Bercerita tentang hubungan percintaan antara Galih dan Asmara. Sebuah kisah cinta yang dipenuhi dengan berbagai lika-liku kehidupan.
Senang, sedih, air mata serta trauma yang begitu kelam. Keduanya saling jatuh cinta secara instan, namun seiring berjalannya waktu kejadian tak diinginkan pun terjadi.
Hingga mereka dihadapkan pada suatu pilihan, BERTAHAN atau BERAKHIR.
Akankah Asmara dan Galih dapat mempertahankan hubungannya sampai akhir?
Atau Mala berakhir dengan tragis?
yuk baca dan simak kisahnya sampai akhir ya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linsi putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Malam 2
...☘️HAPPY READING☘️...
...-------------...
Dengan perasaan gembira Asmara berjalan kesana kemari, menikmati semua permainan dan hiburan-hiburan yang disuguhkan. Sementara Galih yang pasrah hanya terus mengekori kemana pun gadisnya melangkah.
Berulang kali Asmara mengecupi wajah Galih karena ia benar-benar merasa gembira. Bahkan beberapa kali gadis itu menggodanya guna untuk membuat Galih tak merajuk lagi dan setelah beberapa kali percobaan akhirnya berhasil.
Namun satu hal yang membuat Galih heran, senyum yang terpancar dari Asmara Sangat tampak berbeda malam ini. Membuat Galih kini sadar jika kemewahan yang selalu ia berikan tak sebanding dengan pasar malam ini. Itu terbukti dari cara mata Asmara memandang, sangat terlihat pancaran kebahagiaan didalam manik kebiruannya.
Setelah sekian lama akhirnya Asmara bisa menginjakkan kakinya ketempat seperti ini, terlebih lagi bersama Galih. Kekasih tercintanya. Membuat Asmara tak bisa untuk menyembunyikan kebahagiaannya.
"Kenapa sayang?" tanya Asmara saat tiba-tiba Galih berjongkok dihadapannya.
"Jangan kaya orang kecacingan deh Bee.. jalannya pelan-pelan aja, gak akan ada yang ngejar kamu." ucap Galih perhatian sembari mengikat tali sepatu Asmara yang terlepas.
Senyum dibibir Asmara seketika mengembang. Perlakuan Galih terlalu manis, walau kata-katanya terkadang sangat berlebihan.
"Iya," Jawab Asmara singkat.
Selesai mengikat, Galih pun bangkit dan langsung menarik tubuh Asmara masuk kedalam dekapannya dan menghadiahi kecupan dipucuk kepala gadisnya. Membuat orang-orang yang ada disana menatap iri pada keduanya. Sebab tak hanya cantik dan tampan tapi juga terlihat romantis.
"Suka?"
"Banget..," jawab Asmara manja. Bibirnya tertarik keatas hingga memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Kamu mau kemana lagi, Hmm." tanya Galih saat merasakan pergerakan dari Asmara.
"Mau naik itu," tunjuk Asmara pada benda besar berputar yang tak jauh dari keduanya berdiri.
"Biang keladi," ucap Galih dengan tersenyum.
"Biang keladi?" Asmara tergelak. "Kayaknya namanya bukan itu deh ," sambungnya lalu memukul pelan dada Galih.
"Biang Lala" sahut seseorang dari arah belakang, membuat keduanya langsung melihat keasal suara.
"Namanya biang lala, bukan biang keladi."
Ternyata suara itu berasal dari seorang gadis cantik yang berdiri sendirian tepat dibelakang Galih, membuat Asmara langsung menyergitkan keningnya. Berbeda dengan Galih yang langsung memasang ekspresi kaget, walau hanya sesaat karena buru-buru pemuda itu memasang ekspresi datarnya.
"Mau ngapain sih dia disini," geram Galih menatap tajam gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya itu. Gadis yang sama dengan yang ia temui di minimarket.
"Hai Galih..," sapa Nara dengan ramah, seolah ia sudah sangat lama mengenal pemuda itu.
Asmara melotot dan langsung menoleh kearah Galih.
"Kamu kenal?!"
"Enggak Bee..,"
"Bohong!" tekan Asmara.
"Beneran gak kenal," katanya seraya menarik tangan Asmara agar menjauh dari tempat itu. Lebih tepatnya ia tak ingin Asmara mengamuk karena kehadiran gadis gila bernama Nara itu.
"Terus dia kenapa bisa kenal sama kamu?" tanya Asmara seraya menatap penuh selidik.
"Siapa sih yang gak kenal sama aku Bee.. Galih Bramasta Wijaya, anak konglomerat kaya raya. Terkenal tampan, sombong dan suka menghamburkan uang," ucap pemuda itu berbangga diri sambil merentangkan kedua tangannya. Padahal sebetulnya ia sedang menyembunyikan ketegangannya. Galih tahu Asmara pasti tak akan suka jika ia dekat gadis lain. Membuat pemuda itu langsung memutar otak mencari alasan yang masuk akal demi bisa membuat Asmara percaya.
"Kamu gak lagi bohongin aku kan?"
"Enggak sayang, mana berani aku bohongin kamu." katanya seraya mencubit pipi gadisnya.
"Aku gak bakalan maafin kamu kalo emang kamu ketahuan bohong!"
"Iya Bee.. iya,"
"Ya udah, ayok!"
"Kemana?" tanya Galih bingung.
"Naik itu," tunjuk Asmara kearah biang lala.
"Tapi kan tadi udah,"
"Ya, aku mau naik lagi,"
Galih menggeleng. "Uda kamu disini aja, temenin aku."
"Ih apaan sih!" Asmara merengut bahkan bibirnya maju beberapa senti dan itu sangat terlihat menggemaskan dimata Galih.
"Emang kamu gak mau makan apa gitu, mumpung kita lagi ada disini?"
"Gak!" jawab Asmara dengan ketus. Ia bahkan menyingkirkan tangan Galih yang sedari tadi berada dibahunya.
"Babee..,"
"Hmm,"
"Jangan ngambek dong," bujuk Galih.
"Makanya bolehin aku naik sekali lagi," jawab Asmara, mencoba mencari peruntungan berharap Galih akan menyetujuinya.
Sebenarnya Galih tak tega melihat Asmara sampai memohon padanya, namun jika melihat banyaknya orang-orang mengantri dibagian pembelian karcis membuat Galih mau tak mau harus tegas pada Asmara. jika tidak mereka akan terjebak lebih lama dipasar malam ini. Sementara pemuda itu sudah tak betah berada dikerumunan yang semakin lama semakin padat pengunjungnya.
"Sayang kita pulang aja yuk"
"Gak! aku masih mau disini, kapan lagi coba aku bisa seneng-seneng kaya gini." jawab Asmara acuh tanpa peduli derita yang dirasakan oleh kekasihnya. Bagaimana tak menderita, Kaki Galih kerap kali terpijak oleh pengunjung lain dan itu semakin membuat Galih enggan berlama-lama ditempat ini.
"Aku mau naik itu," Asmara sedikit berlari kearah salah satu permainan yang Galih pun tak tahu apa sebutannya.
Brakkk!
"Aaawwsshh!!" Asmara meringis saat merasakan sakit dibagian kakinya. Ia tak sengaja tergelincir hingga menyebabkan kakinya keseleo.
"Babee!" teriak Galih cukup kuat hingga membuat atensi orang-orang teralihkan kearahnya. Galih segera membantu Asmara bangkit dan langsung membopong tubuh kekasihnya itu untuk sedikit menjauh dari keramaian.
"Aku kan Uda bilang tadi, jangan lari-lari. Kamu kaya anak kecil tahu gak!" semprot Galih saat mereka sudah sampai dibangku panjang yang ada dibelakang penjual pop ice yang tak jauh dari pintu keluar.
"Maaf," cicit Asmara dengan kepala tertunduk kebawah. Matanya menatap dimana kakinya terlihat sedikit bengkok kearah kanan.
"Aku gak butuh maaf kamu Bee.. aku cuma mau kamu dengerin omongan aku. Segitu susahnya ya!" Galih benar-benar memarahi Asmara tanpa ampun. Namun ada kejanggalan yang terdengar ditelinga gadis itu yang membuat Asmara seketika mendongakkan wajahnya hingga tatapan keduanya bertemu.
Asmara membeku, rasa bersalah pun seketika langsung menyelimutinya saat ia melihat mata Galih yang sudah berkaca-kaca dan bibirnya yang sudah bergetar. Mungkin jika berkedip sekali saja sudah bisa membuat air mata kekasihnya itu terjatuh.
"Maafin aku Galih, aku janji gak akan kaya gitu lagi." ucap Asmara dengan penuh penyesalan bahkan air matanya sudah membanjiri kedua pipinya. Ia hanya terlalu bersemangat, hingga membuatnya mengabaikan peringatan yang diberi Galih.
Galih yang melihat Asmara menangis langsung kalang kabut. Ia tak bermaksud membuat gadisnya bersedih.
"Sayang stop please.., jangan nangis please. Maafin aku Uda ngomong gitu sama kamu, please Bee.. jangan nangis." Galih berusaha semaksimal mungkin untuk membuat air mata Asmara tak jatuh.
"Ta-tapi.. hiks.. ka-kamu ta__,"
Ucapan Asmara menghilang seolah tertelan angin saat bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Galih, guna untuk menghentikan tangisan gadis itu.
"Jangan nangis lagi ya," ucap Galih setelah ciuman itu terlepas. Ia mengusap lembut pipi Asmara dengan kasih sayang.
Asmara hanya diam membeku, ia merasa sangat shock atas serangan tiba-tiba dari kekasihnya itu. Dimana Galih menciumnya disini, ditempat umum. Tepat dibelakang gerobak penjual pop ice.
Gila! Galih memang gila..
semangat terus kak, salam dari ARCTURUS, jangan lupa mampir ya
kenapa di kasih keterangan perut bagian depan, kan perut emang cuma di depan😃
semoga asmara dan galih cepet pulih, ntar sama siapa lagi aku nitip pop ice😁🤭
🌹 untuk author,, semangat sllu kka🤗🤗