Hana, seorang wanita sebatang kara yang tiba tiba diajak menikah oleh bos barunya.
"Tapi pak! Inikan masalah hati?"
"Saya tak suka ditolak."
"Dan saya tak suka dipaksa."
Akankah keduanya akan benar benar menikah?
Bagaimana kehidupan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zainuri I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluh Enam
"Pria itu???????" batin Hana. Kini tubuhnya menggigil ketakutan. Keluar keringat dingin dari pelipisnya dan wajahnya pucat. David yang melihat muka Hana pucat menjadi khawatir.
"Sayang" panggil David memegang bahu Hana. Hana tersentak kaget saat David memegangnya.
"Mas.. a...a...aku mau pulang" ucap Hana gagap.
"Om, paman dan Andi maaf ya sepertinya Hana kurang enak badan. Kita pulang dulu lain kali bisa bertemu lagi" pamit David.
David meletakkan beberapa lembar uang merah dan menggandeng Hana.
Brukk
David terkejut saat genggaman tangannya terlepas dan Hana terkulai di lantai.
"Hana... sayang bangun Na. Aku akan bawa kamu kerumah sakit"
"Aku ikut Vid" kata Baron.
"Kamu temani aku disini Ron" pinta Berto yang kini wajahnya terlihat muram.
"Andi kamu temani nak David. Kamu bantu dia menyetir" perintah Berto pada Andi dan tiada bantahan.
David menyerahkan kunci mobilnya pada Andi dan dia menggendong Hana menuju mobil.
Sementara didalam reatoran.
"Gadis itu???????" batin Berto.
"Kenapa denganmu Berto? Wajahmu terlihat kusam saat bertemu istri David?" tanya Baron.
"Baron, kau masih ingat dengan gadis yang kuceritakan?"
"Maksudmu anaknya Indra dan Yani?"
"Iya"
"Jangan bilang kalau Hana adalah anak mereka?" tanya Baron selidik dan diangguki lemah oleh Berto.
BUUG
Baron mendaratkan bogemnya tepat dipipi Berto.
"Selama ini aku masih bisa menahan agar aku tak memukulmu Berto. Tapi maaf kali ini aku tak bisa menahannya" geram Baron.
"Itu untuk Yani dan Indra yang telah kau bunuh"
BUUG
"Dan itu untuk Hana yang kau buat sebatang kara. Kini dia adalah ponakanku"
"Hukum aku Ron. Aku pasrah aku memang salah. Bantu aku bicara pada Hana. Aku akan jelaskan semua padanya. Kalau perlu aku berlutut dikakinya" pinta Berto memohon dengan derai airmata.
"Bangunlah. Bagaimanapun kamu adalah sahabatku. Aku tidak yakin Hana akan mau bertemu denganmu. Melihat gelagatnya saat melihatmu saja aku sudah yakin kalau dia tak akan mau menemuimu" suara Baron melunak.
"Aku mohon bujuklah dia untuk mau bertemu denganku. Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku jika dia memintanya. Aku mohon Ron, saat ini hanya kamu yang bisa menolongku. Aku sudah lelah menanggung dosa ini Ron" pinta Berto memelas.
Melihat sahabatnya begitu menyesal dan rapuh, Baron pun tak tega melihatnya.
"Aku akan berusaha membujuknya namun aku tidak janji tapi aku usahakan yang terbaik" Baron memutuskan untuk membantu.
"Hana memang harus tahu semuanya" batin Baron.
"Terimakasih Ron. Terimakasih" ucap Berto tulus. Baron menepuk bahu Berto untuk menguatkan Berto. Baron tahu betapa tersiksanya dia saat mengetahui kisah Indra dan Yani yang sebenarnya. Bahkan Berto masih ingat dengan kepasrahan mereka saat disiksa oleh anak buahnya. Mereka hanya meminta untuk melepaskan putrinya. Semua ingatan kembali berputar dikepala Berto membuatnya semakin sesak.
"Aku telah balas dendam dengan membabi buta. Aku telah memisahkan Hana dengan orangtuanya serta saudaranya. Aku berjanji akan memperbaikinya" ucap Berto.
"Berdoalah semoga Hana mempunyai segudang maaf untuk memaafkanmu. Lakukan apa yang harusnya kau lakukan. Ayo kita menyusul kerumah sakit. Kita belum tahu kabar Hana"
"Boleh kita makan dulu? Aku lapar karena kitakan tadi janji makan siang sehingga aku tak makan sebelumnya" kini Berto telah kembali semangat.
"Baiklah lagi pula sudah dibayar jadi sayangkan kalau dianggurin. Soal makanan aja langsung semangat" cibir Baron dan Berto hanya tertawa. Mereka pun menikmati hidangan dengan lahap.
Sementara dirumah sakit.
"Dokter... Suster.... tolong istri saya" teriak David saking khawatirnya.
"Baik pak silahkan bawa keruangan akan saya periksa. Bapak yang tenang" kata Dokter.
David langsung membawa keruang periksa dokter tanpa menghiraukan ucapan dokter. Andi yang tak mengenal mereka hanya menunggu diluar tanpa mau mengganggu. Dokter selesai memeriksa dan menemui David dimeja prakteknya sementara Hana masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya David begitu Dokter Irfan duduk.
"Bapak tenang saja istri bapak sehat semuanya normal. Perkiraan saya istri anda hamil sekitar empat minggu" jelas Irfan.
"Istri saya hamil dok?" tanya David tak percaya.
"Iya pak. Bapak bisa melakukan USG di dokter kandungan nanti untuk memastikan lagi. Dan saya harap bapak menjaga istri anda dengan baik. Istri anda hanya syok tadi hingga menyebabkan beliau pingsan. Jangan terlalu lelah dan hindari stres karena tidak baik untuk janin" nasihat dokter.
"Baik dok. Semua saran anda akan saya penuhi" jawab David antusias.
"Saya beri vitamin silahkan nanti ditebus dan beri nutrisi yang baik untuk istri anda. Istri anda akan segera kami pindahkan keruang rawat inap" jelas Irfan.
"Baik dok. Terimakasih"
"Sama sama pak"
Mereka berjabat tangan dan Hana yang masih belum saar dipindahkan keruang VVIP untuk dirawat sementara. Itu adalah permintaan David yang terlalau mengkhawatirkan istrinya walau dokter bilang tak perlu dirawat. David dan Andi mengikuti suster yang memindahkan Hana. David menemani Hana hingga lupa bahwa dia belum makan siang begitupun Andi.
Sudah hampir duapuluh menit namun Hana belum juga sadar. David masih menggenggam tangan Hana dan Andi duduk disofa. Tak lama kemudian Baron datang beserta Berto disusul dengan Pras dan Dela.
"Bagaimana keadaan menantuku?"
"Bagaimana ponakanku?"
"Bagaimana istrimu?"
Berondongan pertanyaan datang secara bersamaan ketika semua orang masuk dalam ruangan.
"Tenanglah semua. Hana tidak apa apa. Hanya saja tadi dia Syok" jelas David yang belum mengabarkan tentang kehamilan Hana.
"Kenapa Hana bisa syok? Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dela khawatir.
Baron melirik Berto dan sudah mengira apa penyebab Hana syok.
"Aku menunggu diluar saja dengan Berto" pamit Baron agar saat Hana tidak melihat Berto.
"Aku ikut pa" kata Andi.
"Tidak kamu disini saja. Papa mau bicara sama om Baron dulu" larang Berto. Andi hanya mengangguk.
"Kalian disini saja. kau Berto sudah lama kita tidak kumpul kenapa harus diluar?" tanya Pras. Berto memandang Baron untuk minta bantuan.
"Aku ada kabar gembira buat kalian" David menengahi sehingga semuanya diam.
"Alhamdulillah Hana hamil dan aku akan menjadi ayah" teriak David kegirangan dan senyum mengembang.
"Hana hamil? Alhamdulillah Pa kita akan jadi kakek dan nenek" Dela terharu dan memeluk suaminya.
"Selamat Vid. Aku akan menjadi kakek juga" Baron memeluk David disusul dengan Berto yang juga mengucapkan selamat.
"Selamat ya kak aku turut senang" Andi menyalami David.
Dela memeluk David dan juga Pras ikut memeluk anak dan istrinya.
"Sudah sudah pelukannya. Aku mau keluar dulu dengan Berto. Ada yang harus kita bicarakan" Baron mencari alasan agar tak ditahan lagi. Mereka memgangguk dan melepaskan pelukan.
"David sayang. Terimakasih akhirnya mama akan menjadi nenek" ucap Dela
"Iya nak papa sangat bahagia. Rasa yang dulu papa rasakan saat mendengar mamamu hamil kini papa rasakan kembali. Kalian adalah anugerah buat mama dan papa"
"David juga bahagia ma, pa. Aku gak sabar untuk segera memberi tahu Hana soal kehamilannya. Tak heran jika hari ini Hana bertingkah aneh. Ternyata hormon kehamilannya yang bekerja" kata David terkekeh.
Dela dan Pras dibuat penasaran hingga David bercerita tentang prilaku Hana hari ini. Dela dan Pras tertawa dan geleng geleng kepala.
"Apa wanita hamil selalu bertingkah aneh?" batin Andi yang masih bisa mendengar cerita David dari sofa yang ia duduki.
.....
NEXT
.....
Bagaimana readers? Sesuai prediksi gak? Hehehe Kejutan dong! Author gak tega kalau bikin hati Hana hancur menikah dengan keluarga pembunuh. Jadi nikmati alurnya aja yah? Hehehe
Thanks buat dukungannya. Jangan lupa like dan komment. Terimaksih juga buat penyemangatnya.
maaf komentarnya telat, sdh end ceritanya.
sy baru membacanya.