Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Cklek.
Pintu kamar Sabrina terbuka, Sally yang melihat penampilan putrinya yang kuyu dan pucat langsung memeluknya. Hati yang tergantung langsung jatuh, Sally menghela nafa lega.
"Syukurlah, sayang tolong jangan lakukan hal konyol seperti itu jangan buat Ibu khawatir. Kita bisa memikirkan cara lain untuk membuat Axel kembali menerima pernikahan lagi,"bujuk Sally sambil mengusap punggung putrinya.
"En…. Aku tahu, maaf sudah buat Ibu khawatir.aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi,"ucap Sabrina.
"Di mana Ayah?"tanyanya saat tidak mendapati kehadiran sang ayah.
"Ayahmu pergi ke rumah Kakek untuk meminta bantuan tapi sepertinya tidak perlu. Ibu akan menelponnya untuk segera pulang, kamu pergi makan dapur sudah menyiapkan makanan favoritmu. Pelayan antarkan Nona Sabrina ke ruang makan,"perintah Sally.
"Baik Nyonya, mari Nona." Sabrina mengikuti pelayan itu dari belakang.
°°°°°
Di sebuah gudang kosong yang remang-remang dua orang pria berdiri membelakangi cahaya. Rendi hanya bisa melihat siluet mereka tanpa bisa melihat wajah asli kedua orang yang telah menculiknya.
"Apa-apaan ini siapa kalian?! Penculikan adalah tindakan ilegal jika kalian tidak ingin masuk penjara maka lepaskan aku! Aku janji gak bakal lapor polisi,"ucap Rendi mencoba bernegosiasi dengan mereka.
"Benarkah? Lalu apa bedanya dengan kau yang memanfaatkan profesimu sebagai dokter untuk menjual organ dalam pasien. Apa menurutmu itu bukan tindakan ilegal? Terlebih lagi kau juga terlibat dalam penculikan bayi secara sengaja."
"A-apa maksudmu! Jangan berbicara sembarangan!"teriak Rendi ketakutan. Selama ini dia selalu berhati-hati dalam bertindak dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, tapi pria di depannya….
"Siapa mereka? Bagaimana mereka bisa tahu?! Jika mereka melaporkannya tamat riwayatku!" Batinnya merasa panik.
"Saya tidak akan berbasa basi lagi. 16 tahun yang lalu di mana keberadaan bayi itu sekarang,"ujar Dominic.
"Ba-bayi apa aku tidak pernah menculik bayi,"elak Rendi.
"Jangan berpura-pura bodoh jika kau tidak ingin semua perbuatanmu dilaporkan. Cepat katakan di mana bayi itu sekarang!"desak Kayden.
Rendi menggertakkan giginya dari pada mengorbankan profesinya lebih baik dia mengatakan keberadaan bayi itu.
"I-itu… aku menaruhnya di perumahan xxx nomor xxx."
Setelah mendapat informasi yang diinginkan Dominic mengajak saudaranya untuk kembali.
"Tunggu aku belum menghajarnya." Tanpa menunggu respon kakak tertuanya Kayden langsung melayangkan tinju ke wajah pria itu.
Bugh!
Bugh!
"Be-berhenti! Berhenti! Apa yang kau lakukan! Aku sudah mengatakan alamatnya! Akhh… dasar gila!"
"Tinju ini dari adikku."
Bugh!
"Dan ini dariku."
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Setelah puas mengahajar pria itu sampai babak belur Kayden akhirnya berhenti. Dia berdiri memandang sejenak pria yang sudah terkapar lemah, sebelum akhirnya pergi bersama kakaknya.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"tanya Kayden tanpa memalingkan mukanya dari jendela yang tengah memandang suasana malam di jalanan Ibu Kota.
"Kita akan memberitahu daddy terlebih dulu,"balas Dominic.
"Oke."
"Tapi kenapa Kakak melepaskannya begitu saja?"tanya Kayden sedikit penasaran. Ini tidak seperti yang dilakukan kakaknya karena biasanya kakak akan membasmi semua musuhnya tanpa sisa.
"Karena dengan begitu kita bisa tahu siapa dalang dibalik semua ini."
Kayden mengangguk mengerti, dia sangat percaya dengan rencana kakaknya.
"Sebenarnya aku sedikit curiga pada seseorang yang pernah aku temui,"lontar Kayden.
"Curiga? Siapa?"
"Orang itu adalah gadis kecil yang pernah aku temui di rumah sakit dan kita juga pernah makan bersama, kalau tidak salah namanya Alleta. Jika dilihat secara seksama wajahnya sedikit mirip Mommy,"jelas Kayden mengungkapkan keganjilannya yang sejak lama dia pendam.
"Apa kau memiliki fotonya?"tanya Dominic.
Kayden menggelengkan kepala, " Sayangnya tidak."
"Kita bisa mencari tahu nanti yang penting sekarang kita beritahu daddy dulu."
"Hm."
Kembali lagi ke gudang kosong Rendi sudah sadar dari pingsannya. Dia sedikit meringis ketika merasakan rasa sakit di area wajah dan perutnya.
"Sialan sebenarnya siapa mereka,"gerutu Rendi sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya menggunakan pecahan kaca.
"Akh akhirnya lepas juga nih tali. Aku harus cepet-cepet telpon dia." Rendi buru-buru merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya lalu memanggil seseorang.
"Halo, ini aku. Untuk saat ini berhati-hatilah jangan temui aku dulu karena ada seseorang yang sedang mengintai kita."
"Pokoknya hati-hati,"pesannya sekali lagi sebelum mematikan telepon.
°°°°
"Ada apa sih,"gumam bi Rani sambil menatap ponselnya.
"Bi,"panggil Sienna membuat pengasuhnya terkejut.
"Ah iya Non ada apa?" Bi Rani buru-buru menyimpan kembali ponsel ke dalam saku roknya.
"Katanya Kakak udah pulang, aku cari di mana-mana tapi kok gak ada, aku juga gak lihat semua orang. Apa Bibi tahu di mana mereka?"tanya Sienna. Dia dapat kabar kalau kakak pertamanya udah pulang, jadi dia bergegas pulang ke rumah untuk menemuinya. Tapi begitu sampai di rumah Sienna tidak melihat sosok kakaknya, bahkan orang tua dan kakak lainnya tidak ada meski dia sudah cari di mana-mana.
"Sepertinya mereka sedang berkumpul di ruang kerja Tuan,"jawab Bi Rani.
"Tanpaku?"ujarnya sedikit kesal. Tampaknya akhir-akhir ini mereka sangat sibuk bahkan sekarang mereka jarang berkumpul. Sejak mereka tahu kalau dia bukan anak kandung semuanya terasa berubah, mereka sibuk mencari anak yang tidak tahu keberadaannya. Dia merasa dilupakan oleh semua orang.
"Aku harap anak itu mati, jadi hanya aku satu-satunya yang menjadi Nona muda di keluarga Parker."
"Mungkin mereka tidak bermaksud seperti itu, Nona jangan sedih."
"Bibi bela mereka?! Padahalkan Bibi tau sendiri sikap mereka akhir-akhir ini. Sudahlah tidak ada yang mengerti diriku, minggir." Sienna mendorong bi Rani ke samping lalu berjalan menuju kamarnya.
"Tunggu, Nona bukan seperti itu!"
°°°°
"Nak, apa yang kamu katakan benarkan?! Gak bohong kan sama Mommy? Jawab, nak!"ucap Amelia sangat bersemangat. Matanya perlahan mulai berkaca-kaca menahan tangis haru. Akhirnya setelah upaya yang telah mereka lakukan membuahkan hasil. Setelah melakukan pencarian begitu lama akhirnya mereka mendapat titik terang tentang keberadaan putrinya.
"Honey tenang kita dengarkan dulu penjelasan Dominic." Jayden membawa istrinya ke dalam pelukan seraya mengusap pundaknya agar tenang. Diam-diam dia juga sangat bersemangat ketika mendengar keberadaan putrinya.
Di bawah tatapan penasaran kedua orang tuanya Dominic perlahan mulai menjelaskan.
"Rencananya besok aku akan ke sana sendiri,"ucapnya setelah dia selesai menjelaskan kepada mereka.
"Tidak! Tidak! Mommy akan ikut bersamamu, Mommy ingin segera menemui putri Mommy!"
"Aku juga,"celetuk Austin mengangkat tangannya.
"Tidak! Mommy tunggu saja di rumah, aku sendiri yang akan pergi ke sana untuk memastikan,"tegas Dominic.
"Dan kau besok sekolah jangan ikut campur urusan orang dewasa. Kakak bisa menyelesaikannya sendiri."
Austin memberengut kesal. Padahalkan dia juga ingin ikut mencari kembarannya.
"Tapi, kan…."
"Bukankah kita harus menyiapkan kamar dan keperluan untuk putri kita?"sela Jayden mencoba membujuk istrinya.
Matanya yang jernih menjadi bersinar. Amelia mengangguk bersemangat.
"Ah iya kenapa aku tidak berpikir ke sana,"rutuknya sambil memukul kepala.
"Honey jangan pukul kepalamu!" Jayden berkata tegas seraya menahan lengan Amelia yang akan kembali memukul kepalanya.
"Hahaha sorry."
Sebagai makhluk tambahan yang menonton keromantisan orang tuanya Kayden, Dominic dan Austin hanya memasang tampang malas. Mereka sudah terbiasa dengan kebucinan orang tuanya.
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg