Tio Alberto Widodo seorang remaja 13 tahun, yang selamat dari tragedi pembunuhan keluarganya yang dilakukan genk pembunuh bayaran.
Sejak saat itu Tio harus disembunyikan oleh pihak kepolisian dari kejaran genk pembunuh bayaran.
Adalah Inspektur Dua Luna Ginaya Budianto seorang polisi wanita berparas cantik berusia 22 tahun yang ditugaskan untuk menjaga selama masa persembunyian Tio.
Dua tokoh ini akan mencoba untuk bertahan hidup dari kejaran genk pembunuh bayaran yang kejam. Banyak nyawa tak berdosa ikut menjadi sasaran kekejam genk tersebut selama mengejar Tio.
Lama bertemu dalam penderitaan perjuangan hidup menumbuhkan rasa cinta dihati kedua insan beda usia ini.
Selamat menikmati ketegangan dan romantisme dalam novel "KISAH TIO DAN BIBI LUNA"
HF. RAJAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HF. Rajak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 25
“Kamu harus berlatih dan belajar, sebentar lagi kamu pasti akan ditempatkan menjadi kepala kantor.” Haris menasihati lembut.
“Iya paman, tapi suka sebal lihat tumpukan berkas.” Jawab Luna sambil memanyunkan bibirnya.
“Kamu itu calon pemimpin, beri tauladan yang bagus dong.”
“Iya paman.”
Kemudian Luna pamit beranjak menuju ruangannya.
Dia ingin sekali bertemu Tio. Setelah proses administrasi kemarin sampai siang ini Tio belum berkirim kabar. Rasa kangen begitu besar, meski terus berusaha ditepisnya.
“Apa aku harus menelpon dia ya?” Tanyanya dalam hati.
“Ah gak usah deh.”
“Tapi… gimana kabar dia ya?”
“Argh… kenapa juga pikiran ini terus seperti ini. Tio, Tio terus.” Luna semakin jengkel dengan pikirannya sendiri.
Luna tidak menyadari Tio sangat cemburu.
Tio mulai terbakar cemburu setelah pesan wassapnya menulis kata mantan. Tio yang baru merasakan jatuh cinta, marah karena dihati Luna yang mulai dicintainya masih ada rasa cinta pada mantannya.
\===Di Mansion Joni Widodo===
“Duo Xi, bagaimana sudah dapat info hasil dari penyadapan?” Tanya Tio pada Xi Jiang dan Xi Liang.
“Belum ada hal yang bisa digunakan tuan muda.” Jawab Xi Jiang. Sementara Xi Liang diam dan memperhatikan wajah tuan mudanya.
“Sepertinya anda kurang sehat tuan muda?” Tanya Xi Liang
“Sok tahu kamu.” Dengus Tio.
Xi Liang cengengesan dan mengerdikan bahunya.
“Beberapa hari tak terlihat bibi Luna ya?” Pancing Xi Liang. Dia menduga tuannya sedang bertengkar dengan Luna. Karena terlihat jelas bagaimana wajah Tio tanpa semangat dan sedikit pucat karena kurang tidur.
“Dia ga akan kesini.” Sentak Tio sedikit meninggi.
“Oh…” Jawab duo Xi serentak.
“Udah urus saja apa yang kuperintahkan.” Titah Tio kemudian meninggalkan duo Xi.
Tio melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar di mansion itu. Kemarin malam Kelvin sudah memindahkan Rara kesana. Kelvin juga sudah mempersiapkan segala kebutuhan Rara termasuk perawat dokter ahli, juga seorang tenaga psikologi.
Tio membuka pintu kamar yang ditempati Rara. Dia melangkah masuk dan mendapati Rara meringkuk diatas tempat tidurnya. Tio lalu duduk di dekat Rara. Diusapnya pipi Rara yang cekung.
Tanpa disadari Tio. Ada sepasang mata sedang mengawasi. Sepasang mata itu semakin melotot saat melihat Tio mengelus pipi Rara, tapi si empunya mata masih diam bergeming ingin lebih jauh menyaksikan.
“Ra…” Panggil Tio lirih. Sambil jarinya terus mengusap pipi Rara.
Rara merasa ada yang memanggil membuka matanya. Dia lalu bangkit dan beringsut dengan cepat kepinggir ranjang. Memeluk lututnya, gemetaran.
“Jangan… jangan sentuh lagi tuan. Jangan tuan, kumohon…” Suara lirih Rara begitu menyayat hati Tio. ketakutan yang terpancar dimatanya begitu nyata telihat jelas.
“Hei… tenanglah Ra…” Kata Tio lembut. “Ini aku Tio. Teman sekolahmu… Lihat, lihatlah ini aku.”
“Jangan mendekat! Jangan….” Rara menggeleng gelengkan kepalanya tanpa melihat sedikitpun pada Tio.
“Rara lihat kesini, ini aku Tio.” Masih dengan lirih dengan intonasi pelan. “Ra… Jangan takut, lihatlah pelan pelan. Aku ga akan menyakitimu.”
Rara masih menggeleng tidak menoleh dan mukanya semakin menunduk dalam. Dua lengannya semakin erat memeluk lututnya. Jemarinya meremas remas ujung piyama tidurnya.
“Ra…” Hati Tio semakin teriris melihat pemandangan ini.
Sementara mata yang menatap tak jauh dari tempat tidur itu masih menatap lekat, namun beberapa tetes buliran air mata mulai menumpuk.
“Ra-ra… Ini aku Tio… Ingatlah.” Bibir Tio bergetar menahan tangisnya. Dia begitu tidak tega melihat kondisi
Rara.
“Ti-Tio!.”
“Iya Ra… Ini aku Tio. Lihatlah.”
Rara menoleh perlahan, tapi secepatnya kembali menuduk. Matanya dengan takut melihat kearah Tio dari sudut matanya. Tio, batinnya dalam hati. Pelan wajahnya menoleh, seolah ingin lebih jelas melihat wajah lelaki yang pernah dekat dihatinya.
Tio menanggukkan kepala saat dua matanya bertemu dengan mata gadis teman sekolahnya dulu.
Perlahan Rara mendekat. Terlihat begitu besar ketakutan dan keraguan yang membelenggu gerak tangan dan kakinya yang merangkak menuju Tio yang dudu diseberang sisinya.
Setelah berada didekat Tio, Rara memegang wajah lelaki tampan didepannya, diusapnya pipi dan rahang itu, dipandangi dengan tajam seolah masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rara dengan bibir bergetar bergumam pelan tak jelas. Telapak tangan kirinya menutup bibirnya yang terbuka, air matanya lolos berderai.
Tio menganggukkan kepala dan tersenyum. Bibirnya mengucapkan tanpa suara hanya membentuk kalimat, aku Tio teman kamu.
Seulas senyuman terlukis tipis dibibir mungil Rara. Seolah masih tidak bisa mempercayai pandangannya\, gadis mungil itu masih menatap wajah lelaki didepannya. Kedua telapak tangannya telah menutup mulutnya yang terbuka. Setelah merasa dipenuhi keyakinan bahwa yang dilihatnya adalah Tio\, bukan baji***n yang menyiksanya\, Rara memeluk erat tubuh lelaki didepannya.
Tio tergagap menerima pelukan dari Rara. Tangannya diam saja tidak memberikan balasan pelukan.
Rara mulai menangis sejadinya. Kepalanya dibenamkan dalam ceruk leher Tio. Tangannya semakin rapat memeluk. Tio tetap diam dibiarkan saja teman sma nya itu memeluk dan menangis.
“Aku takut Tio… ta…kut…”
“Tenanglah Ra… jangan takut lagi.Kamu aman disini.”
Tangisan Rara masih pecah. Pelukannya masih sangat rapat.
Tio mulai merasakan sesak nafas karena pelukan Rara yang makin erat. Tangannya bergerak mengelus pundak Rara.
“Sudah Ra, kamu tenang ya ada aku disini menjagamu. Tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu.” Kata Tio sambil tangannya memegang pundak Rara berusaha mendorongnya pelan agar menjauh.
Sepasang mata yang dari tadi melihat Tio dan Rara juga ikut mendengar kalimat yang diucapkan Tio. tanpa
sadar tangisnya keluar. Kemudian berputar balik dan berlari keluar kamar.
“Bi-bi L-Luna…” Desis Tio setelah menoleh kearah suara tangisan yang lain. Dia melihat Luna berlari keluar
melewati pintu kamar.
Pelukan Rara yang mulai mengendur, dengan cepat dilepaskan oleh Tio. Dia lalu membisikkan akan kembali lagi karena ada hal yang harus diurus. Setelah berkata Tio bergegas mengejar Luna.
Luna dengan galau berlari melewati koridor mansion. Dia tidak memperhatikan arah kakinya. Baginya yang
terpenting keluar. Maksud hati memberikan kejutan pada Tio, dia malah mendapatkan suguhan menyakitkan dari Tio.
Karena tak memperhatikan arahnya saat berlari, Luna malah tidak menuju pintu gerbang. Dia berada ditaman samping mansion yang penuh dengan tanaman bunga. Luna duduk dengan memeluk lututnya menangis.
“Harusnya aku tahu diri. Tio pasti akan memilih dia. Aku sudah terlalu tua untuk dicintai Tio.” Ratap Luna dalam tangisnya.
Sebenarnya Luna telah memutuskan untuk membuka hatinya. Selama ini dirinya selalu berusaha menyangkal dengan keras perasaan cintanya yang telah tumbuh. Sekarang dia ingin berdamai dengan perasaannya mulai pagi ini.
Tapi pagi ini juga perdamaian itu ambyar. Musnah. Teringat kambali bagaimana Tio membelai pundak Rara dan mengatakan akan selalu menjaganya.
Tetapi Luna juga teringat bagaimana kondisi Rara yang begitu terlihat hancur. Siapapun yang mengenal
korban seperti Rara pasti akan bersikap lembut seperti Tio. Luna sebagai polisi merasa sangat paham akan hal itu
“Kenapa… ini terjadi?” Keluh Luna pelan dalam tangisnya.
Logika dan perasaan Luna bercampur. Malaikat dan setan beradu pendapat dalam otaknya. Rindu dan cemburunya bertarung untuk mempengaruhi sang ego.
“Bi…” Tio memanggil lirih. Dia lalu berjongkok dan berusaha merengkuh pundak Luna dan akan membawanya dalam pelukan.
“Pergi kamu Tio.” Teriak Rara dalam tangisnya.
“Bi… bibi salah paham.”
“Salah paham? Aku melihat semuanya Tio.” Sengit Luna.
“Tapi bi… aku ga ada maksud lain.”
“Bodo! Kamu… kamu…. Brengsek!”
“Bi…” Tio mencoba memeluk wanita yang dicintainya itu, tapi Luna yang masih marah mendorong dengan sekuat tenaga dada Tio.
Tio terjengkang kebelakang, tidak menyangka Luna akan menolaknya dengan keras.
“Aww..” Pekik Tio.
Bersambung...
==============
Terima Kasih para reader setia
jangan lupa jempol atau vote dan yang pasti komen kalian author tunggu