Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Tanggal lima belas Juli, Kiana menyalakan lampu ruang kerja kecil di apartemennya sebelum langit benar-benar terang.
Di atas meja, dokumen terbuka seperti medan perang.
Salinan wasiat Mendiang Engkong Lim.
Akta perkawinan dari Catatan Sipil.
Video demo Langit AI.
Laporan keuangan Navara Tech setelah prepayment Vista Home masuk.
Draft perbandingan Langit AI dan Cakrawala AI.
Serta satu map merah yang ia beri label pendek: RUPS Bintang Grup.
Kiana membaca klausul wasiat untuk ketiga kalinya pagi itu. Kalimatnya kering seperti bahasa hukum, tetapi di mata Kiana, setiap kata seperti pisau yang ditinggalkan Engkong untuk membelah kabut.
Ahli waris perempuan garis langsung keluarga Lim, apabila telah mencapai usia dua puluh lima tahun dan telah mencatatkan perkawinan secara sah menurut hukum Republik Indonesia, berhak mengaktifkan empat puluh persen saham dengan hak suara Bintang Group yang sebelumnya ditahan dalam perwalian keluarga.
Empat puluh persen.
Selama ini angka itu terdengar seperti cerita lama yang sengaja dibuat jauh dari tangannya. Papa selalu berkata prosesnya rumit. Papa bilang Engkong hanya ingin Kiana belajar sabar. Papa bilang gadis muda tidak boleh terburu-buru memegang kendali.
Sekarang Kiana memegang akta perkawinan di tangannya.
Tinta tanda tangan petugas Catatan Sipil masih terlihat jelas di salinan legalisir. Nama Kiana Lim berdiri sejajar dengan nama Hans Kei.
Pernikahan yang awalnya ia pakai sebagai jalan keluar, besok akan menjadi pintu masuk ke ruang yang sejak dulu seharusnya tidak pernah dikunci darinya.
Ponselnya bergetar.
Vani menelepon.
Kiana mengangkat sambil menyalakan mode speaker. "Pagi-pagi begini, kabar buruk atau sangat buruk?"
"Kia, lo suka banget ramalan jelek." Suara Vani terdengar serak, mungkin baru bangun, tetapi ritmenya sudah tajam. "Papa lo mulai gerak."
Jari Kiana berhenti di atas stabilo.
"Siapa yang dia hubungi?"
"Minimal tiga komisaris lama, termasuk Om Song. Dia pakai narasi yang sama: Kiana masih emosional, Navara cuma menang karena kasihan dari Vista Home, dan RUPS besok sebaiknya langsung mengesahkan Vanya sebagai VP teknologi biar Bintang nggak kehilangan momentum."
Kiana menatap video demo Langit AI di layar laptop. Di sebelahnya, folder Cakrawala AI berisi catatan kerusakan sistem, patch sementara Vanya, dan laporan Benny Song yang dikirim lewat jalur aman.
"Dia ingin rapat dimulai dengan agenda Vanya," kata Kiana.
"Iya. Dan dia mau bikin kesan semua orang sudah sepakat sebelum lo buka suara."
"Klasik."
"Kia, ini bukan cuma klasik. Ini jahat tapi rapi."
"Maka kita balas dengan lebih rapi."
Vani terdiam setengah detik. "Lo sudah tidur?"
"Nanti."
"Itu jawaban orang yang belum tidur."
"Aku tidur dua jam."
"Ya ampun."
"Vani, fokus."
Vani menarik napas. "Oke. Hitungan saham. Papa lo masih pegang tiga puluh lima persen hak suara aktif. Ada lima belas persen yang secara resmi dipegang nominee lama dari jalur Kiara, tapi semua orang tahu itu ikut Papa. Total lima puluh persen."
"Betul."
"Kalau empat puluh persen milik Engkong aktif atas nama lo, total hak suara aktif berubah. Papa tetap tiga puluh lima, blok Kiara tetap lima belas, tapi denominator jadi sembilan puluh. Posisi Papa turun dari pengendali mayoritas menjadi blok besar yang bisa dilawan."
Kiana menulis angka di kertas putih.
35.
15.
40.
Kemudian ia menggambar lingkaran kecil di sekitar angka terakhir.
"Papa tahu itu," kata Kiana. "Makanya dia menahan proses warisan selama ini."
"Besok dia pasti serang akta nikah lo."
"Aku sudah siapkan legalisir asli, salinan notaris, dan bukti pencatatan Catatan Sipil."
"Dia akan tanya siapa suami lo."
Kiana melirik nama Hans di akta. Entah kenapa dadanya bergerak pelan, seperti ada sesuatu yang mengetuk dari dalam.
"Aku akan jawab secukupnya."
"Kalau dia merendahkan Hans?"
"Dia pasti merendahkan Hans."
"Dan lo?"
Kiana menutup map akta perkawinan dengan tenang. "Aku tidak akan membiarkan dia memakai profesi Hans untuk menghina hak hukumnya sebagai suami sahku di Catatan Sipil."
Vani menghela napas. "Nah, itu baru Kia."
Setelah telepon ditutup, Kiana pergi ke Navara Tech.
Kantor belum ramai saat ia tiba. Hanya Fang yang sudah duduk di ruang rapat kecil, ditemani dua gelas kopi hitam dan laptop yang menyala.
"Bu Kiana, data perbandingan sudah masuk semua," katanya.
"Dari Benny?"
"Pak Benny mengirim log internal Cakrawala AI lewat kanal aman pukul tiga pagi. Lina membantu membersihkan data uji Navara. Saya susun menjadi tiga matriks utama: stabilitas sistem, akurasi prediksi, dan waktu respons."
Kiana duduk di depannya. "Hasilnya?"
Fang memutar laptop.
Tabel pertama menampilkan grafik stabilitas. Garis Langit AI naik tenang, hampir tanpa lonjakan error. Garis Cakrawala AI terlihat seperti detak jantung orang panik.
"Pada beban seratus ribu request simulasi, Langit AI menjaga error rate di bawah nol koma delapan persen. Cakrawala AI naik sampai enam koma dua persen setelah menit ketujuh belas."
Kiana membuka tabel kedua.
"Akurasi prediksi?"
"Langit AI unggul dua belas persen pada pola anomali. Khusus modul risk detection, unggul delapan belas persen."
"Waktu respons?"
"Rata-rata Langit AI lebih cepat tiga ratus dua puluh milidetik."
Kiana membaca angka-angka itu tanpa senyum. Bukan karena ia tidak puas. Justru karena data itu terasa seperti anak yang lama diculik lalu akhirnya kembali membawa bukti bahwa ia masih hidup.
Langit AI adalah sistem yang ia bangun dari nol.
Di kehidupan sebelumnya, ia membiarkan nama itu tenggelam di bawah nama orang lain.
Kali ini tidak.
"Buat versi presentasi satu halaman," kata Kiana. "Jangan terlalu teknis. Komisaris lama tidak perlu melihat seluruh log. Mereka hanya perlu mengerti satu hal: kalau besok Papa memaksa Vanya memimpin Cakrawala, dia sedang memilih sistem lebih lemah untuk melindungi orang yang salah."
Fang mencatat. "Saya siapkan sebelum sore."
"Dan simpan file mentahnya di drive terenkripsi. Kalau ada yang menuduh angka ini dibuat-buat, kita buka audit trail."
"Siap."
Fang menatapnya sejenak. "Bu Kiana, besok ruangan itu tidak akan ramah."
"Aku tahu."
"Pak Hendro akan datang dengan semua orang yang pernah takut pada beliau."
Kiana mengambil kopi, menyesapnya meski pahit. "Bagus. Besok mereka bisa belajar takut pada orang yang tepat."
Fang tidak tersenyum lebar, tetapi matanya menyala.
Sepanjang hari, Kiana bergerak seperti orang yang tubuhnya sudah melewati batas lelah tetapi pikirannya menolak berhenti. Ia memeriksa urutan dokumen, menandai pasal, menyusun slide cadangan, mengirim satu set materi ke Pengacara Tjen, lalu menerima revisi bahasa hukum darinya.
Sore berubah menjadi malam.
Lampu gedung seberang menyala satu per satu. Di apartemen, Kiana kembali duduk di meja kerja dengan rambut diikat asal, blazer dilempar di kursi, dan laptop menampilkan video demo Langit AI yang diputar ulang tanpa suara.
Ia menulis catatan terakhir:
Jika Papa menyangkal akta, tunjukkan legalisir.
Jika Papa menyerang Hans, kembalikan ke klausul hukum.
Jika Vanya masuk agenda, pakai data Cakrawala.
Jika komisaris ragu, panggil nama Engkong.
Kalimat terakhir itu membuat tangannya berhenti.
Engkong.
Kiana masih ingat suara lelaki tua itu saat ia kecil, berat tetapi hangat, berkata bahwa bintang tidak perlu minta izin untuk bersinar.
Ia tersenyum tipis, lalu kepalanya semakin berat.
Saat Hans masuk hampir pukul sembilan, Kiana sudah tertidur di atas meja.
Pria itu berdiri di ambang pintu sebentar. Di layar laptop, video demo Langit AI berhenti pada gambar simulasi rumah pintar yang menyalakan rute evakuasi. Di sebelah tangan Kiana, akta perkawinan legalisir terbuka, nama mereka berdua terkena cahaya lampu meja.
Hans tidak membangunkannya.
Ia mengambil jaket tipis dari sofa, menyampirkannya ke bahu Kiana, lalu menutup laptop pelan setelah menyimpan dokumen yang terbuka. Gerakannya hati-hati, seolah kertas-kertas itu bisa ikut terluka kalau disentuh kasar.
Di dapur, ia membuka kulkas.
Satu jam kemudian, aroma bawang putih, jahe, dan sup hangat memenuhi apartemen.
Kiana terbangun karena perutnya berbunyi.
Ia mengangkat kepala dengan bingung. Pipi kirinya terasa hangat karena terlalu lama menempel pada lengan. Di bahunya ada jaket Hans. Di meja kerja, laptop sudah tertutup. Map merah RUPS tersusun rapi, bukan disingkirkan, hanya dipindahkan sedikit agar tidak terkena noda.
Dari dapur terdengar suara piring.
Kiana berdiri perlahan.
Di meja makan ada empat lauk dan satu sup: ayam kecap jahe, tumis brokoli daging, telur dadar daun bawang, tahu saus tiram, dan sup jagung wortel. Tidak mewah, tetapi semuanya masih mengepul.
Di samping mangkuk nasi, ada satu sticky note putih.
Tulisan Hans tegas, miring sedikit, dengan tekanan pena yang dalam. Setiap huruf seperti digores, bukan sekadar ditulis.
Makan dulu. Langit belum runtuh.
Kiana menatap kalimat itu lama sekali.
Ada banyak orang yang pernah berkata mereka peduli padanya.
Jovian dulu berkata ingin melindunginya, lalu memberinya obat agar ia tidak hamil. Papa berkata semua yang ia lakukan demi keluarga, sambil memindahkan uang keluarga ke perempuan lain. Bahkan beberapa orang di Bintang Grup berkata mereka menghormati Engkong, tetapi diam saat hak Kiana ditahan.
Hans tidak berkata banyak.
Ia hanya memasak ketika Kiana lupa makan, menutup laptop ketika ia tertidur, dan menulis bahwa langit belum runtuh karena ia tahu sistem yang Kiana bangun bernama Langit.
Kiana duduk di kursi makan.
Hans keluar dari dapur sambil membawa sepiring sayur tambahan. "Bangun?"
"Kamu masak semua ini?"
"Tidak ada orang lain di sini."
"Aku kira kamu capek."
"Kamu lebih capek."
Jawaban itu terlalu sederhana sampai Kiana tidak tahu harus meletakkan perasaannya di mana.
Ia mengambil sendok dan mencicipi sup. Hangatnya turun ke tenggorokan, lalu menyebar ke dada. Untuk beberapa detik, semua angka saham, semua wajah komisaris, semua ancaman Papa, terasa mundur satu langkah dari meja makan kecil itu.
"Enak," katanya pelan.
Hans sedang mencuci wajan. "Makan lebih banyak."
"Kamu tidak ikut?"
"Nanti."
"Hans."
Ia menoleh.
"Duduk. Aku tidak mau makan seperti komisaris sedang diperiksa."
Hans menatap kursi kosong, lalu akhirnya duduk di depannya.
Mereka makan dalam diam yang tidak canggung.
Kiana menatap pria di seberangnya. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru mandi setelah shift. Lengan kirinya masih dibalut tipis. Wajahnya tetap dingin, tetapi ia memisahkan cabai dari lauk sebelum menggeser piring ke arah Kiana, seolah itu hal paling biasa di dunia.
Di momen itu, pikiran Kiana melintas tanpa izin.
Kalau ini bukan pernikahan kontrak, mungkin rasanya seperti pulang.
Begitu pikiran itu muncul, telinganya langsung panas.
Ia menunduk cepat dan menyuap nasi.
Hans melihatnya. "Pedas?"
"Tidak."
"Panas?"
"Nasinya."
"Nasinya sudah hangat, bukan panas."
"Kamu banyak tanya."
"Kamu merah."
"Makan."
Hans diam, tetapi kali ini Kiana yakin sudut bibirnya benar-benar bergerak.
Setelah makan, Hans mencuci piring meski Kiana protes. Ia berdiri di depan wastafel dengan lengan baju digulung, gerakannya rapi dan tenang. Kiana duduk di meja, memegang akta perkawinan yang sudah ia masukkan kembali ke map bening.
"Besok dokumen ini akan dibawa ke RUPS," katanya.
Hans tidak menoleh. "Perlu aku antar?"
"Tidak. Vani akan ikut sebagai pendamping hukum."
"Kalau ada masalah?"
"Aku akan telepon."
"Telepon sebelum masalah jadi besar."
Kiana menatap punggungnya. "Kamu selalu siap datang?"
Air mengalir beberapa detik sebelum Hans menjawab.
"Untuk kamu, iya."
Kiana menggenggam map itu lebih erat.
Malam semakin larut. Setelah Hans kembali ke lantai atas, Kiana duduk sendirian di meja kerja. Ia memasukkan akta perkawinan legalisir ke dalam kompartemen dalam tas kerja hitamnya, bersama salinan wasiat Engkong, flashdisk demo Langit AI, laporan Navara Tech, dan matriks perbandingan Cakrawala.
Satu per satu.
Seperti memasukkan peluru ke dalam senjata.
Terakhir, ia menyentuh sticky note Hans dan menyelipkannya di antara halaman buku catatan, bukan di map rapat.
Itu bukan senjata.
Itu pengingat bahwa besok, sebelum ia memasuki ruangan penuh orang yang ingin meremehkannya, ada seseorang yang tahu ia harus makan lebih dulu.
Kiana menutup tas kerja.
Klik kecil dari pengunci terdengar jelas di ruang sunyi.
Besok pagi, akta perkawinan itu akan berada di meja RUPS.
Dan untuk pertama kalinya setelah Engkong pergi, Bintang Grup harus mendengar nama Kiana Lim bukan sebagai anak yang bisa disuruh menunggu, melainkan sebagai pemilik hak suara yang sah.