Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Jangan Ganggu Hidup Kami
Keesokan siangnya, Laras menemukan Tania berdiri di depan pagar rumah Adiprawira.
Perempuan itu tidak membawa rantang. Tidak ada senyum manis atau alasan mengantar makanan. Ia berdiri dengan tangan bersilang, masih memakai seragam perawat, seolah sengaja datang dalam pakaian yang mengingatkan semua orang bahwa dirinya punya pekerjaan terhormat dan tempat jelas di kota ini.
"Kita perlu bicara," katanya.
Laras menutup pagar di belakangnya. "Bicaralah."
"Berdua."
"Mas Bram ada di teras. Bu Rahayu di dalam. Kalau pembicaraanmu tidak pantas didengar mereka, mungkin tidak perlu disampaikan."
Tatapan Tania melesat ke teras. Bram memang sedang memeriksa berkas sebelum berangkat ke satuan. Ia tidak mendekat, tetapi jelas memperhatikan.
Tania menurunkan suara. "Kamu tahu aku sudah mengenal keluarga ini bertahun-tahun?"
"Aku tahu kamu sering datang."
"Aku dan Mas Bram dekat."
"Kalau begitu dia pasti sudah memberitahumu bahwa kami akan menikah."
Wajah Tania menegang. "Dia tidak mungkin memutuskan secepat itu kalau tidak terjadi sesuatu."
Laras tidak menjawab.
"Kamu menjebaknya, ya?" desak Tania. "Kamu membuat situasi supaya dia merasa harus bertanggung jawab. Mas Bram orang baik. Dia tidak akan meninggalkan perempuan dalam masalah. Kamu memanfaatkan itu."
Kata `menjebak` menyentuh bagian malam yang masih mentah. Laras mengatur napas sebelum bicara.
"Kamu datang untuk bertanya atau sudah membawa jawaban sendiri?"
"Aku ingin memastikan dia tidak dipaksa."
"Tanyakan kepadanya."
Tania menoleh kepada Bram. "Mas, katakan jujur. Perempuan ini mengancam Mas? Meminta uang? Mengaku sesuatu terjadi agar Mas menikahinya?"
Bram menutup map. Ia berjalan turun dari teras, satu anak tangga demi satu, tanpa tergesa.
"Tidak," jawabnya.
"Mas tidak perlu melindunginya di depanku."
"Saya tidak mengulang jawaban hanya karena kamu tidak menyukainya."
Tania tampak terpukul oleh jarak dalam pilihan kata Bram. Ia memanggil `Mas`, sementara Bram menjawab dengan `saya` dan `kamu`, datar seperti kepada orang luar.
"Tapi aku mengenal Mas lebih lama. Aku tahu Mas tidak percaya pernikahan terburu-buru. Dua perempuan yang Bu Rahayu kenalkan saja Mas tolak. Kenapa dia?"
"Karena saya memilihnya."
Hanya empat kata. Cukup untuk membuat jari Tania gemetar.
Laras tidak merasa menang. Ia justru melihat bagaimana obsesi bisa membuat seseorang berdiri di depan rumah orang lain dan menuntut jawaban atas hubungan yang tidak pernah ada.
"Tania," katanya lebih lembut, "kalau Bram pernah berjanji kepadamu, tunjukkan. Aku akan mendengarkan. Tapi kalau semua ini hanya harapanmu sendiri, jangan jadikan aku pencuri atas sesuatu yang tidak pernah menjadi milikmu."
"Diam!"
Tania melangkah maju dan meraih lengan Laras.
Laras memutar pergelangan, menggeser satu langkah, lalu melepaskan pegangan itu tanpa menarik perhatian lebih besar. Gerakannya cepat dan rapi, kebiasaan dari tahun-tahun ketika ia harus lolos dari tangan Pak Rusdi.
Tania kehilangan keseimbangan sesaat.
Bram langsung berdiri di antara mereka.
"Jangan sentuh dia."
Suaranya tidak keras. Justru karena turun satu nada, udara di depan pagar terasa lebih dingin.
"Mas Bram, aku cuma ingin dia berhenti berbohong!"
"Kamu datang tanpa diundang, menuduh calon istri saya, lalu mencoba menariknya. Yang perlu berhenti adalah kamu."
"Calon istri? Dia tidak punya KTP sampai beberapa hari lalu. Tidak ada keluarga, tidak ada asal-usul jelas. Mas bahkan tidak tahu siapa dia!"
Laras menangkap pengakuan itu. Tania sudah menyelidiki lebih jauh daripada rasa penasaran biasa.
Bram juga menyadarinya. "Dari mana kamu mendapat informasi dokumennya?"
Tania terdiam.
"Saya tanya sekali," lanjut Bram. "Dari mana?"
"Orang kompleks bicara."
"Tidak ada orang kompleks yang tahu tahap Dukcapil Laras kecuali keluarga."
Wajah Tania berubah. Ia buru-buru mengalihkan serangan.
"Aku melakukan ini karena khawatir pada Mas. Kalau nanti dia membawa masalah ke satuan atau nama keluarga, siapa yang menanggung?"
"Saya."
"Mas selalu merasa bisa menyelesaikan semuanya."
"Bukan urusanmu."
Kalimat itu memutus sisa dalih Tania.
Bu Rahayu sudah berdiri di balik pintu, tetapi tidak turun tangan. Ia membiarkan putranya menetapkan batas sendiri.
Bram meraih bahu Laras dan menariknya ke sisi tubuhnya. Pelukan itu tidak berlebihan, hanya tegas, hangat, dan terbuka di depan siapa pun yang kebetulan lewat.
"Tolong jangan ganggu hidup kami lagi," katanya kepada Tania.
Tania menatap tangan Bram di bahu Laras. "Hidup kalian? Kalian belum menikah."
"Izin sedang diproses. Keputusan kami sudah dibuat."
"Mas akan menyesal."
"Itu pun bukan urusanmu."
Bram membawa Laras masuk ke halaman. Ia menutup pagar tanpa membantingnya.
Di teras, Bu Rahayu memegang tangan Laras dan memeriksa bekas cengkeraman. "Sakit?"
"Tidak, Ibu."
Bram masih menatap ke arah pagar. "Mulai sekarang jangan temui dia sendirian."
Laras mengangkat alis. "Aku bisa menjaga diri."
"Saya tahu. Ini bukan soal kemampuanmu. Ini soal dia sudah melewati batas."
Laras tidak membantah lagi.
Bu Rahayu mengajak mereka masuk ke ruang tengah. Wajahnya muram.
"Ibu minta maaf," katanya. "Tania anak teman lama keluarga. Dia sering datang membawa makanan atau membantu kalau ada acara. Ibu tahu dia menyukai Bram, tapi Ibu tidak pernah menjanjikan apa pun."
"Apakah Mas Bram pernah memberi harapan?" tanya Laras.
Bram menjawab lebih cepat daripada ibunya. "Tidak."
"Kamu bahkan tidak berpikir dulu."
"Karena tidak ada yang perlu dipikirkan. Saya tidak pernah mengajaknya keluar, menghubunginya untuk urusan pribadi, atau mengatakan akan menikahinya."
Bu Rahayu mengangguk. "Kalau Ibu tahu kunjungannya membuat dia merasa punya tempat khusus, seharusnya batas itu dipasang sejak lama."
Laras menghargai pengakuan tersebut. Keluarga ini tidak menyalahkan Tania sepenuhnya sambil berpura-pura tak pernah melihat tanda, tetapi juga tidak membebankan obsesinya kepada Bram.
"Informasi tentang KTP-ku lebih mengkhawatirkan," ujar Laras.
"Saya akan laporkan kepada petugas litsus bahwa ada pihak luar menyebut data prosesmu," kata Bram. "Bukan menuduh kebocoran. Kita minta mereka memastikan siapa yang punya akses."
"Kalau ternyata hanya gosip?"
"Lebih baik diverifikasi daripada dibiarkan."
Bu Rahayu meremas jari Laras pelan. "Kamu tidak perlu malu karena dokumenmu bermasalah, Nak. Yang seharusnya malu adalah orang yang memakai kesulitanmu untuk menyerang."
Sapaan `Nak` datang alami, meski belum sehangat kelak. Laras mengangguk dan menyimpan rasa itu diam-diam.
Di luar, Tania belum pergi. Ia berdiri di bawah matahari dengan rasa malu yang membakar lebih panas daripada tatapan warga.
Ia melihat punggung Bram dan Laras menghilang ke dalam rumah.
Tania membuka ponsel. Sebuah pesan permintaan maaf yang sempat ia ketik dihapus sampai bersih. Setelah itu ia mencari satu nomor lama, nomor orang yang biasa menyelesaikan masalah tanpa banyak pertanyaan.
Ibu jarinya berhenti di tombol panggil.
Ia memutuskan untuk tidak mundur lagi.
"Kalau begitu... jangan salahkan aku."