"Nyatanya, semua tak seindah kelihatannya"
Binar Latisha Orzia
"Kamu rapuh, aku tahu itu. Aku akan menjadi perekat hidupmu"
Awan Buana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juanda Afipasari Silaen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadir ~ Teman
Kita hanya sebuah ilusi, tak nyata tapi kadang ada.
Awan menatap jam yang ada di tangannya, lalu memainkan ponselnya untuk beberapa saat, setelah itu kembali menatap jam. Menyebalkan mengapa Binar tidak kunjung membalas chatnya atau keluar dari rumah itu.
Entah sudah berapa lama Awan menunggu Binar, bahkan chat yang dikirim Awan sudah sangat banyak tapi tak kunjung ada balasan.
Awan menatap kearah pintu coklat itu, berharap seorang gadis keluar dari sana dan tersenyum padanya.
Awan kembali mengecek ponselnya, tak ada balasan, Awan frustasi, rambutnya di acak acaknya.
"Lo dimana sih Nar? " lirih Awan.
Awan kemudian mencoba mencari Binar di toko buku, mungkin barang kali dia ada disana.
Awan segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
Sampainya di toko buku, Awan melihat ada satpam di depan, Awan melihat kearah dirinya, dia masih menggunakan seragam sekolah dan sekarang juga masih jam sekolah, yap Awan bolos sekolah sekarang.
Awan segera mencari cara bagaimana dirinya agar tidak kepergo oleh satpam itu, Awan melihat kedalam mobilnya, ada jaket.
Awan mengambil jaket itu dan memakainya suapaya seragam sekolah yang ia kenakan tidak terlihat.
Setelah memakai jaket, Awan langsung masuk kedalam toko buku itu, mencari Binar disana dan berharap dia memang ada disana.
Awan mengelilingi setiap sudut dan ruang disana, hasilnya nihil, Binar tidak ditemukan.
Awan berjalan kekasir, mungkin penjaga kasir itu melihat Binar.
"Maaf mbak, mau nanyak, Binar ada kesini gak? " tanya Awan.
Mbak penjaga kasir itu mengeritkan dahinya, "Binar siapa yah mas? "
Awan menepuk jidatnya, bagaimana mbak ini bisa tau orangnya, apa Binar seterkenal itu yang bisa dikenal banyak orang hanya dengan namanya saja.
Awan berfikir sejenak lalu ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi instagram yang dimana disana ada foto Binar.
"Yang ini mbak orangnya," ucap Awan sambil menunjukan foto Binar.
"Ooo ini,"
"Ada liat mbak? "
"Enggak."
Awan membulatkan matanya, sia sia.
Awan terdiam, kepalanya sangat berat, harus kemana lagi dia mencari Binar, apa yang terjadi padanya?
"Yaudah kalau gitu, makasih yah mbak." ucap Awan lalu pergi dari sana.
*****
Friska duduk di samping ranjang Binar, menatap Binar tanpa ekspresi, sekarang Binar masih memejamkan matanya, belum kunjung sadar.
Friska menghela nafasnya gusar, apa dia harus menjaga anak ini?
Friska menatap wajah Binar, wajah yang selalu tersenyum setiap ia menyakitinya, Friska membayangkan bentuk lengkungan yang selalu di tunjukan Binar padanya, nyaris tak kunjung lepas.
Tangan Friska mulai terulur kekepala Binar, rasa sesal mulai datang menghampiri Friska.
"Enggak, gak boleh." lirih Friska menahan tangannya.
Friska menepis semua rasa sesal itu, dia tidak boleh menaruh rasa iba untuk gadis dihadapannya ini.
Friska memalingkan wajahnya kemudian beranjak keluar dari ruangan Binar, Friska berhenti sebentar di ambang pintu lalu menutup pintu itu rapat rapat meninggal Binar seorang diri.
*
Friska pulang kerumah malam malam sekali, sekitar jam sebelas malam. Saat Friska sampai di dekat rumahnya, Friska melihat ada mobil terparkir di depan gerbang rumahnya, mobil siapa?
Friska mendekati mobil itu.
Tinnnn
Suara klakson yang berisik membuat Awan sang pemilik mobil itu terkejut, Awan melihat dari kaca spion, ada mobil yang hendak lewat, dengan cepat ia menepikan mobilnya.
Friska yang melihat mobil itu mulai menyingkir langsung melajukan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumahnya.
"Binar udah pulang? " lirih Awan ketika melihat mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah Binar.
Awan langsung keluar dari mobil dan berlari kearah rumah Binar.
Friska yang baru keluar dari mobil melihat seseorang lari kearahnya, Friska mengeritkan dahinya.
"Tante, tunggu." ucap Awan terpenggal penggal.
Friska menaikan satu alisnya, sepertinya dia pernah lihat anak ini.
"Maaf tante, Binarnya ada? " tanya Awan langsung.
Friska tau sekarang, pria yang dihadapannya ini sekarang adalah teman Binar yang kemarin datang kerumahnya.
"Gak ada," jawab Friska singkat.
Awan melihat kedalam mobil Friska, mencari keberadaan Binar.
"Binar dimana tante? " tanya Awan lagi.
"Apa urusan kamu nyariin dia? " tanya Friska heran.
Awan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia sendiri juga tidak tau mengapa dirinya mencari Binar sampai segininya.
"Ehm, teman sekelas nyariin Binar tante," ucap Awan.
"Baru sehari tidak datang sudah di cariin saja anak itu." Friska berjalan meninggalkan Awan.
"Tante tunggu, Binar kemana? " tahan Awan.
Friska membalikan badan, menatap Awan datar, "Kamu siapanya? " tanya Friska antusias.
"Teman tante,"
"Kalau teman, kenapa sampai segitunya nanyain Binar?"
Awan terbungkam dengan pertanyaan Friska.
"Keluar sekarang!" usir Friska.
"Tapi tante Binar dimana? "
Friska membalikan badannya kemudian lalu berjalan masuk, "Rumah sakit,"
Rumah sakit? kok bisa?
"Dia kenapa tante? kok bisa dirumah sakit? " tanya Awan, Friska tak menjawab, ia langsung menutup pintu rumahnya rapat rapat.
Awan terdiam disana, menatap pintu itu sambil memikirkan maksud ucapan Friska.
"Rumah sakit? Binar kenapa? "lirih Awan.
Awan masih terdiam disana, "Binar dirumah sakit Armaha Indah, dia sendirian disana." ucap Friska tiba tiba.
Awan menatap kearah Friska terkejut dan tanpa berfikir panjang Awan langsung bergegas pergi kerumah sakit itu.
Awan masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, entah mengapa jantung Awan berdebar cepat.
*
Awan masuk kedalam rumah sakit, mencari cari ruangan Binar.
"Permisi sus, ada pasien yang namanya Binar Lathisa Adara? " tanya Awan.
"Bentar mas," ucap suster itu sambil mencari nama Binar.
"Binar Lathisa Adara ada di ruangan atas, mari saya tunjukan." ucap Suster itu sambil menunjukan ruangan Binar.
Awan berjalan dibelakang suster itu penuh kekhawatiran, apa yang sebenarnya terjadi dengan Binar, kenapa dia ada disini?
"Ini mas ruangannya, sepertinya sedang tidak ada yang jaga," ucap suster itu.
"Makasih sus, "
"Iya sama sama." Suster itu berlalu meninggalkan Awan disana.
Awan membuka pintu perlahan, matanya menangkap Binar tengah terbaring disana, tangan Awan seketika gemetar.
"Binar," lirih Awan.
Awan berjalan mendekati Binar, mata hijau Awan menatap Binar dalam, Awan meneguk ludahnya.
Menyebalkan!
Mengapa dirinya tidak bisa bertindak diwaktu seperti ini, apa yang terjadi dengan Binar? mengapa dia bisa disini? mengapa pertanyaan ini selalu berputar diotaknya? dan mengapa tidak ada jawaban yang datang?
Awan menangkup tangan mungil Binar dan menggenggamnya erat, terasa dingin.
Perban dikepala Binar membuat Awan semakin bingung, tidak mungkin Binar sakit tapi kepalanya yang diperban. Apa Binar kecelakaan? kok bisa?
Awan langsung menggaruk kepalanya frustrasi, otaknya tak bisa mendapat jawaban jika berdiam diri begini.
"Nar," Panggil Awan pelan.
"Bangun, gue disini," "Lo gak mau nanyak gue ngapain disini?" bisik Awan.
Tiba tiba pintu ruangan Binar terbuka membuat Awan melepaskan genggamannya.
"Anda siapa yah? " tanya dokter Andi, dokter yang merawat Binar.
"Sa, saya Awan dok, temannya Binar,"
"Ooh," Dokter Andi mangut mangut kemudian mendekati Binar mengecek keadaannya.
"Kalau boleh tau, Binar kenapa yah dok? " tanya Awan, Dokter Andi melihat kearah Awan sejenak.
"Anda pacarnya? "
Depp
Pertanyaan apa ini?
"Enggak dok, saya temannya." jawab Awan jujur.
"Ooh saya pikir pacarnya, kalau pacarnya saya bakalan beritahu." ucap Dokter Andi sambil mengelus lembut rambut Binar dan menatapnya dengan senyuman, sedangkan Awan melihat kearah dokter Andi sambil membulatkan matanya.
"Jaga dia, saya rasa ibunya sedang pergi keluar, saya mempercayakan Binar pada anda, temannya." ucap Dokter Andi dengan nada cibiran diakhir kalimatnya.
Dokter Andi berlalu membiarkan Awan terdiam disana, jawaban dari semua pertanyaan Awan sekarang keluar dari ruangan Binar.
"Kalau gue bilang gue pacarnya Binar, gak papa kali yah? " guma Awan.
Salam dari author police lgi hate you🤭
Nextnya ditunggu di karyaku sudah UP,
- Psychopath And Me
- Not Until
#salam dari police l hate you kk🙏