinya lagi, maka aku akan membawanya lari."

"Aku tidak akan menyakitinya lagi." Sonia perlahan membuka mata, menatap suaminya yang saat ini berada di dekat ranjang.

"Aku lapar Sean," kata Sonia masih dengan suara parau dan lemah.

"Mau martabak lagi?" tanya Kenzo, Sonia tersenyum sedikit.

"Lagi nggak mau makanan manis."

"Kamu mau apa? Ini tadi ada makanan dari rumah sakit." Sonia melihat makanan itu dan mengangguk, "Makan ini aja," pintanya.

"Aku suapin ya, kalau makanan ini nggak enak, kamu bilang aja, nanti aku cari di luar," ujar Sean lalu mengambil makanan itu dan menyuapkan nya pada Sonia.

Sonia memakan makanan itu hingga sisa setengah. "Aku udah kenyang." Sean memberikan minum dan membantu Sonia untuk rebahan lagi.

"Kok aku pusing banget ya Sean, kepalaku sakit," keluh Sonia sambil sesekali memejamkan matanya

"Aku panggilin dokter dulu, bentar ya." Sean akan pergi keluar namun dihalangi Kenzo.

"Di sini saja, biar aku yang panggilkan dokter."

Kenzo langsung keluar, Sonia terus memegangi kepalanya dan mulai mengeluh kesakitan. Sean bingung harus apa, dia memijat kepala istrinya namun tak juga sakit itu berkurang.

"Saaakiittt Seaannnn, kepalakuu sakittt ya Allahh." Sonia bahkan sampai berteriak, Sean yang semakin cemas hanya bisa memeluk erat istrinya, sungguh kali ini dia tidak kuat mendengar jerit kesakitan Sonia.

"Bentar lagi dokter datang kok." Sean hanya bisa berkata seperti itu karena tak bisa berbuat apapun untuk mengurangi rasa sakit istrinya. Keringat Sonia sudah mengalir di wajahnya, dia terus merintih dan menjerit kesakitan, Sean tahu kalau itu sangatlah sakit.

Sedangkan ketika didera, Sonia tak bersuara sama sekali, namun kali ini, dia sampai berteriak menandakan kesakitan luar biasa tengah menggerogoti dirinya.

Sekarang Sean mengerti kenapa selama dia menyiksa Sonia, istrinya itu selalu menahan suara dan rintihan, karena Sonia tidak ingin suaminya bersedih dan merasakan sesal seperti sekarang

Sean tak bisa menahan tangisnya lagi, dia hanya bisa memeluk erat Sonia tanpa berbuat apa-apa hingga Sonia mulai tenang dan tertidur, sakit di kepalanya mulai berkurang dan perlahan hilang.

Sean melihat Sonia tenang malah semakin khawatir, dia mencoba untuk membangunkan istrinya itu karena saat ini pikiran Sean sudah kemana-mana.

"Sayang, jangan tutup mata kamu, buka matamu Sonia, Son," panggil Sean sambil menepuk pelan pipi Sonia.

"Aku udah nggak papa sayang, kepalaku udah nggak sakit lagi," jawab Sonia yang masih memejamkan matanya. Sean membaringkan Sonia perlahan dan tak lama dokter pun datang, Sonia diperiksa.

"Tolong dokter, saya ingin tau kenapa dengan istri saya."

"Baik pak, kami akan memeriksanya dan hasil pemeriksaan akan membutuhkan waktu." Sean mengangguk, dia kembali menatap Sonia dengan perasaan yang tak karuan.

"Maafkan aku sayang, harusnya aku tidak pernah memperlakukanmu dengan kasar," sesal Sean dalam hatinya, dengan air mata yang masih terus mengalir dan membasahi tangan Sonia. Sean merasa, kondisi Sonia seperti ini akibat dari perlakuannya selama ini.

"Jangan begini sayang, aku baik-baik aja kok, cuma sakit kepala doang," kata Sonia yang menatap sendu wajah Sean, dia tidak ingin suaminya bersedih.

"Cuma kamu bilang? Sakit kepalamu itu nggak seperti sakit kepala biasa Sonia."

"Aku mau pulang, aku nggak betah di sini."

"Enggak, kali ini kamu harus dengerin aku, kamu harus di rawat dan diperiksa lebih dalam lagi."

"Tapi kan- "

"Nggak ada tapinya."

"Son, nurut aja sama Sean, kasian liat dia nangis mulu dari tadi." Kenzo yang sedari tadi diam kini mulai bersuara, dia cukup prihatin dengan kondisi Sonia saat ini.

"Makasih ya Ken," ucap Sonia yang membuat Kenzo heran.

"Makasih? Buat apa?" tanya Kenzo.

"Buat semuanya, kamu udah bantuin suami aku dalam berbagai macam hal."

"Selow sayang, aku lakuin semua ini buat kamu." Sean menatap tajam Kenzo dan melempar Kenzo dengan botol minuman yang masih ada isinya.

Kenzo menyambut dengan senang hati, "Wah, Mas Sean ganas kalo lagi marah," ledek Kenzo yang semakin membuat Sean kesal.

"Sekali lagi kau panggil sayang pada istriku, akan kucabut lidahmu."

"Wiiihhh sadis Mas Sean." Sonia dan Kenzo tertawa, Sean ikut tersenyum melihat istrinya tertawa seperti itu.

Klek!

Sean, Kenzo, dan Sonia mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu, terlihat Anna dan Endro datang bersama menjenguk Sonia. Sean menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka, sedangkan Sonia mulai ketakutan.

"Ngapain kalian ke sini?" tanya Sean ketus, dia benar-benar tidak suka dengan dua manusia itu.

Sonia menggenggam tangan Sean dengan kuat, Sean melihat Sonia sangat takut melihat Endro hingga tangan itu berkeringat dingin, dia semakin bingung ada apa antara Endro dan Sonia.

"Aku ke sini mau melihat menantuku, aku dengar dari pelayan di rumahmu, Sonia sakit, makanya kami ke sini," jawab Endro lalu meletakkan buah-buahan yang dia bawa di atas meja.

"Kenapa kau mendatangi rumahku?" tanya Sean tak suka.

"Kenapa? Aku ini papamu, wajar aku datang ke rumah anakku sendiri."

"Jangan banyak basa basi, tujuan sebenarnya kalian datang ke sini apa?"

"Sean, kami hanya ingin menjenguk Sonia saja, tidak lebih." Kini Anna lah yang buka suara.

"Sonia baik-baik aja, mending kalian berdua pergi dari sini, ngerusak suasana kami aja," usir Kenzo.

"Jaga bicaramu Ken, kau lupa siapa aku," kata Endro.

"Siapa kau memangnya?" Kenzo terlihat tak suka dengan Endro karena dia juga tahu apa yang telah diperbuat Endro pads Sean.

Endro tampak menahan emosinya, dia berjalan mendekati Sonia tapi Sonia memalingkan wajah dan semakin menggenggam kuat tangan Sean, tubuhnya gemetar.

Sean menghalangi Endro karena khawatir dengan kondisi Sonia saat ini.

"Pergi dari sini sebelum aku menghajarmu." Endro tak bisa membela diri, dia memutuskan untuk pergi bersama Anna yang sedari awal memang datang bersamanya.

"Apa kau tidak bisa mencari perempuan yang seusia denganmu? Aku jijik melihatmu," ujar Sean dengan penuh rasa benci pada Endro.

Endro hanya tersenyum sinis dan menatap Sonia yang masih memalingkan wajahnya.

"Katakan padaku jika kau sudah bosan dengannya," balas Endro yang membuat Sean ingin memukul wajah papanya itu, Sonia menahan Sean menggenggam tangannya.

"Satu hal yang harus kau tau Sean, kalau dia adalah wanita paling hebat dalam memuaskan hasratku selama ini di atas ranjang, aku selalu mengingat dia, merindukan momen dimana kami saling berbagi keringat di atas ranjang yang sama." Sonia semakin sesak mendengar perkataan Endro, seakan itu sebuah ancaman mematikan yang akan merusak rumah tangganya dengan Sean.

Sonia tidak bersuara sama sekali, dia hanya memalingkan wajah dan menangis. Sean mengepalkan tangannya dengan sempurna.

"Bagaimana Sonia sayang? Apa kau juga merindukan hal yang sama?" Sonia tak tahan lagi, dia mengambil botol minuman di atas nakas lalu melemparkannya pada Endro.

Untung saja Endro cepat mengelak, kalau tidak, mungkin botol itu akan melukai kepalanya. Sonia bangun dengan paksa, entah tenaga darimana. Yang jelas dia begitu marah dan menampar Endro dengan kuat.

"Kau itu pria brengsek yang pernah aku kenal, kau sudah merusak hidupku Endro. Aku membencimu, KAU ITU BAJINGAAANNN." teriak Sonia sambil terus memukuli Endro dengan tangan lemahnya, Endro semakin tertawa melihat Sonia seperti itu.

Sean dengan cepat memeluk istrinya yang mulai histeris. Kenzo yang sedari tadi diam menyaksikan hal itu langsung menghantam wajah Endro dengan kepalan tinjunya.

Suasana menjadi kacau, Endro ditarik oleh Anna untuk keluar dari ruangan itu. Sonia masih terus menangis dalam pelukan Sean, dia seakan merasa trauma.

"Tidak, aku tidak begitu, aku tidak pernah tidur dengannya. Aku tidak begitu, ya, aku tidak begitu," racau Sonia, Sean yang sudah cemas menangkup wajah istrinya yang semakin pucat.

"Tenanglah Sonia, tenang."

"Aku mau pulang, aku tidak mau di sini, dia hanya akan menghancurkan hidupku. Aku mau pulang, Sean, Sean, yah dia akan menghancurkan kekasihku. Aku harus pulang, aku harus menemui Sean, dia harus menjauh dari papanya, bajingan itu akan menghancurkan kekasihku. Itu tidak boleh terjadi, aku harus pulang." Sean menangis melihat kondisi istrinya yang seperti ini.

Dia tidak melihat diri Sonia sekarang, sorot mata itu penuh dengan ketakutan luar biasa.

" Sayang, aku di sini, aku Sean dan aku di sini." Sonia semakin gemetar hebat, nafasnya tercekat, dia menatap Sean lalu mendorong tubuh suaminya dan berlari keluar.

Sean yang kaget langsung mengejar Sonia, disusul oleh Kenzo. Sonia terus berlari tanpa peduli dengan keadaan sekitar.

"Sonia, tunggu! Tolong hentikan istri saya," teriak Sean pada satpam yang kebetulan ada di sana. Sonia diamankan dan dengan cepat Sean kembali memeluknya, dokter langsung menghampiri mereka dan memberikan obat penenang untuk Sonia.

Wanita itu mulai lemah dan tertidur, Sean kembali menggendong Sonia ke dalam kamar dan menidurkannya. Sean menggenggam tangan Sonia dan menangis.

"Apa yang sudah dia lakukan padamu, sampai kau se-trauma ini?" tangis Sean.

"Aku yakin, pasti Sonia ditekan dan terus diancam oleh Endro, dia tidak mungkin menjalin hubungan dengan papamu, Sean," tebak Kenzo yang dibenarkan oleh Sean.

"Kalau memang begitu kenyataannya, berarti aku sudah salah besar menyiksa dia selama ini. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya Ken, selama kenal dengannya, baru kali ini aku melihat dia seperti ini."

"Lebih baik kau cari tau kebenarannya, dan jangan biarkan dia bertemu dengan Endro lagi."

"Ya, akan aku lakukan."

Keesokan harinya, Sonia bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik dari semalam. Sean tidur di sampingnya sedangkan Kenzo tidur di sofa.

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

1
Dyah Rahmawati
kasihan 😭😭😭
niktut ugis
lah si Sean kok jadi pecundang gitu
niktut ugis
lah emak yg gila si nila nech
Lina ciello
gustii kembarr 3 gaess 😁
GuGuGaGa_90
first time aku baca novel, awal cerita aku dh naik angin.. /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Lina ciello
oalahh
GuGuGaGa_90
Luar biasa
Vebi Gusriyeni: Terima kasih atas dukungannya 😊
total 1 replies
GuGuGaGa_90
jgn berubah Sean... teruskan dgn demam gilamu itu.
GuGuGaGa_90
aku harap, bila baca part last cerita ni Sonia meninggal...
GuGuGaGa_90
benar2 pasangan gila... mafia saja x seksa isteri mcm tu walaupun benci...
GuGuGaGa_90
mati je la sonia
GuGuGaGa_90
cinta itu gila
GuGuGaGa_90
Nikmati saja lah Sonia...
Sorry aku langsung emo... geram perangai perempuan mcm nie.
GuGuGaGa_90
ya nikmati saja lah
GuGuGaGa_90
padan muka
GuGuGaGa_90
pilihan yg "BODOH" ko dh disakiti knp nk bertahan.. smpi Sean dh angkat tangan kat muka ko.. pergi mampus la dgn cinta pertama... tolol
Lina ciello
yawes harus legowo krn kamu pernah nyiksa Sonia tanpa ampun 😒
Lina ciello
edannn 🤬😡
Lina ciello
iki Endro pedofil yakno
Lina ciello
sokorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!