NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Nilai Sempurna

Ujian bulanan pertama datang lebih cepat dari yang diperkirakan Keiko.

Selama tiga hari, Kelas XI-IPA 4 hidup dalam suara kertas dibalik, keluhan Fajar, dan Pak Arif yang berulang kali berkata bahwa tryout ini bukan akhir dunia. Tentu saja, bagi sebagian besar murid, kalimat itu tidak membantu.

"Pak, kalau bukan akhir dunia, kenapa jadwalnya kayak hukuman?" protes Fajar di hari pertama.

Pak Arif menatapnya tanpa ekspresi. "Karena kamu butuh dihukum oleh matematika."

Kelas tertawa.

Kelvin yang duduk di sebelah Keiko hanya memutar pulpen. Di atas mejanya, lembar kisi-kisi masih bersih. Terlalu bersih. Keiko melirik sekilas, lalu melihat Kelvin menggambar garis kecil di sudut kertas, seperti orang yang lebih tertarik menghitung retak pada tembok daripada rumus.

"Kamu sudah belajar?" tanya Keiko pelan.

"Sudah."

Keiko menatap kisi-kisi kosong itu.

Kelvin mengikuti pandangannya. "Belajar menerima takdir."

Keiko menahan napas, hampir tertawa, lalu menggeleng. "Itu bukan belajar."

"Tetap butuh mental."

Hari ujian berjalan seperti semua ujian di sekolah. Pintu kelas ditutup. Tas dikumpulkan di depan. Pak Arif berjalan di antara meja dengan langkah pelan. Keiko mengerjakan soal satu per satu, pulpen bergerak stabil. Sesekali perutnya terasa tertarik, tetapi dia sudah makan biskuit tawar sebelum ujian dan obat anti mualnya bekerja cukup baik.

Di sebelahnya, Kelvin selesai jauh sebelum waktu habis.

Keiko tidak menoleh, tetapi dari suara kecil pulpen yang diletakkan, dia tahu. Setelah itu, Kelvin hanya duduk diam, menatap lembar jawabannya sendiri. Tidak tidur. Tidak mengganggu. Hanya menunggu waktu habis seperti seseorang menunggu hujan reda padahal dia tahu akan tetap basah.

Hasilnya keluar hari Jumat.

Pak Arif masuk kelas dengan setumpuk kertas dan wajah yang sulit dibaca. Biasanya, Fajar akan langsung berdoa dramatis. Hari itu dia benar-benar menangkupkan tangan.

"Ya Tuhan, semoga nilai gue tidak membuat Mama kecewa."

Putri menyikutnya. "Mama kamu kecewa tiap hari."

"Makanya jangan ditambah."

Pak Arif mengetuk meja. "Cukup. Saya bacakan beberapa hasil."

Kelas langsung hening.

Keiko menunduk, memegang ujung buku catatannya. Dia tidak terlalu khawatir pada nilai. Yang dia khawatirkan justru reaksi setelah nilai keluar. Nilai tinggi selalu menarik tatapan. Dan Keiko tidak menyukai terlalu banyak tatapan.

"Untuk tryout gabungan kelas XI bulan ini," kata Pak Arif, "nilai tertinggi seluruh sekolah adalah Keiko Hartono."

Sunyi satu detik.

Lalu kelas meledak.

"Hah?"

"Serius?"

"Anak baru?"

Fajar berdiri setengah badan. "Keiko, lu manusia kan?"

Putri memukul punggungnya. "Duduk!"

Pak Arif membiarkan kelas ribut beberapa detik sebelum melanjutkan. "Matematika dan Bahasa Inggris sempurna. Kimia hanya salah satu. Biologi salah dua."

Keiko menerima kertas nilainya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Pak."

Pak Arif menatapnya sebentar. Ada kebanggaan di sana, tetapi juga sesuatu yang lebih hati-hati. Seolah beliau ingin mengatakan selamat, sekaligus ingin memastikan Keiko tidak membayar nilai itu dengan tubuhnya.

"Bagus," kata beliau akhirnya. "Tapi jangan lupa istirahat."

"Iya, Pak."

Di sebelahnya, Kelvin tidak bertepuk tangan seperti murid lain. Dia hanya melirik kertas Keiko, lalu mengangkat alis sedikit.

"Sempurna?"

"Tidak semua."

"Hampir semua."

"Masih ada yang salah."

"Kalau kamu salah dua, aku apa?"

Pertanyaan itu baru terasa ketika Pak Arif membagikan kertas Kelvin.

Kelvin menerimanya tanpa ekspresi.

Keiko tidak berniat melihat. Namun angka merah di sudut kertas terlalu mencolok. Rankingnya berada di bagian bawah kelas. Persentase jawaban benar di beberapa mata pelajaran bahkan tidak menyentuh setengah.

Fajar yang duduk di depan melirik, lalu wajahnya menjadi rumit. Untuk sekali itu, dia tidak bercanda.

Pak Arif berjalan kembali ke depan. "Nilai buruk bukan vonis. Nilai bagus juga bukan alasan sombong. Yang penting, kalian tahu posisi kalian sekarang."

Kelvin melipat kertas nilainya menjadi dua.

Keiko melihat gerakan itu. Rapi, cepat, seperti orang yang ingin menghilangkan bukti tanpa terlihat peduli.

Saat istirahat, dua guru dari kelas unggulan datang ke pintu XI-IPA 4.

Salah satunya memanggil Keiko dengan ramah. "Keiko, bisa sebentar?"

Kelvin mengangkat mata sekilas. Fajar langsung menoleh penuh minat.

Keiko keluar ke koridor. Di sana, dua guru itu tersenyum dengan sikap yang sangat sopan.

"Kami sudah melihat hasil tryout kamu," kata guru perempuan berkacamata. "Dengan nilai seperti ini, kamu akan lebih berkembang di XI-IPA 1. Lingkungannya lebih kompetitif, materi tambahan lebih cepat."

Guru lainnya menambahkan, "Pak Herman juga setuju kalau kamu dipindahkan. Tentu kami akan bicara dengan Pak Arif dan orangtuamu."

Keiko menggenggam kertas nilainya.

Kelas unggulan.

Jika dia adalah murid biasa dengan masa depan panjang, mungkin itu kabar baik. Lingkungan lebih kompetitif, teman-teman yang sama cepat, guru yang fokus pada olimpiade dan jalur prestasi.

Tetapi pikirannya justru kembali ke bangku paling belakang XI-IPA 4.

Ke meja yang separuhnya sering ditempati buku hitam Kelvin.

Ke satu batang kembang api kecil di tengah gelap.

Ke kertas nilai merah yang tadi dilipat terlalu cepat.

"Terima kasih, Bu, Pak," kata Keiko pelan. "Tapi aku mau tetap di kelas ini."

Kedua guru itu saling memandang.

"Kamu tidak perlu buru-buru menjawab."

"Aku sudah menjawab."

"Boleh tahu alasannya?"

Keiko menoleh ke arah pintu kelas. Dari dalam, dia bisa melihat Fajar pura-pura tidak menguping, Putri menarik kerahnya agar menjauh, dan Kelvin duduk diam menatap luar jendela.

"Aku baru pindah," kata Keiko. "Aku masih ingin menyesuaikan diri."

Itu bukan seluruh alasan.

Tetapi cukup untuk sekarang.

Sore itu, Pak Arif memanggilnya setelah kelas selesai. Beliau tidak memaksa pindah. Hanya bertanya, "Kamu yakin?"

Keiko mengangguk. "Iya, Pak."

"Karena Kelvin?"

Pertanyaan itu terlalu langsung.

Keiko terdiam.

Pak Arif tidak mendesak. "Kalau kamu ingin membantu teman, itu baik. Tapi jangan lupa membantu dirimu sendiri."

Keiko memegang tali tas. "Saya tahu, Pak."

Malamnya, Keiko duduk di meja belajar dengan lampu kecil menyala.

Di samping buku catatan, ada kertas nilai Kelvin yang dia pinjam diam-diam setelah meminta izin singkat. Kelvin tadi hanya berkata, "Buat apa?" dan Keiko menjawab, "Mau lihat bagian mana yang salah." Dia memberi kertas itu dengan wajah seperti tidak peduli, tetapi tidak menolak.

Sekarang, Keiko menandai satu per satu soal yang sebenarnya bisa diperbaiki.

Dia membuat tiga kategori.

Dasar yang belum paham.

Salah hitung karena terburu-buru.

Kosong karena menyerah sebelum mencoba.

Kategori ketiga paling banyak.

Keiko berhenti sebentar, menekan perutnya yang mulai nyeri. Di meja sebelah, obat malam menunggu. Di bawah buku, abu kecil dari kembang api masih tersimpan rapi.

Dia menarik napas, lalu lanjut menulis.

Jika dia tidak punya banyak waktu, setidaknya waktunya harus meninggalkan sesuatu.

Kalau dia bisa membantu Kelvin naik, meski sedikit, mungkin suatu hari nanti cowok itu akan punya jalan keluar yang tidak diberikan keluarganya.

Keiko menandai soal berikutnya dengan pulpen ungu muda.

Malam semakin larut.

Di halaman paling atas, dia menulis judul kecil:

`Untuk Kelvin. Mulai dari sini.`

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!