Sebelum mendaftar sebagai seorang sekretaris, Inka bekerja di salah satu Mol terbesar di kota itu sebagai SPG.
Karena kecantikan yang di miliki Inka di atas rata-rata wanita pada umimnya, membuatnya harus berpindah-pindah dalam mencari pekerjaan.
Sampai akhinya Inka di terima menjadi Sekretaris pribadi tuan muda yang sangat tampan bernama Narendra Prawira seorang CEO yang terkenal sangat kejam dan arogan membuatnya harus mencari sekretaris pribadi setiap bulannya karena tidak ada yang betah.
"Kau lulus interview dan silakan tanda tangan kontrak," ucap Asisten Robi.
Apakah kecantikan Inka mampu meluluhan hati seorang CEO tampan yang terkenal kejam. Atau justru Inka akan mengundurkan diri karena tidak betah dengan sikap bosnya.
Simak terus ceritaku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia sempit
Selesai berlarian dengan Jimin, Inka pun duduk di pondokan, terlihat wajahnya yang memerah membuatnya langsung mengipas-ngipas wajahnya. Seketika Ia mengingat pria yang sempat menolongnya yang hampir terjatuh.
'Dengan siapa dia kemari? Apa dia membawa adiknya? Kenapa dunia begitu sempit. Aku bahkan tidak berani bertanya siapa namanya, untuk berteri makasih saja aku takut,' batin Inka.
Inka yang terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu, di ganggu oleh Jimin yang begitu jail. Ikan bakar pun sudah matang, dan Solihin mengangkat ikan itu dan meletakan di tempat yang sudah di sediakan.
Rosida pun selesai membuat sambal yang sangat lezat, mereka pun menikmati makanan yang sudah di bawa dari rumah, terasa sangat nikmat di setiap suapan.
Naren yang sedang duduk di sofa merasa sangat bosan, Ia langsung menghubungi asisten nya untuk mengajaknya keluar dari mansion.
Robi ketika mendapat perintah untuk ke mansion bos nya, langsung tancap gas. Sampai lah ke mansion milik Naren, dengan pakaian yang casual, Ia masuk ke dalam.
"Ada apa bos, apa kau kesepian?" tanya Robi.
"Hem..." sahut Naren.
"Tuan, apa kau tahu. Ada pantai yang cukup terkenal, ku rasa kita perlu ke sana," ajak Robi.
"Pantai? Di mana?" tanya Naren.
"Kalo gak salah deket dengan pelelangan ikan," jawab Robi.
Mereka berdua memutuskan untuk berangkat ke pantai dewi mandi, tak lupa membawa persiapan yang cukup banyak membuat Naren hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Semua ini, milik mu? Astaga, kau ini seperti anak kecil," celetuk Naren.
"Biarkan saja lah tuan, semua itu harus di lakukan totalitas," sahut Robi.
Mobil itu masuk ke kawasan pantai, terlihat mobil terparkir dengan rapih, membuat Robi kebingungan harus memarkirkan mobilnya di mana.
Sampai akhirnya Robi menemukan parkiran yang kosong, di ujung tepat di samping mobil milik ayahnya Inka.
Inka yang sedang asik menikmati makananya, tak sengaja matanya melihat ke arah belakang gubuk, 2 pria tampan berbadan kekar berjalan ke arah pantai, mata itu sangat mengenali 2 pria itu.
'Apa itu tuan Naren?' batin Inka.
Inka berusaha mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan bahka pria yang Ia lihat bukan lah bosnya, tetapi dugaannya salah. Dia adalah Naren.
'Dia beneran tuan Naren. Astaga kemana mereka berdatangan kemari secara bersamaan,' batin Inka.
Jimin yang melihat kakaknya sangat aneh langsung menyentuh tangannya.
"Kakak sedang apa? Apa kakak sedang melihat sesuatu?" tanya Jimin.
Inka langsung melirik ke arah Jimim dengan tatapan mematikan.
"Kau ini kepo," sahut Inka.
Inka yang sibuk meladeni Jimin, sampai akhirnya Ia kehilangan jejak Naren. Inka merasa bahwa dirinya hanya salah melihat orang.
"Itu hanya perasaan ku saja," gumam Inka.
"Kakak ini kenapa sih? Semakin hari semakin aneh," celetuk Jimin langsung menjauh dari hadapan Inka.
Sebelum Inka memukulnya, Jimin sudah pergi menjauh dari Inka, dan akhirnya mereka kejar-kejaran.
"Ye ... gak kenak. Ayo kejar aku," ledek Jimin membuat Inka semakin kesal dan ingin memukulnya.
"Berhenti kau! Dasar adik yang kurang ajar!" teriak Inka sambil berlari mengejar Jimin.
Robi dan Naren yang sedang menikamati hamparan laut dan hembusan angin laut membuat pikirannya cukup damai.
Semua momen itu terganggu dengan teriakan seorang wanita yang sedang mengerjarkan seseorang. Hal itu membuat telinga Naren dan Robi, merasa terganggu, tetapi mereka berusaha untuk mengabaikan suara itu.
teriakan itu semakin menjadi, membuat mereka semakin tidak tahan lagi.
"Siapa sih perempuan yang teriak-teriak? Apa dia sendiri yang memiliki telinga!" keluh Naren.
Naren membuka kacamata hitamnya, melihat di sekeliling suara wanita itu, Inka yang masih mengejar adiknya tak kunjung dapat membuatnya sangat kesal.
Inka pun berhenti di dekat kursi tempat Naren duduk, Ia berusaha mengatur napasnya karena terasa sangat lelah mengejar Jimin.
Naren yang melihat ternyata itu Inka, membuatnya langsung mendekati Inka. Saat Inka mau berlari kembali, tetapi tangannya tertahan. Membuatnya menoleh.
Melihat pria di hadapannya adalah Narendra Prawira. Membuat nya terpaku membisu seperti terkejut dengan pemandangan di hadapannya.
"Tuan Naren?" lirih Inka.
"Apa kau tidak bisa diam, kau selalu menganggu ku, tidak di pantai, tidak di rumah, sebenarnya mau mu apa?" kesal Naren.
Inka yang tidak memperhatikan Naren berbicara, karena fokusnmelihat adiknya yang selalu mengejeknya dari jauh membuatnya merasa kesal.
"Awas kau ya," gumam Inka.
Naren yang mendengarnya, langsung bingung.
"Apa yang kau katakan?" tanya Naren.
"Kurang ajar kau ya!" gumam Inka.
Naren yang mendengarnya langsung marah dan memegang pundak Inka dengan kedua tangannya, Inka yang kaget denga perlakuan Naren membuatnya menatap dengan wajah yang bingung.
"Apa yang tuan lakukan?" tanya Inka.
"Malah bertanya padaku? Harusnya saya yang menanyakan itu! Ulangi ucapan mu barusan," ucap Naren.
Lagi-lagi Jimin menjailinya, membuat Inka langsung pamit dan meminta maaf kepada Naren, dan pergi begitu saja meninggalkan Naren.
"Gadis sialan!" umpat Naren.
Naren menatap Inka yang pergi menjauh dari nya, dan melihat Ia berlari mengejar seorang pria. Naren berfikir bahwa pria yang di kejar Inka dalah pacarnya.
"Ternyata dia sudah mempunyai pacar," gumam Naren.
Hari sudah sore.
Waktunya Inka berkemas untuk pulang ke rumah, denga badan yang sangat letih. Membuat Inka dan sang adik tertidur di dalam mobil.
Sampai lah di rumah, Inka pun terbangun dan langsung membantu mengangkat barang yang ada di dalam mobil.
Tidak Lupa Ia membersihkan dirinya masuk ke kamar mandi. Dan kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Matanya mulai sulit terpejam, karena Ia sempat tertidur di mobil. matanya masih terjaga menatap langit-langit kamarnya.
"Hari ini hari yang penuh dengan kejutan, di mana aku harus bertemu dengan pria yang jahat, dia menatap ku seperti akan memakan ku. Dan aku harus bertemu dengan bos gila itu, kenapa dia harus datang ke pantai yang sama? Apa tidak ada pantai yang lain? Aku hampir gila melewati hari ini. Ini sangat melelahkan, tapi aku suliy untuk memejamkan mata ku," ocehan Inka di malam hari.
Katanya tidak bisa tertidur, nyatanya Ia memejamkan matanya setelah mengoceh kepada dirinya sendiri.
Malam yang panjang membawa rasa lelah itu pergi menjauh, berganti sinar mentari yang menaburka semangat untuk beraktifitas. Merasa masih ngantuk, Inka berusaha untuk mengabaikan suara alarm, tetapi telinganya terasa akan meledak saat itu juga.
Dengan malas Ia bangun, dan menatap jam yang hampir menunjukan pukul 6. Matanya melotot dan langsung berlari ke kamar mandi, untuk nya Ia tidam terjatuh.
Dengan cepat Inka mandi, dan segera menganti pakaian tanpa merias wajahnya hanya menggunakan lipglos. Inka berpamitan dan langsung berangkat tanpa sarapan.
Saat di rumah Naren, Ia masuk ke dalam dan membangunkan Naren, tetapi tangannya seperti ada yang menahan, dan akhrinya Inka terjatuh di pelukan Naren.
BERSAMBUNG....
ternyata jenius jimin bisa meramu parfum
kamu hati² sm putra ya inka