Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BULAN PARA SISWA-SISWI SIBUK DENGAN DIRINYA MASING-MASING
Bulan Mei selalu datang dengan caranya sendiri, menggeser suasana di SMA Perguruan TA tanpa meminta izin. Bagi anak-anak kelas X dan XI, bulan itu rasanya identik dengan “neraka” versi sekolah, yaitu ujian kenaikan kelas, jam belajar yang makin panjang, lalu perpustakaan yang biasanya tenang mendadak berubah ramai sepulang sekolah. Beberapa minggu terakhir, tempat itu berubah menjadi tujuan utama. Meja panjang penuh buku. Catatan warna-warni berserakan. Wajah-wajah tegang bercampur kantuk, juga keluhan yang sama, nilai rapor nanti naik, tetap, atau malah turun.
Turun, itu adalah kata yang paling ditakuti dan dihindari. Jika nilai ujian kenaikan sampai turun, liburan bukan lagi soal jalan-jalan atau rebahan melainkan tentang sekolah lagi. Mereka harus siap menerima bimbingan belajar dadakan dari sekolah, program “khusus” yang katanya demi memastikan di tahun ajaran baru mereka tidak mengulang kesalahan yang sama.
Sementara bagi siswa-siswi kelas XII, Mei bukan hanya tentang ujian. Ada sesuatu yang lain menunggu di balik lembar jawaban ujian akhir mereka, sesuatu yang pelan-pelan terasa semakin dekat waktunya di setiap harinya. Kelulusan. Kata yang pendek, mudah diucap, namun diam-diam beratnya dapat membuat dada sesak.
Untuk sebagian orang, kelulusan itu adalah kelegaan, kebebasan yang selama ini terkunci di balik emblem seragam dan logo sekolah. Untuk sebagian yang lain, kata itu adalah pintu menuju ke jenjang berikutnya, awalan pembuka untuk memberikan pilihan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar duduk menghadap papan tulis, berurusan dengan tumpukan buku, dan jadwal ekstrakurikuler.
Namun bagi Nara, kelulusan terasa lain. Seperti garis tipis yang memisahkan hidup yang sudah ia kenal tiga tahun, dengan dunia baru yang bahkan bentuk nyatanya belum benar-benar bisa ia bayangkan. Dulu, ia kira masa SMA-nya hanya akan diisi dengan basket dan pelajaran bisnis dari Ganendra Adiwilaga, sepupunya. Nyatanya, sekarang ada sesuatu yang mengubah peta itu. Naya, yang entah bagaimana menyelip di salah satu agenda hidupnya.
Di perpustakaan, Nara menyanggah dagu dengan kepalan tangan kiri yang menumpu di meja. Di depannya, Naya sibuk dengan rangkuman catatan ujian kenaikan kelas. Tangan kanan Nara bergerak di atas laptop, memastikan ia tidak salah membaca daftar mata pelajaran yang harus ia “refresh” untuk ujian kelulusan. Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi untuk kelas IPA sepertinya. Sementara untuk kelas IPS seangkatannya adalah mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, Tata Negara, Geografi, dan Sejarah.
Diterima sebagai mahasiswa baru Stanford University bukan berarti ia bisa santai dalam menghadapi ujian kelulusan SMA. Nggak lucu kan, sudah diterima kuliah tapi gagal lulus SMA hanya karena kurang persiapan? Tidak hanya malu, bisa-bisa namanya dicoret dari kartu keluarga jika hal itu benar-benar terjadi. Membayangkannya saja sudah membuatnya mual.
Naya yang sebenarnya sudah selesai merangkum sejak tadi, diam-diam tersenyum melihat keseriusan Nara.
“Kak Nara mau sampai kapan lihat jadwal ujian?” suara Naya membuat Nara menoleh. “Sampai lebaran monyet juga jadwalnya nggak bakal berubah.”
Nara membalas dengan senyum kecil. “Aku hanya memastikan. Kamu kan tahu aku ini ahli strategi, jadi persiapannya harus rapi, harus detail.”
Naya terkekeh. “Kumat deh kumat. Over confident-nya kambuh lagi.”
“Oh jelas.” Nara mendongak sedikit. “Toh sifatku yang ini juga kan yang bikin kamu akhirnya nengok ke arahku?”
“Kak Nara…” Naya merengek, menutup malu saat ingat berbagai kejadian yang akhirnya membawa mereka ke titik ini.
Nara mengusap kepala Naya pelan. Ada rasa hangat yang muncul tanpa perlu kata-kata. Ia sendiri tak pernah menyangka bisa sedekat ini, sampai akhirnya ia ingat, ia punya mimpi yang harus dikejar. Dulu mimpi itu terasa jauh, dan ia tidak keberatan, ia terbiasa sendiri, terbiasa mandiri. Tapi sekarang mimpi itu terasa makin bernilai, karena di dalamnya ada Naya.
Amerika Serikat ribuan kilometer jarak nya dari Indonesia. Naya tetap di sini, melanjutkan sekolahnya. Nara menghitung hari menuju saat-saat terakhirnya di tanah pribumi ini. Matanya sempat berubah sendu, namun ia paksa berdiri tegak.
“Kamu sudah belajar?” tanya Nara.
Naya mengangkat buku tebal dan menunjuk buku catatannya yang penuh kertas tempel warna-warni. “Kelas X juga ujian kenaikan kelas, Tuan Stanford.”
Nara tertawa kecil. “Sekarang aku punya panggilan baru?”
“Kenapa, bagus kan?”
“Makin jelek saja image-ku di matamu.” Nara menggeleng sambil tertawa, Naya memang selalu punya ide sarkastik jika terkait tentang dirinya.
“Menurutku keren.”
“Iya-iya.” Nara akhirnya melonggarkan bahu, tidak setegang sebelumnya.
Tatapan Naya berubah curiga. “Besok Kak Nara ujian Fisika.”
“Aku sudah belajar.”
“Yakin? Seberapa?”
“Hmm, sembilan puluh persen.”
Naya mencondongkan tubuh. “Yang sisa sepuluh persen?”
Nara berpikir sebentar, lalu menjawab santai tanpa beban, “Buat memacu adrenalin panik besok pagi.”
“Dasar gila!”
Naya menahan tawa, takut pustakawan menoleh. Walau perpustakaan ramai, tidak ada yang benar-benar berisik, semua sibuk dengan buku mereka masing-masing.
Hari-hari menjelang ujian berjalan seperti itu. Terkadang mereka membahas soal. Terkadang hanya duduk bersebelahan atau berhadap-hadapan, tanpa banyak bicara, tenggelam dalam aktivitas masing-masing. Sesekali Naya menyelipkan kertas kecil di buku Nara.
Jangan terlalu tegang. Aku percaya Kak Nara bisa melewati semuanya. Kak Nara kan sudah kayak Avatar, menguasai empat elemen yaitu tanah, air, api, dan angin.
Biasanya Nara baru menemukan catatan itu malam hari saat membuka bukunya lagi. Aneh, tulisan Naya rasanya lebih manjur daripada espresso yang jadi andalannya setiap kali memasuki mode tempur ujian akademis.
***
Ujian akhir kelulusan pun datang. Sekolah mendadak senyap, seolah semua suara ditahan agar tak memecah fokus. Siswa-siswi kelas XII masuk ke dalam ruangan ujian yang telah ditentukan. Tampak wajah-wajah kaku. Rasa tegangnya terselip rapi seakan yang mereka hadapi adalah urusan hidup dan mati. Tas ditaruh di loker luar kelas, tentunya dengan pengawasan. Ponsel dimatikan dan dikumpulkan di meja depan. Di meja ujian nanti, hanya ada alat tulis dan kartu peserta.
Sebelum masuk, ponsel Nara bergetar. Pesan dari Naya.
Semangat, Kak Nara! Kerjain soalnya pelan-pelan, satu per satu. Hari ini bukan buat buktiin Kakak paling pintar, walau aku tahu Kakak memang pintar. Ini tentang Kak Nara yang telah menggunakan waktu dan pikiran Kakak sebaik mungkin untuk memberikan hasil terbaik dari perjalanan tiga tahun di SMA.
Nara membacanya dua kali. Senyum muncul tanpa ia sadari. Ia balas singkat.
Siap, calon anak kelas XI.
Tak lama, Naya membalas.
Jangan mengejek. Aku juga lagi berjuang ini.
Nara mematikan ponsel, menarik napas, lalu masuk. Ponsel ia letakkan di meja pengawas, kemudian menuju kursinya.
Hari pertama cukup lancar.
Hari kedua mulai membuat lelah.
Hari ketiga rasanya nyaris menghapus kemampuan anak kelas XII untuk berbicara normal. Isi pikiran mereka hanyalah apakah aku tadi sudah benar menjawab soal atau tidak.
Itulah sebabnya, saat ujian akhir kelas XII berlangsung, kelas X dan XI diliburkan sehingga semuanya dapat fokus pada waktunya masing-masing.
Di hari terakhir, ketika pengawas melontarkan “mantra” berduri, “Yak, waktu habis!”, suasana kelas langsung berubah. Ada yang rebahan di meja. Ada yang tertawa keras. Ada yang mengangkat tangan seperti baru menang lomba.
Dari belakang Ekky berbisik cukup kencang, “Akhirnya kita bebas dari neraka dunia ini!”
Dan semua tertawa.
Nara ikut tersenyum, tapi di tengah euphoria itu, ia merasa ada sesuatu yang pelan-pelan ditutup. Papan tulis, deretan meja, jendela yang tiga tahun menampilkan lapangan sekolah, sebentar lagi semuanya hanya akan menjadi memori di kisah kehidupan SMA-nya.
***