Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Rencana Aidil
Evita menatap sendu kearah makanan di hadapannya. Sejak pagi tadi Aidil bersikeras untuk membuat sarapan untuknya dan Evita.
Evita menghela napas kasar. "Sampai kapan kita akan begini, Nak? Mamih tidak tega melihatmu bekerja keras begini. Kau harus bisa membawa Salma kembali ke rumah ini!" rengek Evita.
Aidil mengulas senyum. "Tanpa sadar ternyata mamih sangat menyayangi Salma. Mamih membutuhkan Salma di sisi mamih."
Evita memutar bola mata malas. "Kau benar! Aku membutuhkan dia. Keluarga ini membutuhkan dia. Makanya kau harus cepat perbaiki keadaan ini!"
"Iya, Mih. Aku akan berusaha untuk mengambil hati Salma kembali. Aku sadar aku sudah melakukan kesalahan."
Evita mengangguk. "Baguslah kalau kau sudah sadar. Jadikan yang lalu sebagai pelajaran. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi."
Aidil menggenggam kedua tangan Evita. "Maafkan aku karena membuat mamih sedih."
Evita mengangguk. Ia mengusap punggung tangan putranya.
Sementara itu, Salma sedang duduk sendiri setelah menghidangkan makanan di meja. Ia menatap makanan itu dan belum mau menyentuhnya.
Salma merasakan kesunyian yang mulai terasa. Ia memasak untuk dirinya sendiri, dan makan juga sendiri.
Salma menyendok perlahan makanan yang dibuatnya. "Ini adalah jalan yang kuambil. Jadi aku tidak boleh menyesalinya. Bahkan sudah terlambat untuk berbalik arah. Aku harus maju kedepan," tutur Salma dalam hati.
...***...
Di benua yang berbeda, Salsa sedang duduk berdua bersama Putra. Di negeri orang ini hanya Putra yang bisa diajak bicara oleh Salsa. Semua keluh kesahnya, Salsa utarakan pada Putra.
"Sebaiknya kau jangan gegabah memberitahu Diyas dan Adit. Mereka masih labil, Sal," saran Putra.
"Iya, aku tahu. Aku juga tidak tega melihat mereka terluka." Salsa nampak sendu.
"Lalu kenapa kau memarahi kak Salma? Tidak seharusnya kau melakukan itu padanya. Saat ini dia pasti sedang bersedih. Aku mendengarnya dari kak Marko, kalau kak Salma datang ke resto dan menangis."
"Haaaah!" Salsa menghela napas.
"Tapi, aku masih tidak percaya jika mereka benar-benar akan bercerai." Putra berkomentar.
"Kau pikir aku percaya? Mereka hidup baik-baik saja selama puluhan tahun." Salsa mulai menyesali perbuatannya pada Salma.
"Memang apa alasannya?"
"Ibuku bilang mas Aidil berselingkuh."
Putra membelalak tak percaya. "Bagaimana bisa?"
Salsa mengedikkan bahunya. Putra merangkul bahu Salsa.
"Minta maaflah pada kak Salma. Selama ini kau bisa hidup enak karena dia kan? Dan jangan beritahu apapun pada Diyas dan Adit. Biarlah kak Salma sendiri yang memberitahu mereka."
Salsa menatap tajam sahabatnya. "Ish! Kau ini cerewet sekali!" sungut Salsa.
"Hehe, aku cerewet demi kebaikanmu." Putra mencubit gemas kedua pipi Salsa. Membuat gadis itu makin menunjukkan tanduknya.
...***...
Siang itu, resto milik Marko didatangi banyak pelanggan yang ingin makan siang. Marko sibuk mengolah makanan di dapur.
"Pesanan meja nomor 10 sudah siap!" seru Marko pada karyawannya.
"Yes, Chef!" Rino, si pelayan langsung membawa makanan itu menuju ke meja pengunjung yang memesan.
Saat Marko masih sibuk memasak, tiba-tiba Tina, resepsionis resto datang ke dapur.
"Maaf, Chef. Ada tamu yang mencari Anda," ucap Tina.
"Siapa?" tanya Marko dengan mengelap tangannya.
"Tuan Aidil, Chef."
Jawaban Tina membuat Marko mematung sejenak. Pikirannya bertanya-tanya untuk apa Aidil datang menemui dirinya.
"Baiklah. Katakan padanya saya akan segera kesana," jawab Marko.
"Baik, Chef. Kalau begitu saya permisi!"
Sepeninggal Tina, Marko mencuci tangan terlebih dahulu sebelum keluar. Tak lupa ia juga melepas apronnya.
"Jerry, kau handle semuanya ya. Saya ada urusan sebentar!" ucap Marko pada asistennya.
"Yes, Chef."
Marko keluar dari dapur dan menuju ke private room dimana Aidil berada. Restoran milik Marko bisa dibilang restoran mewah. Untuk makan disini, pelanggan harus memesan terlebih dulu melalui website.
Bukan karena apa-apa, kesibukan Marko sebagai guru masak dan chef profesional tentunya tidak diragukan lagi. Marko membagi waktu agar semua aktifitasnya berjalan dengan baik. Dan ini sudah dia lakukan selama bertahun-tahun.
Kesibukannya berhasil mengalihkan perhatian pikirannya dari patah hati 20 tahun lalu. Hingga akhirnya ia sendiri lupa untuk mencari kebahagiaan dirinya sendiri dan mencari jodoh.
"Ada apa?" tanya Marko ketika sudah duduk berhadapan dengan Aidil.
"Maaf mengganggu waktumu. Aku hanya ingin meminta tolong padamu."
Marko tersenyum getir. Setelah semua yang Aidil lakukan terhadap Salma, kini ia meminta tolong pada Marko.
"Apa tidak salah kau meminta bantuan padaku?" tanya Marko.
"Tidak! Kau adalah sahabat Salma. Aku yakin kau ingin dia bahagia, bukan?"
Marko menatap Aidil tajam. "Lalu? Apa yang harus kulakukan?"
"Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kembali mengambil hati Salma. Jadi, tolong bantu aku!" Aidil meminta dengan sungguh-sungguh.
Marko berpikir sejenak. "Baiklah. Demi Salma aku akan lakukan apapun yang membuatnya bahagia."
...***...
Salma yang sedang berbelanja dj swalayan, dikejutkan dengan dering ponsel yang ada di tas. Salma meraih ponselnya.
"Mas Aidil?" Dahi Salma berkerut karena mendapat panggilan dari Aidil.
Salma menatap layar ponselnya. Kemudian ia memutuskan untuk menerima panggilan itu.
"Halo, Mas."
"Halo, Salma. Nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam berdua. Bagaimana? Apa kau punya waktu?"
"Makan malam? Tapi, Mas..."
"Baiklah, aku jemput di apartemen jam 7 malam."
Salma bahkan tidak menjawab setuju atau tidak, namun Aidil seolah memaksa Salma untuk setuju. Aidil bahkan langsung menutup panggilan karena tak ingin mendengar penolakan dari Salma.
"Ada apa dengannya?" gumam Salma lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Pukul tujuh malam, Aidil benar-benae datang untuk menjemput Salma. Salma yang tidak menjawab permintaan Aidil, masih santai dengan pakaian rumahan.
"Kau belum bersiap-siap?" tanya Aidil heran.
"Aku tidak menjawab aku setuju!" Salma menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Aidil mengusap wajahnya. "Baik, oke! Aku minta maaf karena aku memaksamu. Tapi..." Aidil menatap Salma penuh harap.
Sejenak keheningan memenuhi ruangan yang mereka tempati.
"Tapi apa?" Salma akhirnya bersuara.
"Aku ingin memperbaiki hubungan kita, Salma. Aku mohon berikan aku kesempatan itu!"
Aidil menatap Salma dalam. Sebuah penyesalan terekam jelas di sorot mata Aidil.
Salma menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kau mau apa, Mas? Hubungan kita tidak akan pernah bisa diperbaiki!"
"Itu karena kita belum mencobanya!" Aidil bersikukuh meyakinkan Salma.
Salma membuang muka dan berjalan menjauhi Aidil. Ia menuju ke balkon apartemennya dan menatap langit malam.
Aidil mengikuti langkah Salma sambil berpikir.
"Baiklah, begini saja. Izinkan aku untuk memperbaiki keadaan. Kau bisa menilai apakah kita masih bisa bersama atau tidak. Anggap saja aku sedang melakukan pendekatan terhadapmu. Jika kau merasa aku tidak layak, maka..." Aidil menggantung kalimatnya. Membuat Salma sontak menoleh.
"Maka aku akan melepasmu..."
Salma menatap Aidil. Ia tahu jika Aidil sedang dalam mode serius kali ini.
"Baiklah. Aku setuju!" sahut Salma.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat