Mencintai akan di sakiti.
Di cintai akan menyakiti.
Saling mencintai akan tersakiti
Sang anak Athena bersinar bak surya.
Merubah konsonan takdir dunia.
Kekasih takdir yang saling memberontak.
Membuat jurang kebodohan.
Sang anak Athena yang terus merintih sakit.
Yang melihatnya adalah saksi-saksi kekejaman takdir.
Sinopsis: Seorang dara yang masuk ke dalam sebuah novel Dektektif dengan segudang misteri. Namun tidak pernah terpikirkan bahwa dia memiliki peran di bawah pena takdir.
Terbagi menjadi pikiran dan emosi, sang jiwa luntang-luntung mencari jiwa yang asli. Paus yang bertemu putri duyung di pinggir laut lepas, serta sang Dewi yang terus mencari sang dara.
Mengikat janji di bawah lembayung biru bumantara dan berkeliaran di dunia yang menurutnya fiksi. Sang dara yang terus mencari apakah ia pikiran atau emosi, sampai ia mengetahui ekspresinya adalah 'kebohongan'.
—BLUE ROSE—
Tak peduli bahwa ia merubah takdir, takdir tetaplah takdir. Ia tidak akan bisa menebus semua dosanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olivia junia f., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24: Hati Yang Bergetar (1)
Setsuna No Ai—GRANRODEO
00:08 ————————————— • ——————01:06
⏭ ▶ ⏮
“**Benang merah yang mengikat kita berdua, itu sebuah anugerah bahwa kita harus bersama.” —Yukijima Athanoe**.
Menghilangkan iri hati ...
♪♠
Hashira tersenyum canggung, “Aku sedang memeriksa informasi di sekitar sini,” ucapnya dengan nada pelan.
Lelaki yang bisa kita kenal sebagai seseorang yang berada di Kementerian Kehakiman itu tersenyum lebar, “Tadi siapa yang menelepon?”
“Oh? Tadi—” Hashira ingin menjawab, namun sebuah memori terlintas di pikirannya.
“Oh, ya! Sampaikan pada yang lain bahwa sepertinya salah satu organisasi di pemerintah memiliki campur tangan di Lima Pertanda Kematian! Dapatkan informasi dengan hati-hati!”
Hashira kembali menatap lelaki di depannya dengan panik, “Ah, Iie! Aku hanya dimintai melakukan tugas kecil!” ucapnya lalu ia kembali tenang, “Ngomong-ngomong, kenapa anda di sini?”
“Oh, aku tadi sedang minum kopi di sana saat aku melihatmu,” ucap sang Menteri sambil menatap ke arah sebuah Cafe.
'Jika aku menggunakan hidung singa ...' batin Hashira sambil mengaktifkan Bleidnya, 'Tidak ada bau kopi sama sekali ...' lanjutnya.
“Ada apa?” pertanyaan itu membuat Hashira panik.
“Iie! Bukan apa-apa! Ka-kalau begitu aku pergi dulu untuk memberi makan bunglon dan kadalku lalu melakukan hal lainnya!” seru Hashira dengan nada panik, “Permisi!” lanjutnya langsung ngibrit pergi dari sana.
Lelaki itu terdiam, lalu seringai timbul di wajahnya, “Daijobou, hari ini adalah akhir dari Dektektif SevenSix.” gumamnya di akhiri kekehan geli.
Seorang lelaki—Yoriku Romino—berdiri akan menyeberang jalan, namun menunggu lampu jalan menyala dan mengizinkannya berjalan. Sambil menentang plastik berisi jajanannya yang ia beli.
Dari pagi dia tidak ikut rapat, malas katanya. Andaikan ia tahu, dia terus di tanyai keberadaannya oleh Hiro dan kembarannya.
Bersenandung pelan, ia terus melirik ke arah lampu rambu-rambu lalu lintas. Sampai lirikannya tertuju pada pria di sampingnya yang matanya terus terpejam. Romino terjengit kaget, pasalnya di sampingnya tadi tidak ada siapapun.
Romino menghela nafas pelan, mengatur detak jantungnya. Ia patah-patah melirik pria itu lagi. Tinggi mereka sama, pria itu memakai kaos hitam dengan jaket dan celana panjang.
Rambutnya yang putih dengan beberapa helai berwarna merah. Matanya terus terpejam, menandakan pria itu buta. Lalu netra milik Romino mengarah pada anting sang adam.
Anting menjuntai namun tidak terlalu panjang dengan liontin bulan sabit dan di samping bulan itu terdapat batu Ruby berbentuk serigala namun ukurannya sedikit lebih kecil.
Mata Romino mendelik saat melihat batu Ruby itu, 'Itu asli, kah? What the fu—' batinnya heboh.
“Apakah lampu merah sebentar lagi?” tanya pria itu tiba-tiba, membuat Romino kembali terjengit kaget.
Romino terkekeh kikuk, “Ah, ya, tinggal beberapa detik lagi.”
Pria itu tersenyum tipis, “Arigatou, oh? Kau Dektektif, ya?”
“Wah, kamu bisa tahu, ya?” tanya Romino dengan mata berbinar.
“Ya, keringat, suhu tubuh, suara otot.” ucap pria itu lagi lalu diam-diam mengeluarkan borgol dari saku jaketnya, “Meski tak bisa melihat cahaya. Aku bisa melihat hal lain lebih banyak. Aku bahkan bisa tahu apa yang menantimu besok.” lanjutnya.
Tanpa sepengetahuan Romino tangannya sudah terborgol dengan cepat. Romino menunduk menatap tangannya, lalu matanya membulat sempurna.
“Tidak ada hari esok untukmu.” ucap sang pria dengan senyum tipis, “Yoriku Romino, 123 kasus bersekongkol untuk pembunuhan, 425 kasus ancaman, dan 768 kasus penipuan bahkan kejahatan lainnya. Kau di tangkap.” lanjutnya.
.
.
.
.
.
Sebuah meja di suatu ruangan di isi beberapa orang penting negara. Salah satunya adalah sang Menteri Kehakiman. Setelah ia bertemu Hashira dia langsung menuju ke tempat itu.
“Baiklah, semuanya dengarkan. Sepertinya Little Wolf telah menangkap salah satu anggota SevenSix.” ucap sang Menteri membuat atensi mengarah padanya.
Sang Menteri tersenyum puas, “Semua tuduhan palsu yang kita buat untuk menjelekkan SevenSix berhasil. Salah satunya tuduhan palsu yang kita buat untuk Yoriku Romino.” ucapnya, “Untuk tuduhan palsu lainnya kita akan memublikasikannya dan akan menghancurkan SevenSix.” lanjutnya.
Salah satu orang penting di sana tersenyum, “Rencana anda berjalan mulus. Aku sudah menunggu kehancuran mereka ...”
“Terimakasih atas pujiannya Bu Kusonuki.” ucap Menteri bangga, “Keinginan kita akan dikabulkan.” monolognya pelan.
Setelah berjam-jam lamanya mereka berdiskusi, sekumpulan orang itu pergi dari ruangan. Begitulah dengan Menteri Yokohama itu. Dengan senyum sumringah ia berjalan masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Ia masuk ke dalam, mendapati asistennya berdiri di sana dengan sebuah map dokumen. Asisten miliknya itu berbalik menghadapnya.
“Tonan-Sama, ini dokumen untuk tuduhan palsunya yang sudah di rancang,” ucap asistennya sambil menyerahkan map.
Menteri itu—Tonan Hagawa—tersenyum senang. Ia mengambil map itu lalu duduk di salah satu sofa dan membukanya. Memeriksa setiap detail kecil di tulisan-tulisan itu.
“Dengan tuduhan palsu ini, SevenSix akan berakhir dan rakyat hanya akan bergantung padaku,” gumam Tonan senang.
Dari awal Tonan membantu 'dia' hanya agar rakyat bergantung lebih pada Tonan. Panggilan kasarnya iri hati. Ia adalah Menteri Kehakiman, tentu saja dia juga berguna bagi Negeri—padahal udah pernah korupsi.
“Tuduhan palsu ini 'dia' yang membuat, kan? Aku harus bertemu dengannya. Jadi? Kapan aku harus bertemu?” tanya Tonan dengan senyum sumringah.
Asistennya menyeringai tipis, “Sekarang ...” jawabnya, membuat Tonan menatap bingung.
Sampai peluru melesat ke kaki Tonan, membuatnya berteriak tertahan. Ia memegangi kakinya yang tertembak, tidak bisa berjalan ke mana-mana.
Netranya menatap sang asisten yang memegang pistol. Siapa lagi kalau bukan asistennya yang menembak?
“Arigatou setelah setengah tahun berakhir,” ucap asisten itu.
Ajaibnya tubuhnya berubah, menjadi lelaki dengan serba putih dan jangan lupa topengnya yang membuat wajahnya tidak di ketahui. Tawa lelaki itu berdengung di ruangan.
“Baiklah, kenapa aku tak langsung membunuhmu?” tanya lelaki itu, “Jawabannya! Karena aku ingin membuatmu tidak kembali ke kursimu.” lanjutnya.
“Jadi ... Selama ini yang membantuku membuat tuduhan palsu adalah kau? Buronan SSS White? 'Dia' adalah kau?” tanya Tonan sambil menahan sakit.
Lelaki yang di kenal sebagai Buronan Rank SSS itu memiringkan kepalanya ke samping, “Ah, benar! Arigatou! Karena kau rencanaku berhasil!”
.
.
.
.
.
“Aku sadar telah di buntuti, tapi ternyata bersembunyi di tengah keramaian tidak menguntungkanku, ya? Anggota Little Wolf, serigala Pemerintah.” ucap Romino datar setelah melihat borgol, “Lalu? Apa maksud dengan tuduhanmu itu? Aku tidak mungkin melakukan hal negatif sebanyak itu.” lanjutnya.
“Yap, aku mendengar kemarahanmu dari nada bicaramu. Tapi, itu akan berubah menjadi ketakutan saat kau tau hukumanmu.” ucap pria itu yang membuat Romino naik darah.
“Aku tidak bersalah! Aku tidak mungkin melakukan hal itu!” bentaknya sarkas.
Bagaimanapun Romino tidak pernah melakukan hal negatif. Romino menggertakkan giginya kesal. Tuduhan berencana, itulah yang di simpulkan Romino.
“Hm? Sepertinya kita akan akrab, ya?” tanya pria yang sekarang ia benci.
Sekarang Romino tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti ia akan membela diri dari tuduhan palsu ini.
“Para hadirin semuanya, para anggota Dektektif SevenSix. Kami punya beberapa informasi untuk kalian!”
Suara White dan beberapa orang berjas hitam dari komputer organisasi membuat tegang suasana anggota SevenSix—kecuali Noe dan Romino, untuk Noe ia yang entah pergi ke mana, bodo amat. Semuanya menatap layar komputer serius.
“Pertama! Kami punya petinggi pemerintah, yaitu Kementerian Kehakiman!”
Layar menunjukkan ke arah Tonan yang terikat dengan rantai di sebuah kursi. Semuanya terkejut, bahkan Yukijima mengerutkan keningnya cemas.
“Kedua! Gergaji mesin akan aktif dan membelah tubuh Menteri pada pukul tiga sore! lalu yang ketiga—”
Semuanya tertegun saat mendengar ada yang ketiga. Mereka di buat bimbang dengan semuanya, namun saat di tunggu yang ketiga. White tidak bersuara sama sekali.
“Yabai! Aku baru menyadari yang ketiga tidak ada—”
Layar komputer tiba-tiba saja mati lalu muncul gambar robot pada layar. Bukan hanya itu, semua komputer di ruangan juga sama. Hikami langsung mengerutkan kening, ternyata robot bersekongkol dengan White, pikirnya.
“Apa ini?” tanya Judy bingung.
“Itu robot, dia meretas komputer organisasi.” jawab Hikami, lalu ia beranjak ke komputer canggihnya dan menghapus peretasan robot.
Yukijima memeriksa jam tangannya, “Ada waktu satu jam sebelum jam tiga sore,”
Akami menyalakan ponselnya, lalu ia memeriksa sebuah kontak dengan tulisan Athanoe. Menekan tombol untuk menelepon dan menunggu sampai terjawab.
“Moshi-mosh—”
“Noe-San, aku punya kabar buruk—”
“Aku mengerti situasinya. Hati-hati saja, sudah jelas dia menjebak kita,”
“Apa kau tidak tahu motif mereka?”
“Jangan khawatir, aku memiliki petunjuk di depanku.”