NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pujian Menusuk Dibalik Teh Hangat

Sore.

Dapur kembali jadi medan perang Alana. Kompor menyala dua. Wajan pertama: ayam rica-rica. Pedas, wangi kemangi, favorit Johan. Wajan kedua: tumis buncis wortel. Simple, biar ada ijo-ijonya.

Di sudut ruang tamu, Cia duduk di playmat. Mainan warna-warni berserakan.

Selesai masak, Alana gercep. Kompor dimatikan, piring ditumpuk, meja dilap. Gerakannya cepat karena ia hafal polanya: kalau Cia mulai bosan, waktunya akan habis.

Benar saja.

“ Eh... eh... “

Cia merengek. Merangkak. Lalu berlutut di samping kaki Alana. Tangan kecilnya menarik-narik daster Alana sambil mengeluarkan suara tangis pelan. Meminta digendong.

Alana buru-buru matiin keran. “ Sebentar sayang, mama cuci tangan dulu ya. “

Ia lap tangannya ke lap dapur, lalu langsung mengangkat Cia. Berat. Hangat. Dan rewel.

“ Udah sore. Cia mandi dulu ya sayang. Biar nanti papa cium, Cia udah wangi. “

Air hangat. Shampoo bayi. Handuk. Bedak. Minyak telon Selesai. Cia kembali jadi bayi yang wangi, pipinya empuk, baunya khas bayi habis mandi.

Alana menyusui. Di sofa. Sampai tangis Cia reda dan matanya mulai sayu. Playmat yang masih berantakan ia biarkan dulu. Dasternya masih bau rica-rica dan minyak, tapi dapur sudah kinclong.

Begitu Cia tenang, Alana taruh lagi di baby bouncer. Lalu berlutut, memunguti mainan satu-satu. Melipat playmat.

Baru sempat mandi. Buru-buru. Air mengguyur sekadar menghilangkan bau masakan dan keringat. Ganti baju. Lipstik. Sisir rambut.

Alana dan Cia sekarang terlihat segar. Rapi. Wangi.

Tapi mata Alana tidak bisa bohong. Ada lelah di sana. Lelah yang numpuk dari pagi.

Klik.

Pintu dibuka.

Johan pulang. Jas masih tergantung di lengan, wajah masih ada sisa capek kantor. Tapi begitu masuk, senyumnya langsung lebar.

Rumah bersih. Dapur rapi. Baunya enak. Istri dan anaknya wangi, duduk manis di ruang tamu.

“ Papa pulang, Cia. “ Alana buru-buru menyambut, mencium punggung tangan suaminya.

Johan jongkok. Mencium kening Cia lama sekali. “ Wah, tumben kalian udah wangi. Kalau kayak gini tiap hari kan aku jadi makin sayang sama kamu. “

Kalimatnya lembut. Nadanya manis.

Tapi bagi Alana, itu seperti pisau.

“ Papa mandi dulu ya. Nanti papa gendong Cia, janji. “ Johan melangkah ke kamar mandi.

Tinggal Alana dan Cia di ruang tamu.

Alana menggendong Cia makin erat. Air matanya menggantung di pelupuk. Tidak jatuh, tapi ada.

Ia baru sadar.

Cinta suaminya hadir paling besar saat rumah rapi, saat ia wangi, saat ia terlihat “sempurna”.

Padahal satu jam lalu, ia baru saja perang dengan kompor, popok, dan tangis.

__

Malam turun pelan.

Johan duduk di kursi goyang. Cia ada di gendongannya. Ditepuk-tepuk pelan punggungnya sampai mata Cia terpejam. Lagu nina bobo yang sama seperti pagi tadi.

Di dapur, Alana menyeduh dua cangkir teh. Teh melati, kesukaan mereka. Uapnya naik, mengaburkan wajahnya sebentar.

" Minum dulu sayang. " Alana meletakkan cangkir di meja.

Johan mengangguk. " Makasih sayang. "

Keheningan sebentar. Hanya suara jam dinding.

" Gimana hari ini di kantor? " tanya Alana sambil duduk di sampingnya.

Johan menghela napas. " Ya gitu lah. Masalah di kantor ada aja. Cuma aku bisa handle kok, tenang aja. " Ia menoleh. " Eh, tulisan kamu viral ya? Naskah kamu juga banyak yang ditawar produser film ya? "

Alana mengangkat bahu, senyumnya kecil. " Ah, enggak. Kemarin ada yang nanyain. Beberapa orang. Mereka tertarik sama naskah aku. Dan akhirnya yang dapet naskahnya Ibu Yumna. "

" Wah. " Mata Johan berbinar. " Istri aku hebat ya. Kamu udah jadi istri, ibu, penulis hebat. Bangga aku sama kamu. "

Alana tersenyum. Manis. Seperti yang Johan mau lihat.

Lalu Johan mendekapnya. Hangat. Bahu Alana bersandar di dada suaminya. Untuk sesaat, rasanya aman.

" Sayang... " suara Alana pelan. " Aku boleh ngeluh gak sih? "

Johan tidak menjawab. Tangannya masih melingkar di bahu Alana.

" Aku sebenarnya capek. "

Dekapan itu tidak mengerat. Justru mengendur.

Satu butir air mata jatuh dari mata Alana. Ia cepat-cepat menyeka.

Johan meneguk tehnya. Suaranya datar. " Capek? Kamu kan di rumah aja Na. Nggak kayak aku. Harus berangkat pagi, pulang kadang malem. Belum aku harus ngawasin karyawan-karyawan aku, gaji mereka. Belum nafkah kamu sama Cia yang nggak sedikit itu. "

Alana diam. Kepalanya menunduk. Jari-jarinya meremas ujung dasternya.

" Kamu harusnya bersyukur. " lanjut Johan. " Banyak istri yang nggak dinafkahi di luar sana. "

Tidak bentakan. Tidak marah.

Hanya suara nasihat. Suara "pengingat".

Tapi bagi Alana, kalimat itu membangun tembok. Tinggi. Dingin. Mengurungnya di dalam.

Ia masih duduk di samping suaminya. Masih memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin.

Tapi entah kenapa, malam itu Alana merasa paling sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!