Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku ingin bertemu denganmu di saat yang tepat dan di waktu yang tepat untuk bisa mencintaimu sebagai manusia seutuhnya dan bukan hanya sekedar menjadi bayanganmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senajudifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Mengejar
"Sebaiknya kita tidur di ruang tengah aja semua!!" kata Sena dan di setujui oleh semuanya.
"Bagaimana tadi keadaan keluarga Hasan, pak!!" kata bibi.
"Ibunya Hasan menangis terus bu...maklumlah Hasan sendiri yang laki-laki di keluarga mereka!!" kata paman Said juga sedih.
"Iya lah paman, orang tua mana yang tak sedih melihat putranya meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti itu??" kata Sena.
"Lalu bagaimana keadaan Toyib dan Basri, paman ??" tanya Sena.
"Mereka berdua masih tampak sangat syok seakan belum bisa menerima kenyataan bahwa Hasan telah pergi meninggalkan mereka!!" kata paman Said.
Kembali keruangan hemodialisa...
"Sena...kenapa kamu belum memberi kabar sama sekali?? apakah kamu sudah lupa kepadaku di sini??" Anthony yang merasa resah melayang mondar mandir memikirkan kekasih hatinya itu.
"Aku merasa dia dan anak-anaknya dekat sekali dengan bahaya!!" kata Anthony khawatir.
"Kamu kenapa Anthony??" tanya Kanti sambil menyisir rambutnya.
"Apakah kamu merindukan Sena??" tanya Kanti lagi.
"Tenang Anthony...kita semua di sini merindukan dia, rindu dengar celotehannya, nyanyiannya sampai suara teriakannya jika dia marah ada di antara kita yang mengusili pekerjaannya agar tidak kelar-kelar supaya dia bisa tinggal lebih lama di ruangan hemodialisa ini!!" kata si muka rata.
Si hantu tampan Anthony tidak berkata apa-apa.
"Apakah kamu ingin menyusulnya??" tanya Kanti.
"Jika aku menyusulnya, siapa nanti yang akan melindungi kalian kalau sewaktu-waktu Baron datang lagi kemari??" tanya Anthony membuat semua para hantu di situ seketika terdiam.
Mereka ingat betapa kejamnya Baron mengurung mereka semua di dalam botol penyiksaan waktu itu.
"Kalian semua ingatkan?? betapa Baron yang kejam itu memasukan kita semua sampai Lean dan Leon yang tak tau apapun ikut dia kurung!!" kata Anthony.
"Tapi kamu bilang Senamu juga sedang dekat dengan bahaya sekarang ini Anthony??" kata Kanti si kuntil anak.
"Jika kamu ingin pergi maka pergi saja, kamu juga sudah terlalu lama terkurung di ruangan ini Anthony!!" kata om pocong yang semenjak tadi diam di sudut ruangan ikut ambil bicara.
"Kamu selalu memikirkan kami semua yang ada di sini, sudah saatnya kamu pergi untuk meraih bahagiamu!!" kata Kanti.
Mereka sebenarnya sedih. Terlalu banyak pengorbanan hantu tampan itu untuk mereka semua yang ada di situ.
Tak ada satu mahlukpun yang menginginkan untuk mati kemudian jadi hantu seperti ini tetapi karena ada sesuatu hal yang belum terselesaikan, mereka belum bisa pergi dengan tenang.
Seperti Kanti yang mati karena diper*kosa lalu dibunuh, mayatnya dibuang kesemak belukar di sekitar area pembangunan rumah sakit ini sepuluh tahun lalu, sampai kini jiwanya tak tenang karena dia ingin sekali bertemu dengan bayinya dulu yang kini sudah tumbuh besar.
Jika semua yang ada di situ sudah menyelesaikan masalah mereka dengan dunia maka mereka satu persatu akan pergi meninggalkan tempat ini.
Berbeda dengan Anthony dia mencari cinta sejatinya dan menunggu masa seratus tahunnya untuk bisa kembali bereinkarnasi kembali.
"Tapi masalahnya aku tak bisa pergi menemuinya kecuali Sena sendiri yang memanggilku lewat cincin yang aku berikan!!" desah Anthony resah.
"Kamu terus saja mengirimkan sinyal untuk dia supaya dia bisa mengingatkanmu dan merindukanmu dengan begitu dia akan memanggil namamu...kamu masuklah kedalam setiap mimpi-mimpinya untuk membantu membangun ingatannya kepadamu!!" saran si muka rata kekasih kuntil anak Kanti.
"Sifa...Sifa...kamu lagi ngapain??" bisik Juan yang mendapati adik bungsunya malam itu tengah berdiri dibalik korden jendela dan menyibakannya sedikit untuk mengintip keluar.
"Kak...aku sedang memperhatikan di luar rumah embah banyak sekali orang berlalu lalang memakai jubah hitam tapi mereka tidak sendiri mereka seperti menyeret sesuatu!!" kata Sifa menurunkan volume suaranya.
Juan ikut mengintip keluar. Dari cahaya obor yang menyala di halaman mereka berdua walaupun samar dapat menyaksikan kejadian di luar halaman paman Said.
"Kak...di sekitar rumah ini ada tetanggakah??" bisik Sifa.
"Setau kakak karena sore tadi ikut embah mengejar om Hasan, kakak sempat memperhatikan kiri dan kanan, letak tetangga di sini lumayan berjauhan, jadi dengan kata lain rumah embah ini letaknya paling ujung dengan dari rumah-rumah yang lainnya.
"Kalau rumahnya om Toyib, om Basri dan almarhum sepertinya tidak terlalu berjauhan deh...baru di tengah desa di rumah yang lumayan besar itu rumah pak RT." Jelas Juan pada adiknya.
"Sssstttt....liat kak...bukankah yang di tariknya itu, itu kakak-kakak mahasiswa yang tadi pagi bersama kita datang kedesa ini, tapi cuma dia sendiri, berarti dialah yang akan menjadi korban selanjutnya...ayo kita ikuti mahluk-mahluk itu kak??" bisik Sifa.
"Aku??" kata Juan ragu-ragu.
"Iya lah...masa kakak tega melihat Sifa sendirian mengikuti mahluk itu??" tanya Sifa.
"Terlalu berbahaya Sifa, apa tidak lebih baik kita bangunkan mamak atau mbah Said??" tanya Juan.
"Iisshhh kelamaan kak mereka itu sedang menyeret roh kakak itu, jika kita terlambat kita tidak bisa lagi menolong seperti om Hasan tadi sore!!" kata Sifa.
"Mau kemana lagi kalian anak-anak bandel?? apa yang tengah kalian berdua rencanakan??" tanya Sena tiba-tiba muncul di belakang mereka dan mengagetkan Sifa dan Juan.
"Isshh mamak ini bikin kaget saja!!" kata Sifa.
"Coba mama liat kesini!!" kata Juan memperlihatkan pemandangan yang tadi mereka lihat.
"Hah?? hilang??" kata Juan terkesiap.
"Mereka tidak hilang, mereka sudah melewati rumah ini mau membawa roh itu ke hutan pinus!!" kata Sena.
"Ayo cepat jika kita mau mengejar, cepat kita selamatkan gadis itu sebelum jatuh korban lagi!!" kata Sena.
Lalu ketiganya hendak bergegas pergi.
"Mak, mau kemana??" tanya Dini masih setengah mengantuk.
"Haduh...bangun pula ni anak!!" kata Sena.
"Mamak mau pergikan?? Dini ikutlah!!" katanya sambil cepat-cepat bangun dari tidurnya.
"Tidak...kalian tidak boleh pergi semua...Juan dan Dini tinggal sama mbah wedo biar mbah lanang, Sifa sama mamak kalian yang mengejar para mahluk itu!!" tiba-tiba paman Said keluar dari kamarnya sepertinya paman baru selesai sholat tahajud!!
"Ayo kita pergi!!" kata paman Said.
"Ingat...Juan sama Dini tunggu di sini sama mbah wedo ya...!!" kata paman Said lalu mereka bertiga bergegas pergi.
"Ingat Dini...Juan...jangan bukakan pintu untuk siapapun sebelum kami bertiga kembali, ingat...untuk siapapun jangan dibukakan pintunya!!" setelah berpesan lalu paman kembali melangkah menyusul Sifa dan Sena.
Sena bersama ketiga anaknya memang tidur di ruang tengah sementara paman dan bibinya tidur di kamar karena kamar di rumah itu memang hanya ada satu.
*
*
***Bersambung...
Mampukah Said, Sena dan Sifa mengejar para mahluk itu??
Yuk kepoin terus kisah mereka selanjutnya ya reader dan jangan lupa dukungannya.