7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tidak terasa sudah 2 tahun berlalu
Mia sudah sadar dari komanya namun keadaannya masih terbilang tidak baik-baik saja dan sangat memperihatinkan apalagi ketika Siska yang masih belum puas melihat penderitaan Mia, secara diam-diam wanita itu datang menemuinya dan mengatakan sesuatu yang membuat Mia merasa semakin bersalah dan tertekan jiwanya hingga membuat Mia yang kondisi mentalnya sedikit terganggu akibat rasa bersalahnya yang terlalu besar terhadap suaminya terpancing dan menjadi histeris lalu mengamuk secara tiba-tiba
Mama Nina dan kedua mertua Mia pun merasa sangat prihatin dengan kondisi yang menimpa Mia, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis, pasrah dan membiarkan Mia dalam penanganan perawatan seorang dokter kejiwaan yang di tugaskan khusus oleh Azka suami dari sahabatnya
Zaira sahabat baik Mia bahkan sangat terpukul dengan keadaan yang menimpa Mia, ia pun sempat jatuh sakit dan dirawat karena terlalu memikirkan keadaan sahabatnya itu, wanita yang kini sudah memiliki 3 orang anak pun selalu menangis sesenggukan setiap kali datang menjenguk Mia di rumah sakit milik keluarga Dinata
Lia dan Mita pun sama seperti Zaira, mereka juga sangat sedih melihat kondisi Mia yang selalu melamun dan tidak merespon siapa pun yang ada di dekatnya, wanita itu sibuk dengan dunianya sendiri
Keseharian Mia hanya menyendiri dan melamun dengan tatapan mata yang nampak kosong seperti tidak ada kehidupan di dalamnya
Tidak ada satupun yang mengetahui perang batin yang sedang dialami wanita itu, baik mamanya, kedua mertuanya, Zaira dan juga para sahabatnya yang lain pun hanya tahu Mia terlampau sedih setelah kepergian Sendy suaminya yang sangat ia cintai, mereka semua tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Mia tertekan dengan rasa bersalah dan penyesalannya yang selalu memaksa kehendaknya terhadap sang suami yang bahkan memintanya untuk menikahi mantan kekasihnya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan Sendy yang begitu mencintainya bahkan selalu berusaha mengalah terhadapnya demi memberikan kebahagiaan untuknya
Keinginan Mia yang terlalu besar untuk memiliki seorang anak sudah membuatnya begitu egois, tanpa memikirkan bagaimana perasaan suaminya yang begitu sangat tertekan dengan permintaan konyolnya
Sendy selalu berusaha untuk menahan amarahnya, tapi ketika Mia memintanya untuk pulang ke rumah madunya disitulah Sendy merasa tidak tahan dengan sikap Mia yang seolah merendahkan harga dirinya dan karena hal itulah membuat Sendy tidak tahan lalu pergi meninggalkan Mia
Niatnya ingin menenangkan diri tapi apalah daya takdir berkata lain hingga terjadilah kecelakaan yang membuat mobil Sendy terhempas jatuh ke dasar jurang
Berita tentang kepergian Sendy membuat jiwa Mia sangat terguncang, bahkan wanita itu masih tidak percaya kalau sang suami sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya
Sementara Marisa isteri kedua Sendy sudah bersikap biasa, walaupun pada awalnya ia pun terkejut ketika mendengar berita tentang laki-laki yang baru beberapa bulan lalu sah menjadi suaminya dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan
Meskipun statusnya Marisa adalah isteri kedua Sendy dia tidak sesedih Mia karena dia memang tidak terlalu mencintai Sendy, ia hanya berambisi saja ingin memiliki laki-laki yang dulu pernah menjadi kekasih hatinya.
Setelah Sendy dinyatakan meninggal, wanita itupun memilih untuk menyibukkan kembali dirinya dengan pekerjaannya sebagai model, tidak seperti Mia yang hidup tertekan karena selalu di bayang-bayangi dengan perasaan bersalahnya
" Sudahlah sayang kita berdoa saja ya semoga Mia cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kita!" ucap Azka yang tidak tahan melihat isterinya selalu menangis setiap kali menjenguk Mia
" Aku enggak pernah menyangka mas kalau Mia bisa sampai seperti ini, kepergian kak Sendy benar-benar menjadi pukulan terberat untuknya" tutur Zaira di sela isak tangisnya dipelukan sang suami
Azka mengusap punggung Zaira " Iya sayang mas tahu ini sangat sulit untuk Mia terima, tapi ini semua sudah takdir dan Mia harus berusaha untuk bisa mengikhlaskan kepergian Sendy"
" Iya mas, tapi bagaimana caranya?"
" Dukungan dan doa orang-orang terdekat adalah obat terbaik untuk membantu kesembuhan Mia" terang Azka
" Kalian para sahabatnya jangan tunjukkan kesedihan kalian dihadapan Mia berikanlah semangat untuknya dan ingatkanlah kembali kenangan-kenangan indah saat kalian bersama dulu" lanjutnya
***
Sementara di belahan bumi yang berbeda seorang pria tengah berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin dengan perasaan yang begitu cemas, pria itu sedang menunggu sang isteri yang sedang berjuang di ruang persalinan untuk melahirkan buah hati mereka yang hanya dibantu oleh seorang bidan dan asistennya di sebuah puskesmas terdekat
" Nak Aden tenanglah nak, duduklah dulu di sini!" ucap bu Dedeh yang merasa pusing melihat tingkah menantunya yang sedang mondar-mandir mencemaskan keadaan Melati yang sedang berjuang di dalam ruang bersalin
" Iya bu!" jawab Sendy laki-laki yang sejak tadi hatinya terasa diremas-remas karena begitu mengkhawatirkan keadaan isterinya
Kilas balik
Setelah satu tahun menikah Melati yang awal pernikahan selalu berusaha untuk menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta pada Sendy sebelum ingatan laki-laki itu pulih, akhirnya menyerah karena tidak kuasa menahan gejolak cinta yang seketika tumbuh subur di dalam hatinya apalagi sikap Sendy yang selalu perhatian terhadapnya dan begitu menghargai keputusannya yang tidak ingin disentuh sebelum ia benar-benar siap dan bisa menerima pernikahan mereka, membuat gadis itu akhirnya luluh dan pasrah belajar untuk menerima dengan ikhlas pernikahan yang sudah mengikat keduanya
Setelah satu tahun pernikahan mereka dan Melati sudah menerima Sendy sebagai suami seutuhnya, Melati pun dinyatakan hamil dan hal itu tentu saja membuat Sendy begitu bahagia begitu juga dengan bu Dedeh dan pak Didin
" Hoek...Hoek...!"
Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang persalinan dan sontak hal itu membuat Sendy langsung terperanjat dari duduknya dengan hati yang berdesir
Air mata laki-laki itu pun detik itu juga luruh ketika seorang asisten bidan tersebut datang menghampirinya dan memberikan bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki itu kedalam gendongannya
"Silahkan di adzani dulu pak" ucap perawat yang sudah membantu bidan dalam persalinan Melati
Tangan Sendy yang sedikit bergetar menerima bayi mungil itu lalu Sendy pun mengadzani putranya dengan air mata yang menetes begitu saja tanpa diminta
Perasaan haru itulah yang ia rasakan, dengan tangan yang sedikit gemetar Sendy mencium bayi mungil yang merupakan jiplakan wajah dirinya
" Kak!" Sendy langsung menoleh ketika mendengar suara wanita yang baru saja berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati mereka
Sendy langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri sang isteri
" Alhamdulillah, kamu sudah bangun sayang" ucap Sendy menggenggam tangan Melati
" Terima kasih sayang kamu sudah berjuang demi putra kita" Sendy mengecup kening Melati
" Kak" Melati begitu terkejut ketika merasa keningnya basah
" Kak Aden menangis?"