Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Persiapan Menuju Langkah Baru
Mentari pagi mulai mengintip dari balik bukit, menyebarkan sinar keemasan yang lembut ke seluruh penjuru lembah danau. Rumah kayu tempat tinggal Mizuna kini tampak berkilau segar di bawah sinar matahari itu, seolah turut merayakan pemulihan Haruto. Setelah beristirahat semalaman yang panjang dan tenang, tubuh Haruto terasa jauh lebih ringan, seolah beban berat yang tak terlihat telah terangkat dari pundaknya.
Ia melangkah keluar dari pintu kayu dengan perlahan, menghirup udara pagi yang sejuk dan murni hingga memenuhi paru-parunya. Rasa segar yang luar biasa menjalar ke setiap inci tubuhnya. Aliran mana di dalam dirinya, yang dulu sering bergejolak tak menentu, kini terasa stabil dan tenang, mengalir selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Haruto meregangkan kedua tangannya ke atas, membiarkan tulang-tulangnya berbunyi pelan tanda kelegaan.
"Rasanya... jauh lebih segar daripada sebelumnya," gumamnya sambil tersenyum lebar, menikmati kehangatan matahari di wajahnya.
Tak lama kemudian, sesosok makhluk kecil berwarna biru melompat lincah dari samping, dan dalam sekejap sudah mendarat dengan empuk di bahu kanannya. Pochi memiringkan kepala dengan ceria.
"Pyoo!" suaranya terdengar penuh semangat, seolah ikut merayakan kesembuhan tuannya.
Haruto terkekeh pelan sambil mengusap kepala slime itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga senang melihatmu semangat lagi, Pochi. Kita punya perjalanan panjang di depan kita."
Di teras rumah yang terbuat dari papan kayu jati yang kokoh, suasana sudah tampak sibuk namun tenang. Daichi sedang duduk di bangku panjang, dengan tekun mengasah pedang panjangnya. Suara gesekan halus antara batu asah dan besi baja terdengar berirama, menciptakan melodi pagi yang damai. Tidak jauh dari sana, Mizuna duduk bersandar santai di kursi rotan, sebuah cangkir teh hangat mengepul di tangannya, sementara matanya menatap tenang ke arah danau yang tenang bagai cermin.
Melihat Haruto sudah siap, Mizuna menoleh perlahan dan memberi isyarat dengan kepalanya.
"Kalau kau sudah merasa cukup segar dan siap, duduklah di hadapanku."
Haruto segera berjalan mendekat dan duduk bersila dengan sopan di hadapan gurunya. Pochi tetap setia di bahunya, sesekali berkedip melihat ke arah Mizuna.
Wajah Haruto memancarkan antusiasme yang tak bisa disembunyikan. Ia menatap Mizuna dengan penuh harap.
"Mizuna... apakah hari ini kita akan berangkat? Kita akan segera mencari keberadaan Master Ryuusen, bukan?"
Namun, alih-alih menjawab dengan semangat yang sama, Mizuna hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan ekspresi tenang namun tegas.
"Belum," jawabnya singkat namun pasti.
Haruto tertegun sejenak, kebingungan menyelinap di wajahnya.
"Kenapa? Bukankah beliau memanggilku? Bukankah waktu itu terbatas?"
"Itu benar, panggilan itu nyata dan mendesak," kata Mizuna sambil meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja kayu kecil di sampingnya. "Namun perjalanan menuju tempat keberadaan beliau bukanlah perjalanan biasa. Itu bukan sekadar berjalan kaki dari desa ke kota lain."
Ia menatap tajam ke dalam manik mata Haruto, seolah ingin menanamkan kesadaran penuh ke dalam benak muridnya itu.
"Daerah yang menjadi tujuan kita dipenuhi oleh hutan belantara yang liar dan pegunungan yang terjal. Di sana berdiam banyak monster berbahaya yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah kau lihat di sekitar desa ini. Bahkan petualang berpengalaman dengan peringkat rendah sekalipun tidak diizinkan memasukinya karena risiko kematian yang sangat tinggi."
Haruto terdiam, mendengar penjelasan itu ia mulai menyadari betapa seriusnya tantangan yang menanti. Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan tatapan yang lebih matang.
"Jadi..." suaranya terdengar mantap, "Aku harus menjadi lebih kuat dulu sebelum berani melangkah ke sana."
"Tepat sekali," Mizuna mengangguk puas melihat pemahaman itu. "Ada dua hal utama yang harus kau selesaikan dan kuasai sepenuhnya sebelum kita berani melacak keberadaan Master Ryuusen."
Haruto menyimak dengan seksama, setiap kata yang keluar dari mulut Mizuna dicatatnya di dalam hati.
"Pertama," ujar Mizuna sambil mengangkat satu jari telunjuk. "Kau harus menyempurnakan dasar sihir airmu sepenuhnya. Sihir bukan hanya soal berhasil atau gagal, tapi soal kendali dan kestabilan. Jurus 'Water Ball' milikmu memang sudah berhasil terbentuk, tetapi aku masih merasakan ada getaran, ada ketidaktetapan di dalamnya. Itu tanda kau belum sepenuhnya menyatu dengan elemen air."
Haruto mengangguk pelan, mengakui kebenaran itu.
"Itu memang benar... setiap kali aku mengeluarkannya, rasanya masih ada sedikit ketegangan di dalam dadaku."
"Kedua," Mizuna melanjutkan sambil mengangkat jari kedua. "Kau harus mendaftarkan dirimu sebagai petualang resmi di Guild Lumin."
Mendengar nama itu, ingatan Haruto seketika melayang kembali ke beberapa hari yang lalu. Wajah pengawas guild yang tegas dan kata-kata penolakan itu terngiang kembali di telinganya.
"Kembalilah setelah kau benar-benar berhasil mengendalikan sihirmu, tanpa ragu sedikit pun," begitu ujar pengawas itu.
Haruto mengepalkan tangannya di atas lutut, kuku jari menekan telapak tangan. Rasa penolakan itu kini bukan lagi beban, melainkan pemicu semangat.
"Kalau begitu..." ucapnya dengan tekad yang membara, "Aku akan kembali ke guild itu dan menunjukkan pada mereka bahwa aku sudah pantas berdiri di sana."
Mizuna tersenyum tipis melihat kobaran api semangat itu, namun ia segera menambahkan nada peringatan yang lembut.
"Tapi bukan hari ini."
"Hah?" Haruto mengerjap bingung.
"Sebelum kau pergi ke mana pun, kau harus membuktikannya padaku terlebih dahulu," kata Mizuna sambil menatapnya tajam namun penuh kasih. "Buktikan padaku bahwa kau benar-benar telah menguasai dasar sihir air itu tanpa keraguan sedikit pun."
Haruto menarik napas panjang, mengembuskan perlahan untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia bangkit berdiri dan menatap gurunya dengan pandangan yang jernih.
"Baiklah. Aku akan membuktikannya sekarang."
Tak lama kemudian, mereka semua berjalan menuju tepi danau yang tenang. Pemandangan di sana sama seperti hari-hari sebelumnya, namun suasana hati Haruto terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi rasa cemas yang menggelayuti hatinya. Tidak ada rasa takut gagal yang menghantui pikirannya.
Hari ini tidak ada Haruto yang tergesa-gesa. Tidak ada lagi teriakan panik atau gerakan tangan yang terburu-buru dan kaku.
Haruto melangkah perlahan ke pinggiran air, lalu duduk bersila di atas rumput hijau yang lebat. Ia menutup matanya rapat-rapat dan mulai mengatur napasnya menjadi panjang dan teratur. Pikirannya kosong dari segala gangguan.
Pochi pun ikut duduk dengan tertib di sampingnya, kali ini tidak melompat-lompat atau bercanda. Makhluk kecil itu seolah mengerti pentingnya momen ini.
"Pyoo..." suaranya pelan dan lembut.
Di kejauhan, Mizuna dan Daichi berdiri diam mengamati. Mizuna tersenyum puas melihat perubahan sikap muridnya itu.
"Dia mulai mengerti intinya," bisik Mizuna pelan.
Daichi di sampingnya ikut mengangguk setuju, matanya tak lepas dari sosok Haruto.
"Anak itu tumbuh lebih cepat dari yang kuduga. Peristiwa kemarin dan mimpi itu seolah membuka sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya."
Di tengah keheningan itu, Haruto perlahan mulai merasakan aliran mana di dalam tubuhnya. Berbeda dengan dulu yang terasa seperti air sungai yang deras dan bergejolak di dalam selat sempit, kini mana itu mengalir tenang dan luas bagai aliran sungai besar yang mendekati muara. Halus, konsisten, dan tanpa hambatan sedikit pun.
Sangat pelan, seolah takut mengganggu ketenangan di sekelilingnya, Haruto mengangkat tangan kanannya.
Perlahan...
Setetes air jernih terangkat dari permukaan danau, melayang di udara.
Lalu muncul tetesan kedua.
Kelima.
Kesepuluh.
Kedua puluh.
Satu per satu, tetesan air itu naik ke udara, berputar mengelilingi tubuh Haruto dengan gerakan yang stabil dan berirama sempurna. Tidak ada satu pun yang jatuh atau memercik. Semuanya berkilau terkena sinar matahari bagai permata hidup.
Haruto tetap memejamkan mata. Wajahnya santai, tidak ada kerutan kening yang menandakan ia sedang memaksakan kekuatan. Ia menyatu dengan elemen di sekelilingnya.
Mizuna memandang pemandangan itu dengan kagum, lalu berbisik pelan agar tidak merusak konsentrasi Haruto.
"Bagus sekali... Pertahankan ritme itu."
Haruto mengangguk kecil tanpa membuka matanya, menanggapi instruksi itu dengan gerakan hati.
Kini, ia mulai menggerakkan telapak tangannya perlahan ke arah tengah. Puluhan tetesan air yang melayang itu perlahan bergerak saling mendekat.
Perlahan...
Semakin dekat...
Bersatu!
Dalam sekejap, puluhan tetesan itu menyatu sempurna dan berubah menjadi sebuah bola air besar yang sebening kristal. Permukaannya halus tanpa cacat, tidak berguncang sedikit pun, dan tidak ada tanda-tanda akan pecah. Bola itu melayang diam di udara tepat di depan telapak tangan Haruto dengan kestabilan yang menakjubkan.
Daichi tersenyum lebar, rasa bangga terlihat jelas di wajahnya.
"Water Ball yang sempurna... benar-benar tanpa cacat," puji Daichi dalam hati.
Pochi ikut bersorak pelan, melompat kecil di tempatnya.
"Pyoo! Pyoo!"
Namun Haruto belum berhenti. Ia masih memegang kendali penuh. Dengan gerakan jari yang lincah dan halus, ia mencoba menggerakkan bola air raksasa itu.
Bola itu bergerak memutar mengelilingi tubuhnya dengan mulus.
Ke kanan... lalu ke kiri...
Naik perlahan ke atas kepala...
Turun kembali ke setinggi pinggang.
Semua gerakan berlangsung luwes dan lembut, seolah bola air itu memiliki nyawanya sendiri dan patuh pada setiap keinginan Haruto.
Mizuna memperhatikan dengan saksama setiap perubahan aliran mana di sekitar tempat itu.
"Pengendalian mananya meningkat drastis dalam waktu singkat. Dia benar-benar telah menyerap pelajaran dari mimpi itu," komentarnya dengan puas.
Akhirnya, Haruto perlahan membuka matanya. Tatapannya jernih dan tenang. Bola air itu masih melayang dengan tenang di hadapan telapak tangannya, seolah tidak tergoyahkan oleh waktu. Ia tersenyum puas, rasa bangga yang tulus memenuhi dadanya.
"Aku berhasil..." ucapnya pelan namun penuh keyakinan.
Mizuna melangkah maju mendekatinya, mengangguk dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.
"Ya. Kali ini kau benar-benar berhasil. Tidak ada keraguan, tidak ada ketidaktetapan."
Haruto perlahan menurunkan tangannya dan membubarkan mantra itu. Bola air yang besar itu tidak jatuh berantakan atau memercik ke mana-mana, melainkan terurai halus kembali menjadi butiran-butiran kecil yang jatuh dengan lembut ke permukaan danau, menyatu kembali tanpa menimbulkan riak yang besar.
Melihat pemandangan yang sederhana namun indah itu, Mizuna menatapnya dalam-dalam.
"Itulah ciri sejati seorang penyihir air," ujarnya penuh wibawa. "Mengendalikan tanpa merusak. Menggerakkan tanpa kekerasan. Kau kini benar-benar telah memahami makna mendalam dari apa yang selalu kukatakan padamu."
Haruto menatap pantulan dirinya di permukaan danau yang tenang. Kini ia tidak hanya mengerti secara teori, tapi juga merasakannya di setiap detak jantungnya. Air tidak bisa dipaksa untuk patuh. Air harus dipahami, dihargai, dan diajak bekerja sama.
Daichi berjalan mendekat sambil menyarungkan kembali pedangnya dengan rapi.
"Kalau latihanmu terus berkembang seperti ini," katanya sambil menepuk bahu Haruto dengan ramah, "Aku yakin tidak butuh waktu lama lagi bagi Guild Lumin untuk menerima tangan terbuka sebagai petualang resmi."
Haruto tersenyum penuh keyakinan, matanya berkilauan penuh harapan.
"Aku akan terus berusaha sekuat tenaga agar tidak mengecewakan kalian."
Pochi kembali melompat dengan lincah ke bahunya, seolah memberi dukungan moril tanpa syarat.
"Pyoo!"
Mizuna memandang keduanya—pemuda yang sedang bertumbuh menjadi penyihir hebat dan makhluk kecil yang setia itu—dengan tatapan yang penuh ketenangan namun serius.
"Besok..." suaranya terdengar berat namun penuh harap.
"Aku akan memberikan ujian terakhir untukmu."
Haruto menegakkan tubuhnya, siap menerima tantangan apa pun.
"Jika kau lulus ujian itu," lanjut Mizuna dengan tegas, "Aku sendiri yang akan mengantarmu kembali ke Guild Petualang Lumin. Aku akan memastikan mereka melihat nilai yang sebenarnya darimu."
Mendengar janji itu, semangat Haruto kembali membara tanpa batas. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, menahan kegembiraan yang meluap-luap.
"Baik!" serunya dengan lantang dan penuh semangat.
"Aku pasti akan lulus! Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!"
Angin sore yang sejuk berembus pelan di atas permukaan danau, menciptakan riak kecil yang berkilau terkena sisa cahaya matahari terbenam. Langit berubah warna menjadi jingga keunguan yang indah.