Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29:
Pendar redup dari layar ponsel Arka memantulkan cahaya samar di dalam kabin bus yang mulai meliuk menuruni kawasan pegunungan.
Kirei menyandarkan kepala di bahu Arka. Dengar desis pendingin udara dan ayunan lembut kendaraan, matanya sempat terpejam menahan kantuk—sisa lelah usai bertarung habis-habisan di olimpiade. Namun, tepat saat ia hendak terlelap, otot bahu Arka mendadak mengeras kaku.
Kirei membuka mata. "Arka? Kenapa?" bisiknya.
Arka buru-buru mematikan layar, menyelipkannya cepat ke saku jaket. Senyum miring langsung dipasang, terkesan begitu dipaksakan. "Enggak ada apa-apa, Bu Ketua. Cuma ucapan selamat dari anak-anak basket."
Kirei menyipitkan mata. Mengenal Arka selama ini membuatnya tak gampang dikelabui. Tanpa Minta izin, jemari Kirei bergerak gesit merogoh saku jaket Arka dan menyambar ponsel cowok itu.
"Kirei, jangan—"
Kasep. Layar sudah menyala. Foto mereka berdua berdiri di depan rumah minimalis terpampang jelas, lengkap dengan pesan bernada dingin yang menyengat:
"Kalian pikir perang ini sudah usai? Selamat datang di permainan sesungguhnya, Arka dan Kirei."
Napas Kirei tertahan di tenggorokan. Rasa dingin menyergap tengkuknya—bukan karena AC bus, tapi keriapan ngeri yang mendadak melingkupi pikiran.
"Dion kan sudah ditangkap..." cicit Kirei, jemarinya meremas tepi ponsel Arka sampai memutih. "Siapa lagi yang tahu rumah kita?"
Arka mengusap tengkuknya gusar, lalu mengambil kembali benda pipih itu dari genggaman Kirei. Jemari Arka yang tegap dan hangat ganti meremas tangan Kirei yang gemetar, menyalurkan kehangatan yang amat dibutuhkannya.
"Gue bakal minta Farhan dan tim keamanan Kakek melacak nomor ini," kata Arka rendah dan tenang. "Gak usah takut. Siapa pun dia, enggak bakal bisa menyentuh rumah kita."
Kirei menatap iris cokelat pekat Arka. Ketenangan di mata cowok itu selalu jadi jangkar tiap kali badai datang. Kirei mengangguk pelan, kembali menyandarkan kepala ke bahu Arka, membiarkan aroma citrus dan hangat tubuh cowok itu mengikis cemas yang merayap.
Pukul 20.30 WIB.
Taksi yang membawa mereka berhenti di depan pagar rumah minimalis. Suasana perumahan lengang, hanya disirami pendar kuning lampu jalan dan kerikik jangkrik.
Arka mendorong pagar besi, matanya menyapu sekeliling halaman dengan kewaspadaan penuh. Setelah yakin situasi aman, ia memutar kunci pintu depan dan membiarkan Kirei masuk lebih dulu.
Namun, begitu sakelar ditekan dan pendar lampu menerangi ruang tamu, Kirei membeku di tempat.
Di atas meja kaca, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal bersegel lilin merah tanpa nama pengirim.
"Arka..." Kirei menunjuk amplop itu, tangannya bergetar. "Rumah kita... dikunci dari dalam kan waktu kita pergi?"
Arka menggeser tubuh Kirei ke balik punggungnya. Mengabaikan penat yang menumpuk di badan, Arka melangkah mendekati meja lalu memindai kait jendela serta selot pintu. Seluruhnya terkunci rapat, tanpa ada bekas congkelan sama sekali. Benda itu bertengger di sana seolah si pengirim memegang kunci cadangan rumah mereka.
Arka menyambar amplop itu, lalu merobek segel lilin merahnya.
Di dalamnya menumpuk cetakan foto fisik yang sangat detail. Dokumentasi pernikahan rahasia Kirei dan Arka di rumah sakit saat Kakek kritis, draf asli berkas Perjanjian Sembilan Belas Poin, hingga salinan kepemilikan saham Keluarga Wijaya.
Di lembar paling bawah, terdapat selembar kertas putih dengan ketikan tulisan tangan tebal bertinta hitam:
Pernikahan bawah umur demi menyelamatkan aset Wijaya Corp. Ketua OSIS SMA Nusantara memalsukan dokumen demi kekuasaan. Bagaimana kalau besok pagi seluruh media nasional membaca artikel ini di halaman depan?
Dada Kirei terasa dihantam pukulan telak. Seluruh persendiannya meloloskan rasa lemas. Kalau dokumen dan foto-foto ini bocor, bukan cuma predikatnya sebagai Ketua OSIS yang hancur, tapi nama baik sekolah, masa depan Arka, dan kesehatan Kakek yang baru pulih pasti tumbang seketika.
"Ini... ini bukan ulah Dion," Kirei menatap Arka tak percaya. "Dion enggak punya foto-foto pernikahan rahasia kita di rumah sakit!"
Arka mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, merenyukkan kertas ancaman itu dalam genggaman. Rahangnya mengeras rapat, matanya menyipit penuh amarah murni.
"Cuma ada satu orang yang punya akses ke dokumen itu selain Kakek," bisik Arka dingin.
Kirei menahan napas. "Siapa?"
"Asisten pribadi Mama... yang juga pengacara keluarga Hartono," sahut Arka kaku.
Seketika, ponsel di saku celana Arka meraung nyaring. Nama yang terpampang di layar membuat aura di ruangan kian membeku—Eleonora, ibunya.
Arka menggeser ikon hijau, menempelkan ponsel ke telinga dengan raut dingin. "Mama puas sekarang?"
Dari balik pengeras suara, nada bicara Eleonora terdengar teratur, tenang, tanpa sekelumit pun rasa bersalah.
"Mama sudah memperingatkan kamu di restoran kemarin, Arka," ujar Eleonora datar. "Hartono Corp memang tumbang karena keteledoran Dion. Tapi saham dan investasi Mama di sana tidak boleh lenyap begitu saja. Mama butuh alasan sah buat mengambil alih aset Wijaya Corp demi menutupi kerugian."
"Dengan cara menghancurkan hidup gue dan Kirei?!" bentak Arka, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Kamu yang memilih jalan ini, Arka," balas Eleonora santai. "Mama beri kalian waktu sampai besok pagi jam delapan. Serahkan sepuluh persen saham Wijaya Corp atas nama Kirei ke tangan Mama, atau draf artikel pernikahan rahasia kalian meluncur ke seluruh stasiun televisi dan media daring."
TUT... TUT... TUT...
Panggilan diputus sepihak.
Keheningan berat jatuh menimpa ruang tamu itu.
Kirei ambruk di sofa empuk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Setetes air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya lolos juga. Euforia kemenangan di Puncak siang tadi menguap tanpa bekas, berganti kenyataan pahit bahwa lawan paling kejam yang harus mereka hadapi adalah ibu kandung Arka sendiri.
"Sori, Kirei..." suara Arka terdengar serak, sarat rasa bersalah yang mendalam.
Arka berlutut di lantai tepat di hadapan Kirei, menarik lembut kedua tangan cewek itu dari wajahnya lalu memeganginya erat. Iris cokelatnya bergetar hebat.
"Gue yang bikin lo terseret ke dalam gila ini," bisik Arka tulus, menempelkan dahinya ke jemari Kirei yang dingin. "Gue minta maaf..."
Kirei menggeleng pelan. Disapunya sisa air mata di pipi, lalu ditangkupnya kedua rahang Arka. Hangat kulit cowok itu menyalurkan sedikit ketenangan ke nadinya.
"Ini bukan salah lo, Arka," kata Kirei mantap, menatap lurus ke matanya. "Kita kan sudah janji? Kita hadapi ini sebagai suami istri beneran. Gue enggak akan membiarkan Mama lo merusak rumah tangga dan keluarga kita."
Arka terpaku melihat keteguhan di wajah Kirei. Rasa kagum yang buncah membuat Arka mendadak menarik tubuh cewek itu ke dalam pelukan hangat dan protektif. Kirei membalasnya rapat-rapat, menyembunyikan wajah di ceruk leher Arka.
"Gue punya rencana buat besok pagi," bisik Arka tepat di telinga Kirei, senyum miring beraninya kembali terukir. "Tapi buat melancarkan taktik ini... gue butuh bantuan dari Bu Ketua OSIS paling pinter."
Kirei terkekeh tipis di balik bahu Arka, melingkarkan lengan lebih erat. "Sebutkan rencananya, Pak Suami."