kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tolong pertimbangkan aku
Suara jam dinding berdetak pelan, satu-satunya bunyi yang mengisi ruang makan apartemen itu selain detak jantung yang saling berpacu.
Cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja makan yang masih menyisakan dua cangkir teh hangat, namun tak satu pun dari mereka yang menyentuhnya lagi.
Dikta berdiri di hadapan Sera, jarak di antara keduanya tak lebih dari sekejap mata.
Lima tahun terpisah oleh penyesalan, oleh keegoisan, oleh jarak yang terasa mustahil dijembatani. Namun kini, di sini, di ruang makan yang tenang itu, semuanya terasa begitu dekat, begitu miliknya lagi.
"Maafkan aku, Sera..." bisik Dikta, suaranya serak namun penuh ketulusan yang tak lagi ia sembunyikan. "Maaf karena membiarkanmu pergi. Maaf karena butuh waktu selama ini untuk menyadari bahwa dunia tanpa dirimu hanyalah tempat yang hampa."
Mata Sera berkaca-kaca.
Bibir keduanya kembali bertaut.
Katakanlah Sera menjadi perempuan l*r ketika bersama Dikta.
Katakanlah Sera jadi seorang pengkhianat karena melupakan sosok Arga ketika dirinya bersama Dikta yang notabene adalah mantan suaminya. Laki-laki yang menyakiti dirinya dan tak pernah mengganggap dirinya ada selama dua tahun pernikahan mereka.
Dan kini, laki-laki itu pulalah yang berkuasa dengan bibir Sera.
Seperti sebuah alarm yang menyadarkan pikiran Sera saat telapak tangan Dikta yang hangat merayap masuk kedalam sisi pahanya.
Sera menyudahi ciuman itu secara sepihak.
"Dikta.. Jangan! Tolong jangan begini... Kita... Kita bukan lagi sah suami istri... " ucap Sera yang menahan dada Dikta dengan kedua tangannya.
Dikta menelan ludahnya yang terasa kesat.
Sadar akan tindakannya yang tak baik kepada perempuan yang ingin dia rebut hatinya.
"Maaf...Maafkan aku... Aku khilaf.... Tolong jangan berprasangka buruk kepadaku... " ucap Dikta menyesal.
Sera merapikan rok dressnya yang berantakan.
"Ayo, aku bantu..." ucap Dikta ketika melihat Sera yang kesulitan turun dari meja.
Canggung langsung merayap diantara keduanya.
Tanpa banyak kata, Sera langsung berlari menuju kamarnya.
Dia harus menghindar dari situasi ini secepatnya.
"B*doh!! Kau baru saja menghilangkan kepercayaannya...." gumam Dikta begitu dirinya ditinggal sendiri di ruang makan.
...****************...
Usai mematut dirinya di depan cermin dan memperbaiki penampilan yang sempat berantakan, kini Sera keluar dari kamar dengan sebuah koper ditangannya.
Dikta yang baru saja selesai menerima panggilan dari Gavin sempat terperangah sejenak.
"Aku sudah putuskan akan pulang hari ini saja..." ucap Sera sebelum Dikta bertanya.
"Tapi bukankah kau bilang mau besok pagi... Kenapa buru-buru...?" tanya Dikta heran.
"Arga...Arga akan kembali malam ini. Lagipula, aku sudah janji pada Ayah akan membantu beliau untuk mengecek stok persediaan bahan-bahan pertanian karena esok sudah musim panen.... " ucap Sera yang tak sepenuhnya bohong.
"Baiklah...Aku akan minta orang untuk mengantarmu... " ucap Dikta kemudian.
"Tidak! Jangan! Aku nyetir sendiri saja... Aku tidak nyaman berpergian dengan orang asing...."
Lagi-lagi Sera harus membuat alasan yang masuk akal untuk bisa menghindari Dikta.
Dikta memicing curiga "Kau tidak sedang menghindari ku kan? Kau sengaja begini agar aku tidak mengetahui tempat tinggal kau dan Ayah? Iya kan?"
"Tidak! Mau aku sembunyi di lubang semut pun, aku yakin kau pasti bisa menemukan ku... Jadi untuk apa aku merahasiakan tempat tinggal ku darimu..." kilah Sera.
"Baiklah... Kau bisa nyetir sendiri...Tapi hati-hati dan jangan menelepon selagi mengemudi supaya kau tidak menabrak orang dan jadi perawatnya..." ucap Dikta seperti sebuah sindiran telak untuk Sera.
"Yang bisa berbuat demikian kan cuma kau..." balas Sera tak mau kalah.
Dikta hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban dari Sera barusan.
Tak ingin lagi berdebat keduanya jalan beriringan keluar dari unit apartemen Dikta menuju area basemen dimana mobil Dikta dan Sera yang telah keluar dari bengkel terparkir.
Tak ada percakapan diantara keduanya selama berada di dalam kotak besi yang bergerak turun itu.
Hanya sesekali Sera mendengar suara ketikan keyboard pada ponsel Dikta yang mengisi kesunyian diantara mereka.
Melalui pantulan lift, Sera bisa melihat raut wajah Dikta yang berubah-ubah.
Kadang keningnya berkerut, kadang pula matanya menatap serius pada layar ponsel.
Denting pada lift yang berhenti kembali menarik perhatian Dikta.
Tanpa banyak bicara, laki-laki itu menarik koper milik Sera dan melangkah didepannya.
Sera kembali menggigit bibir bawahnya.
Andai saja Dikta bersikap seperti ini selama mereka masih menikah, mungkin saja hubungan mereka masih biaa diselamatkan meski belum ada cinta didalamnya.
Tapi sayang, dua tahun pernikahan justru diiai dengan kebisuan dan ketidakpedulian Dikta terhadapnya. Dan itu membuat Sera memilih mundur dari posisi sebagai istri dari Dikta Jayadi.
"Buka bagasinya..." pinta Dikta ketika tiba di bagian belakang mobil Sera.
Sera menurut.
"Hati-hati menyetir dan kalau bisa, kabari aku jika kau telah tiba..."
Sera mengangguk dan kemudian masuk kedalam mobilnya begitupun Dikta yang masuk dan duduk dibalik kemudi mobilnya.
Mobil Sera bergerak meninggalkan area parkir basemen dibawah tatapan tajam Dikta.
Setelah memastikan mobil Sera benar-benar menghilang, barulah Dikta menghubungi seseorang di seberang sana.
"Ikuti mobilnya dan laporkan semuanya padaku!" titah Dikta
"Jangan harap aku akan melepaskan mu lagi Seraphina...." batin Dikta
Entah apa yang akan direncanakan oleh aki-laki egois ini terhadap mantan istrinya. Tapi yang jelas, dia tidak akan membiarkan Sera kembali menghilang.
Bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪