Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Semenjak kejadian dihotel xx satu minggu lalu, Tara menjadi lebih pendiam dan tak pernah bermanja atau tertawa lepas lagi saat bersamanya. Vano bahkan terus berusaha menghangatkan suasana dengan cara memberi perhatian lebih, bersikap manja, selalu ceria, hingga rela melakukan hal konyol yang tak akan pernah mungkin Vano lakukan. Dan semua itu demi mendapat kehangatan dari senyum tulus seorang Tamara Adisti. Tapi semua yang ia lakukan selama seminggu ini seperti tak ada artinya buat Tara. Tara masih saja bersikap dingin pada Vano.
Meskipun Tara tersenyum atau tertawa akan tingkah konyol Vano, tapi Vano bisa melihat dengan jelas bahwa semua itu palsu.
Vano bahkan sudah seperti orang gila saat dirumahnya. Kedua orang tuanya tak jarang mendapatkan putranya itu melamun disepanjang makan malam ataupun sarapan. Begitu juga dengan Deska, ia bahkan hampir tak pernah berdebat dengan kakaknya itu lagi karena Vano selalu beralasan lelah dan akan mengurung diri didalam kamar.
Pukul 16:30 Vano bergegas mandi dan bersiap untuk menjemput sang kekasih pujaan. Setelah merasa sempurna akan penampilannya, Vano dengan segera melajukan mobilnya menuju mall tempat dimana Tara bekerja. Vano meminta jadwal kerja Tara selama satu bulan ini agar ia tahu wanitanya itu shift apa tanpa harus bertanya setiap hari mengenai shift kerjanya. Dan sudah satu minggu ini juga ia mengantar jemput Tara bekerja, berharap hubungan mereka kembali hangat seperti sebelumnya.
Bahkan Vano rela telat masuk kerja, menukar jam makan siangnya satu jam setengah lebih lama, dan memangkas jam pulang kerjanya hanya demi wanita pujaan hatinya.
Setiba Vano didepan wahana bermain anak, ia tersenyum saat melihat dari kejauhan bahwa wanitanya sedang berbincang ria bersama partner kerjanya sembari berjalan menuju pintu keluar. Saat pandangan mereka bertemu, Tara lantas menghentikan tawanya. Ia terlihat berpamitan kepada ketiga temannya dan menghampirinya.
"Ayo," ucap Vano saat Tara telah berada dihadapannya.
Tara hanya mengangguk dan berjalan berdampingan bersama Vano. Vano meraih tangan Tara untuk ia genggam. Tara menoleh kearahnya yang sedang tersenyum, lalu Tara membalas senyumnya meski hanya sekilas.
Saat mereka sudah berada didalam mobil, Vano tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia berdiam diri dengan pandangan lurus kedepan. Tara yang merasa Vano tak akan melajukan mobilnya kini menoleh menatap Vano. Ia yang melihat Vano seperti sedang melamun lantas menyentuh tangan kekar pria itu yang berada diatas setir mobil. "Van." Vano mengeratkan cengkramannya pada setir mobil saat tangan Tara menyentuh tangannya.
Tara bisa melihat gurat sedih diwajah pria itu. Ia menundukkan kepalanya dan menjauhkan tangannya dari tangan Vano, namun dengan cepat Vano menangkap tangan Tara dan menggenggamnya dengan erat.
Tara tak bergerak, ia hanya bisa diam dengan kepala masih tertunduk.
"Apa kesalahanku karena telah membawamu ke hotel kemarin itu tidak bisa kamu maafkan, Tar?" seru Vano.
"Apa sebenarnya yang membuatmu berubah seperti ini, Tar? Aku kamu tidak bisa merasakan cintaku selama ini padamu?" Tara masih diam tak bergeming dari posisinya.
"Pertunangan sudah kita tunda sesuai keinginanmu, aku tidak masalah itu. Tapi sikapmu yang seperti ini sungguh masalah bagiku, Tar."
"Mau kamu apa, Tar?" tanya Vano sendu.
"Mau kamu apa, Tamara Adisti!" teriak Vano menggema didalam mobil.
Tara tersentak kaget mendengar teriakan Vano. Ia meneteskan air matanya.
"Kamu jangan egois begini! Kalau ada masalah, ayo kita bicarakan baik-baik. Jangan membuat aku gila perlahan seperti ini. Kamu kira aku senang kamu diamkan? Kamu kira aku senang dengan sikap dinginmu yang secara tiba-tiba ini? Apa kesalahanku karena telah membawamu ke hotel waktu itu sungguh berat untuk kamu maafkan? Jawab!" Vano berteriak seraya mengguncang kedua bahu Tara. Suara pria itu terdengar lirih meski telah berteriak, Tara yakin jika Vano menangis. Dan itu sungguh membuat isak tangis Tara semakin pecah.
Rasanya Tara ingin sekali menghilang dari muka bumi ini jika mengingat akan rasa cintanya pada Vano yang sudah semakin besar. Namun disisi lain, ia juga memiliki keraguan dihatinya untuk melangkah lebih jauh bersama Vano.
Satu yang pasti, nasihat dari seorang ustadzah yang ia kenal melalui media sosial dua hari lalu membuatnya harus segera melakukan tindakan yang berat untuk ia lakukan. Mengakhiri hubungannya dengan pria yang ia cintai!
Meski jauh didalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai pria tampan ini. Pria keras yang berusaha melunak saat bersama dengannya. Pria sombong yang berubah menjadi pria paling ramah dan paling ceriah dimuka bumi. Tapi mau bagaimana lagi? Semua ini salah!
Tak!
Dada Tara terasa sesak saat memikirkan semua ini.
Masih dengan segala pemikirannya, tiba-tiba Tara dikejutkan dengan Vano yang telah memeluknya dengan erat. Pria itu menumpahkan semua rasa sedihnya diatas bahu Tara. Bahkan air matanya kini telah membasahi baju yang Tara kenakan.
Tara tidak membalas pelukannya, ia hanya diam sembari menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan pada Vano.
"Maafkan aku. Maafkan aku sudah berteriak didepan wajahmu. Maafkan aku. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," lirih Vano membuat air mata Tara tak dapat berhenti bergitu saja.
Vano melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahu Tara dan menatapnya dalam.
"Maafkan aku, Sayang."
Tara menatap lekat kedua bola mata Vano. Ia tidak marah Vano berteriak padanya. Seharusnya ia yang minta maaf karena telah membuat pria itu bersedih. Dan mungkin keputusan yang ia buat selanjutnya akan membuat pria ini lebih dari sekedar bersedih.
"Aku mau kita putus."
Deg,
Vano membulatkan matanya, ia tercengang mendengar ucapan Tara yang bagaikan sambaran petir untuknya.
Vano menggelengkan kepalanya tak percaya, ia bahkan tertawa sumbang. Vano tertawa lebih keras sambil mengusap air mata yang masih berada diwajahnya. Ia meraih tangan Tara kedalam genggamannya.
"Sayang, kita cari makan ya. Kamu pasti lapar," ucap Vano sembari mengusap kedua punggung tangan Tara.
Tara menggelengkan kepalanya, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Tara melepaskan tangannya dari genggaman Vano. " Aku serius, Van. Aku mau kita putus."
Vano menatap Tara dalam diam. Mencerna kembali setiap kata yang Tara ucapkan. Putus? Haha lucu sekali!
"Aku tidak mau!" ucap Vano dengan nada yang menjengkelkan. Ia membenarkan posisi duduknya lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi meninggalkan mall.
Tara masih dengan memandang wajah tampan Vano yang sedang menahan emosi. Ia menyentuh bahu Vano namun Vano menepisnya. Tara menggenggam tangannya yang ditepis Vano. Ia menatap kaca jendela samping kirinya, menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya.
Namun sial, air mata itu tumpah kembali. Tara menghapus cepat air mata yang mengalir di pipinya dan menengadahkan wajahnya keatas agar air matanya tidak tumpah lebih banyak.
Meski fokusnya kejalanan, tapi Vano dapat melihat dengan jelas itu semua melalui ekot matanya. Namun ia memilih diam demi tidak meluapkan emosi yang kini perlahan muncul.
Setiba didepan jalan rumah Tara, Vano menghentikan mobilnya tanpa berucap apapun. Cukup lama mereka berdiam di dalam mobil hingga Tara membuka suara lebih dulu.
"Aku serius dengan ucapan–"
"Pulanglah," potong Vano, "aku tahu kamu lelah bekerja seharian. Besok aku akan menjemputmu sebelum jam dua," ucap Vano tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kaca depan mobil.
"Tidak perlu mengantar jemputku kerja lagi. Aku bisa pergi sendiri." Vano tak menyahuti penolakan Tara.
"Mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apapun–"
"Aku tidak mengizinkannya," sahut Vano cepat sebelum Tara menyelesaikan ucapannya.
"Van ... Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita."
"Pulanglah, besok sebelum jam dua aku sudah ada disini."
"Aku bilang kamu tidak perlu mengantar jemputku lagi, Vano. Kamu sudah satu minggu ini lalai dari jam kerja hanya untuk mengantar jemputku. Please stop it, Van! Berhenti melakukan hal yang tidak penting seperti ini."
Vano kini menoleh menatap Tara tajam. Pandangan mereka bertemu. Tara dapat melihat dengan jelas raut amarah, sedih, kecewa, dan cinta sekaligus diwajah pria itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa mengantar jemput pasanganku sendiri adalah hal yang tidak penting?" tanya Vano datar.
"Maafkan aku," seru Tara.
Tara membalikkan tubuhnya, meraih handle pintu hendak membukanya. Namun suara Vano menghentikan aksinya.
"Besok sebelum jam dua, aku akan sudah ada disini."
Tara hanya diam, namun sedetik kemudian ia manarik handle pintu dan membuka pintu lebar. Ia keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun dan berjalan menjauhi mobil Vano tanpa menoleh hingga memasuki rumahnya.
Vano hanya memandangi kepergian wanitanya dalam diam. Saat Tara sudah menghilang dari pandangannya, ia berteriak sembari memukul dan melempar semua benda yang ada didalam mobil.
.........
Keesokan harinya, seperti apa yang Vano ucapkan kemarin sore, hari ini tepat pukul 13:30 mobil Vano telah terlihat didepan jalan rumah Tara.
Vano keluar dari mobil menuju rumah Tara disebrang jalan. Betapa raut kecewa terukir jelas diwajahnya saat mengetahui ternyata Tara kerja shift pagi. Vano jelas tak salah lihat jika jadwal Tara hari ini ialah shift siang, tapi kenapa tiba-tiba jadi pagi? Apakah Tara sengaja menukar jam kerjanya?
Vano menyandarkan punggungnya pada kursi mobil dan memejamkan matanya. Begitu banyak pertanyaan yang ada dikepalanya akan hubungannya bersama Tara. Apakah Tara serius dengan ucapannya kemarin? Apakah Tara sengaja menukar jadwal shift nya hanya untuk menghindarinya? Tidak! Vano tidak boleh percaya begitu saja. Vano menggelengkan kepalanya, ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan kediaman Tara.
******
Jangan lupa Like, Coment, serta Vote nya...
Jazakamallah khair..