Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : SALING MENYAYANGI?
Hangatnya sinar matahari pagi menyinari halaman rumah keluarga Arkanza. Embun yang masih menempel di dedaunan membuat suasana terasa begitu sejuk. Dari arah dapur, aroma sup ayam dan roti panggang mulai memenuhi seluruh rumah.
Lay sedang sibuk menyiapkan sarapan. Sesekali ia mengaduk sup di atas kompor sambil melirik jam dinding.
"Sebentar lagi mereka bangun," gumamnya pelan.
Benar saja, belum sampai lima menit, terdengar langkah kaki kecil berlari dari lantai atas.
"Bunda!"
Putri kecil mereka langsung memeluk kaki Lay.
Lay tertawa kecil lalu menggendong putrinya.
"Selamat pagi, Sayang."
"Pagi, Bunda."
"Sudah cuci muka?"
Putri menggeleng sambil tersenyum jahil.
"Belum."
"Aduh... pantes pipinya masih bau bantal."
Putri langsung menutupi pipinya dengan kedua tangan.
"Nggak bau."
Lay mencubit pelan hidung mungil putrinya.
"Kalau begitu ayo cuci muka dulu."
"Iya."
Sementara Lay menemani putrinya ke kamar mandi, Arkanza baru saja keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi.
Pria itu tersenyum melihat tingkah istri dan anaknya.
Rumah yang dahulu terasa sunyi kini selalu dipenuhi suara tawa setiap pagi.
Perlahan Arkanza berjalan mendekati Lay.
"Selamat pagi."
Lay menoleh sambil tersenyum.
"Pagi."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arkanza mengecup lembut kening istrinya.
"Terima kasih sudah selalu bangun lebih awal."
Lay menggeleng pelan.
"Aku senang melakukannya."
Arkanza menatap Lay beberapa detik.
"Aku beruntung bertemu denganmu."
Pipi Lay langsung memerah.
"Kenapa pagi-pagi sudah bikin malu?"
Arkanza hanya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian mereka bertiga duduk di meja makan.
Putri kecil mereka sibuk memakan roti panggang sambil sesekali bercerita.
"Semalam aku mimpi."
"Mimpi apa?" tanya Lay.
"Ayah jadi pahlawan."
Arkanza mengangkat alisnya.
"Pahlawan?"
"Iya. Ayah mengusir monster yang mau ambil Bunda."
Lay tertawa pelan.
"Terus Putri di mana?"
"Aku sembunyi di belakang Ayah."
Arkanza mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Kalau memang ada monster, Ayah akan melindungi kalian."
Ucapan sederhana itu membuat Lay menatap suaminya dengan hangat.
Ia tahu Arkanza tidak hanya mengatakannya sebagai janji, tetapi juga sebagai tekad.
Selesai sarapan, Arkanza yang sudah mengenakan jas tampak hendak berangkat ke kantor.
Namun sebelum keluar rumah, ia kembali masuk ke ruang makan.
Lay yang sedang mencuci gelas menoleh heran.
"Ada yang ketinggalan?"
Arkanza menggeleng.
Ia justru menghampiri Lay, lalu memeluknya singkat.
"Jaga kesehatan."
Lay tersenyum geli.
"Kamu baru lima langkah keluar rumah."
"Aku tahu."
"Kalau begitu cepat berangkat."
Arkanza mengangguk.
Kemudian ia berjongkok di depan putrinya.
"Putri."
"Iya, Ayah?"
"Tolong jagain Bunda waktu Ayah kerja."
Putri mengangguk dengan wajah serius.
"Siap!"
"Kamu anak hebat."
Arkanza mencium pipi putrinya sebelum akhirnya benar-benar berangkat.
Lay berdiri di depan pintu sampai mobil suaminya menghilang di tikungan jalan.
Entah mengapa, hari itu ia merasakan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan rasa takut.
Namun seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
Lay menggeleng pelan.
"Mungkin aku terlalu banyak berpikir."
Di kantor, Arkanza menyelesaikan beberapa berkas penting lebih cepat dari biasanya.
Pikirannya terus tertuju pada rumah.
Bahkan sekretarisnya sampai heran karena Arkanza beberapa kali tersenyum sendiri saat melihat foto Lay dan putri mereka yang menjadi wallpaper ponselnya.
"Sepertinya Tuan sedang sangat bahagia," gumam sekretarisnya pelan.
Arkanza menutup map terakhir.
"Hari ini semua rapat selesai lebih awal."
Ia berdiri, mengambil jasnya, lalu berkata,
"Aku akan pulang lebih cepat."
Baginya, tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah.
Sementara itu, di rumah, Lay dan putrinya sedang menyiram bunga di halaman.
"Bunda, bunga ini cantik."
"Iya. Kalau dirawat setiap hari, bunganya akan tumbuh semakin indah."
"Kayak Ayah sayang sama Bunda?"
Lay tersenyum lalu mengangguk.
"Iya. Kasih sayang juga harus dirawat setiap hari."
Putri memiringkan kepalanya.
"Caranya?"
"Dengan saling jujur, saling membantu, dan saling menyayangi."
Gadis kecil itu tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku akan selalu sayang Ayah sama Bunda."
Mendengar ucapan polos itu, Lay memeluk putrinya erat.
Ia berharap kebahagiaan sederhana ini bisa bertahan selamanya.
Namun tanpa mereka sadari, sebuah kabar tak terduga perlahan mulai mendekati keluarga kecil itu.
Matahari mulai condong ke arah barat. Angin sore berembus pelan, membuat dedaunan di halaman rumah bergoyang lembut.
Lay masih menemani Putri bermain di taman kecil depan rumah.
Mereka sedang menyusun pot-pot bunga yang baru dibeli beberapa hari lalu.
"Bunda, bunga ini taruh di sini ya?"
"Iya, bagus sekali."
Putri tersenyum bangga.
"Aku kan pintar."
"Tentu saja. Putri adalah anak pintar dan baik hati."
Mendengar pujian itu, Putri langsung memeluk Lay.
"Aku sayang Bunda."
Lay mencium pipi putrinya.
"Bunda juga sayang sekali sama Putri."
Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Putri langsung berdiri sambil bertepuk tangan.
"Ayah pulang! Ayah pulang!"
Gadis kecil itu berlari sekencang mungkin menuju Arkanza yang baru turun dari mobil.
Melihat putrinya berlari, Arkanza segera membuka kedua tangannya.
"Ayah!"
Bruk!
Putri langsung memeluk tubuh sang ayah.
Arkanza tertawa pelan sambil mengangkat putrinya ke dalam gendongan.
"Kangen Ayah?"
"Iya!"
"Padahal baru kerja beberapa jam."
"Pokoknya kangen."
Arkanza mencium kening putrinya berkali-kali hingga gadis kecil itu tertawa geli.
Lay yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum.
Hatinya terasa hangat.
Pria yang dulu dikenal dingin kini berubah menjadi ayah yang begitu penyayang.
Arkanza berjalan menghampiri Lay.
"Capek?"
Lay menggeleng.
"Tidak."
Arkanza menggenggam tangan istrinya.
"Terima kasih sudah menjaga rumah dan Putri."
Lay membalas genggaman tangan itu.
"Terima kasih juga karena selalu pulang."
Mereka saling tersenyum.
Menjelang malam, Lay menyiapkan makan malam sederhana.
Di sisi lain, Arkanza membantu Putri mencuci tangan sebelum makan.
"Ayah..."
"Hm?"
"Nanti hari Minggu kita jalan lagi ya."
Arkanza tersenyum.
"Putri mau ke mana?"
"Mau piknik."
"Piknik?"
"Iya. Bertiga."
Arkanza mengangguk.
"Kalau begitu Ayah janji."
"Janji?"
"Janji."
Putri langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Arkanza.
"Kalau bohong nanti hidungnya panjang."
Arkanza tertawa kecil.
"Baiklah, Ayah tidak akan bohong."
Mereka bertiga kemudian menikmati makan malam bersama.
Suasana rumah dipenuhi tawa dan cerita sederhana.
Bagi Lay, momen seperti ini jauh lebih berharga daripada makan malam di restoran mewah.
Selesai makan, Putri menarik tangan kedua orang tuanya menuju ruang keluarga.
"Kita foto, yuk!"
Lay mengambil ponselnya lalu memasangnya di atas meja.
"Ayo berdiri di sini."
Putri berada di tengah, sementara Arkanza dan Lay berdiri di kanan dan kiri sambil menggenggam tangan putri mereka.
"Siap..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
Klik!
Foto keluarga kecil itu berhasil diambil.
Putri langsung melihat hasil fotonya.
"Wah! Cantik."
Lay tersenyum.
"Nanti kita cetak dan pasang di ruang tamu."
"Iya!"
Arkanza memandangi foto itu cukup lama.
Tanpa sadar, ia tersenyum.
Foto sederhana itu menjadi salah satu foto yang paling berharga baginya.
Malam semakin larut.
Setelah Putri tertidur, Arkanza dan Lay duduk di balkon rumah.
Langit malam dipenuhi bintang.
Suasana begitu tenang.
Lay menyandarkan kepalanya di bahu Arkanza.
"Arkan."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena kamu sudah menjadi suami dan ayah yang baik."
Arkanza tersenyum tipis.
"Aku masih banyak kekurangan."
"Tidak."
Lay menggeleng pelan.
"Setiap hari kamu selalu berusaha menjadi lebih baik."
Arkanza menggenggam tangan Lay.
"Semua itu karena aku tidak ingin kehilangan kalian."
Lay menatap wajah suaminya.
"Kalau suatu hari nanti aku sudah tua, wajahku penuh keriput, rambutku memutih..."
Arkanza langsung memotong ucapan Lay.
"Aku tetap mencintaimu."
Lay tersenyum kecil.
"Aku belum selesai bicara."
"Aku sudah tahu jawabannya."
"Kamu ini."
Mereka tertawa pelan.
Arkanza kemudian mengusap lembut pipi Lay.
"Dulu aku mengira hidupku hanya tentang pekerjaan."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku sadar."
"Sadar apa?"
"Bahwa pulang ke rumah dan melihat senyummu adalah keberhasilan terbesar dalam hidupku."
Mata Lay mulai berkaca-kaca.
"Aku juga bahagia memilikimu."
Arkanza mengecup lembut kening istrinya.
"Terima kasih sudah tetap memilihku sampai hari ini."
Lay memeluk Arkanza erat.
"Dan aku akan terus memilihmu setiap hari."
Angin malam kembali berembus pelan.
Di dalam kamar, Putri tertidur nyenyak sambil memeluk boneka kesayangannya.
Sementara di balkon, Arkanza dan Lay menikmati malam dalam pelukan hangat.
Mereka tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang sedang mereka rasakan akan segera diuji oleh takdir.
Namun satu hal yang pasti...
Selama mereka tetap saling menyayangi dan saling percaya, tidak ada badai yang mampu memisahkan keluarga kecil itu.
like + bunga biar semangat deh/Smile/