REVISI!
Sasha Jessica Tom adalah anak sulung dari keluarga Tom. Terlilit utang dengan mafia besar membuat Sasha harus banting tulang untuk melunasi utang keluarganya.
Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan segala keterpaksaan yang harus ia pertimbangkan, akhirnya Sasha menyerahkan dirinya untuk menjadi seorang selir untuk seorang presdir.
Semua kontrak sudah ia tanda tangani selama ia menjadi seorang selir, namun untuk tidak pernah menaruh perasaan kepada presdir itu sudah tidak bisa Sasha taati.
Sasha mulai mencintai seseorang yang tidak seharusnya ia cintai. Perbedaan kasta membuat Sasha sadar bahwa perasaan ini hanya akan melukai dirinya sendiri.
Note : Buang buruknya dan ambil baiknya (jika ada)
Happy Reading :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MilkyWay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[26] Tawaran Mom
Dania sangat geram dengan perlakuan Arion padanya. Ia tidak menyangka akan ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisinya di hati Arion. Padahal dulu Arion sangat memuja dirinya hingga sulit untuk melepaskannya.
"Aku tidak terima. Bagaimana pun aku tidak bisa melakukan apapun tanpa Arion! Bahkan si brengsek itu hanya memberiku harta warisannya sedikit saja" Ucap Dania. Ia kemudian menendang kursi dan pergi dari restoran itu.
Dilain tempat, Arion masih melihat Sasha menangis. ia sangat khawatir. Tapi istrinya ini tidak bisa dibujuk. Ia bahkan hanya diam saja saat dipanggil.
Jika saja ia lebih cepat, mungkin saja Dania tidak akan berbicara seperri itu pada Sasha.
"Sha, sudah. Jangan dipikirkan. Jangan nangis lagi. Nanti kamu sakit, Sha. Kasihan juga kan baby nya kalau kamu sakit" Ucap Arion kembali membujuk istrinya, tapi tetap saja Sasha hanya diam dan terus menangis tersedu-sedu.
Tidak ada pilihan lain, Arion akan mengajak Sasha untuk pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin saja Sasha mau berhenti menangis saat berada disana.
Sepanjang perjalanan, Sasha hanya diam. Sesekali ia mengelap air mata yang jatuh dari matanya. Ia sangat malu pada semua orang yang ada di restoran tadi. Tapi yang dikatakan Dania juga tidak salah. Tapi mengapa perempuan itu sangat kejam padanya hingga mempermalukannya seperti itu.
Merasa asing dengan jalan yang mereka lalui membuat Sasha mengerutkan keningnya dan menoleh pada Arion yang fokus pada jalanan, "Kemana? Ini bukan jalan pulang kan?"
"Kita berkunjung sebentar ke rumah mommy. Ia pasti sedang bertemu denganmu" Jawab Arion.
Sadar dengan wajahnya yang sudah acak-acakan membuat Sasha membersihkan sisa air mata dan merapikan rambutnya. Ia juga memoleskan pewarna pada bibirnya supaya tidak terlihat begitu pucat.
Melihat Sasha yang panik membuat Arion tersenyum tipis. Istrinya pasti takut diberikan banyak pertanyaan oleh ibunya. Apalagi dengan mata bengkak itu, Sasha tidak akan lolos oleh ibunya hari ini. Tapi walaupun begitu, Arion harus siap dengan ocehan ibunya pada dirinya nanti.
"Apa mataku masih bengkak?" Tanya Sasha menatap Arion. Arion menolehkan kepalanya sebentar, " Seperti itu lebih baik" Jawabnya.
Walaupun tidak nangis lagi, Sasha hanya diam saja. Ia hanya diam menatap jalanan. Ia bahkan tidak mau diajak bicara oleh Arion.
Sesampainya di rumah orang tua Arion, Sasha keluar terlebih dahulu meninggalkan Arion hanya masih memarkirkan mobilnya.
"Mom" Panggil Sasha saat melihat mertuanya itu sedang sibuk berada di dapur bersama beberapa pelayannya.
"Hm, Sasha? Kapan datangnya? Sama Arion?" Tanya Renata memeluk menantunya itu. Ia menghentikan aktivitasnya dan membawa Sasha ke ruang keluarga.
Sasha masih memasang wajah sedihnya. Ia bersikap sangat cuek dan sedikit berbicara. Renata menatap Arion seolah bertanya tentang Sasha. Tapi Arion hanya memasang wajah datarnya.
Arion naik ke lantai dua untuk membersihkan dirinya karena sudah sore. Ia membiarkan Sasha bersama sang ibu. Mungkin Sasha akan meluahkan perusahaannya pada mertuanya itu.
"Mata kamu bengkak, kenapa?" Tanya Renata.
Sasha yang diam menatap televisi akhirnya menoleh pada ibu mertuanya. Ia hanya diam memikirkan jawaban yang tepat, "Ketiduran di mobil mom" Bohong Sasha.
"Kemarilah" Seru Renata sembari menepuk sofa disampingnya. Seolah menyuruh Sasha untuk duduk disampingnya.
Sasha berdiri dan duduk di samping mertuanya. Ia memeluk sang mertua. Saat itu ia teringat akan ibunya. Ia belum sempat mengunjungi perempuan itu. Sasha sangat merindukannya.
"Kau makan banyak kan?" Tanya Renata sembari memegang perut Sasha. Ia memperhatikan menantunya itu semakin hari tampak semakin manja. Padahal di hari pertemuan pertama mereka, Sasha tampak lebih banyak diam dan sedikit bicara.
"Semua makanan terlihat tidak enak. Arion juga jarang di rumah, makan sendirian sangat membosankan" Jawab Sasha menggelengkan kepalanya.
"Kau harus banyak makan. Walaupun tidak enak, tetap harus makan. Kasian kan baby-nya kelaparan" Ucap Renata menasehati Sasha.
Dari awal pernikahan anaknya, Renata tidak pernah memandang latar belakang kehidupan Sasha. Ia tidak pernah memandang harta seseorang karena dulu dirinya juga berasal dari keluarga yang biasa saja. Semua yang ia dapatkan hari ini adalah pemberian suaminya.
Beruntungnya, Arion mendapatkan sosok pengganti yang sangat baik. Walaupun kisa mereka tidak dimulai dari hal yang baik. Tapi harapan untuk berakhir baik selalu terucap dalam doanya.
...***...
"Sha, kau marah padaku?" Tanya Arion saat melihat Sasha masuk ke kamarnya dan hanya mengacuhkan dirinya. Sasha berlalu untuk mandi.
Arion menatap punggung Sasha hingga hilang dibalik pintu kamar mandi. Wajar saja Sasha marah karena dirinya tidak bisa menjaga Sasha.
Setelah menyelesaikan aktivitas mandinya, Arion kembali menatap gerak-gerik Sasha. istrinya itu sama sekali tidak menoleh kepadanya.
Sasha hendak keluar ingin membantu mertuanya menyiapkan makan malam. Dirinya sama sekali tidak ingin berbicara dengan Arion.
"Tetap disini atau aku aQan marah" Ujar Arion memperingati istrinya. Dan berhasil, Sasha menghentikan langkahnya dan diam ditempatnya.
"Kenapa?" Tanya Sasha dingin.
"Kau kenapa? Marah padaku?" Tanya Arion meminta penjelasan.
"Aku tidak marah padamu. Aku hanya marah pada perempuan itu" Jawab Sasha. Ia tidak ingin membahas itu lagi. Ia sangat ingin keluar tapi ia takut Arion akan marah padanya.
Sasha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisannya kembali pecah. Ia mencoba melupakan ucapan Dania tapi otaknya terus berputar pada kejadian tadi.
Arion menggapai tubuh Sasha. Memeluk istrinya itu. Ia tahu betapa sedihnya Sasha saat ini. Sebagi suami ia benar-benar gagal melindungi istrinya ini.
"Maafkan aku. Maaf Sha tidak bisa menjagamu" Ucap Arion sembari menepuk pelan pundak Sasha.
Bukannya berhenti menangis, Sasha menangis semakin kencang. Ia hanya bisa menangis sekuat-kuatnya untuk melepas semua yang ia rasakan.
"Apa aku seburuk itu?" Tanya Sasha dalam tangisannya. Ia mendongak menatap suaminya yang sedang memeluknya.
"Aku tidak semurahan itu. Aku tidak gila dengan hartamu. Aku--"
"Sstt" Arion menghentikan ucapan Sasha. Sasha tidak boleh berbicara seperti itu. Sasha miliknya yang paling sempurna. Tidak ada yang boleh menilai istrinya seburuk itu.
"Jangan menangis lagi. Lupakan ucapan Dania. Kau yang paling sempurna. Tuhan mempertemukan kita dalam situasi yang buruk supaya kita menjadi lebih baik lagi. Jangan menilai dirimu buruk, karena punya Arion Wilson selalu yang terbaik, yang paling sempurna" Ucap Arion mencoba menenangkan Sasha. Ia tidak mau Sasha stress karena hal ini dan berakhir sakit.
Walaupun masih merasa sedih, Sasha menganggukkan kepalanya. Ia menatap ke arah suaminya sebentar dan kembali menenggelamkan tubuhnya di tubuh kekar Arion.
...***...
Arion turun tanpa Sasha bersamanya. Ia tidak ingin Sasha diberi banyak pertanyaan oleh orang tuanya karena kondisinya setelah menangis.
"Sasha mana? Tadi dia datang kesini kan?" Tanya Roy pada anaknya itu.
"Sasha merasa tidak enak badan. Arion menyuruhnya untuk istirahat saja" Jawab Arion. Ia tidak ingin membuat semua orang di rumah khawatir dan berujung dengan Sasha yang kembali teringat dengan peristiwa tadi.
"Perempuan hamil memang seperti itu, sedikit manja. Jadi kau harus lebih memperhatikan istrimu. Jangan terlalu sibuk memikirkan pekerjaanmu. Lagipun setiap cabang perusahaan memiliki CEO terbaik. Mereka pasti bisa mengerjakan tugas masing-masing dengan baik" Nasihat Roy pada Arion.
Makan malam hari ini begitu hening. Mereka yang ada di meja makan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang bersuara.
Setelah makan malam selesai, Renata mencegah Arion untuk beranjak dari meja makan. Ia ingin membicarakan sesuatu pada anaknya itu.
"Arion, kalian tidak bisa bohong pada mommy. Ceritakan, apa yang terjadi pada kalian? Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Renata pada Arion. Sebagai seorang ibu, ia sangat mengetahui gerak-gerak anak-anaknya, apalagi Sasha. Menantunya itu tidak bisa menyembunyikan kebohongan padanya.
"Sasha bertemu dengan Dania sore di restoran. Dania memaki Sasha. Aku sudah memperingati Dania, dan tadi sudah yang kedua kalinya. Aku takut Sasha akan tetap diganggu sebanyak apapun aku menegurnya" Adu Arion pada sang ibu. Tidak disangka ibunya sangat peduli pada Sasha. Padahal dulu dengan Dania, ibunya hanya bersikap acuh walaupun Dania berbuat baik.
Renata membuang nafasnya panjang, "Perempuan itu benar-benar sangat mengganggu"
Hening beberapa saat, Renata memikirkan cara agar ia dan Dania bisa segera bertemu. Jika terus dibiarkan seperti ini, Sasha akan dibuat stress oleh perempuan itu.
"Apa tidak sebaiknya kalian tinggal disini saja?"