Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.
Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.
Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.
Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.
Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keciduk
Denting sendok memenuhi ruang makan keluarga Adhitama. Malam ini bisa dibilang spesial, karena Khansa dan Lia--orang tua Tiwi-- datang berkunjung sekalian makan malam. Dua bulan berkeliling dunia, niat menghabiskan masa tua yang indah. Berhubung sudah tidak memiliki anak untuk ditanggungjawabi, tinggal tunggu kabar bahagia dan Tiwi dan Indra.
“Rekomendasikan buat mereka, Lia, negara mana yang paling bagus untuk honeymoon, kayaknya mereka butuh itu deh,” ujar Vina disela-sela kunyahannya.
Indra mengangguk antusias. “Iya, Ma, Pa, butuh saran banget ini.” Tiwi sampai dibuat batuk karenanya.
Aldo terkekeh. “Greget banget deh, di rumah kan bisa, bisa banget malah.”
Indra menatap sengit Aldo. “Pengennya cuma berdua, di rumah masih ada yang ganggu.”
“Nyebut dek, nyadar! Kamar kamu di lantai tiga ya, sendirian. Nggak bakal ada yang dengar kalau lagi kerja keras bikin baby, waktu itu kalau aja nggak berbekas, aku juga nggak bakal tau.” Sahut Yuna yang sontak membuat Tiwi dan Indra terbatuk.
“Bekas apa dulu, Yu?” Aldo bertanya antusias, mewakili Clarissa dan Rifaldi.
“Itu loh yang di leher, bang, yang campuran warna ungu, merah, biru, tau kan?” Yuna menyamarkan obrolan, pasalnya ada anak-anak di antara mereka.
Tiwi mencubit gemas paha Indra di bawah meja.
“Aw, sakit, yang,” ringis Indra seraya mengusap-usap pahanya.
“Kamu apain suami kamu, Wi?” Lia sudah melotot pada putrinya.
“Dicubit Ma, itu loh yang dikit-dikit, yang damagenya parah abis,” gerutu Indra.
“Malu itu, nggak usah digodain, mukanya sudah merah begitu,” celetuk Khansa ikut menggoda sang puteri.
Tama berdehem sejenak menyudahi tawa-tawa kecil dari semua orang. “Habisin dulu makanannya, setelah itu lanjut acara goda-godaanya.”
“Ya Allah, Daddy,” gerutu Tiwi dan Indra bersamaan.
***
Berbincang, berbagai keluh kesah, sangat bisa dalam lingkaran kekeluargaan. Seperti saat ini, empat orang yang berbesan, anak-anak, serta cucu-cucu, saling berbagi cerita dalam ruang keluarga di kediaman Adhitama.
“Ini nih, buat cucu nenek yang masih dalam perut,” Lia menyodorkan paper bag pada Yuna.
Kelewat akrab, Lia justru sudah menganggap Aldo dan istrinya--Clarissa, serta Yuna dan suaminya--Rifaldi, sebagai anak sendiri. Yuna, Aldo dan Clarissa yang memang membawa santai semuanya, ikut memanggil Khansa dan Lia dengan sebutan Papa dan Mama. Berbeda dengan Rifaldi, dengan wajah lempeng dan datarnya, tetap memanggil mereka Bapak dan Ibu.
“Loh? Emang udah bisa nerima hadiah gini ya? Nggak pamali gitu? Ini baby masih jalan lima bulan loh, Ma,” ujar Yuna hati-hati, takut menyinggung perasaan Lia.
Lia terkekeh. “Buka dulu dong, baru nyimpulin.”
Yuna cengengesan, dengan cekatan membuka paper bag. Matanya berbinar, tak lama menangis keras.
Lia dan Rifaldi langsung panik.
“Kenapa, hm?” Tanya Rifaldi lembut, mengusap-usap perut sang istri.
Yuna masih menangis, ia kemudian menyandarkan kepalanya di ceruk leher suaminya.
“Bunda kenapa nangis, Yah?” Jihan yang sibuk mengunboxing oleh-olehnya ikut bertanya, tapi diberi isyarat diam dari sang ayah.
“Kenapa, nak? Nggak suka ya hadiah dari mama?” Lia mendekat, ikut mengusap punggung Yuna.
Yuna menegak, matanya merah. Rifaldi yang sudah tahu betul kebiasaan sang istri kala hamil, hanya maklum. Ia menghapus jejak air di wajah mulus Yuna.
“Bukan sedih, Ma, tapi seneng banget,” isak Yuna.
Lia terkekeh. “Kirain sedih, suka kan?”
Yuna mengangguk seperti anak kecil. “Banget Ma, tau darimana kalau aku ngidam itu dari awal-awal?”
“Suami kamu, dia cerita ke Mama, katanya kamu pengen banget makan macaron yang buatnya langsung dari Perancis, ya udah Mama beliin,” jelas Lia membuat Yuna reflek memeluknya.
“Tiwi sama Clarissa lama juga ya buat minumnya, sok-sokan juga mereka, padahal nggak punya skill,” celetuk Tama, mencoba mencairkan suasana.
“Loh, Daddy jangan remehin mereka,” sahut Vina tidak terima menantunya diremehkan.
“Para suaminya susul aja sana, jangan-jangan berghibah, lupa punya tugas karna keasyikan membicaran keburukan suami sendiri,” Tama kembali berujar, mengabaikan tatapan sengit sang istri.
Padahal hanya bercanda, entah dorongan dari mana, Indra dan Aldo benar-benar menyusul istri mereka ke dapur.
Tama hanya tertawa kecil. “Khanza, masih bisa bermain catur kan? Jangan-jangan sudah lupa, karna isi pikiran kamu saat ini hanya soal Lia.”
Khansa tersenyum miring. “Kamu belum berubah rupanya, masih suka meremehkan orang lain. Hanya catur yang menjadi kelemahan kamu saat berhadapan dengan saya, saya ingatkan kalau kamu lupa.”
Dua wanita lanjut usia--Vina dan Lia memutar bola mata malas. Mulai lagi mereka, kalau sudah berhadapan di papan catur, tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
Sementara di dapur.
“Wi,” panggil Clarissa, tangannya sibuk menuang sesendok gula ke dalam gelas.
“Iya, kak,” sementara Tiwi menyiapkan kue yang dibawa oleh Lia.
“Umur kamu yang benar berapa sih?”
Tiwi menoleh, tumben sekali. “Jalan dua empat ini, kak. Kenapa kak?”
“Itu loh, aku kayak pernah lihat kamu sebelumnya, tapi dimana ya,” gumam Clarisaa sembari mengetuk-ngetukkan sendok ke gelas.
“Emang iya, kak?” Tiwi tampak tidak percaya, tapi kalau memang itu benar, sungguh Indonesia tidak seluas yang masuk ke bayangan.
Clarissa bergumam-gumam tidak jelas, mencoba mengorek memori, tapi tidak juga ia temukan. Memilih menyerah.
“Nggak tau deh, lupa,” lirih Clarissa yang dibalas anggukan semata.
Sembari menunggu air mendidih--yang padahal air panas bisa langsung diambil dari dispenser tanpa bersusah menunggu, Clarissa kembali berbicara. “Aku tuh dulunya kuliah jurusan bisnis, Wi, tapi di luar, aku kerja sebagai model, dan keterusan akhirnya diangkat jadi brand ambassador beberapa produk terkenal.”
Tiwi jadi tertarik, tidak menyangka kakak iparnya juga memiliki darah bisnis. “Kuliahnya dimana, kak?”
“FEB UI,” jawab Clarissa mantap.
“Hah?” Tiwi melongo.
Clarissa menatap intens Tiwi, “kok gitu reaksinya?” Tanyanya dengan satu alis terangkat.
Tiwi nyengir. “Reflek, kak, soalnya aku juga lulusan situ.”
Tanpa mereka sadari, di belakang. Dua orang sejenis tapi berbeda umur, bersandar di tembok sembari melipat tangan di dada.
“Seriusan, Wi?” Antusias Clarissa seperti baru saja mendapatkan teman sefrekuensi.
“Serius kak, aku angkatan 2014.” Jelas Tiwi.
Wajah Clarissa kembali berbinar. “Kamu junior aku berarti, aku angkatan 2011.”
Tiwi terkekeh. “Sem—”
Clarissa memotong cepat. “Kamu Pratiwi Aurel dari Jurusan Manajemen itu, Wi?” Clarissa harap jawabannya bukan, tapi jika iya sungguh sempit betul dunia ini.
“Ih, tau banget, kak. Orang-orang tuh kenal aku dengan nama itu, kak. Pada saat itu, Papa lagi di jaman keemasannya, hampir seluruh Indonesia tau dia siapa. Itu makanya aku samarkan nama Papa.”
Pupus sudah harapan Clarissa untuk jawaba bukan dari Tiwi. Lantas, ia menatap sengit adik iparnya.
“Lo belum ingat gue, Wi?” Tiwi mendadak tegang melihat perubahan drastir sang kakak ipar.
“H-hah? Nggak ingat, kak.” Cicit Tiwi.
“Januar Maheswari, ketua BEM Fakultas kita,” tutur Clarissa.
Sekelumit memori beberapa tahun lalu berputar di kepala Tiwi. Seorang wanita cantik dengan tubuh ramping idealnya, Clarissa Aradhia, selalu dijodoh-jodohkan dengan sosok pria tampan yang memiliki sejuta pesona, Januar Maheswari, selaku ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis kala itu. Clarissa yang memang sudah menaruh harapan pada Januar mengingat kedekatan mereka waktu itu mendadak patah hati karena Januar tiba-tiba mendekati juniornya, Pratiwi Aurel kala itu namanya.
Tiwi menelah ludah susah payah, melirik hati-hati kakak iparnya. “K-kak, sumpah! Aku nggak ada tebar pesona sama Kak Januar. Dia yang bilang ke aku kalau dia single, aku memang saat itu minat banget sama dia, apalagi kalau lagi orasi depan umum, c-cakep banget, Kak. Dari sana kita mulai dekat, tapi setelah Kakak samperin aku waktu itu, aku menjauh, kita lost contact.”
Clarissa menghela napas, sementara dua suami yang berdiri di belakang menatap memicing para istri mereka.
“Tapi, setelah itu aku sama Januar juga mulai menjauh, padahal sayang banget deh, kita udah dekat banget, selangkah lagi.” Clarissa kembali normal. Yang tadi, hanya penyelesaian masalah batin yang belum sempat usai. Kalau menyesal atau masih mau kembali ke Januar, sudah tidak lagi. Ia sekarang sudah menikah, sudah punya anak. Ia mencintai keluarga kecilnya.
“Tapi dia gan—” Ucapan Clarissa dipotong.
“Januar siapa yang kalian bahas?” Gertak Aldo. Untung ia cepat menyambar, jika tidak. Lolos sudah kata pujian terindah yang mendadak jelek karena bukan ditujukan untuk dirinya.
Tanpa menolehpun, Clarissa dan Tiwi tahu siapa itu.
“Eh, Wi, t-tehnya udah siap ini, antar keluar, buru dingin ini.” Clarissa gelagapan, rasanya seperti ketahuan selingkuh.
Clarissa berbalik, disusul Tiwi. Keduanya terdiam, ternyata bukan Aldo seorang, ada Indra juga.
“Buru Wi, tehnya udah mulai dingin, Daddy sama Papa pasti udah uring-uringan itu di luar,” Clarissan dan Tiwi mulai melangkah.
“Mbok Nani, Bi Dahlia,” Aldo berteriak, dengan segera dua pembantu rumah tangga yang hampir berkepala empat itu mendekati majikannya.
“Ana apa, Le? Kepiye njerit?” Tanya Mbok Nani dengan aksen Jawanya yang sangat kental.
“Tolong itu, kue sama tehnya dibawa ke depan,” pinta Aldo mutlak.
Tiwi dan Clarissa hanya bisa pasrah memberikan nampan yang dipegang masing-masing.
“Duduk!” Clarissa segera melangkah ke kursi makan dan duduk di sana. Aldo menyusul.
Indra dengan muka datarnya menghampiri Tiwi yang hanya berdiri. “Duduk juga!”
Aldo berdehem, sekilas saling melirik dengan Indra yang duduk di sampingnya, lalu beralih, menatap intens dua wanita yang duduk di depannya. Rasanya seperti sedang disidang. “Jadi, siapa Januar?”
Tiwi yang memang tidak merasa bersalah, menjawab. “Ketua BEM, kak.”
“Januar itu gebetan siapa, Clarissa atau Tiwi?” Tanya Aldo sinis.
“Kak Clarissa—Tiwi.” Dua wanita itu menjawab berbarengan.
“Dua-duanya, Bang,” celetuk Indra.
Aldo mengangguk. “Indra, besok undang si Januar itu makan malam di rumah.” Aldo berdiri, disusul Indra.
“Iya, Bang.”
“Hah?” Tiwi dan Clarisa cengo, tidak percaya melihat kepergian suami mereka masing-masing.
***
tbc...
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe