NovelToon NovelToon
Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Konflik etika / Romantis
Popularitas:106.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Christina

"Ayu gak punya uang, Bu. Kan ibu tahu sendiri, penghasilan Mas Bagas sebagai pemula baru dua juta. Setiap hari ibu minta di talangin terus, ya habis dong uangnya."

"Kamu ini, sama mertua pelitnya minta ampun. Udah sana belanja, gak usah banyak drama. Pakai dulu uang kamu, nanti ibu ganti."

Menyebalkan sekali. Tapi aku malas melayani ibu mertuaku lebih lama untuk berdebat.
Aku ikuti saja kemauannya. Tapi aku punya ide, supaya mertua ku kapok menyuruh ku belanja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Christina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengancam pergi

Sudah sebulan kami tinggal serumah. Keuangan suamiku sudah cukup teratur karena ada aku yang selalu mengawasi.

"Gas, ibu minta uang lima ratus ribu saja."

"Buat apa, Bu ? Kan biaya dapur sudah dikasih sama Ayu. Hutang juga udah di bayar, butuh buat apa lagi ?"

"Mau beli baju, Gas. Masa anaknya banyak duit, ibunya pakai daster butut."

Aku dengan percakapan suami dan ibunya. Langsung saja aku ikut merecoki. Wajah ibu mertua langsung berubah.

"Gak usah di kasih uang, Mas. Biar aku langsung ajak ibu ke pasar."

"Ide bagus, Sayang."

"Gak mau, ibu mau duitnya saja !"

"Lho, kan uangnya buat beli daster, kalau langsung dibelikan dasternya kan sama aja dong, Bu."

"Tapi ibu mau duitnya aja, udah Ayu, kamu jangan ikut-ikutan !"

"Bu, ikuti saja kemauan Ayu. Sekalian antar Ayu beli keperluan untuk lahiran."

"Tapi, Gas..."

"Sudah, Bu, Bagas gak mau berdebat. Sayang, ini uangnya." Mas Bagas memberikan uangnya padaku.

Asik, malah aku yang dapat uang. Mana dikasih cash satu juta. Makin bahagia saja.

Suamiku pamit kerja, sementara ibu mertua makin menampakkan raut tak suka dan langsung masuk ke kamarnya. Aneh, apa salahnya belanja bareng ? Emang ajaib sekali mertuaku ini. Aku melangkah masuk ke kamar. Baru mau masuk, aku mendengar suara Mbak Dita keluar kamar dan masuk ke kamar ibu. Aku ikut keluar lagi dan menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.

"Bu, dapat gak uangnya ?"

"Gak, Dit. Semenjak Ayu ada disini, ibu gak bisa dapat uang tambahan lagi dari Bagas. Selalu saja ketahuan Ayu. Apa harusnya minta uangnya pas Bagas ditempat jualannya yah ?"

"Ide bagus, Bu. Nanti Dita juga mau minta duit buat modal Mas Adit."

"Ya sudah, besok saja kita pergi. Tadi ibu baru minta, jangan sampai kelihatan banget kita minta terus."

Ohh, jadi itu rencana mereka. Oke, siap, aku beri kejutan lagi. Selama ada Ayu, uang suamiku akan selalu aman, hihihi.

Besoknya sesuai rencana mereka, ibu dan Mbak Dita datang ke tempat produksi pentol. Mereka tahu kalau suamiku sedang sibuk disini. Sekitar satu bulan lagi kami akan launching produk Frozen food, agar penjualan pentol semakin menjangkau banyak pasar.

"Bu, Mbak Dita, ngapain kesini ?" Tanya Mas Bagas sedikit kaget melihat kehadiran ibu dan kakaknya.

"Ibu mau ngomong penting, Gas."

Mas Bagas mempersilahkan merek duduk. Aku sengaja mengintip dari pintu. Saat mereka datang, aku sengaja belum masuk, menunggu mereka masuk lebih dulu. Mereka pasti tak menyangka jika aku ada disini.

"Kenapa, Bu ?"

"Ibu butuh uang, Bagas. Ibu mau buka usaha warung. Cuma mengandalkan uang bapak kamu, mana cukup ? Uang bulanan dari kamu juga pas-pasan. Ibu juga mau beli emas kayak istrimu."

"Udahlah, Bu, gak usah buka warung segala. Yang ada ibu capek, terus bosen, akhirnya malah gak keurus."

"Ya sudah, kalau kamu gak mau modalin ibu, ibu minta uang buat beli gelang. Malu, anak bungsu sukses, masa ibunya gak punya Ema sama sekali."

"Nanti Bagas ambil dulu uangnya, Bu."

"Beneran, Gas ?" Mata ibu mertua langsung berbinar.

"Iya, Bu."

"Alhamdulillah, gitu dong, dapat pahala kalau buat ibu sendiri bahagia. Oh iya, ibu juga mau minta bantuan, biar kamu tolongin Mbakmu ini."

"Emangnya Mbak Dita kenapa lagi ?"

"Gini lho, Gas... suamiku mau dagang apa gitu, biar dia gak pengangguran. Aku pusing lihat dia gak punya kerjaan. Jadi, Mbak mau pinjam modal sepuluh juta saja."

"Gede banget, Mbak."

"Ya udah, lima juta deh. Tolonglah, Gas. Masa kamu tega Mbakmu belangsak. Mbak mau pinjam buat modal bukan buat hura-hura."

"Duit jual rumah emang kemana, Mbak ? Lagian, Mbak jangan terlalu percaya sama Mas Adit."

"Uangnya kan buat nutupin bank. Tenang aja, Mbak paling paham siapa Mas Adit. Dia pria bertanggungjawab, hanya usahnya saja yang lagi menurun. Namanya juga hidup, kadang diatas, kadang dibawah. Sekarang kan kamu lagi diatas, jadi harus bantu orang tua dan saudara."

Mas Bagas tampak sejenak mempertimbangkan keputusannya. Aku masih memantau dari sini. Tunggu apa yang akan dikatakan suamiku. Kalau jawabannya mengesalkan, langsung aku labrak.

"Memangnya mau usaha apa, Mbak ? Harus jelas dulu usahanya, biar bener dan uangnya gak habis percuma."

"Mau buka toko sembako dirumah. Di desa kita kan masih sedikit toko sembako. Mbak mau buat yang gede. Lima juta gak cukup sih, kalau bisa ditambahin."

"Bagas cuma bisa bantu tiga juta, gak bisa banyak-banyak karena Bagas juga butuh modal besar untuk mengembangkan usaha."

"Tambahin dong, Gas." Rengek Mbak Dita.

"Gak ada, Mbak. Kalau mau aku transfer, kalau gak ya udah terserah."

"Ya udahlah, buruan kirim ke rekening Mbak. Sekalian duit buat beli emas ibu. Lama kalau nunggu kamu ambil ke ATM."

Wah-wah, kumat lagi suamiku. Belum lama jadi Superman, sekarang mendadak lembek lagi. Apa dia lupa sudah punya istri ? Benar-benar yah, suka seenaknya saja. Awas saja, aku harus ngomong serius sama suami. Kau dia masih suka memberi keluarganya tanpa bilang istri, aku mau menganca kabur saja.

Aku merasa tak dihargai sebagai istri. Semakin kesini, makin bertingkah juga suamiku. Memang sih, kalau didepanku dia tegas, tapi kalau gak ada aku, mulai lembek lagi.

"Tunggu, Mas !!! Kamu kirim duit itu, aku langsung berangkat ke Jakarta !" Teriakku sudah berdiri dengan wajah kesal di depan pintu.

"Ayu ???" Ibu dan Mbak Dita kaget luar biasa dengan kemunculanku yang tiba-tiba.

"Maksudnya apa, sayang ?" Tanya Mas Bagas.

"Nanya lagi, kamu keterlaluan Mas, ngasih duit Segede itu gak minta pendapat istri dulu."

Mas Bagas langsung keluar dari aplikasi M-banking. Untung aku muncul di waktu yang tepat, jadi Mas Bagas belum sempat mengirim uangnya.

"Ayu, apa-apaan sih, lama-lama kamu makin kurang ajar. Apa salahnya Bagas bantu kakaknya sendiri. Gas, kamu jangan lembek jadi suami. Suami kok takut sama istri. Duit, duit kamu, kamu bebas menggunakannya untuk apa." Sela Mbak Dita.

"Benar, Bagas. Ibu kecewa kalau kamu lebih membela istri kamu dari pada keluarga. Istri bisa dicari, tapi keluarga tak akan bisa diganti."

"Maksudnya keluarga apa nih, Bu ? Keluarga yang suka pilih kasih ? Keluarga yang tak pernah mendukung Mas Bagas ? Keluarga yang gak peduli sama Mas Bagas ? Kalau aku sih jelas, istri yang peduli, baik hati, suka memberi. Ibu tahu gak, dari mana model usaha Mas Bagas sampai Segede ini ? Bukan hasil menggadaikan rumah ke bank atau ngemis warisan. Aku sebagai istrinya yang modalin."

Pecah sudah gunung berapi dalam hatiku. Naik darah, emosi mendidih. Tak bisa terus dibiarkan, suami harus ditegaskan supaya tak seenaknya mengambil keputusan.

"Terserah kalau Mas mau kasih pinjaman ke Mbak Dita, tapi aku langsung pergi ke Jakarta."

"Maaf, sayang, ampun. Mas salah gak minta izin kamu dulu."

"Lembek kamu, Bagas !" Ejek Mbak Dita.

"Maaf Mbak, tapi kalau sudah nikah menjaga hati istri nomor satu."

"Menjaga hati ibu kamu yang nomor satu, Bagas. Harusnya kamu lebih mendengarkan ibumu." Timpal ibu.

"Maaf, Bu, Bagas sudah memberikan nafkah sama ibu, jadi gugur sudah kewajiban Bagas. Soal membantu Mbak Dita bukan kewajiban, apalagi sampai istri Bagas pergi. Maaf, Bagas gak akan membiarkan Ayu pergi."

"Dasar adik bodoh ! Ayo Bu, kita pergi !"

Dengan wajah kesal, Mbak Dita menarik ibu keluar. Sementara aku, duduk santai di sofa.

Setelah memastikan ibu dan Mbak Dita benar-benar pergi, perdebatan panjang pun terjadi. Mas Bagas tak henti meminta maaf, karena aku kembali mengancam akan pergi ke Jakarta jika dia masih mengulangi hal yang sama.

Dengan mata berkaca-kaca, Mas Bagas menampakkan raut wajah bersalah. Aku juga tak tega memarahi dia terlalu lama.

"Kamu mau ngasih ibu emas ?" Tanyaku tapi masih dengan raut wajah datar.

"Iya, sayang. Tapi kalau kamu gak ridho, gak usah. Mas gak mau kamu sampai marah apalagi kabur ke Jakarta."

"Ya udah, aku beliin emasnya, Mas transfer aja uangnya, sekalian buat aku juga."

Sekali-sekali berbuat baik pada mertua. Tapi dengan caraku. Aku tak mungkin memberikn emas begitu saja.

1
Ayu Rizka
ko gk ada kelanjutannya kak udah nunggu lama banget
Veni Damayanti
Luar biasa
Fatmah Abujahja
bagus ceritanya bisa jadi pembelajaran
Duda Fenta Duda
waduh suamimu ayu dakda tegasnya
vi
cerita nya 👍
Maulida Hayati
Luar biasa
Er Ropah
ska nih klo critanya menanntu bar2.....😄
sweetpurple
Luar biasa
Ritmaridu
kesel banget dgn org kayak mbak Dita,selalu nyalahin org atas takdir dia,padahal dia yg buat kesalahan,org kayak mbak Dita enaknya di apain ya😡😡
Norizah Mat Isa
Biasa
novita setya
yowes itu buah dari perbuatanmu dita. nikmati jalani..sukur2 sambil bertobat
novita setya
ciee ngarep banget siii..maap2 aja y gus fatih ga doyan sm lea..bukan muhrim
R. Kamal
pasti bekum nyesek tu jantung... msh luassssss heee
novita setya
sing salah bakale seleh..tuhkaaan kaaan disimpan serapat apapun ttp ketahuan..wuhuuu bakal dinikahin sm siapa nih..
R. Kamal
penyakit ngeyel dan pikun dipelihara akhirnya ketahuan juga ada janin...
novita setya
hasil tespek hoax tuh😄urine melia yg dipake. gus fatih udh ancang2..
R. Kamal
lanjutkeunnnn
novita setya
panggung part 2 digelar..pemeran utama princes lele dan ratu lelel. keknya 11-11,5 sm induk lelel
novita setya
td lea dan dita dipanggilin odong2 aja..
novita setya
usilnya ayu nurun ke kiara. si lea bener2 setan kw kelakuannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!