Nyai sekar ayu hanindia dikenal sebagai dukun manten yang cerdas, cantik dan berhati suci di desa terpencil yang masih menganut budaya jawa kejawen yang kental.
Ilmu dukun manten merupakan ilmu ma'rifat yang turun temurun didapat sejak zaman kerajaan terdahulu. Tidak sembarang orang mampu mewarisi ilmu ma'rifat tersebut.
Dalam lingkungan masyarakat kerajaan terdahulu dukun manten memiliki tujuan membangun kerukunan sesama manusia melalui budaya, adat, wuku dan tahun.
Apa jadinya kalau keempat sahabat. Leo Radin Syah, Elang rahardika, intan champa dan Sundari harus mengalami hal supranatural sehingga melibatkan sang DUKUN MANTEN, Nyai sekar ayu hanindia harus turun tangan membantu konflik mereka??
Dapatkah mereka terbebas dari segala konflik BLACK MAGIC atau supranatural lainnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laura Hussein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesurupan (alur masa lalu)
Pertunjukkan seni tari Bedhaya manten sore ini telah usai. Sebenarnya seni tari Bedhaya manten lazimnya dipertunjukkan saat awal acara adat resepsi pernikahan yang akan diadakan esok hari di gedung serbaguna.
Namun untuk sekedar memanjakan seluruh warga desa yang turut bahagia di acara pernikahan sundari. Maka pak Jatmiko menggelar tarian ini di kediamannya.
"Akhirnya Aku bisa pentas dengan sebaik mungkin.." sahut intan menghela nafas panjang seraya berjalan bergandengan dengan maya menuju ruang rias khusus penari yang memang disediakan khusus oleh sohibul bait.
"Justru esoklah acara sakral pernikahan dimulai, intan. Esok kita harus menari lagi, guna mengiring mempelai pengantin menuju singgasana di gedung serbaguna.." ujar maya seraya terduduk di depan meja rias.
Intan mengangguk paham, Ia pun membalikkan badan ke arah cermin lalu mengecek luka di pipinya yang terkena serangan burung gagak.
"Auchh.." decis intan merasakan perih ketika menyentuh luka dipipinya.
"Awalnya biasa saja. Kenapa lukanya menjadi seperih ini??" Gumam intan dalam hati.
"Intan..intan.." tutur Maya sambil menyentuh bahunya.
"Kau baik-baik saja??" Sambung maya khawatir. Intan refleks menjawab dengan senyum manisnya.
"Is okay. Aku baik-baik saja.."
Saat intan tengah meletakkan tissue basah untuk membersihkan luka di pipinya. Tiba-tiba saja lampu kamar rias mendadak mati. Udara kamar rias berubah agak panas.
"Loh, kenapa mati lampu!?" ujar Maya bingung.
"Mungkin terdapat arus listrik yang konslet, maya.." jawab intan positif thinking.
Ternyata dugaan intan salah. Intan melihat sosok tepat berdiri di belakang maya. Saat intan menyalakan lampu senter dari ponselnya seraya memberikan sedikit penerangan.
Benar saja, sorot cahaya senter ponsel yang intan arahkan ke maya yang tengah duduk tepat dihadapan intan, membuat sosok tersebut terlihat agak samar dalam kegelapan.
Sosok tersebut berpakaian seperti penari lengkap dengan aksesori dan selendang. Namun, wajahnya begitu mengerikan.
Sosok penari sintren itu membuat intan ketakutan. Tangan intan mulai bergetar, keringat juga mulai bercucuran sedikit demi sedikit.
Intan memejamkan mata seolah amat menyesal telah menyalakan lampu senter di ponselnya.
Ketika intan membuka matanya. Tiba-tiba sosok menyeramkan seperti siluman biawak terlihat berdiri disamping sosok penari sintren tersebut. Keduanya menyorotkan sinar mata yang begitu menyeramkan ke arah intan.
Ingin rasanya intan bangun dan keluar dari kamar rias yang gelap itu, tapi entah mengapa kaki intan seperti kaku dan tidak bisa digerakkan walau sedikit pun.
Saat kedua sosok itu menyeringai dengan suara geraman yang makin menakutkan. Intan hanya bisa menutupi kedua wajahnya seraya berteriak histeris.
"Arrrgghhhh..."
Tiba-tiba saja lampu kembali menyala.
"Intan..intan..intan.."
Intan mendengar seseorang memanggil namanya berulang kali, membuat intan semakin merinding dan bergetar hebat. Matanya bahkan semakin kuat memejam. Kedua tangannya bahkan tidak pernah lepas seluruh wajahnya terfokus menutupi mata.
"Intan, ada apa?? Mengapa kau berteriak seperti itu??" Maya menggoyangkan tubuh intan merasa khawatir.
Perlahan intan beranikan diri untuk membuka mata sambil terus melafalkan istighfar. Intan tahu konsekuensi ketika membuka matanya pasti kedua sosok menyeramkan itu, masih berada tepat di belakang maya.
Intan kaget bukan kepalang. Saat membuka mata dan merasakan seluruh kamar rias mulai terlihat jelas karena lampu telah menyala.
Maya tengah duduk tepat dihadapannya bersama 4 penari lainnya yang memandangi intan dengan tatapan bingung karena tadi intan terlihat ketakutan hingga berteriak-teriak histeris.
"Intan ada apa??" Tanya Maya mengulang pertanyaannya karena penasaran.
"I-itu T-tadi A-da.." Intan terbata-bata berbicara. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan.
Perlahan Maya memandang intan dengan tatapan tajam dan menusuk. Sorot matanya memerah, menyeramkan!!
"K-kenapa maya menatapku dengan seringai mata yang tajam dan menakutkan seperti itu??" Gumam intan dalam hati.
"M-maya.." intan panik, maya bersikap aneh diluar kebiasaannya.
Kengerian semakin menyergap tubuh intan, maya masih terus menatap intan tajam dan semakin membuatnya tak nyaman.
Suara Maya berubah berat dan dalam.
"Jangan campuri urusanku!!"
"Apa maksudnya, may??"
"Kalau kau tahu sesuatu, diamlah!!"
"Tahu apa?? Tentang apa??"
"Jika kau bicara, nyawamu jadi taruhannya.."
Dengan cepat maya mencekik leher intan. Jika hal ini bersifat bercanda atau prank, sungguh ini keterlaluan.
Cengkramannya amat kencang. Berbagai cara intan lakukan agar terlepas dari cengkraman kuat maya. Menarik, memukul lengan dan menjambak rambut maya. Tetap saja tak bisa menghalau cengkraman maya di leher intan. Bahkan para penari yang lain pun turut membantu menghalangi niat maya yang jelas menyakiti intan.
Entah kekuatan apa yang telah merasuki maya. Maya seolah memiliki kekuatan yang begitu besar. Ia hanya menghalau ke-tiga penari yang menghalaunya dengan satu hentakan tangan dan ke-3 penari itu terpelanting jatuh tersungkur ke lantai.
Maya kembali mencekik leher intan kuat. Rasanya nafas intan sudah sampai di ujung. Wajah intan memerah tak kuat menahan jalur pernafasannya dihentikan paksa.
Leo yang mendengar keributan di ruang rias, datang untuk mengecek situasi. Leo panik melihat ke-3 penari tersungkur dilantai kesakitan.
Leo yang menyadari intan tengah dalam bahaya. Ia bergegas menghampiri dan melepaskan cekikan maya yang begitu kuat.
Maya justru menendang Leo dengan sekali hentakan hingga membuat Leo terpelanting menimpa meja rias hingga hancur
"Mengapa maya bisa sekuat itu??" Sahut Leo seraya memegangi tubuhnya yang terasa ngilu karena terpelanting hebat.
Leo tidak gentar untuk menyelamatkan intan yang hampir kehilangan nyawa karena dicekik maya. Leo dapat melihat wajah intan yang sudah tidak kuat menahan cekikan maya.
Hal itulah yang semakin membuat Leo geram, tanpa pikir panjang Leo menghampiri dan mencoba melepaskan cekikan maya sambil melantunkan ayat kursi.
Syukurlah, intan berhasil lepas dari cekikan kuat maya.
"Uhukk..uhukkk.." intan terbatuk seraya memegangi leher.
Sedangkan maya mengerang kesakitan sembari melemparkan barang-barang. Lampu-lampu dan beberapa peralatan make up berhamburan dimana-mana. Maya seperti kehilangan kesadaran. Matanya memerah dengan posisi tangan dan kaki yang tak beraturan.
Mulutnya meracau mengucap banyak kalimat yang tidak jelas.
Leo berusaha menghampiri maya lagi. namun, ketika berada dihadapannya, justru Leo ditampar dan terpental cukup jauh.
"Istighfar, maya!! Ada apa denganmu??" Nada suara Leo agak tinggi.
Maya hanya meracau sambil menatap Leo tajam. Tangannya mencakar-cakar lantai hingga kuku palsunya mengelupas. Leo yang ingin mendekati maya lagi, dihalau oleh intan.
"J-jangan mas, bahaya. A-aku takut kamu terluka, mas. Sepertinya maya tengah dalam pengaruh jin.." tutur intan
Semua orang di ruang rias mencoba menenangkan namun tak satupun berhasil.
Saat ini maya seperti merasakan sakit yang teramat sangat. Ia bahkan membungkuk, terduduk hingga terguling sesekali ia memegangi perutnya.
"Kok aneh, mengapa sekarang maya seakan menahan rasa sakit?? Tadinya, ia bahkan seperti memiliki kekuatan super. Bahkan mencekik leherku dengan satu tangan saja sudah membuatku hampir kehabisan nafas.." gumam intan dalam hati.
Teriakannya memekakkan telinga. Sungguh intan tidak tega melihat maya kesakitan. Tiba-tiba saja pak jatmiko pemilik sanggar seni tari sekaligus sohibul bait acara pernikahan mendekat ke arah maya dan membantunya.
"Sakit buatan ini!!"
Sesaat aku tak mengerti maksud ucapan pak Jatmiko hingga Leo menghampiri intan dan berbisik.
"Itu teluh, intan.."
Mata intan membulat seketika. Siapa yang melakukan hal sekejam ini pada maya. Pertanyaan tanpa jawaban terus terbayang di fikiran intan.
Pak jatmiko melakukan sesuatu yang berhasil membuat maya tenang. Barulah kemudian pak Jatmiko menyuruh tono, asistennya untuk mengantarkan maya pulang.
kalau buah kutilayu mungkin d tempat ku namanya buah klayu x ya. jd penasaran gambarnya kekmana
kasian ibunya elang.
burung gagak petanda akan meninggalnya ibu elang.
kasian Ratnya jiwanya d bawa pergi sm s luman d jd kan ratunya.
mari saling dukung
Salken ya...
Mampir yuk di novelku
GADIS TIGA KARAKTER