Jika kau menjadi manusia terakhir, apa yang akan kau lakukan?
Apa yang akan kau rasakan?
Apakah kau merasa kesepian?
Terombang-ambing di Angkasa Lepas
Tanpa adanya satu petunjuk
Hingga pada satu titik
Kau berkhayal kalau kau mendengar suara seseorang
Kau menghiraukan suara-suara itu karena kau mengetahui fakta bahwa kau sendirian.
Terlelap dalam kesepian dan terbangun dalam kegelapan.
Berkhayal bahwa kau merasakan Dunia yang telah hancur.
Hingga akhirnya.
Terbangun kembali di kenyataan.
Dan tak bisa melakukan apapun.
Hingga tiba-tiba seorang wanita muncul di hadapanmu dan menawarkan sebuah kesempatan.
XXXX
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzhar Amrun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Nina
"ayo Alyssa! kita pergi menuju Dermaga!"
Lynn melihat sebuah kilasan, kilas balik dari apa yang terjadi pada Alyssa, sebuah kilas balik yang akan menunjukkan kebenarannya.
"sebentar... aku akan meminta izin kepada orang tuaku terlebih dahulu, tunggulah sebentar disini."
Lynn tak bisa menggerakkan tubuh Alyssa, dia hanya bisa melihat apa yang terjadi melalui mata Alyssa.
"ibu! ayah! aku akan pergi menuju Dermaga bersama dengan Nina!" Alyssa berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"ya, hati-hati jangan sampai terjatuh ke danau... ingat kau tak bisa berenang."
"yaa!"
Alyssa telah meminta izin dari orang tuanya.
Dia kembali menuju depan rumahnya dimana Nina berada.
"baiklah Nina, mari kita menuju ke rumah Dayra dan mengajaknya."
"ya, lebih banyak orangnya maka akan lebih terasa seru." Nina mengatakan opininya.
Nina dia adalah seorang wanita dengan usia remaja pada umumnya, penampilannya sama saja seperti wanita umur 18 tahun pada umumnya dan kalau di masa depan mungkin dia adalah seorang wanita yang disebut kutu buku.
"tentu saja, mengajak cewek tomboy itu akan membuat perjalanan kita di dermaga menjadi lebih menyenangkan."
"kau yang mengucapkannya bukan aku."
"ya, kau benar..."
Alyssa dan Nina berjalan menuju ke arah rumah Dayra.
Lynn sudah berusaha untuk bergerak bebas dan mengendalikan tubuh Alyssa tapi itu gagal, hal ini sama seperti saat dia pertama kali diajak oleh Teala melakukan perjalanan waktu ke masa depan dan Lynn terjebak dalam tubuh kecilnya.
'tapi situasi ini sama seperti saat aku berada di kapal ruang angkasa, tiba-tiba mengingat sebuah ingatan... bedanya saat ini aku mengingat ingatan orang lain dan bukan punyaku.'
Lynn berspekulasi panjang, selagi melihat Alyssa berjalan dengan Nina dia terus memikirkan semua kemungkinan yang terjadi padanya saat ini.
Tapi yang menjadi sebuah pertanyaan adalah, siapa... siapa yang menunjukkan ingatan-ingatan ini pada Lynn, ingatan yang tak diketahuinya, ingatan yang sudah dilupakannya.
...
"ya, kita sudah sampai." Alyssa dan Nina telah sampai menuju rumah Dayra.
Alyssa menyuruh Nina mundur dan dia menyiapkan tubuhnya untuk berteriak.
"Day! apa kau di rumah!"
Semua orang melihat ke arah mereka, Nina khawatir pada Alyssa.
"hei berhentilah berteriak seperti itu."
"ahaha, tak apa tatapan itu hanya tatapan lalu lalang, tak perlu dikhawatirkan Nina."
"ya, tapi tetap saja aku malu."
Tak lama kemudian ada jawaban Dayra dari atas rumahnya.
"ya! sebentar aku ke bawah dulu."
"baiklah kami menggunggumu!"
"ya!"
...
"ada apa kawan-kawan?" Dayra membuka pintu dan langsung menanyakan alasan kedua temannya datang.
"apa yang sedang kau lakukan barusan?" Alyssa bertanya.
"ahh.. tak ada, aku hanya sedang menemani adikku, seperti biasanya hari ini ibuku membantu ayahku berjualan di pasar." Dayra membicarakan kegiatannya hari ini secara terus terang.
"ah..." Alyssa dan Nina menjadi agak ragu untuk mengajaknya.
"?"
"ada apa sebenarnya kalian kesini?" Dayra kebingungan dengan perilaku kedua temannya yang tiba-tiba berubah setelah mengetahui apa yang sedang dilakukannya.
"..."
"ayolah kawan-kawan, bicarakan saja."
"ya.. sebenarnya kita berdua ingin mengajakmu ke Dermaga." Alyssa mengatakan yang sebenarnya.
"Dermaga? bukannya kita sudah sering pergi ke sana?" Dengan polosnya Dayra menjawab.
"ya... kurasa.. karena menyenangkan melihat kapal laut yang lalu lalang..." Nina agak ragu berbicara.
"..." Dayra terdiam sekejap dia memikirkan sesuatu.
"yah... tapi sepertinya aku tak bisa ikut bersama kalian, seperti yang kalian tahu adikku akan sangat rewel jika ditinggal sendirian di rumah." Dayra mengucapkan apa hasil pemikirannya.
Wajah Alyssa dan Nina menjadi murung.
"baiklah... padahal akan lebih menyenangkan jika kau ikut dengan kami..." ucap Alyssa dengan nada kecewa
"ya... bagaimana lagi.." Nina juga.
"!" Dayra mengacungkan tangan dan menggelengkan kepalanya.
Kedua temannya yang hendak pergi jadi terdiam setelah Dayra mengacungkan tangan sembari menggelengkan kepalanya.
"tapi bisa saja aku ikut, setelah adikku tertidur nanti akan ku susul kalian berdua, jangan pulang sampai saat itu yah?" Dayra mengatakan sesuatu yang membuat kedua temannya.
"yahh, sebenarnya apa yang kau lakukan Dayra." Alyssa mengatakan sesuatu yang membuat wajah Dayra memerah karena malu.
"ya.. maafkan aku."
"..."
"ya.. baiklah! jika kau berkata seperti itu, tapi jika sampai sore akan kupukul kepalamu itu sampai membekas."
"baiklah, kurasa itu cukup adil."
"ya, kalau begitu kita akan pergi sekarang."
"ya. hati-hati di jalan, jangan sampai kau tersandung." Dayra berjalan menuju ke dalam rumahnya sembari tak melihat.
"aduh." Dia tersandung sesuatu.
Alyssa dan Nina tertawa kecil mendengar temannya kesakitan karena tersandung sesuatu.
...
Alyssa dan Nina pergi menuju Dermaga berdua karena Dayra berkata kalau dia tak bisa ikut saat ini.
"ada apa Nina? kenapa kau agak murung seperti itu?
"yahh, hanya saja dengan tidak adanya Dayra, aku berpikir kalau keamanan kita takkan terjaga."
"tenanglah, jika kau bersama denganku semuanya akan aman, kau percaya bukan?"
"ya!"
Alyssa dan Nina pergi menuju Dermaga dan tiba-tiba Lynn tertinggal, dia hanya bisa melihat tubuh Alyssa dan Nina dari belakang yang sedang pergi menuju ke arah Dermaga.
...
Lynn tak bisa menggerakkan tubuhnya, dia hanya terdiam di lalu lalang orang-orang yang bahkan tak dapat melihatnya.
...
"Tolong aku Alyssa!" suara menjerit Nina terdengar jelas oleh Lynn di dalam kepalanya.
...
"Tidaak! Bertahanlah hidup Alyssa!" Suara itu terus memasuki kepala Lynn.
...
"apa yang kau lakukan...." Suara kekecewaan itu.
...
"ahaha.." suara cekikihan.
...
"Alyssa!" suara teriakan.
...
"Alyssa!" suara memanggil.
"Alyssa..." suara yang menangis.
...
...
...
...
...
Lynn terlelap dalam suara-suara yang masuk ke dalam kepalanya.
Dia menutup matanya karena dengungan suaranya membuat telinganya sakit.
"Hei Lynn." suara lembut itu menyadarkan Lynn.
!
Dia sekarang ada di sebuah tempat gelap.
Sebuah tempat yang sangat gelap.
"sialan, kenapa aku tiba-tiba berada di tempat seperti ini."
...
"hei Lynn."
Lynn terus menoleh ke arah suara yang memanggilnya itu, tapi tak ada satupun yang ada di sana, suara yang memanggilnya itu terus datang dari segala arah.
"hei Lynn... terima kasih."
"!"
Suara yang berterimakasih itu membuat Lynn mengetahui arah dari suara itu dan dia mendekati suara itu.
Berjalan dan berjalan, dia terus berjalan di kegelapan tanpa arah, tapi dia yakin akan sumber suara yang di dengarnya.
Terus berjalan menuju kegelapan tanpa pengelihatan, hanya menuju ke arah suara itu terdengar.
...
...
...
"hei, kenapa kau kemari." seseorang bertanya pada Lynn.
"tak ada, aku hanya mengikuti suaramu."
"tapi... apa gunanya?"
"karena kau menangis, suara tangisan itu terus membuatku merasa ingin membantumu.."
"apa yang bisa kau bantu, semuanya sudah terjadi tak ada yang bisa kau lakukan."
"tenanglah, aku bisa mendengarkan semua keluhanmu."
"Alyssa"
...
...
...
jangan lupa mampir juga ya