Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: BUKTI MASA LALU YANG HAMPIR TERBONGKAR
Keesokan harinya, suasana di lingkungan bisnis kota masih riuh membahas pernyataan mengejutkan Rian kemarin. Banyak yang memuji keberaniannya mengakui kesalahan, tak sedikit pula yang berbisik bahwa nasibnya kini sepenuhnya bergantung pada belas kasih Nadia. Namun di tengah gemuruh itu, sisa-sisa ambisi buruk Aldo belum sepenuhnya padam. Ia tak terima rencananya berbalik menjatuhkan dirinya sendiri, dan kini ia bertekad mencari bukti yang lebih “pedas” untuk memutarbalikkan fakta kembali.
Siang itu, seseorang yang disewa Aldo datang ke rumah lama mereka—rumah kecil yang dulu disewa Rian dan Nadia saat masih berumah tangga. Penyewa baru yang baru pindah beberapa bulan lalu tak sengaja menemukan sebuah kotak kardus usang terselip di bagian paling atas lemari pakaian yang tak terpakai. Isinya adalah barang-barang pribadi yang tertinggal: buku catatan harian Nadia, foto-foto pernikahan yang tak tersusun rapi, hingga surat-surat tagihan lama yang ternyata sudah lunas jauh sebelum jatuh tempo—bukti bahwa meski berpura-pura sederhana, Nadia diam-diam menanggung segala kebutuhan tanpa membebani Rian.
Orang suruhan Aldo mengambil semua barang itu dengan sembunyi-sembunyi, lalu menyerahkannya kepada bosnya sore itu juga. Di dalam ruangan kantor yang sunyi, Aldo menyeringai lebar saat membolak-balik lembar demi lembar buku harian itu. Tulisan tangan Nadia yang rapi menceritakan hari-hari yang ia lalui: harapan saat menikah, rasa bahagia saat Rian pulang membawa kabar baik, hingga kepedihan yang tersembunyi saat perlahan ia mulai diabaikan dan diremehkan.
“Ini akan menjadi akhir bagi reputasi muluk-muluknya,” gumam Aldo sambil tersenyum sinis. “Orang-orang akan tahu bahwa CEO yang dikagumi itu pernah menangis tersedu-sedu karena dicampakkan orang yang tidak tahu diri. Dan Rian? Ia akan terlihat semakin hina, seolah memanfaatkan rasa kasihan wanita yang dulu ia sakiti.”
Rencananya sudah matang: besok pagi, berita ini akan disebarkan ke seluruh media daring dan cetak lengkap dengan foto-foto serta potongan tulisan yang ia pilih sedemikian rupa agar terlihat seolah Nadia adalah korban yang lemah, dan Rian hanyalah pria yang kembali menumpang pada kesuksesan mantan istrinya.
Namun takdir seolah tak membiarkan kebenaran itu lagi diputarbalikkan. Malam harinya, saat Rian sedang merapikan berkas di ruang kerja kantornya, telepon berdering dari nomor yang tak ia kenal. Ternyata adalah mantan tetangga sebelah rumah lama mereka, Bu Siti, yang mengetahui bahwa kotak barang itu hilang dan mendengar kabar ada orang asing yang mencarinya dengan cara mencurigakan.
“Pak Rian, saya tidak tahu barang itu penting atau tidak,” ucap Bu Siti dengan nada cemas, “Tapi orang yang mencarinya tadi mukanya tidak jujur. Saya takut kalau barang itu disalahgunakan untuk mempermalukan Ibu Nadia atau Bapak sendiri.”
Darah Rian seketika mendidih. Ia langsung mengerti siapa pelakunya dan apa tujuannya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Nadia dan menceritakan semuanya. Nadia yang sedang dalam perjalanan pulang memerintahkan sopir berbalik arah menuju kantor pusat, memanggil tim hukum serta tim keamanan pribadinya secepat kilat.
Malam itu juga, tim penyelidik yang disewa Grup Arka berhasil melacak keberadaan barang-barang itu. Mereka menemukan bukti bahwa Aldo memang yang mengirim orang mengambilnya dengan cara yang tidak sah, bahkan sudah menyiapkan draf berita bohong yang siap disebarkan. Saat tim keamanan tiba di kantor Aldo, pria itu terkejut setengah mati—ia tak menyangka mereka bisa bergerak secepat itu.
Di ruangan kantor Aldo yang penuh kekacauan, Rian berdiri di hadapan saingan bisnisnya itu dengan wajah yang tidak lagi penuh keraguan atau rasa takut. Matanya menatap tajam, penuh kemarahan namun tetap terjaga kesopanannya.
“Kau boleh membenci saya, boleh tidak suka dengan keberhasilan Grup Arka,” ucap Rian dengan suara rendah namun tegas, “Tapi jangan pernah kau sentuh masa lalu istri saya—atau siapapun yang pernah saya sakiti. Itu bukan urusanmu, dan kau tidak berhak menggunakannya sebagai senjata untuk menjatuhkan orang lain.”
Aldo mencoba membela diri, namun bukti yang ada sudah terlalu kuat. Nadia yang datang belakangan hanya berdiri tenang di ambang pintu, menatap pria yang berusaha menghancurkan nama baiknya itu dengan tatapan dingin namun tak membalas dendam.
“Kau bebas bersaing secara sehat, Tuan Aldo,” ucap Nadia pelan namun tegas, suaranya bergema di ruangan itu. “Namun jika kau terus menggunakan cara kotor, kau akan berhadapan dengan hukum dan seluruh kekuatan yang Grup Arka miliki. Dan ingatlah: rasa sakit yang pernah saya rasakan bukanlah alasan untuk kau permalukan saya, melainkan bukti bahwa saya sudah bangkit dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.”
Barang-barang bukti itu akhirnya dikembalikan kepada Nadia. Saat kotak tua itu diserahkan kembali ke tangannya, Rian berdiri di sampingnya, menatap benda-benda itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, setiap lembar tulisan, setiap foto yang kusut, menyimpan cerita yang dulu ia abaikan begitu saja.
“Maafkan aku... karena membiarkan kenangan ini hampir disalahgunakan orang lain,” ucap Rian lirih saat mereka kembali ke mobil menuju kediaman Nadia. “Dan terima kasih... karena masih membiarkanku berdiri di sampingmu saat kau menghadapi hal seperti ini.”
Nadia menatap jendela yang melintas cepat, lalu perlahan menoleh ke arah Rian. “Kita berdua sedang belajar, Rian. Belajar untuk tidak lagi membiarkan orang lain mengatur nasib kita, dan belajar untuk saling menjaga—bukan lagi sebagai suami istri yang dulu, tapi sebagai dua orang yang berusaha memperbaiki apa yang sempat hancur, meski dengan cara yang berbeda.”
Malam itu, bahaya yang mengancam rahasia masa lalu mereka berhasil diredam. Namun insiden ini semakin menguatkan tekad mereka berdua: tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, dan tidak ada lagi yang boleh memisahkan mereka dari kebenaran—baik kebenaran tentang kesalahan masa lalu, maupun kebenaran tentang perasaan yang ternyata belum sepenuhnya mati, meski sempat terkubur dalam di bawah tumpukan luka dan penyesalan.
(Terima kasih telah mengikuti alur cerita ini hingga bagian ini. Jika nanti ingin melanjutkan ke bab-bab selanjutnya, saya siap menyambung kembali kapan saja)