Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Kehidupan Baru dan Kebaikan Tetangga
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela ruang tamu. Rumah yang semalam terasa asing kini mulai menghadirkan suasana hangat. Meski perabotan masih sangat sederhana, setidaknya rumah itu sudah memiliki kehidupan.
Di dapur, Hanifah sibuk menyiapkan bekal untuk suaminya. Di atas kompor, tumis kangkung hampir matang. Aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis memenuhi dapur kecil itu.
Hanifah yang sedang mengaduk masakan tiba-tiba berhenti. Ia menutup hidungnya dengan punggung tangan sambil memejamkan mata.
"Uhh..."
Rasa mual kembali muncul.
Ia menarik napas perlahan, lalu mematikan api kompor beberapa saat agar aroma bawang tidak terlalu menyengat.
"Kenapa akhir-akhir ini bau bawang saja bikin mual begini..." gumamnya pelan.
Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Hanifah kembali menyalakan kompor. Ia segera menyelesaikan masakannya, lalu memasukkan tumis kangkung ke dalam kotak makan. Di sampingnya sudah tersedia nasi hangat, telur dadar, dan sebotol air putih.
Hanifah mengembuskan napas lega.
"Untung saja tidak sampai muntah."
Sementara itu, Arkana keluar dari kamar sambil mengenakan jaket kerjanya. Helm sudah berada di tangan, pertanda ia akan segera berangkat.
Arkana melangkah ke teras, bersiap untuk memulai hari pertamanya sebagai seorang kepala keluarga yang mencari nafkah. Namun, baru saja ia hendak memasukkan kunci dan menghidupkan mesin motor, terdengar suara Hanifah yang setengah berteriak dari dalam rumah.
"Mas... tunggu!" panggil Hanifah dengan napas yang agak memburu.
Arkana menoleh, menahan gerakannya di atas jok motor. Ia melihat Hanifah berjalan cepat keluar dari pintu, menuruni anak tangga teras sambil membawa sebuah kantong plastik berlogo toko swalayan yang di dalamnya berisi kotak makan.
"Dek, jangan cepat-cepat berjalan seperti itu," tegur Arkana dengan nada khawatir yang spontan. "Nanti kamu bisa terpeleset. Ingat kondisimu."
Hanifah langsung memperlambat langkahnya begitu mendengar teguran suaminya, lalu mengulas senyum lebar. "Alhamdulillah... untung Mas belum berangkat."
"Ada apa?" tanya Arkana heran, memandangi kantong plastik yang disodorkan istrinya.
Hanifah mengangkat kantong plastik itu.
"Ini."
Arkana menerimanya dengan heran, namun sepasang matanya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut sekaligus haru. "Wah... bekal masak sendiri buat Mas?"
Hanifah mengangguk mantap sAmbil tersenyum manis. "Iya, Mas jangan lupa dimakan nanti siang, ya. Makanan di luar belum tentu bersih dan sehat, lagipula kita harus mulai berhemat sekarang."
Arkana memandangi kotak makan itu beberapa saat. Lalu senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Enak juga, ya."
"Apa yang enak, Mas?" tanya Hanifah polos.
"Baru beberapa hari punya istri, rasanya semua keperluan Mas sudah ada yang memperhatikan dan menyiapkan. Ada yang memasak, bahkan sampai membuatkan bekal rapi seperti ini," goda Arkana sambil terkekeh pelan.
Hanifah langsung tertawa kecil, pipinya merona merah akibat godaan yang mendadak itu. "Ah, Mas ini masih pagi sudah bisa saja bergombal. Sudah, sana cepat berangkat, nanti jalanan keburu macet dan Mas bisa terlambat."
Arkana mengangguk, namun matanya tetap menatap lekat wajah istrinya. "Iya, Bu."
Hanifah langsung mengerutkan hidungnya, pura-pura sebal. "Mulai lagi, deh, panggil begitu."
Arkana tertawa pelan, lalu mengubah posisinya menjadi lebih serius. "Iya, iya, Mas bercanda. Tunggu Mas pulang di rumah baik-baik, ya. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat sendirian."
Hanifah mengangguk patuh. "Iya, Mas."
Seperti biasa, Hanifah meraih tangan kanan suaminya lalu menciumnya dengan hormat. Sebagai balasannya, Arkana mengusap pelan puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab krem dengan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya ia mengenakan helm hitamnya kembali.
"Assalamu'alaikum," pamit Arkana.
"Wa'alaikumussalam," sahut Hanifah lembut.
Motor itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Hanifah masih berdiri di depan pintu hingga Arkana menghilang di tikungan jalan. Barulah ia masuk kembali ke dalam rumah.
"Hari ini harus mulai beres-beres lagi." Ia menggulung lengan bajunya hingga sebatas siku.
Rumah itu memang belum sepenuhnya rapi. Masih ada beberapa kardus yang belum dibuka.
Hanifah memulai pekerjaannya dengan menyapu seluruh ruangan. Setelah itu ia mengepel lantai hingga mengilap. Meski tubuhnya sesekali terasa lemas, ia tetap melakukannya dengan semangat.
Baginya, rumah yang bersih akan membuat Arkana merasa nyaman sepulang bekerja.
Setelah selesai membersihkan rumah, Hanifah membawa setumpuk pakaian kotor ke halaman belakang. Karena belum memiliki mesin cuci, ia mencuci semuanya menggunakan tangan. Sesekali ia meringis saat memeras pakaian yang cukup tebal.
"Kalau nanti sudah ada rezeki. Aku ingin beli mesin cuci." bisiknya pelan sambil mengelap keringat di dahinya. Ia tersenyum sendiri memikirkan impian-impian kecilnya. "Tapi untuk sekarang, mencuci dengan tangan begini juga tidak apa-apa. Anggap saja sekalian berolahraga pagi."
Satu per satu pakaian dijemurnya di tali yang membentang di halaman belakang. Saat hendak kembali ke dalam rumah, pandangannya tertuju pada sebidang tanah kosong. Tanah itu tampak cukup subur.
Hanifah menghampirinya. Ia jongkok sambil menyentuh permukaan tanah dengan ujung jarinya.
"Kalau di sebelah sini ditanam cabai rawit, lalu di bagian tengah sana ditanam beberapa batang tomat buah, sepertiNya akan bagus sekali. Terus di sudut dekat tembok bisa dikasih polybag isi daun bawang dan seledri. Lumayan banget, uang belanja dapur bulanan pasti bisa jauh lebih hemat," pikirnya dengan mata berbinar-binar.
Ia tersenyum membayangkan halaman kecil itu dipenuhi tanaman. "Nanti malam aku harus bilang ke Mas Arkana, ah. Toko bibit taNaman di dekat persimpangan jalan depan itu kalau malam masih buka, kan, ya?"
Belum sempat berdiri, terdengar suara ketukan dari arah pintu depan.
Tok... Tok... Tok.
"Iya, sebentar." seru Hanifah setengah berteriak agar suaranya terdengar sampai ke depan.
Hanifah segera bangkit berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah untuk membukakan pintu.
Di depan rumah telah berdiri Bu Sulastri sambil membawa sebuah kotak makanan.
"Assalamu'alaikum." sapa Bu Sulastri dengan senyum ramah yang mengembang di wajahnya.
"Wa'alaikumussalam, Bu Sulastri. Eh, ada Ibu. Mari, Bu," jawab Hanifah sopan.
"Ini..." Bu Sulastri menyodorkan kotak tersebut. "Ibu masak sop ayam agak banyak hari ini. Kebetulan tukang sayur hari ini tidak keliling. Ibu kepikiran, mungkin kamu belum sempat masak."
Hanifah langsung menerima kotak itu dengan kedua tangannya, merasa sangat tersentuh dengan perhatian sang tetangga. "Ya Allah... terima kasih banyak, Bu. Malah jadi merepotkan. Masuk dulu, Bu."
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, wajah Hanifah mendadak berubah pucat. Ia buru-buru menutup mulut.
"Hanifah? Kamu kenapa, Nak?" Tanya Bu Sulastri panik melihat perubahan raut wajah tetangga barunya itu.
"Sebentar ya, Bu... maaf..." ucap Hanifah terbata-bata.
Hanifah membawa kotak makanan itu dapur dan menaruhnya diatas meja. Setelah itu ia berlari menuju kamar mandi.
"Huek..."
Suara muntah terdengar cukup jelas. Bu Sulastri yang semula berada di depan rumah langsung masuk karena khawatir.
"Hanifah?" panggil Bu Sulastri dari luar pintu.
"Iya, Bu... sebentar..." sahut Hanifah dengan suara yang terdengar sangat lemah.
Hanifah membilas mulutnya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi.
"Astagfirullah, wajahmu pucat sekali, Nak. Badanmu juga agak lemas," ujar Bu Sulastri penuh rasa khawatir sambil memegangi kedua bahu Hanifah.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Mungkin karena tadi terlalu banyak bergerak." jelas Hanifah.
Bu Sulastri memperhatikan Hanifah beberapa saat. Lalu beliau tersenyum.
"Kamu sedang hamil?"
Hanifah mengangguk pelan. "Iya, Bu."
"Sudah berapa bulan?"
"Baru masuk sekitar dua bulan." jawab Hanifah jujur.
"Alhamdulillah." Bu Sulastri tampak ikut bahagia. "Selamat, ya. Semoga ibu dan bayinya sehat."
"Aamiin."
Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju ruang tamu untuk melanjutkan obrolan. Karena Arkana dan Hanifah belum memiliki dana untuk membeli sofa atau kursi kayu, Hanifah dengan cekatan menggelar selembar tikar anyaman plastik di atas lantai.
"Maaf sekali ya, Bu Sulastri," ucap Hanifah merasa tidak enak hati. "Di rumah kami ini benar-benar belum ada kursi atau perabotan yang layak. Jadi terpaksa duduknya lesehan di atas tikar seperti ini."
Bu Sulastri tersenyum hangat.
"Aduh, tidak apa-apa. Ibu juga dulu memulai semuanya dari bawah. Dulu rumah Ibu malah lebih kosong daripada rumahmu."
Hanifah tersenyum kecil. Ucapan itu membuatnya merasa tidak sendirian.
Bu Sulastri kemudian teringat sesuatu. "Eh iya, Hanifah. Ibu baru ingat sesuatu."
"Apa itu, Bu?" tanya Hanifah penasaran.
"Ibu masih menyimpan pakaian bayi bekas cucu Ibu. Dulu cucu Ibu sempat tinggal beberapa bulan di sini. Sepertinya masih bagus. Kalau kamu mau, nanti Ibu berikan."
Mata Hanifah langsung berbinar. "Boleh sekali, Bu. Asal Ibu tidak keberatan dan tidak merepotkan sama sekali, saya terima."
Bu Sulastri tampak heran. "Kamu tidak keberatan memakai pakaian bekas?"
Hanifah menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak, Bu. Selama masih bersih dan layak dipakai, buat saya tidak ada masalah. Lagipula... Daripada disimpan di gudang, lebih baik dipakai lagi. Kami juga bisa sedikit menghemat pengeluaran."
Bu Sulastri mengangguk puas.
"Kamu anak yang pandai bersyukur."
Hanifah tersipu malu.
"Besok Ibu coba cari di gudang. Kalau tidak salah masih ada baju, selimut bayi, bahkan keranjang bayi. Nanti keranjangnya Ibu suruh Pak Hadi memperbaiki dulu." lanjut bu Sulastri dengan semangat.
Hanifah terharu. "Terima kasih banyak, Bu. Saya jadi malu terus merepotkan."
Bu Sulastri mengusap lembut punggung tangan Hanifah.
"Namanya juga bertetangga. Kalau bukan kita yang saling membantu, lalu siapa lagi?"
Hanifah mengangguk pelan. Hatinya terasa hangat.
Baru beberapa hari tinggal di lingkungan itu, ia sudah merasakan kebaikan tetangganya. Diam-diam ia mengusap perutnya yang masih belum tampak membesar. Senyum tipis terukir di wajahnya.
Dalam hati, ia berharap anak yang sedang dikandungnya kelak tumbuh di lingkungan yang penuh kasih sayang seperti hari itu.