NovelToon NovelToon
Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Sci-Fi / System / Sistem / Tamat
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arzen Virayz

Jadwal Update: Selasa, Jumat
Sistem itu telah gagal dikembangkan. Pemerintah akan menghentikan aliran dana penelitiannya. Para peneliti pun kecewa. Mereka semua meninggalkan proyek itu kecuali satu orang.

Ini adalah kesalahan. Harusnya benda itu disegel, tapi malah jatuh ke tangan seorang murid di Akademi Altair. Tapi, bagaimana dia bisa menahan beban sistem itu.

"Nak, bekerja samalah denganku," sang peneliti menawarkan. Ia pun mengirim izin rahasia kepada pemerintah untuk melanjutkan proyek itu. Dengan pengawasan ketat, anak itu harus berhasil dididik untuk menjadi cikal bakal Armada Perang Rahasia yang mengendalikan seluruh droid di kekaisaran. Ini akan menjadi kemajuan besar bagi Klan Zarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzen Virayz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 026: Suara Dalam Mimpi

Kelas Zarah sore itu pun dilanjutkan dengan latihan penguasaan bela diri resmi kekaisaran. Master Khaled menyuruh semua muridnya untuk mengulang setiap gerakan sebanyak lima. Waktu yang digunakan untuk melatih seluruh gerakan itu kurang lebih setengah jam tanpa henti.

"Kita cukupkan kelas untuk sore ini. Kita akan bertemu lagi di pertemuan berikutnya. Bagi siapa pun yang tak mampu, enyah saja dari kelas ini! Kelasku bukan untuk mereka yang cengeng dan sukar putus asa," ujar Master Khaled sembari mengepal bogemnya yang besar.

Para murid mengangguk kecil. Sebagian dari mereka memang sudah ada yang berniat untuk mundur. Itu adalah hal biasa bagi kelas tambahan di bawah Departemen Jasus yang berat. Bisa dibilang, itu adalah alur penyaringan bakat.

"Gimana? Masih mau lanjut minggu depan?" tanya Ats sambil merenggangkan tubuhnya yang pegal.

"Lanjut dong," jawab Solar dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Menurutnya, latihan itu masih kurang untuk perkembangan dirinya. Ia ingin merasakan tantangan yang lebih seru lagi.

"Kamu mau minta pelatihan yang lebih menyiksa lagi?" Ats tertegun heran, "Jangan sekarang, ya. Nanti aja di liburan kuartal kedua. Kamu bisa minta kelas ekstra sama beliau. Pokoknya, jangan ajak kami ikut menderita."

"Kelas ekstra?" Solar merasa baru pertama kali mendengar hal itu.

"Iya," Ats mengangguk kecil, lalu menjelaskan, "Kita kan ada libur dua minggu tuh? Nah, waktu murid lainnya libur di rumah masing-masing, kamu bisa menetap dan minta guru mana aja buat membimbing kamu selama dua minggu itu. Itu bisa jadi bonus nilai untuk kamu di akademi. Nilainya bisa berpengaruh buat perjalananmu pascasarjana nanti."

"Hm, bagus sih," Solar menimbang-nimbang, "Kamu nggak mau ngambil kelas ekstra itu?"

"Nggak dulu deh," Ats mengangkat kedua tangannya sedada—mengisyaratkan penolakan—sambil tersenyum simpul, "Aku mau pulang ke rumah keluargaku di Wilayah Asir."

"Ck! Masa tekadmu cuma segitu sih?" Solar berusaha mengubah keputusan Ats, "Bukannya lebih bagus menetap di sini? Lagian, di kuartal keempat kan bisa libur lebih lama."

"Haha ...," Ats tertawa hambar, "Siapa yang tahu? Aku emang harus pulang kok. Nenekku yang suruh."

"Oh," Solar menarik niatnya untuk memprovokasi Ats lebih banyak lagi. Ia jadi termenung dan memikirkan keluarganya. Kira-kira, apakah Ats juga tumbuh di tengah persaingan keluarga yang sama dengannya?

Tak terasa, mereka sudah sampai di asrama. Saatnya mandi dan bersiap untuk kegiatan berikutnya. Waktu mereka tinggal sedikit sampai matahari terbenam.

***

Ats kecil berdiri di halaman rumahnya yang asri. Seperti biasa, ia berdiri sendirian menunggu kepulangan kedua orang tuanya. Ah, tidak. Ia sudah tahu bahwa kedua orang tuanya tak akan pernah pulang lagi. Lalu, mengapa ia terus berdiri di sini?

"Ats," sebuah suara yang lembut memanggil Ats kecil. Ia pun menoleh dan mendapati seorang wanita tua berwajah teduh yang tersenyum tulus padanya. "Kamu sudah menunggu dari tadi? Ayo berangkat."

Ah, benar! Setelah sekian lama Ats kecil terjebak dalam kesepiannya, ia diasuh oleh neneknya dari Keluarga Asir. Untuk mengalihkan kerinduan Ats kecil terhadap kedua orang tuanya, sang nenek selalu mengajaknya pergi ke bukit belakang yang indah.

Di bukit itu, ia mulai melanjutkan pelatihannya sebagai praktisi zarahian di bawah bimbingan sang nenek setelah sempat terhenti sejak kepergian ayahnya. Seperti yang diharapkan oleh wanita tua itu, Ats pun mulai melupakan kerinduannya. Ia bisa berekspresi ceria seperti biasanya lagi. Tentu itu membuat sang nenek senang.

"Nenek, aku mau jadi ilmuwan," kata Ats kecil suatu ketika. Perkataan polosnya itu membuat sang nenek sempat merasa kebingungan. Namun, wanita tua itu tetap tersenyum kemudian. "Ilmuwan? Kenapa mau jadi ilmuwan? Kamu kan bisa jadi praktisi yang hebat?"

"Aku mau jadi kayak ibunda," jawab Ats semangat, "Ibunda kan keren. Hehe—"

Sang nenek pun tertegun. Ah, ternyata ia salah paham lagi selama ini. Ats tidak pernah melupakan kedua orang tuanya. Ia lebih ke 'menerima' kepergian mereka.

"Wah, berarti kamu harus rajin belajar," sang nenek menerima perkataan bocah itu begitu saja. Ia tak pernah ingin memaksa cucunya. Selama Ats bisa tumbuh baik dan sehat, itu cukup untuknya. Lagi pula, menjadi ilmuwan itu lebih aman daripada menjadi seorang praktisi zarahian seperti ayahnya.

Begitulah Ats menjadi akrab dengan buku-buku sejak kecil. Ia larut dalam dunianya sendiri di Perpustakaan Pusaka Keluarga Asir. Saking sibuknya ia di sana, ia sampai tak mengingat sedikit pun tentang adiknya yang tak kunjung datang pula.

"Kakak, akhirnya kita bertemu. Cepatlah sembuh agar kita benar-benar bertemu sungguhan. Perkenalkan, aku adikmu, A—" suara seorang gadis kecil mengagetkan Ats yang tengah sibuk dengan buku-bukunya. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapa-siapa di tempatnya selain ia. Saat ia hendak kembali fokus pada bukunya, tulisan-tulisan di buku kuno itu sudah hilang.

Ats pun berdiri dan kembali menoleh ke kanan dan kiri. Matanya menyapu setiap sudut perpustakaan. Hanya ada rak-rak buku dan perangkat elektronik lawas di sana. Bagaimanapun, ini adalah perpustakaan tua.

"Kakak," suara gadis kecil itu kembali terdengar. Ats pun menoleh ke arah sumber suaranya. Ia tak mendapati apa pun di sana kecuali kekosongan belaka.

"Kakak," suara gadis itu lagi-lagi terdengar di sisi lain. Sama seperti sebelumnya, Ats tidak menemukan siapa pun ketika menoleh ke sana. Ia pun menghela napas dan meremas kepalanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Ats bertanya-tanya. Matanya terpejam sejenak. Ketika kembali terbuka, ia melihat kegelapan yang pekat. Tak ada lagi rak-rak tua di Perpustakaan Keluarga Asir. Hanya ada kesunyian dan kekosongan.

"Kakak," suara gadis itu bergema lagi. Padahal, tak ada apa-apa di sekitar. Entah dari mana suara itu muncul, Ats tak ingin memedulikannya. Namun, ketika ia hendak melupakan suara itu dengan kembali memejamkan mata, sebuah sentuhan tiba-tiba menusuk pipinya.

"!?" Ats tersentak. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Arjuna menatapnya dengan wajah kusut di tengah keremangan. Pemuda yang selalu bercelak itu pun berkata, "Oi, jangan berisik dong. Aku mau tidur nih. Ngelindur terus dari tadi. Suaramu ngeri lagi."

"Hm?" Ats tak mengerti. Ia belum bisa mencerna situasi dengan sempurna. Kepalanya pun tiba-tiba pusing.

"Kamu sakit?" tanya Arjuna begitu melihat Ats mengernyitkan dahi.

Ats menggeleng. Lagi pula, pusingnya tak terlalu sakit. Ia pasti akan baik-baik saja pagi nanti.

"Hais ... kalau kamu ada masalah, ngomong aja, ya," ujar Arjuna sebelum beranjak kembali ke ranjangnya sendiri, "Tapi besok, kalau dah pagi."

"Hm," Ats mengangguk kecil. Ia masih bingung, tapi kesadarannya sudah mulai pulih sepenuhnya. Ia jadi tak mengantuk lagi. Dilihatnya punggung Arjuna sebelum pemuda itu kembali tertidur.

"Kakak," suara itu masih terngiang samar di benak Ats. Itu membuatnya menghela napas pasrah. Karena tak dapat tertidur lagi, ia pun memutuskan untuk mencari angin segar di luar.

"Arselan," panggil Ats begitu ia sampai di balkon. Kamarnya ada di lantai tiga. Dari tempat itu, ia bisa melihat panorama sepi akademi yang indah di malam hari.

"Selamat malam, Tuan," Arselan muncul dengan wujud seekor kucing berpakaian tidur, lengkap dengan sebuah bantal di pelukannya.

"Apa kamu bisa memeriksa kondisiku?" tanya Ats lirih.

"Tentu, Tuan," Arselan langsung berubah jadi dokter berwujud kucing, "Melaksanakan pemeriksaan driver—"

Selama beberapa saat, suasana menjadi sunyi. Mata Ats menatap kedua tangannya yang memegang pagar pembatas di balkon, tapi pikirannya mengembara jauh entah ke mana. Ia penasaran dengan suara gadis kecil yang mengusik tidurnya itu. Suara yang khas nan mengingatkannya pada masa lalu. Namun, ia tak ingat apa itu, bahkan tak mengerti.

1
Rani
thor kapan update?
Arzen_V: maaf, ya. akhir-akhir ini saya sedang dalam kesibukan kuliah, jadi belum bisa fokus pada novel. insyaallah pertengahan menjelang akhir januari nanti akan dilanjutkan. mohon doanya juga
total 1 replies
Lanz D Kenzy
temen laknat. temennya selamat dari maut, masih aja mikirin hukuman.
Rani
udah penasaran ini apa kelanjutannya
Rani
lanjut dong
Rani
lanjut
Rani
seru
fabdul
mampir kak
Shuuha
ganbattekudasai
Senja
semangat kak
dewa imajinasi
thor.aku mampir:kubawakan like dan rat bintang lima untukmu.tetap semangat berkarya.yuk saling dukung dengan feedback ke ceritaku .di tunggu ya😁
Arzen_V: Terima kasih atas dukungannya
total 2 replies
Shuuha
semangat
Shuuha
ganbattekudasai
Shuuha
hallo.... ganbattekudasai
chonurv
Awalan yang bagus untuk sci-fi.
Shuuha
ganbattekudasai
jgn lupa mampir
vina
semangat terus yah aku kasih mawar buat hadiahnya
vina: follback dong kak author 🙃
total 2 replies
floufrouu
Maaf ya thor kalau kita teriakin buat up bab terus pdhl author yg mikir.. soalnya emg aku nunggu bgt lanjutannya
Senja
Mmpir kak bagus😍
Shuuha
done ....
ganbattekudasai...
salam dari Isekai Tensei de Kyōka
SnowySecret
rate bintang 箝絶ュ絶ュ絶ュ絶ュ biar semangat  saling mendukung ya Thor 
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!