- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-
Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.
Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Cukup!!!"
Arundaya berjalan ke arah Sarita dan Damar sedang berada. Dia tidak bisa menahan ketika melihat Sarita terus menekannya.
Sarita menatap terkejut ke arah Arundaya yang saat ini berdiri di hadapannya, membelakangi Damar. Tanpa rasa takut, Arundaya menatap Sarita.
"Siapa kau?" tanya Sarita.
"Apa pentingnya Anda tau siapa diriku. Aku hanya ingin Anda cukup menekannya. Anda menganggap diri Anda seorang Ibu, namun sikap Anda seperti iblis," tegas Arundaya. Dia bahkan melupakan jika Sarita tau siapa dia, akan menjadi masalah untuk Damar. Dia sudah tidak tahan lagi melihat Damar diperlakukan tidak baik.
"Berani sekali kau mencampuri urusanku. Dia putraku, kau tidak bisa melarangku. Apa hakmu melarangku," jawab Sarita.
"Sudahlah, sebaiknya Ibu pergi. Kita bicarakan ini nanti." Damar merusaha untuk menghentikan perdebatan Sarita dengan Arundaya, karena akan percuma.
"Siapa dia? Kenapa dia ada di rumahmu? Apa kalian--" Ucapan Sarita terhenti ketika dia memikirkan jika mereka berdua memiliki hubungan.
"Jangan terus menekan Damar lagi. Anda harus tau malu, bagaimana Anda bisa memaksanya. Belum lagi Anda selalu menyiksanya. Ibu macam apa Anda, memperjualbelikan anaknya sendiri agar mendapatkan keuntungan, jika Anda Ibuku, aku tidak sudi memanggil Anda dengan sebutan Ibu," ujar Arundaya.
"Tutup mulutmu itu. Jangan ikut campur urusanku!" tegas Sarita, dia juga menunjuk ke arah Arundaya. Dia terpancing dengan ucapan Arundaya.
"Ibu, sudahlah." Damar memegangi tubuh Ibunya. Membawanya keluar rumah, agar mereka berdua tidak semakin memperpanjang perdebatan mereka.
"Kau berani mengusir Ibumu demi wanita murahan ini?" Sarita yang sudah berada di luar mendorong tubuh Damar yang memeganginya.
"Wanita murahan sepertiku masih bisa memanusiakan manusia. Anda seorang Ibu tapi tidak memiliki jiwa Ibu di hati Anda. Anda itu memang seperti Iblis," ujar Arundaya. Dia benar-benar seperti menantang Sarita yang mudah sekali emosi.
"Kau!!!"
"Aku bilang cukup! Kau masuklah rumah dan Ibu pulanglah, aku akan menemui Ibu nanti," bentak Damar.
"Aku akan ikut denganmu saat bertemu dengan Ibumu ini. Nanti jika kamu berangkat sendiri, dia pasti membunuhmu," sahut Arundaya.
"Kau itu memamg wanita jala*g. Kurang ajar sekali kau bicara padaku tidak sopan." Sarita bahkan ingin memukul Arundaya, namun Damar mencegahnya.
"Ada apa ini?" tanya Cahyo ketika melihat keributan.
"Bawa Ibuku pergi dari sini." Damar coba memegangi Arundaya agar dia tidak terus membantah apa yang Sarita katakan.
"Anda membuatnya terluka lagi, Anda berurusan denganku!" Teriak Arundaya.
Sarita tersenyum sinis mendengar Arundaya. "Siapa sebenarnya kau ini. Kau tidak berhak menasehatiku. Damar anakku, apapun yang akan kulakukan, itu hak ku. Kau itu sebenarnya siapa?" Sarita ditarik oleh Cahyo agar masuk ke mobilnya, tapi dia terus saja menatap Arundaya yang coba Damar bawa masuk.
"Damar! Jika kau tidak menemui Ibu nanti. Kau tau apa yang akan Ibu lakukan!" Teriak Sarita.
"Sebaiknya Anda pergi," ujar Cahyo.
"Lepaskan tangan kotormu itu dariku. Lancang sekali kau." Sarita membuat Cahyo mundur dengan mendorong tubuhnya. Dia langsung masuk ke mobilnya dan pergi.
Dia begitu marah saat Arundaya datang dan bicara yang tidak-tidak padanya. "Perempuan itu lancang sekali. Siapa dia, kenapa bisa berada di rumah Damar. Apa dia pacarnya? Kurang ajar anak itu memiliki pacar seperti dia. Aku akan membuatmu menyesal sudah ikut campur," ujar Sarita kesal.
***
Di rumah, Damar membiarkan Arundaya duduk di soda dengan Damar yang berdiri. Bagaimana bisa Arundaya menantang Sarita begitu. Bukannya bicara dengan sopan, namun Arundaya mengatai Sarita iblis.
Damar menatap Arundaya yang menatapnya juga. Dia bersikap salah lagi, Arundaya membuat Damar kesal. Dan pasti apa yang sudah dikatakan pada Sarita akan membuatnya mendapat masalah. Namun, yang terjadi diluar dugaan, Damar tersenyum menatap Arundaya.
"Maafkan aku," ucap Arundaya.
Damar menarik nafas dan menghampiri Arundaya. Duduk di depan Arundaya yang menatap Damar bingung. "Kau tidak perlu melakukan itu. Tapi, kau berani juga membantah Ibuku," tutur Damar, sambil mengusap rambut depan Arundaya dengan tersenyum manis.
"Kamu tidak marah?" tanya Arundaya.
"Tidak. Ya, walau Ibu akan menghabisiku nanti, namun biarkan saja," jawab Damar.
"Tidak bisa. Aku akan bersamamu kalau nanti kamu ingin bertemu dengannya. Aku ingin sekali menjambak rambutnya. Ops ... maafkan aku." Karena terlalu gemas dnegan sikap Sarita, Arundaya lupa jika dia sedang kesal Ibu Damar.
"Bagaimanapun dia Ibuku. Kau tidak perlu bersikap seperti itu."
"Iya, maafkan aku. Aku hanya tidak tahan saat Ibumu terus menekanmu tadi. Maaf aku ikut campur urusanmu. Aku hanya berharap kamu tidak mendapatkan perlakuan kasar dari Ibumu lagi. Aku ingin dia merasa beruntung memiliki putra sebaik dirimu. Maafkan aku,'" tutur Arundaya. Dia tau bagaimana diposisi Damar, karena Arundaya sendiri hanya memiliki Nenek saat kedua orang tuanya memilih ego mereka.
"Sudahlah, aku harap kau bisa bicara lebih sopan jika bertemu nanti. Jangan ladeni dia saat bicara yang buruk, dia memang sudah seperti itu," jelas Damar.
"Walau Ibumu sudah membuatmu menderita, tapi dari bahasa yang keluar dari mulutmu. Kamu seperti tidak dendam padanya, padahal traumamu itu terjadi karena Ibumu."
"Dia Ibuku. Aku putranya. Apa yang aku berikan tidak akan cukup membalas budiku padanya," jelas Damar. Itu sebabnya, sekeras apa Sarita memperlakukannya, Damar tetap memberikan apa yang diminta. Karena itu tanggung jawab Damar.
Arundaya beruntung mengenal pria sebaik Damar, walau memiliki banyak trauma hidup, dia tetap memuliakan Ibunya.
"Ya sudah kalau begitu, aku harus berangkat bekerja," tutur Damar.
"Aku ikut denganmu. Nanti--"
"Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Diamlah di rumah, jika kau bosan kau bisa pergi ke rumah temanmu," sahut Damar, dia tidak ingin membuat Arundaya khawatir.
"Mungkin aku akan ke tempat kerjaku. Mas Rio menyuruhku untuk datang siang ini, ada interview dari pihak Cafe," jelas Arundaya
"Baguslah kalau kau ada kegiatan sekarang. Maaf jika aku seperti menekanmu untuk bekerja, tapi sebenarnya aku hanya ingin kau melakukan kegiatan yang lebih baik." Damar menatap lekat Arundaya yang hanya tersenyum manis mendengar perkataan Damar. Orang lain seperti Damar saja peduli pads Arundaya, walau dia melakukan hal buruk dulu hanya karena keiisengannya, tapi yang Damar inginkan. Arundaya harus menjadi lebih baik.
"Terima kasih, kamu selalu membuatku nyaman dekat denganmu. Kamu selalu membantuku walau aku orang yang hina," imbuh Arundaya.
"Hina tidaknya seseorang bagaimana kita memandangnya. Aku tidak pernah memandangmu hina karena aku juga memiliki masalah. Tapi tunggu, aku pikir kau sejak tadi bicara lebih formal, kau menyebutku dengan kamu?" Damar menatap dengan tersenyum, membuat Arundaya tersipu malu dengan sikap Damar.
"Haruskah aku mulai memanggilku sayang?" tanya Arundaya.
"Bagaimana kau nyaman memanggilku saja." Damar mengalungkan tangannya pada leher Arundaya dan menatapnya lebih dekat.
"Maafkan aku," ucap Arundaya dengan suara lirih.
"Aku mencintaimu," sahut Damar dan langsung mencium bibir Arundaya yang hampir tidak percaya jika Damar mengatakan itu. Ada rasa lega ketika Damar mengatakannya, itu artinya Damar memang menganggapnya sebagai kekasihnya.